Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Rasa Penasaran


__ADS_3

Sebuah pintu terbuka lebar.


Eliza menatap ke dalam cahaya yang sangat menyilaukan.


Di sampingnya, ayahnya sudah siap menuntunnya menuju altar pernikahan di mana Reino sudah menunggunya.


Ia terlihat menawan menggunakan gaun sederhana berpotongan open bateau neckline berwarna putih.


Menghadirkan kesan timeless elegance dengan sentuhan modern.


Menggunakan bonded silk caddy, dan triple silk organza sebagai bahan dari underskirt.


Gaun pengantin Eliza membentuk lekuk pinggangnya, menonjolkan bagian bahu dan lengan tiga perempatnya membawakan kesan modern padanya.


Dilengkapi dengan kerudung berbahan silk tulle sepanjang 5 meter, kerudung ini didesain dengan tema bunga.


Dilengkapi dengan payet yang dijahit dengan tangan menggunakan benang sutera dan manik-manik menambah sempurna penampilannya.


Rambutnya tertata indah dengan hiasan mutiara berbahan platina bertabur berlian.


Gaun itu adalah gaun yang sama yang digunakan mendiang istri Reino dulu.


Eliza tidak keberatan dengan hal itu, karena semua sudah Reino persiapkan dengan baik.


Dengan perlahan Eliza mulai melangkahkan kakinya meuju tempat Reino berada.


Lelaki itu sudah menunggunya di sana.


Dia terlihat sangat tampan menggunakan jas satu kancing warna hitam bold dengan kemeja berwarna netral menampilkan kesan maskulin padanya.


Dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya membuatnya semakin stylish dihiasi selipan bunga kecil di saku dadanya.


Di sebelah kiri terlihat beberapa teman Eliza yang menatap kagum akan kecantikannya saat itu.


Eliza tersenyum saat langkahnya semakin mendekati tempat Reino berdiri.


Hari ini dia merasa menjadi wanita yang istimewa.


Fahmi menyerahkan tangan putrinya kepada Reino sebagai tanda jika ia sudah menyerahkan tanggung jawabnya terhadap lelaki itu.


Reino menerimanya dengan lembut, mereka lalu mengucap janji suci di hadapan semua saksi.


Saling menyematkan cincin pernikahan sebagai bukti sakral cinta mereka.


Eliza tersenyum menatap lelaki yang ada di depannya yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Sedangkan Reino masih seperti biasa, meski tak ada senyum di wajahnya namun tatapannya begitu dalam.


Ini awal dari perjalanan cinta mereka.


Benar-benar dimulai dari nol karena belum tumbuh rasa yang dalam pada keduanya.


Winda berada di sana, tapi tidak di dalam gedung melainkan berada di luar.


Sangat menyakitkan baginya untuk melihat Reino bersanding lagi dengan wanita lain.


"Semoga kamu bisa bahagia Rei, aku tidak apa-apa selalu menjadi bayang-bayangmu asal kamu bisa tersenyum lagi," gumam Winda saat ia melihat Reino dan Eliza keluar bersama dari gedung pernikahan dan masuk ke dalam sebuah mobil.


"Kamu tidak apa-apa tidak tinggal dengan pak Fahmi? Ehm maksudku ayah," ucap Reino saat ia mengemudikan mobilnya bersama dengan Eliza di sebelahnya.


Mereka kini menuju rumah Reino setelah upacara pernikahan mereka.


Sebelumnya Reino sudah mengatakan jika mereka belum bisa bulan madu karena masih ada deadline iklan dari klien besar di kantornya.


"Tidak apa-apa, lagi pula jarak rumahmu dengan rumah ayah tidak terlalu jauh. Jadi aku masih bisa setiap hari menengoknya," jawab Eliza tersenyum pada suaminya.

__ADS_1


Eliza melihat rumah Reino dengan seksama.


Dia harus membiasakan diri tinggal di sana mulai hari ini.


"Barang-barangmu baru bisa kita ambil besok, apa kamu tidak apa-apa menggunakan baju mendiang istriku dulu?" tanya Reino hati-hati.


Ia takut jika Eliza akan tersinggung saat ia mengatakan tentang mendiang istrinya.


"Tidak apa-apa, semua baju sama saja," jawab Eliza sambil menerima baju pemberian dari Reino.


Setelah mandi Eliza mematutkan diri di depan kaca.


Dia menggerai rambut panjangnya berharap Reino akan menyukai hal itu.


Sementara lelaki itu masih berada di kamar mandi, Eliza menuju dapur dan mulai membuatkan makan malam untuk mereka berdua.


