
Ana sedang meletakkan beberapa piring makanan di atas meja saat Bastian sampai di rumah.
"Loh, tumben kamu sudah pulang. Biasanya larut malam?" tanya Ana sambil melirik jam yang menunjukkan pukul tujuh malam lewat sedikit.
"Hari ini tutup lebih awal karena pemiliknya mengalami kecelakaan tadi. Suaminya memintanya untuk segera menutup kafe," jawab Bastian sambil duduk dan menyomot sebuah tempe goreng dari piring.
"Cepat mandi dulu. Kita mau ada tamu."
"Tamu?" gumam Bastian. Dia belum mengetahui jika yang akan datang bertamu ke rumahnya adalah Eliza dan suaminya. Ia pun beranjak menuju kamarnya untuk mandi.
***
Sementara itu di rumah Reino, Eliza sedang menyisir rambutnya di depan cermin saat suaminya keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaiannya.
"Mulai besok kamu pulang sore saja. Aku akan mencarikan beberapa karyawan lagi untuk kafemu. Dan aku juga sudah menyuruh Hilma untuk mengurus semuanya saat kamu sudah pulang," ucap Reino.
"Hah? Pulang sore? Itu berarti aku tak bisa melihat Bastian menyanyi saat malam? Bagaimana ini?" batin Eliza. Dia menerawang kosong.
"Ayo kita pergi," kata Reino lalu pergi lebih dulu meninggalkan Eliza yang masih terdiam. Dia lalu mengekor di belakang Reino menuju rumah Ana.
Karena letaknya hanya di seberang rumah jadi mereka hanya jalan kaki menuju sana.
TING TONG
"Selamat datang di rumah saya. Silakan masuk," ucap Ana mempersilakan Reino dan Eliza masuk ke dalam rumahnya. Bastian baru saja keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Reino dan juga Eliza. Mereka langsung menuju ruang makan.
"Kalian hanya berdua?" tanya Reino saat hendak duduk.
"Ayah masih kerja, jam sembilan malam nanti baru pulang," jawab Ana.
"Oh begitu, sayang sekali," gumam Reino.
"Ngomong-ngomong adikmu kuliah atau kerja di mana?" tanya Reino kemudian.
"Iya, oh Bastian dia seorang penyanyi kafe," kata Ana dengan bangga mengenalkan Bastian pada Reino dan juga Eliza.
"Apa sih kak!" Bastian menyenggol lengan Ana.
"Oh iya? Di kafe mana? Istri saya juga sekarang sedang mengelola sebuah kafe," sahut Reino.
"Apa namanya Basl?" tanya Ana pada Bastian.
"Laliza cafe," jawab Bastian lirih.
"Laliza ka.." Ana menggantung kalimatnya. Seperti familiar dengan nama kafe itu.
__ADS_1
"Bukankah itu kafe milik bu Eliza?" tanya Ana kemudian.
"Iya benar itu kafe milik istri saya." Mata Reino dan Ana kini tertuju pada Eliza yang semenjak tadi hanya diam.
"Iya, dia memang bekerja di kafeku," kekeh Eliza.
"Astaga, sungguh suatu kebetulan," ucap Ana merasa bahagia setelah mendengar ternyata adiknya bekerja di kafe milik istri bosnya.
"Heh, kenapa kamu tak pernah bilang? Kakak kan jadi malu" bisik Ana pada Bastian.
"Kakak tak pernah tanya," jawab Bastian enteng.
"Memang dasar bocah ini!" Ana mencubit pinggang Bastian membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Sakit kak!" keluh Bastian.
Mereka mulai kembali menikmati makan malam dengan santai. Tak banyak percakapan lagi yang keluar dari bibir masing-masing. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu.
"Terima kasih makanannya Ana," ucap Reino saat sudah selesai dengan makanannya.
"Iya saya yang berterima kasih karena pak Reino sudah mau datang ke rumah saya. Oh iya, ada yang mau saya perlihatkan ke pak Reino bisa kita ke ruang kerja saya sebentar?"
"Oh baiklah."
