Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Curiga


__ADS_3

Ketika Eliza terbangun, dia sudah tidak menemukan Reino di sampingnya. Ia kecewa karena pagi itu suaminya tidak membangunkannya, setidaknya untuk berpamitan padanya.


Ia melirik ponselnya dan ada sebuah pesan masuk dari suaminya.


Reino: Maaf, aku ada rapat pagi ini jadi tak bisa mengantarkanmu ke kafe.


Eliza tidak membalasnya, dia menghela napasnya dan menatap sinar mentari yang memasuki kamarnya melalui celah jendela.


Ia berjalan hingga balkon kamarnya, melihat rumah sekelilingnya dari atas sana.


Tiba-tiba pandangannya terkunci pada satu bayangan seorang lelaki yang sedang menyiram tanaman pagi itu.


Tanpa sadar Eliza menarik sudut bibirnya hingga membetuk senyuman.


Lelaki itu nampak sedang bersenandung bila dilihat dari caranya menggerakkan bibirnya dan senyum di wajahnya.


"Lucu sekali," gumamnya. Ia masih betah melihat lelaki itu dari tempatnya berdiri, hingga Bastian memergokinya jika sejak tadi dia sedang melihatnya.


Bastian melambai kepada Eliza dengan senang. Dan sontak Eliza melambaikan tangannya pada Bastian.


Hatinya ada rasa bergetar ketika melihat senyum lelaki itu di matanya.


Ada perasaan yang tak pernah ditemukan dari suaminya Reino selama ini.


Oke, Reino adalah lelaki yang baik meskipun ia dingin. Tetapi, Eliza merasa ada kekurangan dari pria tersebut.


Reino, sama sekali tak pernah menyentuhnya. Ia sangat kecewa. Malahan dia berpikir jika Reino tidak mencintainya karena hal itu.


Eliza masih saling berpandangan dengan Bastian. Hingga tanpa sadar ayah Bastian sudah berdiri dari belakang dan memukul kepala anaknya tersebut.


Senyum Eliza seketika luntur melihat pemandangan kasar yang ada di depannya.


"Apa-apaan itu kenapa ayahnya kasar sekali dengan Bastian?" protes Eliza. Dia masuk ke dalam. Ia tak mau Bastian melihatnya saat dia sedang bertengkar dengan ayahnya.


**


"Tumben naik bus?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di samping Eliza. Dia sedang menunggu bus saat itu.


Bastian tersenyum pada Eliza, seakan tak pernah terjadi apa-apa tadi pagi.


Dalam hati Eliza dia bertanya-tanya mengapa ayahnya bersikap seperti itu padanya. Namun ia urungkan karena itu adalah masalah pribadinya.


"Terus, kenapa kamu sudah ada di sini? Bukannya kamu bekerja jam 7 malam?" tanya Eliza. Ia bingung mau membawa pembicaraan mereka ke mana, hingga melontarkan pertanyaan bodoh tersebut.


Padahal dia sudah tahu jika Bastian lebih nyaman di kafe daripada di rumah. Apa karena ayahnya?


Eliza memandang Bastian dengan perasaan tak biasa. Degup jantungnya terus berdebat ketika mata mereka berdua saling bertemu.


Bayangan-bayangan yang terjadi beberapa hari yang lalu selalu terlintas di kepalanya.

__ADS_1


Hingga ia menginginkannya lagi.


"Jangan melamun. Bus sudah datang." Bastian menepuk pundak Eliza lalu ia bergerak ketika bus berhenti di depan mereka.


Bastian membiarkan Eliza masuk duluan, diikuti olehnya.


Ketika melihat tempat duduk, hanya satu kursi kosong di sana dan Bastian membiarkan Eliza untuk menempatinya.


"Karena aku lelaki maka kamu silakan duduk saja," ucapnya berlagak sok keren, Eliza hanya tersenyum melihat Bastian seperti itu.


Di sepanjang perjalanan Bastian selalu menceritakan kisah lucu padanya. Hingga Eliza tertawa dan dilihat oleh sekelilingnya.


Dalam hati Eliza ia berandai-andai jika saja Reino seperti Bastian. Membuatnya tertawa dengan lelucon payahnya. Mungkin Eliza tak akan terjebak dengan perasaan ambigunya.


Kini ia merasa lebih nyaman dengan Bastian dibanding dengan Reino.