Saat ia membuka pintu lemari es, terlihat banyak bahan makanan yang tertata rapi di sana.


Dia mengagumi sifat rajin suaminya.


Meskipun dia tinggal sendiri tanpa ada pembantu di sana, tapi rumahnya terlihat bersih dan rapi.


Padahal bisa saja dia menyewa seorang asisten rumah tangga jika dia mau.


Reino turun dari tangga saat Eliza menyiapkan makan malam di meja makan.


"Ayo kita makan, aku sudah memasak beberapa makanan untuk kita berdua," kata Eliza.


Reino menghampiri Eliza dan langsung duduk di kursi.


Dengan segera Eliza mengambil sendok nasi dan hendak mengambilkan nasi untuk suaminya itu.


"Biar aku saja," ucap Reino lalu mengambil alih sendok nasi dari tangan Eliza.


Reino memperhatikan Eliza yang tampak kecewa.


Dia berharap kata-katanya bisa menghibur Eliza.


"Tidak apa-apa. Aku bisa maklum kok," kata Eliza.


Mereka mulai makan malam dengan tenang.


Eliza masuk ke kamar setelah membersihkan perlengkapan makan mereka.


Saat ia masuk dia tidak melihat suaminya di sana.


Eliza melihat lampu kamar mandi yang menyala, ternyata Reino berada di sana.


Dia lalu menuju tempat tidur dan mulai berbaring di sana.


Hatinya gugup jika mengingat saat ini adalah malam pertamanya.


Berkali-kali ia mengganti posisinya sembari menunggu Reino keluar dari kamar mandi.


*CEKLEK*


Suara pintu kamar mandi terbuka


Sontak Eliza langsung membeku dan memejamkan matanya.


Entah kenapa dia melakukan hal itu, bagaimana jika nanti Reino mengira jika ia sudah tidur?


"Bodohnya aku" runtuk Eliza dalam hati.


Terdengar langkah kaki Reino mendekat, dia berhenti di depan Eliza lalu membenarkan selimut wanita itu.

__ADS_1


Setelah itu dia berjalan menuju sisi ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.


Eliza berharap Reino akan membangunkannya yang pura-pura tidur saat itu.


Sebagai wanita normal ia menginginkan sentuhan suaminya malam ini.


Sekian lama menunggu, hanya hening di kamarnya.


Eliza harus mengubur keinginannya saat lelaki itu justru mematikan lampu.


Ia membuka mata dan perlahan membalikkan tubuhnya untuk melihat Reino.


Ya, lelaki itu sudah terpejam di sana.


Dan mungkin ini semua karena Eliza yang gugup dan langsung pura-pura tidur saat itu.


Eliza mengetuk-ngetuk pelan kepalanya dengan tangan.


Dia menyesali perbuatannya.


"Tidur saja, aku masih banyak pekerjaan di kantor besok pagi," ucap Reino tanpa membuka matanya.


Eliza terkejut mendengar suara Reino.


"Ah iya,," jawab Eliza pelan.


Dia kembali ke posisi tidurnya dengan perasaan malu.


Malam itu dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


***


Keesokan harinya..


Saat Reino sedang bersiap pergi ke kantor, Eliza sedang menggoreng telur mata sapi untuk sarapan pagi mereka.


"Apa dia tidak menyukaiku? Tapi kenapa dia menikahiku kalau dia tidak menyukaiku? Tapi kenapa dia tidak menyentuhku di malam pertama kami? Apa dia tidak menyukai wanita? Tapi kenapa dia menikahiku kalau dia tidak suka wanita?" batin Eliza.


Dia masih penasaran dengan sikap Reino tadi malam.


Hingga tercium bau gosong dari penggorengan yang ada di depannya.


"Astaga, bagaimana ini telurnya gosong," seru Eliza.


Dengan panik dia mengangkat penggorengan itu dengan tangan kosong.


"Aww!!"


Eliza menjatuhkan penggorengan itu.


Tiba-tiba Reino datang dan menyingkirkan penggorengan itu dari sana.


Mengambil kotak p3k dan mengobati luka bakar pada jari Eliza.


"Apa yang kamu pikirkan, kenapa pagi-pagi sudah tidak fokus?" tanya Reino.


Eliza hanya diam melihat perlakuan manis dari suaminya itu.


Meskipun wajahnya tetap dingin seperti biasanya.


CUP!


Eliza tiba-tiba mencium pipi Reino.


Membuat lelaki itu berhenti melakukan kegiatannya.

__ADS_1


Eliza penasaran dengan reaksi dari suaminya setelah ia menciumnya.



__ADS_2