Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Berubah


__ADS_3

Kau temukanku telah jatuh, dalam cobaan terdahsyat dari cinta. Ku telah tergoda aku tak setia, aku hianati kita. Maafkanku minta mengertimu. Karena ku tak mampu hindari rasa.


Izinkan aku sekali saja rasakan cinta yang lain. Sekali saja kuingin memeluknya dan cium bibirnya. Hanya untuk biarkan dia dan kenangannya berlalu.


_Eliza_


Eliza mendekat dan mencium bibir Bastian. Membuat lelaki itu membelalakan matanya. Ia tidak menyangka jika Eliza akan berbuat seperti ini.


"Mungkinkah dia memiliki perasaan yang sama sepertiku?" pikir Bastian.


Eliza melepaskan tautan bibirnya, tapi dengan segera Bastian menyambarnya kembali. Seolah tidak ingin hal ini cepat berakhir. Dia bahagia setidaknya wanita yang ada di depannya sudah lebih dekat dengannya. Salahkah jika kini ia menuntut hal lebih untuk bisa memiliki wanita itu seutuhnya?


Eliza menunduk malu setelah apa yang ia lakukan barusan. Setan apa yang sudah merasuki dirinya hingga ia berbuat demikian. Mungkin karena kesepian? Dia seorang istri yang tidak pernah terjamah oleh suaminya mungkin wajar jika dia menginginkan sentuhan-sentuhan lembut dan romantis seperti ini. Hal yang mungkin bisa ia dapatkan dari Bastian bukan dari Reino.


"Noona.." gumam Hyunsik. Awalnya ia ingin melihat Eliza yang belum juga keluar dari sana karena khawatir. Dia juga penasaran dengan apa yang terjadi antara Eliza dan Bastian. Tapi kini dia harus melihat pemandangan menjijikan seperti ini. Sungguh ia tidak habis pikir. Selama ini dia selalu menganggumi Eliza dan menganggapnya seperti kakaknya sendiri. Tapi setelah kejadian ini mungkin hal itu tidak akan terjadi lagi. Hyunsik segera pergi dari tempat itu karena tidak ingin terlibat dengan perbuatan tidak benar mereka. Dia hanya akan berpura-pura tidak tahu mengenai masalah ini. Tapi setelah kejadian ini membuat dirinya ingin cepat menyelesaikan skripsinya dan kembali ke negaranya. Karena merasa sudah tidak betah jika harus bersama dengan orang-orang seperti mereka.


"Di mana Eliza?" tanya Hilma saat Hyunsik sudah kembali ke konternya.


"Tidak tahu," jawabnya singkat.


"Aku kira tadi kamu ingin memeriksanya?"


"Tidak jadi,"


Karena tidak ingin mendengar pertanyaan lebih banyak lagi tentang Eliza akhirnya Hyunsik pergi meninggalkan Hilma yang masih bingung.


"Kenapa dia jadi jutek sekali?" gumam Hilma.


"Tolong bawakan moccacino es ke ruanganku ya," perintah Eliza pada Hyunsik.


"Sepertinya aku harus mendinginkan isi kepalaku," gumamnya lalu masuk ke dalam ruangannya. Tangannya ia letakkan di wajahnya karena tak kuasa menahan rasa malu. Sungguh dia tidak mempunyai keberanian untuk bertemu lagi dengan lelaki itu. Tapi peristiwa tadi benar-benar terus membayangi pikirannya. Dia tidak bisa melenyapkan sosok Bastian dari ingatannya.


TOK TOK


"Oh, masuk,"


Hyunsik lalu masuk dengan membawa minuman yang diminta Eliza. Dia masuk dan langsung menaruh gelas itu di meja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan wajahnya tidak seperti biasanya yang selalu di hiasi senyum.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Eliza sambil tersenyum pada lelaki yang ada di depannya itu.


"Hmm," jawab Hyunsik singkat. Lalu berniat keluar dari ruangan itu. Tapi Eliza sepertinya menyadari perubahan sikap Hyunsik. Biasanya dia akan banyak berbicara dengannya. Bahkan dia akan bersikap sangat manis, tapi kenapa tiba-tiba berubah jadi dingin seperti ini?


"Kamu ada masalah? Sepertinya kamu tidak seperti biasanya," tanya Eliza sehingga Hyunsik menghentikan langkahnya.


"Tidak ada," jawabnya singkat tanpa memutar tubuhnya untuk menatap Eliza.


