
Ayo Bas, kita pulang!" seru Ana pada Bastian yang masih menunggu jawaban dari Eliza. Tapi wanita itu tetap tak menjawab pertanyaannya, akhirnya ia memilih untuk pergi dan pulang bersama Ana kembali ke rumahnya.
"Terima kasih untuk waktunya, sudah mau menerima kami untuk makan bersama di sini," ucap Ana sambil pamit sebelum akhirnya mereka benar-benar meninggalkan rumah Reino. Eliza hanya memandangi punggung Bastian dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa dia menannyakan hal itu padaku?" batin Eliza.
"Kamu mau berangkat ke kafe?" tanya Reino membuyarkan lamunan Eliza.
"Ah iya, sebentar lagi," jawab Eliza. Dia lalu pergi menuju kamar untuk bersiap pergi ke kafe. Sampai di sana ia bertemu kembali dengan Bastian, padahal jam kerja lelaki itu hanya di malam hari tapi dia selalu datang setiap pagi seperti yang lainnya. Terkadang dia akan sedikit membantu pekerjaan Hilma dan Hyunsik, jika tidak dia akan duduk seharian dengan memainkan gitarnya. Mungkin hanya perasaan Eliza atau tidak Bastian sepertinya tidak ingin berada lama-lama di rumahnya, jadi ia memilih untuk datang ke kafe setiap pagi dan pulang tengah malam.
Eliza sedang membuat sebuah pesanan kopi saat tidak sengaja tangannya terkena air panas dari kopi itu.
"Auwhhh!!!!" rintih Eliza sambil membungkus tangan kanannya menggunakan celemek yang ia pakai. Sungguh banyak yang dipikirkannya mulai dari sikap Reino yang belum berubah padanya dan juga sikap Bastian yang sepertinya menyimpan sesuatu yang membuat Eliza penasaran.
"Kamu tidak apa-apa noona?" tanya Hyunsik yang lalu menghampiri Eliza yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Sepertinya noona harus ke rumah sakit," tambahnya.
"Iya El, mau aku temani?" kata Hilma ikut khawatir.
"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Kalian lebih baik tetap di sini karena banyak pelanggan menunggu. Akan sangat merepotkan jika hanya satu orang yang berjaga," jawab Eliza.
"Biar aku yang menemani," ucap Bastian yang tiba-tiba datang.
"Oh iya benar, lebih baik kamu pergi bersama dengan Bastian. Aku akan menghubungi suamiku nanti," kata Hilma sebelum akhirnya Eliza mau pergi dengan Bastian.
"Tolong cepat sedikit pak," ucap Bastian pada sopir taksi. Dia terus memegangi tangan Eliza yang terbungkus kain. Dia khawatir karena luka bakar pada tangannya memang lumayan parah. Sedangkan Eliza hanya diam memandangi wajah lelaki yang ada di sebelahnya itu. Dia terlihat begitu cemas, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari suaminya. Yaitu rasa perhatian.
__ADS_1
Bastian menunggu di luar kamar sembari Eliza mendapat penanganan medis. Hingga beberapa saat kemudian dokter keluar dan sudah mengizinkan Bastian untuk masuk. Di sana ia melihat tangan Eliza yang sedang digips. Itu menandakan memang luka bakarnya cukup serius.
"Aku tidak apa-apa. Beberapa minggu lagi juga sembuh," kata Eliza saat ia menagkap kecemasan pada wajah Bastian. Ia lalu melirik cincin pernikahan yang berada di atas nakas. Tadi dokter meminta izin untuk melepasnya saat akan memasang gips pada tangannya. Eliza lalu mengambil cincin itu.
"Maaf, bisa tolong bantu aku melepas ini?" tanya Eliza sambil mencoba membuka kaitan pada kalung yang ia pakai.
"Oh, iya tunggu," jawab Bastian. Eliza lalu menarik rambut panjangnya ke depan agar Bastian tidak kesulitan melepas kalung itu. Seperti ada aliran listrik yang mengalir saat tangan Bastian tidak sengaja menyentuh lehernya. Tapi anehnya hal itu membuat Eliza merasa nyaman dan menginginkan sentuhan itu lagi. Setelah Bastian berhasil melepasnya, Eliza lalu menaruh cincin pernikahannya pada kalung tersebut agar tidak hilang.
