
Eliza dan yang lainnya sedang membereskan kafe sebelum tutup. Tidak lama Reino sampai di sana saat mereka sudah selesai.
"Aku pulang duluan ya, Hilma tolong kunci pintu dengan benar," kata Eliza lalu menuju Reino yang menunggunya di mobil.
"Oke, tenang saja," jawab Hilma. Ia kemudian bersiap untuk pulang juga. Sementara itu, saat Eliza sudah masuk ke dalam mobil Reino, Bastian memperhatikannya melalui kaca pintu hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.
"Ayo, kita pulang! Kamu mau tidur di sini?" ucap Hilma membuyarkan lamunan Bastian.
"Ah iya, baiklah," jawab Bastian lemah. Dia kemudian mengambil gitarnya dan naik bus terkahir menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan dia terus termenung mengingat Eliza yang saat itu bersama suaminya. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, atau kedua? Karena Bastian baru merasakan hal ini saat pertemuan kedua mereka. Sayang sekali cinta pertamanya harus kandas karena waktu yang salah.
Eliza merapikannya jas Reino yang tergeletak di tempat tidurnya. Saat ia mengangkatnya sebuah kertas terjatuh dari kantong jas itu. Dia lalu memungutnya dan mengambil kertas itu. Di sana tertulis nota pembayaran untuk konsultasi dengan psikiater. Dia heran, untuk apa suaminya ke tempat psikiater? Kenapa ia tidak memberitahu masalah ini kepada dirinya? Eliza akhirnya memotret nama dan alamat praktek dokter itu. Jika ada waktu mungkin ia akan mencari tahu hal ini diam-diam.
Eliza segera mengembalikan kertas itu ke tempatnya dan menggantung jas suaminya itu saat Reino sudah keluar dari kamar mandi. Lelaki itu lalu mengambil sesuatu dari laci samping tempat tidurnya.
"Aku mau turun untuk minum," ucap Reino dan dijawab anggukan oleh Eliza. Karena penasaran dia lalu mengikuti Reino dari belakang. Dan melihat jika suaminya itu meminum sebuah obat.
Selama ini Eliza sudah disibukkan dengan urusannya di kafe sampai tidak mengetahui jika suaminya itu menjalani pengobatan di psikiater dan mengkonsumsi obat penenang tiap malam. Ia jadi merasa bersalah karena tidak memberikan perhatian pada Reino. Tapi bukan salah Eliza juga, karena Reino begitu sulit untuk di dekati. Dia seperti menjaga jarak dengan istrinya sendiri.
TING TONG.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam, tapi siapa yang bertamu jam segini? Eliza lalu berjalan ke depan untuk membuka pintu. Seorang ibu-ibu berdiri di depan pintu dan nampak bingung.
__ADS_1
"Loh kok? Apa aku salah rumah ya?" gumam ibu itu sambil memperhatikan lingkungan sekitar.
"Siapa?" tanya Reino ikut ke depan mencari tahu siapa yang datang ke rumahnya pada jam segini.
"Reino, ini ibu!" seru ibu itu. Eliza bingung dengan jawaban ibu itu karena setahu dirinya Reino sudah tidak punya keluarga.
"Siapa wanita ini Rei?" tanya ibu itu sambil melirik Eliza.
"Dia istriku bu. Dan ini perkenalkan Ibu Ratna adalah ibu mertuaku Eliza," ucap Reino. Eliza lalu meraih tangan ibu itu dan mencium punggung tangannya. Tapi Ibu Ratna tampak tidak senang melihat menantunya sudah menikah lagi.
"Kamu sudah menikah lagi Reino??"
"Iya bu, sudah beberapa bulan yang lalu. Mari masuk dulu. Eliza tolong ambilkan minum," perintah Reino yang langsung dikerjakan istrinya itu.
"Kamu sudah melupakan anak ibu?" tanya Ibu Ratna yang seolah tidak menyukai jika menantunya menikah lagi.
"Bukan begitu bu, selamanya Lyla tetap memiliki tempat di hati Reino. Tapi Reino juga perlu melanjutkan hidup bu," jawab Reino mencoba menjelaskan kepada ibu mertuanya. Tidak lama Eliza datang dengan membawa minuman dan menaruh gelas itu di meja.