"Kalau ada masalah kamu bisa cerita padaku. Bukankah kamu bilang sudah menganggapku seperti kakakmu sendiri? Mungkin aku bisa meringankan bebanmu,"


Kali ini Hyunsik memutar tubuhnya dan menatap Eliza.


"Urus saja masalah noona sendiri," kata Hyunsik lalu keluar dari ruangan Eliza.


"Ada apa dengannya? Kenapa jadi berubah seperti itu?" gumam Eliza tidak mengerti dengan perubahan sikap dari Hyunsik. Tapi dia tidak mau ambil pusing.


Menjelang malam hari seperti biasanya Bastian bersiap untuk live performancenya. Kali ini dia tidak sendiri sebab sudah ada band yang mengiringinya.


Eliza keluar dari ruangannya sengaja karena ingin melihat langsung penampilan dari lelaki itu. Lelaki yang berhasil membuatnya menjadi gila. Gila karena sampai hati menghianati suaminya sendiri. Eliza menyeruput minumannya sambil terus menatap Bastian yang sedang sibuk dengan kegiatannya.


"Jangan terus menatapnya seperti itu. Nanti kamu jatuh cinta loh," ucap Hilma yang menangkap ekspresi wajah Eliza yang tersenyum sendiri saat memperhatikan Bastian.


Eliza tersedak minumannya setelah mendengar perkataan dari Hilma.


"Ih kenapa kamu jadi salah tingkah?"


"Tidak!" sangkal Eliza.


"Ya sudah kalau tidak," kata Hilma lalu meninggalkan Eliza yang masih terpaku di sana. Hyunsik lalu menghampiri Eliza dan berdiri di sebelahnya.


"Boleh aku memberi nasihat pada noona?" tanyanya.


"Apa?"


"Jika noona bermain api, berarti noona sudah siap untuk terbakar suatu saat nanti,"


"Apa maksudmu mengatakan hal itu padaku?"

__ADS_1


"Aku rasa noona tahu apa alasannya,"


Hyunsik memandang Eliza dengan tatapan yang tidak biasa. Biasanya lelaki itu selalu menatapnya dengan lembut tapi kini sudah berubah. Dan Eliza belum mengetahui jika sebenarnya Hyunsik sudah tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya dan Bastian.


Sementara itu di kantor.


Reino keluar dari ruang rapat, Ana dengan tergesa menyusul langkah kaki lelaki itu. Menurut Ana suatu keuntungan besar dia bisa menjadi tetangga dari bos nya itu. Mungkin mereka bisa lebih dekat dan Ana mendapatkan pekerjaan yang enak di kantornya.


"Pak Reino!" panggil Ana dari belakang membuat Reino menghentikan langkahnya. Begitu juga Winda yang saat itu berjalan bersamanya.


"Ada apa?"


"Bagaimana nanti jika pak Reino dan bu Eliza makan malam bersama di rumah saya. Rasanya belum afdol karena kemarin saya hanya menyediakan buah semangka untuk keluarga pak Reino,"


Reino berpikir sebentar. Tadinya ia memang akan mengajak Eliza untuk makan di luar karena ia mendapat kabar jika istrinya itu mengalami luka bakar di tangannya. Jadi tidak mungkin jika dia harus memasak untuk makan malam mereka berdua.


"Hmm, boleh jika kamu tidak keberatan. Soalnya istri saya tangannya sedang terluka, jadi tidak mungkin memasak untuk kami berdua,"


"Benarkah? Saya turut prihatin kalau begitu pak,"


"Iya, dia bilang sudah tidak apa-apa kok,"


"Ya sudah kalau begitu saya tunggu di rumah jam 7 malam ya pak,"


"Hmm,"


Reino lalu melanjutkan perjalanannya kembali.


"Sejak kapan kamu akrab dengan Ana?" tanya Winda penasaran. Jujur dia tidak menyukai jika Reino dekat dengan wanita selain dirinya di kantor.


"Sejak dia pindah ke rumah yang ada di depanku,"


"Apa? Dia pindah ke rumah yang ada di depanmu?" Winda mengulangi pernyataan Reino. Dan lelaki itu hanya mengangguk.


"Lebih baik kamu hati-hati. Siapa tahu dia punya maksud lain terhadapmu," kata Winda dengan kesal.


"Kamu harus berhenti berprasangka buruk terhadap orang lain. Dan berhenti mengkhawatirkanku. Aku jadi merasa tidak enak karena aku sudah beristri," ucap Reino lalu meninggalkan Winda yang masih terdiam.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Bagaimana ini?" gumam Winda sambil menatap punggung Reino yang semakin menjauh.



__ADS_2