
Hilma dan Hyunsik menatap mobil Bastian yang baru tiba di kafe. Dan tidak lama pemilik mobil dan Eliza keluar dari mobil dan masuk ke dalam kafe. Hilma langsung menghampiri mereka dan memberondongi mereka dengan pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Ke mana saja kalian? Kenapa lama sekali?" tanya Hilma dengan tatapan mengintimidasi.
"Kita cuma berkeliling dan berhenti sebentar di SD harapan bangsa. Saat kembali jalanan sudah macet," jawab Bastian.
"Benar pasti karena hujan lebat, dari tadi juga baru satu dua orang yang masuk ke kafe ini," gumam Hilma, lalu dia pergi menuju kamar mandi.
"Karena belum ada yang bisa aku bantu, aku mau istirahat sebentar. Panggil saja jika membutuhkan bantuanku," ucap Bastian. Dia memilih pergi untuk menghindari kecurigaan Hyunsik pada dirinya dan Eliza.
"Bagaimana jalan-jalannya? Noona bersenang-senang?" tanya Hyunsik tanpa memandang ke arah Eliza.
"Itu harusnya kalian ikut. Pasti akan lebih menyenangkan," jawab Eliza gugup.
"Bukankah lebih menyenangkan jika noona hanya berdua saja dengan penyanyi itu?"
"Siapa yang berduaan?" tanya Winda yang sudah berada di depan Eliza dan Hyunsik.
Eliza dan Hyunsik terkejut melihat keberadaan Winda yang tiba-tiba berada di sana tanpa mereka ketahui.
"Maaf anda siapa ya?" tanya Hyunsik yang belum pernah bertemu Winda sebelumnya. Sedangkan Eliza sudah beberapa kali bertemu dengan Winda tapi belum pernah banyak bicara dengannya.
"Aku Winda teman baik sekaligus rekan kerja pak Reino suami dari Eliza," ucap Winda memperkenalkan dirinya pada Hyunsik.
"Pasti kamu ada urusan denganku. Kita bicara di sana saja," kata Eliza berusaha mengalihkan pembicaraan pada Winda yang mungkin saja curiga setelah mendengar perkataan Hyunsik tadi.
"Kalau begitu aku akan siapkan minum," ucap Hyunsik lalu pergi untuk menyiapkan minuman untuk Winda.
"Ada apa ya?" tanya Eliza setelah dirinya dan Winda duduk di salah satu tempat duduk di kafe.
"Jadi begini, besok kan hari ulang tahun Reino. Aku ingin meminta izin padamu untuk memberikan Reino surprise di kantor. Aku mengatakan ini karena kamu adalah istrinya. Aku tidak mau kamu salah paham padaku. Dan kalau kamu ingin ikut, kamu bisa datang besok pagi ke kantor," jelas Winda panjang lebar.
"Besok ulang tahun Reino??" tanya Eliza yang terkejut setelah mendengarnya.
"Kenapa kamu terkejut? Jangan bilang jika kamu tidak tahu? Atau kamu memang benar-benar tidak peduli padanya sampai-sampai tidak tahu jika besok adalah ulang tahunnya?" tanya Winda penuh selidik.
__ADS_1
"Benar, aku terlalu tidak peduli pada suamiku sehingga aku tidak tahu jika besok adalah hari ulang tahunnya," batin Eliza.
Winda memperhatikan Eliza yang terdiam. Pandangannya lalu beralih ke sisi kanan mejanya. Di sana ada Bastian yamg sedang duduk dan memandang ke arah Eliza.
"Kenapa lelaki itu terus menatap seperti itu pada Eliza? Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui," batin Winda.
Bastian lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mengirimkan pesan pada Eliza.
Bastian : Kamu tidak apa-apa?
Winda masih memandangi gerak gerik Bastian tanpa sepengetahuan orangnya. Pandangannya teralih saat ponsel Eliza berbunyi dan menampilkan sebuah pesan dari seseorang bernama Bastian yang menanyakan keadaannya.
