
Eliza memandang foto pernikahannya dengan Reino yang sudah tergantung di dinding.
Entah kapan lelaki itu menaruhnya di sana.
Mereka baru saja pulang dari makan malam.
Dan Eliza langsung terpaku pada foto itu begitu masuk ke dalam rumah.
Reino ikut berdiri di sebelah Eliza.
"Ku kira kamu orang yang sibuk. Tapi ternyata kamu banyak waktu luang. Sampai-sampai aku tidak tahu kapan kamu memajang foto ini," ucap Eliza sambil sekilas menatap suaminya dari samping.
"Tadi siang setelah melihat kafemu aku mampir untuk mengambil foto ini dan memajangnya di sini," kata Reino sambil memegangi tengkuk lehernya karena gugup.
"Sepertinya lubang hidungku terlihat besar sebelah," gumam Eliza masih dengan memandangi foto itu.
Sedangkan Reino langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak kuasa menahan senyumnya setelah mendengar perkataan Eliza barusan.
"Oh, kamu tersenyum! Coba lihat ke sini!" seru Eliza saat tidak sengaja menangkap senyum Reino yang gagal disembunyikan lelaki itu.
Eliza berusaha meraih wajah Reino untuk membuatnya menampakkan senyumnya lagi.
Namun karena lelaki itu lebih tinggi darinya jadi ia gagal menembus pertahanan Reino.
"Kamu salah lihat," kata Reino sambil berlalu meninggalkan Eliza yang masih kesal karena gagal membuat dirinya mengaku jika ia tadi memang tersenyum.
Eliza sangat heran kenapa suaminya itu malu untuk menunjukkan senyum pada istrinya sendiri?
Sebesar itukah gengsinya??
Karena hal ini dia jadi terpanggil untuk membuat suaminya itu jadi lebih banyak tersenyum.
Dimulai dari senyum, mungkin nanti kepribadian Reino juga akan mulai berubah jadi lebih baik.
Terutama pada dirinya.
Eliza menyusul Reino masuk ke dalam kamar.
Saat ia membuka pintu, dia melihat suaminya itu sedang mengganti bajunya.
Jantung Eliza berdebar saat melihat Reino bertelanjang dada di matanya.
Dengan langkah pelan, Eliza mengambil piyamanya dan menuju kamar mandi.
Dia memutuskan untuk mengganti bajunya di kamar mandi saja.
Saat Eliza keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat Reino sudah duduk bersender di salah satu sisi ranjang.
Dan mulai berkutat dengan laptop yang berada di pangkuannya.
Eliza menghampiri sisi lain ranjang Reino dan dengan perlahan berbaring di sebelahnya.
Agar tidak menggangu pekerjaan suaminya.
Dia lalu menarik selimut hingga ke bagian lehernya sehingga kini hanya menampakkan kepalanya saja.
Sesekali dia melirik Reino menggunakan ekor matanya.
Lelaki itu masih bergeming, hanya jari jemarinya saja yang aktif bergerak sebagai tanda kehidupan.
"Kenapa kamu terus menerus melirikku seperti itu?" tanya Reino tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
Eliza terperanjat mendengar perkataan suaminya.
Bagaimana dia bisa tahu jika tadi ia mencuri pandang dengannya, sedangkan matanya dari tadi tidak beralih dari layar laptop itu.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Reino lagi
"Itu..." Eliza menggantung kalimatnya.
__ADS_1
Ia tidak yakin apa dia perlu menanyakan hal itu pada suaminya.
"Ah tidak, lupakan saja," sambung Eliza lalu memunggungi Reino.
Namun perasaannya kembali kacau, dia merasa tidak akan tidur nyenyak jika belum menannyakan hal ini.
Eliza memutar tubuhnya kembali.
Kini ia mengganti posisinya menjadi duduk di sebelah Reino.
"Itu.. sebenarnya kamu menyukaiku atau tidak?" tanya Eliza.
Akhirnya dia berniat mencari jawaban atas rasa penasarannya selama ini.
"Pertanyaanmu terdengar sangat bodoh," jawab Reino tanpa memperhatikan Eliza.
Dan wanita itu tampak berpikir keras untuk mencerna jawaban dari suaminya.
"Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku menikah denganku," ucap Reino kembali.
"Lalu, apa mungkin kamu.."
Belum selesai Eliza mengeluarkan pertanyaanya jari telunjuk Reino sudah berada di depan bibir Eliza.
"Sstt... Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan. Jadi berhenti berpikir macam-macam," ucap Reino.
Eliza mengangguk dengan cepat pertanda ia mengerti dengan ucapan suaminya itu.
Kemudian Reino kembali fokus pada layar laptopnya.
"Maafkan aku, bukannya aku mencurigaimu tapi aku hanya.."
