Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Masih Penasaran


__ADS_3

Reino kembali mengobati luka pada jari Eliza tanpa mengucapkan kata apapun lagi.


Sepertinya kejadian tadi sama sekali tidak berpengaruh padanya.


Setelah selesai, dia mengembalikan kotak p3k itu ke tempatnya.


"Aku langsung berangkat ya, sudah siang," ucap Reino lalu keluar dari rumahnya.


Eliza hanya bisa menatap kepergian suaminya.


"Kenapa dia tidak bereaksi apa-apa setelah aku mencium pipinya? Apa benar dia tidak menyukai wanita?" gumam Eliza.


Dia masih berpikiran negatif terhadap Reino yang masih acuh padanya.


Ia tahu butuh waktu bagi mereka untuk memulai hubungan sebagai suami istri di saat mereka belum lama kenal.


Namun Eliza merasa sepertinya hanya dia yang berusaha untuk memulainya sendiri dan tidak bagi suaminya.


Ada sedikit perasaan kecewa pada hatinya.


Dia kira kehidupan setelah menikah akan indah dan manis.


Ternyata dia belum bisa merasakan hal itu saat ini.


"Huhh,,"


Eliza menghela napasnya.


Seharusnya hari ini dia masih libur karena masih dalam fase pasca menikah.


Yang biasanya digunakan para pengantin baru untuk bulan madu.


Namun suaminya sudah bekerja lagi, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kafe tempat dia bekerja.


"Baiklah, lebih baik aku juga tetap masuk bekerja. Daripada di rumah sendiri, kesepian,"


Eliza lalu bersiap untuk berangkat bekerja.


"Ciye pengantin baru, kok sudah masuk saja sih?" goda Hilma teman Eliza.


"Iya, suamiku sudah bekerja. Dan aku kesepian di rumah sendiri, jadi lebih baik aku masuk kerja saja biar tidak bosan," ucap Eliza penuh semangat.


"Kamu memang selalu punya semangat yang tinggi El,"


Hilma memuji teman kerjanya itu, yang memang selalu rajin saat bekerja.


Tiba-tiba bunyi telepon berbunyi.


Hilma segera mengangkat telepon itu.


Setelah beberapa saat berbicara, Hilma terlihat mencatat beberapa pesanan kopi.


"Baiklah, akan segera kami antar. Terima kasih," kata Hilma dengan sopan namun dengan nada yang masih terkesan ceria.


"Kebetulan El, ada pesanan dari kantor suamimu. Apa kamu mau mengantarnya? Nanti kan kamu bisa bertemu dengannya. Aku tahu kalian masih dalam masa hangat-hangatnya kan?"


Hilma terus saja meledek Eliza.


Dan Eliza hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat Hilma.


"Hangat-hangatnya nenekmu. Bahkan dia belum menyentuhku sedikitpun," protes Eliza dalam hati.


Dia harus berpura-pura tersenyum mendengarnya, karena tidak mungkin Eliza mengatakan jika mereka belum melakukan apa-apa.


Tapi boleh juga pikir Eliza.


Dia ingin tahu bagaimana reaksi Reino saat melihat dirinya ada di kantornya.

__ADS_1


Rasa penasarannya muncul kembali.


Dia berharap suaminya itu akan memperlakukannya layaknya sebagai istri di depan karyawannya.


Akhirnya Eliza menyetujui usulan dari Hilma.


Setelah selesai membuatkan pesanan dia memasukkan gelas-gelas kopi itu ke dalam kotak.


Tidak lupa ia melebihkan satu yang spesial untuk ia berikan kepada suaminya.


Dia berharap Reino akan menyukai kejutan kecil darinya.


Eliza melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Dia tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali, saat ia tidak sengaja menabrak mobil Reino dari belakang.


Tapi tidak apa-apa, Eliza tidak menyesalinya.


Karena berkat itu dia bisa menemukan jodohnya.


Dia tersenyum sendiri saat mengingat kejadian waktu itu.


Kejadian di mana dia dan Reino pertama kali bertemu.


Setelah beberapa menit Eliza tiba di kantor Reino.


Kantornya tidak terlalu besar, tapi memang cukup terkenal di antara perusahaan advertising lain.


Dia lalu masuk ke dalam kantor dengan langkah ringan.


