
Dalam perjalanan menuju rumah ayahnya, diam-diam Eliza mencuri pandang pada Reino. Sejak bertemu di kafe Reino belum mengucapkan sepatah katapun pada Eliza membuat Eliza menjadi cemas jika benar Reino sudah mendengar cerita mengenai dirinya versi Winda.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Eliza pada akhirnya mencoba untuk mencairkan suasana yang dingin di dalam mobil itu.
"Baik-baik saja seperti biasanya," jawab Reino sekenanya.
Lalu kembali hening di antara mereka. Eliza menekuri rok selutut yang ia pakai. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap terhadap suaminya itu.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Reino tiba-tiba.
Eliza langsung menoleh karena penasaran dengan apa yang ingin Reino tanyakan padanya. Apa ini mengenai hubungannya dengan Bastian? Apa benar Reino sudah mengetahuinya? Apa akhirnya Eliza akan berakhir diusir dari rumah dan kafe Reino?
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Eliza lalu menelan salivnaya.
"Apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Hah?" Eliza terkejut mendengar pertanyaan dari Reino. Pertanyaan itu tidak sesuai dengan dugaanya.
"Aku sadar aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Dan juga kamu menikah denganku bukan karena cinta. Aku penasaran apakah kamu menyesal sudah menikah denganku?"
"Aku nggak pernah menyesal menikah denganmu," jawab Eliza yang sebenarnya dia tidak yakin dengan jawabannya. Tapi entah kenapa jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Baiklah, itu saja sudah cukup untukku," ucap Reino sambil tersenyum tipis. Dia akhirnya bisa menepis segala tuduhan Winda terhadap Eliza. Karena ia berpikir jika mungkin saja Eliza menyesal sudah menjadi istrinya itu berarti sangat mungkin jika Eliza berselingkuh darinya.
30 menit kemudian mobil Reino sampai di halaman rumah ayah Eliza. Eliza turun dari mobil dan langsung memeluk dan mencium tangan ayahnya yang sudah menunggu di teras rumah. Lalu di sambung dengan Reino yang mencium tangan ayah mertuanya.
Meskipun ayah Eliza bekerja di perusahaan Reino ,tapi mereka hampir tidak pernah bertemu. Karena pekerjaan ayah Eliza hanya menjadi helper untuk tim produksi. Dan Reino jarang sekali mengunjungi ruang produksi.
Sekali lagi dia merasa bersalah karena belum bisa menjadi menantu yang baik. Dia melihat betapa Eliza dan ayahnya begitu saling menyayangi meskipun mereka bukan ayah dan anak kandung. Ada perasaan hangat yang menjalar di sekujur tubuh Reino. Dia juga ingin sekali merasakan kehangatan keluarga seperti mereka. Setelah ini Reino berencana untuk lebih sering memperhatikan mertuanya selama di kantor. Dia jadi teringat kembali dengan ucapan Eliza satu tahun lalu yang mengatakan jika pekerjaan ayahnya begitu berat untuknya.
Reino melihat ayah mertuanya yang sudah tidak muda lagi. Kenapa baru kali ini dia sadar? Sebelumnya dia begitu dingin dan tidak peduli, kini dia menjadi merasa bersalah terhadap mereka berdua.
"Tunggu di sini ya, ayah buatkan minum untuk kalian," kata ayah Eliza. Dia lalu berdiri untuk menuju dapur.
"Biar Eliza saja yah!" seru Eliza tapi langsung ditolak oleh ayahnya.
"Sudah kamu duduk saja sama nak Reino, biar ayah yang buat,"
__ADS_1
Eliza terpaksa duduk kembali karena penolakan dari ayahnya. Pak Fahmi melakukan ini karena ada niat terselubung yag sudah dia rencanakan seharian ini.
Saat sudah sampai di dapur, Pak Fahmi membuat dua gelas teh hangat, setelah selesai ia tak langsung membawanya ke ruang tamu melainkan dia mengambil dua buah obat dari dalam saku celananya. Obat itu adalah obat perangsang yang ia dapat dari tetangganya.
Pagi tadi..
Pak Fahmi seperti biasa sebelum pergi ke kantor selali menyempatkan diri untuk menyiram tanaman-tanamannya. Kegiatan ini rutin ia kerjakan semenjak beberapa tahun yang lalu. Ada kesenangan sendiri saat melihat rumahnya dipenuhi dengan tanaman hijau dan bunga-bunga yang indah.
