
"Sudah mandi kenapa masih panas ya?" gumam Eliza.
Dia membuka satu kancing piyamanya karena kepanasan. Dan ia sama sekali tidak berpikir macam-macam saat itu. Dengan santai Eliza duduk di meja riasnya dan memakai lotion sebelum tidur.
Tidak sengaja Eliza menangkap bayangan Reino melalui pantulan cermin yang ada di depannya. Lelaki itu terus memandanginya sedari tadi. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Eliza juga memperhatikan Reino cukup lama. Kenapa lelaki itu tampak sangat menggoda malam ini? Pikir Eliza.
Reino tampan dan memiliki tubuh yang bagus, ingin sekali Eliza melihat tubuh Reino yang dihiasi dengan tato di dada kanannya yang indah. Sebelumnya ia pernah melihatnya sekali dan itu hanya sebentar.
Eliza segera menggelengkan kepalanya. Sejak kapan dia jadi mudah berpikiran hal mesum seperti ini?? Dia menepuk-nepuk wajahnya untuk menyadarkan diri.
Setelah selesai, Eliza menuju tempat tidur dan berbaring di sebelah Reino. Jantunya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Dan napasnya memburu padahal dia tidak sedang berolahraga.
"Kenapa ini? Ada yang salah dengan tubuhku," batin Eliza. Dia mencoba memejamkan matanya untuk menahan gejolak yang keluar dari tubuhnya.
Namun hal itu tidak bertahan lama, mata Eliza kembali terbuka saat sebuah bibir hangat menyambar bibirnya. Dan orang itu adalah Reino.
Jantung Eliza semakin berdegup kencang, saat lelaki yang baru saja ia puja visualnya tersebut memberinya kenikmatan yang begitu sangat ia inginkan sebelumnya.
Tanpa menunggu perintah Eliza mengaitkan lengannya pada leher Reino dan membalas pagutan dari lelaki tersebut. Dan dia juga tak segan membantu melepas baju kemeja yang masih menyelimuti Reino karena gejolak tubuhnya yang semakin tak tertahan.
Ya. Dia menginginkan Reino malam ini. Meskipun baru tadi pagi Eliza melakukannya dengan Bastian. Mendadak ia melupakan Bastian yang sudah lebih dulu tinggal di hatinya.
Tak butuh waktu lama, pakaian mereka sudah tertanggal. Reino yang sudah pernah menikah melakukan tugasnya dengan baik. Siapa sangka dia ahli dalam memberi kenikmatan pada pasangan. Kenapa dia bisa menahannya selama ini? Pikir Eliza.
Setelah beberapa menit melakukan pemanasan Reino mulai memasuki Eliza dengan perlahan. Dia pikir pasti akan sakit bagi seorang wanita untuk pertama kalinya.
Dan tiba-tiba Reino terdiam.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" tanya Eliza dengan suara paraunya.
Reino tak juga menjawab pertanyaan Eliza. Dia memandang wajah istrinya dengan intens. Sungguh tatapan yang sulit diartikan.
Setelah lama memandang Eliza dan membuat wanita itu kebingungan, akhirnya ia meneruskan permainannya kembali. Dan tidak sesuai dugaan, Reino mempercepatnya membuat Eliza sedikit kecewa.
Setelah selesai melepaskan hasratnya, Reino segera memunguti pakaiannya yang berserakan dan segera memakainya. Lalu dia keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi.
Reino memejamkan matanya dibawah guyuran shower yang membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Satu hal yang sangat mengganjal pikirannya saat ini. Kenapa milik Eliza sangat mudah ia masuki? Bukankah seharusnya itu sulit untuk kali pertama? Apa jangan-jangan Eliza pernah melakukannya dengan lelaki lain? Tapi dengan siapa?? Pikir Reino.
Dia terus berdebat dengan pikiran negatifnya kembali. Padahal sebelumnya ia sudah memutuskan untuk percaya pada Eliza.
Sementara itu Eliza masih terdiam di tempat tidur. Dia meremat selimutnya, saat mengingat jika dirinya sudah tidak suci sebelum melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Sudah pasti Reino menyadarinya kan?" batin Eliza.