"Oh, bukannya kamu istri pak Reino?" tanya Ana saat menerima pesanan kopi dari tangan Eliza.


"Iya," jawab Eliza malu-malu.


Dia belum terbiasa dengan titel istri dari seorang direktur.


Dia menawarkan Eliza untuk menunggu Reino di ruangan lelaki itu.


"Boleh, kalau diijinkan," jawab Eliza canggung.


"Tentu saja boleh, kamu kan istrinya,"


Ana lalu membawa Eliza menuju ruangan Reino.


Setelah Ana pergi, Eliza lalu masuk ke dalam dan menaruh dengan hati-hati kopi buatannya di atas meja kerja Reino.


Sambil menunggu dia melihat-lihat isi ruangan itu.


Terdapat papan nama Reino Julian di atas meja itu.


Tidak henti-hentinya Eliza kagum dengan ruangan kerja suaminya yang bersih dan tertata rapih.


Namun tidak lama pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada di meja.


Terdapat sebuah foto wanita di sana.


Yang sepertinya itu adalah foto istri Reino yang sudah meninggal.


Eliza mengambil foto itu dan memandanginya.


"Cantik sekali," gumam Eliza.


Apa Eliza cemburu?


Sepertinya tidak, bagaimana mungkin dia cemburu pada seseorang yang sudah meninggal?


Pasti Reino punya alasan tersendiri masih menyimpan foto itu di sini.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Terdengar sebuah suara yang mengejutkan Eliza.


Saat ia berbalik, dia melihat Reino sudah berdiri di ambang pintu.


"Oh, aku mengantarkan pesanan ke sini. Dan ingin memberikan kopi juga untukkmu. Tapi staffmu bilang kamu sedang keluar, jadi aku taruh kopinya di mejamu,"


Eliza menjelaskan alasan ia berada di ruangan suaminya itu


Reino berjalan mendekat.


Dia melihat tangan Eliza sedang memegang foto Lyla mendiang istrinya.


"Aku lupa menyimpan yang ini. Kamu tidak perlu berpikir yang macam-macam," kata Reino.


Dia langsung menjelaskan alasan di balik foto mendiang istrinya yang masih ada di mejanya kepada Eliza.


Sepertinya ia tahu apa yang Eliza pikirkan tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja,"


Eliza lalu mengembalikan foto itu pada Reino.


"Jangan lupa di minum kopinya," ucap Eliza sebelum ia berniat meninggalkan ruangan Reino.


"Nanti sore, bisakah kamu ikut denganku ke suatu tempat?" tanya Reino tiba-tiba sambil menaruh foto Lyla ke dalam laci mejanya.


Eliza menghentikan langkahnya dan kembali pada Reino.


"Nanti aku bilang dulu pada atasanku. Sepertinya bisa, karena sebenarnya hari ini aku masih libur," jawab Eliza.


"Lalu kenapa kamu masuk kerja?"


"Aku bosan di rumah sendiri,"


"Baiklah nanti aku jemput di kafe,"


"Hmm oke. Tapi apa aku boleh tahu kita akan pergi ke mana?"


"Nanti kamu akan tahu,"


"Oh, baiklah sampai bertemu nanti," pamit Eliza sambil memperhatikan Reino yang sudah fokus pada pekerjaannya.


"Hmm," jawab Reino tanpa melihat ke arah istrinya.


Eliza lalu keluar dari ruangan Reino dan menutup pintu dengan perlahan.


Rencananya untuk memberikan kopi pada suaminya itu berhasil.


Meskipun ia belum mengantongi jawaban atas rasa penasarannya selama ini.


Ia masih penasaran tentang apa yang di rasakan Reino terhadap dirinya.


Karena lelaki itu benar-benar sulit untuk di tebak.


Baru beberapa meter dari ruangan Reino, mata Eliza tertuju pada seorang wanita yang sedang berjalan di depannya.


Setelah wanita itu melewatinya Eliza menoleh ke belakang.


Wanita itu hendak masuk ke dalam ruangan Reino.


Namun bukan itu yang di permasalahkan Eliza saat ini.


Melainkan saat wanita itu merapikan rambut dan make up nya sebelum ia masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Sepertinya aku tidak melihatnya kemarin di acara pernikahan kami," gumam Eliza sambil terus memandangi wanita itu yang masuk ke dalam ruangan Reino.

__ADS_1


__ADS_2