"Ibu mau bicara berdua dengan kamu Reino," ucap Ibu Ratna. Reino lalu memandang Eliza seolah memintanya untuk meninggalkan mereka berdua. Eliza yang paham lalu beranjak dari tempat itu dan naik ke tangga menuju kamar. Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan mertua suaminya itu.
"Ada apa bu?" tanya Reino setelah Eliza peegi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Ibu, dalam masalah lagi Rei, kamu bisa kan bantu ibu?" tanya Ibu Ratna memelas.
"Berapa yang ibu butuhkan?" tanya Reino seolah sudah tahu apa maksud tujuan ibu mertuanya menemui dirinya malam itu. Bukan sekali dua kali Ibu Ratna meminta uang pada Reino meski anaknya Lyla sudah meninggal dari kapan tahun.
Ibu Ratna bekerja di tempat karaoke sebagai pelayan di sana. Meskipun usianya tidak lagi muda, tapi wajahnya masih cantik dan terlihat awet muda. Karena itu ia masih digunakan di tempat itu. Tapi seringkali ia ikut berjudi dan membuat masalah dengan teman-teman di tempat kerjanya. Lalu ia akan selalu menyombongkan menantunya yang kaya raya. Sehingga saat kalah judi dia akan meminta uang kepada Reino untuk membayar hutangnya itu.
Reino sendiri tidak sengaja bertemu Lyla saat ibunya akan menjadikannya sebagai penebus hutang karena sudah berkali-kali kalah berjudi. Untung saja saat itu Reino memergokinya saat ia melakukan survey lokasi untuk syuting iklan klien perusahaannya. Dan bisa menyelamatkan Lyla dari niat buruk ibunya sendiri. Setelah Reino melunasi hutang Ibu Ratna, ia lalu semakin dekat dengan Lyla hingga jatuh hati padanya.
"10 juta saja. Kamu ada kan nak Reino?" tanya Ibu Ratna.
Reino menghela napasnya. Bukan berarti ia tidak mau membantu ibu mertuanya. Tapi dia baru saja membeli sebuah kafe yang tentunya tidak murah dan juga belum lama ini menggelar pernikahan dengan Eliza. Uang 10 juta menjadi berat di keluarkan untuk seseorang yang sudah bukan siapa-siapanya. Apalagi untuk membayar kekalahan judinya.
"Kenapa? Kamu tidak mau membantu ibu lagi? Karena sekarang sudah punya istri lagi? Istrimu melarangmu mengeluarkan uang untuk orang lain?" tanya Ibu Ratna bertubi-tubi.
"Bukan begitu bu.. Ya sudah, ibu tunggu di sini. Reino akan ambilkan uang untuk ibu," ucap Reino lalu beranjak menuju brankas yang ada di lemari bajunya. Saat ia masuk ke dalam kamar, dia melihat Eliza yang duduk di pinggiran tempat tidur. Reino tidak enak untuk menceritakan masalah ini pada Eliza, akhirnya dia memilih diam dan langsung menuju brankasnya untuk mengambil uang.
Eliza memperhatikan Reino yang tidak berbicara apa-apa padanya. Dia dengan jelas melihat suaminya itu mengambil uang yang jumlahnya tidak sedikit lalu langsung turun dari kamar. Eliza mengikutinya dari belakang dan bersembunyi di balik tembok tangga. Ia menyaksikan suaminya memberikan uang itu kepada ibu mertuanya dulu.
"Ini bu. Reino harap ibu segera menghentikan hobi berjudi ibu. Karena Reino tidak bisa selalu membantu ibu. Reino juga punya kebutuhan lain bu," kata Reino sambil memberikan uang itu kepada Ibu Ratna.
"Kamu sudah berubah Rei. Semenjak menikah lagi dengan wanita lain. Kamu sudah tidak menganggap ibu ini ibumu lagi. Dan juga kamu begitu cepatnya melupakannya Lyla anak ibu," ucap Ibu Ratna sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah menantunya itu.
__ADS_1
Reino menunduk dan mengusap kepalanya. Sepertinya obat penenang yang barusan ia minum tidak akan bekerja setelah mendengar kata-kata dari ibu mertuanya tadi.