*CUP*
Reino mengecup sekilas bibir Eliza.
"Kurasa ini cukup untuk membuatmu diam," ucap Reino.
Mereka saling menatap hingga hanya tersisia beberapa inci jarak antara mereka.
"Haruskah ku lakukan hari ini?" pikir Reino.
Sesuatu yang sebelumnya ia tunda karena suatu hal yang hanya dia yang tahu.
Namun wajah merah wanita yang kini ada di depannya ini selalu bisa menggodanya.
Hingga membuat lelaki itu terhipnotis ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Dengan tangan kanannya, Reino meletakkan laptopnya di atas nakas yang berada di sebelahnya.
Namun tatapannya tidak berpaling dari istrinya.
Setelah itu tangannya meraih tengkuk leher Eliza.
Tanpa aba-aba dia mencium lembut bibir wanita yang ada di depannya itu.
Eliza memejamkan matanya sebagai tanda jika ia tidak melakukan perlawanan.
"Mungkinkah Reino akan melakukannya malam ini?" batin Eliza.
______
Reino tersenyum pada Lyla yang seminggu ini sudah resmi menjadi istrinya.
Ia terus menghujami wajah Lyla dengan ciuman bertubi-tubi sebagai bukti rasa cintanya yang besar terhadap wanita itu.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku Rei," ucap Lyla saat itu.
"Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu," kata Reino.
Reino kembali mencium bibir Lyla, tapi ekspresi dari istrinya tidak seperti biasanya.
Dia terlihat menahan sesuatu.
Sedangkan kedua tangannya terus memegangi dada kirinya.
__ADS_1
Dalam hitungan detik Lyla langsung tidak sadarkan diri.
"Lyla!! Ada apa denganmu? Bangun Lyla!!"
Reino terus mengguncangkan tubuh istrinya berharap hal itu dapat membuatnya sadar.
Namun karena tidak membuahkan hasil, akhirnya Reino membopong Lyla menuju mobilnya dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Reino melajukan mobilnya seperti orang gila.
Hanya satu yang dia inginkan, yaitu cepat sampai di rumah sakit.
Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada istrinya, sebab selama ini dia terlihat sehat-sehat saja.
"Bertahanlah Lyla, kita akan segera sampai," ucap Reino pada Lyla yang masih tidak sadarkan diri di kursi sebelahnya.
Tangan kirinya masih terus menggenggam tangan Lyla.
Begitu sampai di rumah sakit Reino langsung berlari membawa Lyla menuju IGD.
Bahkan dia tidak menyadari saat itu dia tidak mengenakan alas kaki karena terburu-buru.
"Tolong selamatkan istriku," seru Reino saat ia sudah masuk di ruangan IGD.
Para perawat langsung menghampiri dengan membawa brankar dorong untuk membawa Lyla menuju sebuah ruangan agar segera di tangani.
Tidak lama dokter masuk dan melihat keadaan Lyla.
Reino menunggu dengan cemas di ujung ruangan, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri istrinya yang sedang berjuang dengan nyawanya.
Salah seorang perawat memasang beberapa kabel pada tubuh Lyla yang menghubungkannya pada alat monitoring yang berada di samping brankarnya.
Dokter lalu melakukan intubasi untuk memasukkan selang khusus melalui mulut dan hidung Lyla.
Setelah itu sebuah alat Ventilator kemudian dihubungkan pada selang tersebut.
Perawat lain datang membawa Defribilator atau Alat kejut jantung.
Melalui aba-aba dokter itu mulai menempelkan alat itu pada dada Lyla.
Betapa hancur hati Reino menyaksikan pemandangan seperti ini di depan matanya.
Air matanya terus keluar berharap hal ini cepat berlalu.
*NIT...........*
Terdengar bunyi nyaring dari alat monitoring.
Dokter dan perawat melepaskan satu persatu alat yang menempel pada tubuh Lyla.
"Kenapa kalian berhenti? Istri saya belum sadar!!" seru Reino lalu menghampiri mereka.
"Kalian harus menyelamatkannya bagaimanapun caranya!"
"Maaf pak, istri anda sudah tidak tertolong," ungkap dokter itu.
"Tidak... Tidak mungkin. Kalian harus berusaha lagi!" ucap Reino sambil memasangkan kembali alat oksigen pada Lyla.
Namun ia akhirnya sadar jika itu sia-sia.
Tubuhnya menjadi lemas seketika hingga ia jatuh terduduk ke lantai.
Reino menangis sejadinya malam itu.
______
Tiba-tiba saja Reino memundurkan tubuhnya menjauhi Eliza.
Tangannya terus saja memegangi mata dan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Eliza yang terkejut melihat perubahan pada diri Reino.
Lelaki itu tampak syok dan ketakutan.
__ADS_1