"Eh Pak Fahmi, lagi nyiram bunga ya Pak. Rajin banget," kata salah satu tetangganya yang kebetulan lewat.
"Iya nih, Bu Ayu habis belanja ya?"
"Iya nih, habis belanja sayuran. Oh iya Pak, bagaimana dengan Eliza apa sudah ada kabar mengenai calon cucu pak Fahmi?" tanya Bu Ayu iseng. Seperti biasa ibu-ibu komplek selalu ingin tahu mengenai tetangganya.
"Belum Bu, sepertinya saya masih harus bersabar untuk bisa menimang cucu," jawab Pak Fahmi seadanya.
"Mungkin mainnya kurang hot kali Pak, makanya nggak jadi-jadi hihi," kata Bu Ayu dengan cekikikan.
"Kalau mengenai itu, saya tidak tahu Bu," Pak Fahmi mencoba menanggapinya dengan biasa saja. Karena dia tahu betul watak Bu Ayu yang memang selalu ceplas ceplos.
"Obat apa tuh Bu?" Pak Fahmi mulai penasaran.
"Obat supaya mainnya lebih hot," bisik Bu Ayu.
"Memang bisa berhasil Bu?"
"Tentu saja, buktinya anak saya ada 8 Pak saking hotnya hihihi," ungkap Bu Ayu.
Pak Fahmi nampak berpikir sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk mencobanya. Mungkin saja memang manjur.
Setelah mendapat persetujuan dari Pak Fahmi, Bu Ayu langsung pulang ke rumahnya untuk mengambil obat yang ia maksud untuk diberikan kepada anak dan menantu Pak Fahmi.
"Ini Pak obatnya, campur saja di minuman mereka pasti langsung bereaksi,"
"Terima kasih Bu Ayu, mudah-mudahan manjur ya. Saya bisa secepatnya menimang cucu,"
"Sama-sama Pak, tidak perlu sungkan,"
__ADS_1
Setelah Bu Ayu pergi, Pak Fahmi langsung masuk ke dalam untuk menelepon Eliza dan menyuruhnya untuk mampir ke rumah malam ini. Dia begitu tak sabar ingin memberikan obat ini kepada mereka.
Setelah memastikan obat sudah tercampur dengan baik, Pak Fahmi segera memberikan minuman itu kepada Eliza dan Reino.
"Kenapa lama sekali Yah?" tanya Eliza.
"Tadi air panasnya habis jadi Ayah masak dulu. Kamu ini nggak sabaran," jawab Pak Fahmi yang tentu saja hanya alibi.
"Ayo diminum. Nak Reino juga. Dihabiskan ya.."
Eliza dan Reino akhirnya meminum teh itu karena Pak Fahmi terus mendesak mereka.
"Kalian menginap ya malam ini. Hari sudah malam, pasti kalian capek," kata Pak Fahmi mencoba menahan mereka agar obat bereaksi dengan sempurna.
Eliza menoleh kepada Reino untuk menanyakan keputusannya.
"Baiklah, kita menginap saja malam ini," jawab Reino.
Tentu saja hal itu membuat Eliza dan Pak Fahmi senang mendengarnya.
"Ayo dihabiskan minumnya, lalu kalian segera tidur karena besok kan masih harus bekerja,"
Reino dan Eliza segera menghabiskan minuman mereka. Setelah habis, Pak Fahmi terus mendesak mereka untuk istirahat saja di kamar membuat keduanya tidak punya pilihan lain selain menurutinya.
"Kenapa sikap Ayah aneh sekali malam ini?" gumam Eliza saat sudah masuk ke dalam kamar lamanya.
Sementara Reino sibuk melihat-lihat isi kamar Eliza. Di dinding terdapat banyak foto-foto dirinya bersama teman-temanya. Sedangkan fotonya dengan Pak Fahmi terpajang rapi di nakas yang berada di sebelah ranjang.
"Kenapa panas sekali ya? Padahal kipas anginnya sudah nyala. Biasanya dulu tidak sepanas ini," gumam Eliza.
"Aku mandi sebentar ya," pamit Eliza. Dia lalu keluar untuk mandi.
15 menit berlalu, Eliza kembali ke kamar dengan rambut basah yang masih terselimut handuk.
Bau harum tubuh Eliza membuat Reino menelan salivanya. Tidak seperti biasanya, kali ini dia melihat Eliza begitu cantik dan menggairahkan.
Sampai-sampai ada sesuatu yang begitu mengganjal tubuhnya. Yang harus ia tuntaskan malam ini.
__ADS_1