Padahal ini malam pertama dengan suami yang sangat diinginkan Eliza. Tapi dia sendiri yang mengacaukannya. Ia bingung akan menjawab apa jika Reino menanyakan hal ini padanya.
"Ahh.. bagaimana ini..." keluh Eliza sambil menutupi dirinya dengan selimut.
Dari balik selimut, Eliza melihat kedatangan Reino. Hal itu membuatnya semakin gugup. Dia tidak tahu apa yang akan diucapkan lelaki itu padanya.
Eliza masih berlindung di balik selimutnya saat Reino sudah berbaring di sebelahnya. Dia akan berpura-pura tidur sampai pagi datang untuk menghindari suaminya itu.
"Terima kasih.. karena sudah menunggu sampai selama ini," ucap Reino.
Eliza terkejut mendengar perkataan dari Reino. Perlahan dia membuka selimutnya dan menatap lelaki itu.
"Apa dia tidak tahu? Tapi kenapa tadi dia bersikap sangat dingin?" tanya Eliza dalam hati.
__ADS_1
"Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melakukannya lagi pada wanita lain. Ternyata tidak, aku sudah sembuh dari traumaku. Terima kasih sudah mau menjadi istriku dan bersabar untuk selama ini," ucap Reino lalu mengecup kepala Eliza.
Setelah itu dia tidur seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Mungkin ini tidak seperti dugaanku. Pasti ada sebab yang lain, atau ini hanya perasaanku saja," batin Reino. Dia memutuskan untuk kembali berpikir positif terhadap istrinya. Sebab dia lelaki cerdas, dia tahu keadaan seperti ini bukan hanya di sebabkan karena hubungan suami istri saja melainkan bisa terjadi karena penyebab yang lain. Bisa saja Eliza salah satu dari kasus langka tersebut.
Ya. Tidak ada salahnya untuk mencoba berpikir positif terhadap pasangan sendiri.
Eliza masih memandangi wajah Reino yang terpejam. Berpikir jika Reino seperti ini sejak awal apakah dia masih akan jatuh cinta dengan Bastian? Kini keadaan menjadi semakin rumit saat Reino mulai bersikap hangat padanya. Perasaan bersalah kembali muncul padanya. Dia sadar tidak seharusnya dia menghianati suaminya sampai sejauh ini.
Tapi apa bisa Eliza memutuskan hubungannya dengan Bastian? Apalagi kini mereka sudah semakin dekat? Eliza tidak bisa tertidur malam ini memikirkan hal itu.
Sementara itu, Bastian yang baru sampai di rumah setelah bekerja di kafe memandangi rumah Eliza yang masih gelap malam itu. Bastian sudah sangat rindu padanya. Apalagi setelah kejadian tadi pagi, membuat Bastian semakin tidak ingin melepaskan eliza dari pelukannya.
Tapi saat ini ia menjadi khawatir. Khawatir jika akhirnya Eliza akan lebih memilih untuk tetap bersama suaminya dibanding dengan dirinya.
Tidak seperti biasanya, Eliza pergi dari sore bersama suaminya hingga larut malam begini mereka belum juga pulang.
"Sebenarnya ke mana mereka pergi?" gumam Bastian.
Dia lalu mengambi ponselnya dan mencoba menghubungi Eliza dengan nomor pribadi. Tapi tak ada jawaban di sana. Bastian menjadi semakin cemas. Karena biasanya saat dia menghubungi Eliza dengan nomor pribadi, wanita itu akan langsung mengirimkan pesan padanya tapi kali ini tidak.
Hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagi Bastian sekaligus menakutkan.
Takut jika akhirnya Eliza akan lepas dari genggamannya. Setelah apa yang sudah mereka perbuat.
Dia benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Dan ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Ia memutuskan tidak akan tidur sebelum melihat wajah Eliza.
Sedikit gila memang. Tapi mau bagaimana lagi, Bastian memang sudah tergila-gila pada Eliza. Dia tidak akan melepaskan wanita itu dengan mudah begitu saja.
__ADS_1