Winda dapat membaca dengan jelas pesan tersebut, tapi dia hanya memilih untuk diam. Untuk saat ini dia benar-benar curiga terhadap istri Reino dan karyawannya. Jika saja wanita itu memang benar menghianati Reino Winda tidak akan tinggal diam. Dia harus mendapatkan bukti agar Reino terbuka hatinya untuk dirinya
"Kamu belum menjawab pertanyaanku?" tanya Winda membuyarkan lamunan Eliza.
"Oh itu.. aku akhir-akhir ini banyak yang aku pikirkan. Aku akan datang besok pagi," kata Eliza. Ia berusaha mengakhiri percakapannya dengan Winda agar tidak menyebabkan kecurigaan yang lebih dalam pada dirinya.
Tepat saat itu telepon Eliza berbunyi, melihat ayahnya menelepon Eliza segera mengangkatnya dan meminta izin untuk pergi untuk menerima telepon.
"Kalau sudah selesai, aku mau pergi ke ruanganku. Permisi.." kata Eliza.
Setelah Eliza pergi, Winda bersiap untuk pergi dari kafe itu. Namun ada hal yang terus mengganjalnya tentang Eliza dengan lelaki bernama Bastian itu. Entah kenapa Winda meyakini jika mereka memiliki hubungan. Untuk menjawab rasa penasarannya, Winda perlahan menghampiri Bastian yang duduk sendiri di ujung.
"Ehmm, maaf boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Winda sopan.
"Boleh, mau tanya apa?" jawab Bastian tanpa curiga sedikitpun.
"Apa kamu seorang penyanyi di sini?"
"Iya benar," Bastian langsung menjawab pertanyaan dengan jujur karena tidak tahu jika Winda sedang menyelidikinya.
"Nama kamu Bastian ya?"
"Iya. Dari mana kamu tahu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu, kamu kan penyanyi di sini. Aku dengar suaramu sangat bagus," jawab Winda beralasan.
"Ohh,,"
Winda lalu keluar dari kafe dengan mengantongi sebuah info penting. Dia akan memberitahukan hal ini pada Reino jika mungkin saja istrinya benar-benar ada main dengan penyanyi itu.
"Halo yah, ada apa?" tanya Eliza melalui ujung telepon.
"Besok hari ulang tahun suamimu, apa kamu tahu?" tanya ayah Eliza.
"Te tentu saja aku tahu yah," jawab Eliza gugup. Dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya tidak tahu dengan hari ulang tahun suaminya sendiri.
"Kalau ada waktu luang hari ini, kamu mampirlah ke rumah Ayah malam ini. Ayah ada sesuatu untuk kamu,"
"Yang ulang tahun Reino, kenapa Eliza yang di kasih hadiah yah??"
"Tidak apa-apa ini untuk kalian berdua. Ini menyangkut penerus keluarga kita,"
"Maksud ayah?"
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu! Kalian sudah cukup lama menikah, kenapa belum ada kabar kehamilanmu?"
DEG!
Jantung Eliza rasanya seperti berhenti berdetak. Dia jadi teringat dengan perbuatan terlarangnya dengan Bastian tadi pagi. Tiba-tiba dia berpikir bagaimana jika dia hamil anak Bastian?
Eliza segera menepis pikiran negatifnya, tidak mungkin terjadi kan? Mereka hanya melakukannya sekali. Dan untuk Eliza itu sudah cukup, dia tidak ingin berbuat lebih jauh lagi.
"El?? Kamu dengar ayah bicara kan?"
"Eh iya yah, Eliza dengar yah. Iya nanti Eliza bicarakan dengan Reino," Eliza berusaha mengakhiri percakapan dengan ayahnya.
"Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa mampir ke sini malam ini," pesan ayah Eliza sebelum ia menutup teleponnya.
Perasaan cemas dan rasa bersalah kini menggelayuti diri Eliza. Bagaimana dia akan menghadapi Reino dengan tubuhnya yang sudah tidak suci lagi bahkan sebelum Reino sempat menyentuhnya.
__ADS_1
Tapi dia sendiri juga tidak bisa membendung hasrat dirinya untuk Bastian. Dia mencintai lelaki itu, tapi Eliza juga tidak bisa melepaskan Reino begitu saja.
Serakah? Mungkin itu kata yang patut di cap pada diri Eliza. Dia sendiri tidak paham kenapa ia terjerat dalam hubungan yang rumit seperti ini.