Eliza tak menginginkannya, tapi hatinya berkata lain.


"Kamu tidak apa-apa dengan ayahmu tadi?" tanya Eliza ketika rasa penasarannya tidak terbendung lagi.


"Oh, tadi?" tanya Bastian sedikit ragu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Sudah biasa kok," jawabnya. Ia memaksakan senyumnya di balik hatinya yang terluka karena perlakuan kasar dari ayahnya.


Dan mulai dari sana Eliza tidak bertanya lagi. Ternyata lelaki itu menyimpan rasa sakit yang banyak orang tidak ketahui.


**


Pasalnya, sejak ia mengajak Reino makan malam dengannya. Sikapnya kini sangat sok dan bersikap seolah dia adalah tangan kanan Reino.


Winda tahu watak wanita itu, bisa jadi dia akan merebut Reino dari tangan Eliza.


Dari gerak-geriknya. Dia tampak seakan menggoda lelaki tersebut.


Tak seperti biasanya, Ana mengenakan rok pendek yang tingginya di atas lutut.


Badannya yang berisi memang sangat cocok apalagi dia sengaja mengenakan atasan ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya.


Wangi parfumnya tak seperti biasa. Dari itu Winda tahu jika wanita itu sedang mencoba untuk menggoda Reino.


Saat di pantry, Ana masuk dan hendak membuatkan kopi untuk Reino. Dan saat itulah Winda masuk untuk berbicara pada Ana.


"Apa kamu mempunyai niat lain untuk Reino?" tanya Winda sinis.


Ana berdecih kemudian tersenyum miring. "Kenapa? Apa kamu takut?" Ia mengaduk kopi yang ada di tangannya. "Apa kamu ingin bersaing denganku?"


"Dasar perempuan gila," gumam Winda. "Silakan, coba saja kamu menggoda Reino. Lihat saja nanti apa yang akan kamu dapatkan setelah ini."


Winda keluar dengan perasaan begitu kesal. Tangannya mengepal dan ingin sekali menampar wanita yang belum lama bekerja di perusahaannya.

__ADS_1


Di koridor dia berpapasan dengan Reino.


"Rei!" panggil Winda.


"Kenapa Win?" tanyanya.


"Mau makan siang denganku?" ajaknya.


Dan saat itu Ana muncul dari pantry dengan nampan berisi kopi dan roti bakar.


"Pak Reino tidak makan siang hari ini. Dia hanya makan roti dan kopi." Ana menunjuk nampan di hadapannya dengan matanya.


Winda menatap Reino dengan penuh tanya.


"Maaf Win. Aku lagi tidak selera makan akhir-akhir ini."


"Oh. Oke."


Lalu Ana mengekor di belakang Reino kemudian masuk ke dalam ruanganya berdua.


"Dasar ular berbisa," gerutunya.


Jika Winda terlambat menyelamatkan Reino. Pasti dia akan masuk ke dalam perangkap wanita tersebut.


**


Hyunsik tidak masuk bekerja karena sakit, jadi hanya ada Hilma di dalam kafe tersebut.


"Hey! Bas! Bagus kalau kamu datang lebih awal karena Hyunsik tidak masuk hari ini," seru Hilma.


"Kenapa dengannya?" tanya Eliza penasaran. Tak seperti biasanya lelaki itu tidak masuk bekerja seperti ini.


"Sakit, tadi pagi meneleponku katanya matanya sedang sakit," jawab Hilma.


Eliza terdiam. Ia ingat dengan ucapan Hyunsik beberapa hari yang lalu.


Pandangannya beralih ke Bastian yang langsung membantu Hilma mencuci gelas.


"Apa jangan-jangan Hyunsik tahu?" tanyanya pada diri sendiri. "Tapi mana mungkin," lanjutnya lagi.


"Kenapa El?" tanya Hilma. Bastian memandang Eliza yang nampak cemas.


"Aku akan menengok ke tempat Hyunsik sebentar." Setelah mengatakan kalimat tersebut Eliza langsung melesat keluar kafe.


"El! Ini akhir pekan! Tamu pasti banyak yang datang!" teriak Hilma.


"Tenang saja, ada aku yang membantumu." Bastian tersenyum sambil mengelap gelas yang telah dicuci oleh Hilma.


Dia tidak tahu apa yang sedang menimpanya denan Eliza saat ini.

__ADS_1


__ADS_2