Reino dan Ana akhirnya pergi ke ruang kerja Ana yang tidak jauh dari tempat mereka makan. Mereka tampak membicarakan hal yang serius sambil memperhatikan komputer milik Ana.
"Bagaimana tanganmu? Apa masih sakit?" tanya Bastian sedikit mengejutkan Eliza. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Bastian yang duduk di depannya.
"Sudah gak apa-apa," jawab Eliza sambil tersenyum tipis.
Lalu hening kembali di antara mereka.
"Hmm.. apa kamu menyukai spongebob?"
"Hah?" Eliza heran dengan pertanyaan acak dari Bastian.
"Ah tidak lupakan saja. Aku hanya asal bicara."
"Jika aku mengatakan ini bisakah kamu anggap aku hanya asal bicara?"
Bastian memandang heran ke arah Eliza. Ia tidak tahu apa maksud Eliza mengatakan hal itu padanya.
"Aku suka saat melihatmu bernyanyi. Aku suka saat kamu khawatir padaku ketika tanganku terluka. Aku suka bunga pemberianmu walaupun aku tahu kamu mengambilnya dari taman rumah sakit."
"Jadi kamu tahu," gumam Bastian. Ia tersenyum mengetahui perbuatannya yang ketahuan.
__ADS_1
"Tiap kali aku mengingatnya, hal itu membuatku tersenyum. Aku pasti sudah tidak waras," ucap Eliza lalu kembali menatap makanan yang ada di piringnya.
"Sepanjang hari. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap harinya aku merasa bisa gila jika tidak melihatmu," kata Bastian tiba-tiba.
Laura melirik ruangan di mana Reino dan Ana berada. Memastikan jika mereka tidak mendengar ungkapan gila dari mereka berdua.
"Maaf seharusnya aku tak mengatakan hal ini." Bastian menyesal telah membuat Eliza menjadi tidak nyaman karenanya.
"Gelangmu bagus, dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Eliza mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu menyukainya?" Bastian melepas gelang anchor berwarna hitam miliknya dan memakaikannya pada tangan Eliza.
"Ah, tidak. Aku hanya.." belum sempat Eliza menghindar gelang tersebut sudah melingkar di pergelangan tangannya.
Tidak lama terlihat Ana dan Reino sudah keluar dari ruangan kerja Ana dan menuju ke meja makan.
Eliza segera menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"Ayo kita pulang," ajak Reino.
"Iya," jawab Eliza.
"Kami pamit pulang dulu ya," ucap Reino.
Ana mengangguk dan mengantarkan mereka berdua sampai depan pintu.
***
Malam harinya..
Eliza memandangi Reino yang sudah terlelap di sebelahnya. Dia membalikkan badannya dan memunggungi suaminya. Tangannya ia letakkan di depan cahaya temaram lampu yang berada di nakasnya. Memperhatikan gelang pemberian Bastian yang nampak biasa tapi terasa istimewa.
"Kini baru aku sadari. Cinta bisa hadir tanpa di sadari. Dengan perlahan tapi pasti. Merasuk di jiwa ini.
Perasaan ini takkan pernah aku mengerti. Sejenak khilafku lupakan dia yang miliki diriku.
Saat cinta menyentuh hati. Akupun tak kuasa untuk menghindari. Meski aku telah berdua, aku jatuh cinta lagi."
__Eliza__
"Matikan lampunya jika tidur," ucap Reino membuyarkan lamunan Eliza.
"Ah iya," jawab Eliza lalu mematikan lampunya. Ia mencoba untuk tidur agar bisa mencerna semua kejadian yang menimpanya hari ini. Ia belum tahu pasti perasaannya pada Bastian akan bersikap sementara atau lebih lama.
Awalnya dia mengira semua ini karena ia mendapatkan semua hal yang tidak bisa ia dapatkan dari Reino. Tapi bagaimana jika perasaan ini sudah semakin dalam? Bagaimana jika nanti Reino mengetahui hal ini?
__ADS_1
Ah sudahlah Eliza enggan memikirkannya untuk sekarang. Mau tidak mau dia harus siap menerima konsekuensinya di kemudian hari, meskipun itu bukan hal yang diinginkannya.