"Bisa tolong bantu aku lagi," pinta Eliza untuk memasangkan kalung itu kembali pada lehernya. Sungguh sesuatu yang hampir membuat pertahanan Bastian runtuh saat ia melihat leher jenjang Eliza. Ia sangat menginginkan wanita itu tidak peduli lagi dengan suaminya.
"Kenapa? Kenapa harus kamu?" gumam Bastian.
"Kenapa apanya?" tanya Eliza tidak mengerti. Dia lalu memutar tubuhnya dan memandang Bastian yang berdiri di depannya. Hingga pada akhirnya tangan Bastian menangkup wajah Eliza dan ia mencium bibirnya saat itu juga.
Eliza sempat blank dengan perlakuan tiba-tiba dari Bastian. Awalnya dia mengira jika lelaki yang di depannya itu adalah Reino karena itu Eliza diam saja. Tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dan mencoba melepaskan diri dari Bastian.
"Kenapa dia melakukan hal ini?" gumam Eliza. Dia memandang pantulan wajahnya pada cermin. Tidak menyangka jika akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Bastian.
Setelah menenangkan diri cukup lama, ia berniat kembali ke kamar untuk menanyakan maksud Bastian melakukan hal ini padanya. Tapi saat dia membuka pintu ia tidak melihat lelaki itu di sana. Dia hanya menemukan sebuah kertas dan serangkai bunga yang tergeletak di atas brankarnya. Dia lalu mengambil bunga itu.
"Kapan dia membelinya?" tanya Eliza pada dirinya sendiri. Ia lalu membuka kertas itu dan terdapat tulisan Bastian di sana.
"Maaf atas perlakuan tidak sopanku. Aku menyukaimu, dan itu sudah lama. Kamu tidak berhak melarangku karena ini perasaanku. Untuk hal tadi tolong lupakan saja, biar aku yang akan mengingatnya selama hidupku. Yang perlu kamu tahu aku tidak akan berhenti menyukaimu. Aku hanya akan menahannya seperti selama ini. Oh iya, Aku sudah memesankan taksi untukmu di depan, jadi cepatlah pulang, kalau tidak ongkosnya akan mahal karena argonya terus berjalan."
_Bastian_
Eliza menyunggingkan senyumnya membaca kalimat terakhir dari Bastian.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa aku tersenyum. Seharusnya aku marah padanya,"
"Kamu sudah kembali El?" tanya Hilma seraya menghampiri temannya. Dia melihat tangan Eliza yang terbalut gips.
"Kenapa tidak pulang ke rumah saja?" tambahnya.
"Kemana orang itu?" tanya Eliza.
"Orang? Siapa yang kamu maksud?" tanya Hilma tidak mengerti.
"Bastian, kemana dia?"
"Dia... Tadi ada. Mana ya? Aku juga tidak tahu," jawab Hilma.
Hyunsik ikut menghampiri Eliza dan Hilma setelah keluar dari toilet.
"Noona sudah kembali?" tanya Hyunsik.
"Iya. Apa kamu tahu di mana Bastian?" tanya Eliza kembali.
"Bastian? Tadi aku melihatnya di dalam toilet. Memangnya ada apa?" jawab Hyunsik.
Tanpa menunggu lebih lama Eliza berjalan menuju toilet pria yang ada di ujung kafe. Dia membuka pintu seakan tidak peduli jika itu adalah toilet pria. Beberapa lelaki di sana terkejut melihat kedatangan Eliza.
"Hei, ini toilet pria. Kamu salah masuk!" ucap salah seorang lelaki di sana, lalu segera keluar karena terganggu dengan kedatangan Eliza. Tapi Eliza sepertinya tidak peduli, apalagi saat dia menemukan Bastian yang berada di pojok toilet. Lelaki itu juga tampak terkejut dengan kedatangan Eliza ke tempat itu.
"Ini toilet pria. Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Bastian. Dia sedikit waspada jika Eliza akan murka dengannya apalagi jika sampai memecatnya.
__ADS_1
Bastian menelan salivanya saat Eliza berjalan mendekatinya.