Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Es Yang Mencair


__ADS_3

Winda memerika sekali lagi kue ulang tahun yang sudah ia siapkan beberapa saat lalu. Semua persiapan sudah siap, mulai dari dekor, kue dan kado spesial untuk Reino.


Dirinya memang tidak pernah absen memberikan kejutan ulang tahun untuk Reino. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ia selalu menyiapkan acara khusus di luar. Kini dia menyiapkannya di kantor, karena Reino sudah pasti menolak ajakannya dengan alasan istrinya.


Jam menunjukkan pukul 08.25 WIB, tapi Reino belum juga menunjukkan diri di kantor. Beberapa kali, ia berusaha menghubungi lelaki itu tapi tidak juga diangkatnya. Entah apa yang dilakukan Reino tapi, baru kali ini dia terlambat pergi ke kantor.


Karena bosan menunggu, akhirnya Winda memutuskan untuk menemui Reino di rumahnya. Dia tidak ingin usahanya sia-sia karena ia sudah susah payah menyiapkan semua ini.


Baru sampai lobby kantor, langkah kaki Winda terhenti saat Reino terlihat keluar dari mobilnya.


"Rei..." panggilan Winda terhenti saat ia melihat Eliza juga berada di dalam mobil lelaki itu. Mereka berdua lalu berjalan mendekat memasuki kantor.


"Kamu mau ke mana Win?" tanya Reino saat ia dan Winda berpapasan.


"Ehm.. aku ada urusan sebentar. Kenapa kamu baru sampai kantor? Tumben sekali?"


"Aku semalam menginap di rumah mertuaku. Sekarang aku mau mengambil berkas-berkas yang belum selesai aku tanda tangani kemarin, karena hari ini aku mau cuti,"


"Hah? Cuti? Tiba-tiba?" Winda terkejut mendengar keputusan Reino yang tiba-tiba.


"Iya, aku akan menghabiskan waktu dengan istriku hari ini," ungkap Reino sambil menoleh ke arah Eliza yang tersenyum canggung. Karena Eliza tahu rencana Winda yang ingin memberikan kejutan ulang tahun untuk Reino tapi gagal karena dirinya.


"Biar aku saja yang ambilkan, kalian tunggu di sini saja," sahut Winda. Dia harus mencegah Reino dan Eliza masuk ke dalam ruang kerja Reino karena semua kejutan yang sudah ia siapkan sepertinya akan percuma dan itu hanya akan membuat dirinya terlihat memprihatinkan.


"Boleh, kalau kamu nggak keberatan," ucap Reino.


Akhirnya Winda masuk kembali ke dalam kantor, dan menuju ruangan Reino. Ia mencari berkas yang di maksud Reino, setelah menemukannya ia tidak langsung keluar melainkan membuang segala macam dekor yang sudah ia siapkan untuk ulang tahun Reino, semua dia masukkan ke dalam kantong plastik sampah kecuali kado yang sudah ia siapkan.


Saat kembali, Winda memberikan berkas yang diinginkan Reino sekaligus memberikan kadonya untuk lelaki itu.


"Ini berkasnya. Dan ini kado untukmu. Selamat ulang tahun Reino, maaf aku cuma bisa kasih ini. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," kata Winda.


"Oh iya terima kasih,"


"Kalau begitu aku mau pergi sebentar, karena sudah telat," alasan Winda untuk menghindari Reino.


Setelah kembali ke dalam mobil, Eliza memandang Reino dengan tatapan yang tidak enak. Sebagai seorang istri dia tidak menyiapkan apa-apa di hari ulang tahun suaminya.

__ADS_1


"Maaf, aku belum kasih kamu apa-apa di hari bahagiamu ini," ungkap Eliza sedih. Dia merasa menjadi istri yang buruk bagi lelaki itu.


"Ngomong apa sih? Kado semacam ini nggak penting. Kamu itu kado paling indah buatku," kata Reino.


Ia sedikit terkejut dengan kalimat yang ia ucapkan, karena ini kali pertamanya mengungkapkan perasaannya terhadap istrinya.


Begitupun Eliza, ia menepuk-nepuk pipinya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.


"Kamu pasti terkejut mendengar aku berkata seperti ini, sebenarnya aku juga sedikit terkejut. Mungkin sejak semalam, aku merasa bisa menjadi lebih terbuka padamu. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama,"


"Sudah, jangan meminta maaf lagi. Aku juga mau minta maaf  karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu,"


"Kita mulai dari awal ya," ucap Reino sambil tersenyum kepada Eliza. Senyum pertama yang Eliza lihat begitu tulus dari suaminya.


"Kamu sangat tampan saat tersenyum seperti itu," puji Eliza tanpa sadar.


"Kalau begitu aku akan lebih sering tersenyum,"


"Tersenyum padaku, jangan pada wanita lain," sahut Eliza. Tiba-tiba dia menjadi tidak rela jika ada wania lain yang jatuh cinta dengan senyum manis Reino.


Mereka berencana akan pergi berjalan-jalan ke Bandung untuk refreshing sekaligus melaksanakan bulan madu yang tertunda begitu lama. Sebelumnya mereka kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang keperluan mereka.


Mobil Reino memasuki halaman rumahnya, dari kejauhan Bastian masih terpaku melihat kedatangan Eliza bersama Reino.


"Jadi mereka nggak pulang semalaman," gumam Bastian. Dia tidak rela jika Eliza sudah semakin dekat dengan suaminya. Itu berarti posisinya akan terancam, dan Bastian tidak ingin hal itu terjadi.


"Kamu tunggu sebentar ya, aku mau ninjau pekerjaan karyawanku sebentar," ucap Reino lalu pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ah iya. Aku tunggu," jawab Eliza. Dia lalu duduk di ruang tamu sambil menyalakan ponselnya yang ia matikan dari semalam. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal.


"Pasti Bastian khawatir," batin Eliza.


Ia berniat mengirim pesan pada lelaki tersebut tapi diurungkannya karena tiba-tiba melihat sosok yang baru ia pikirkan berjalan dari kejauhan menuju rumahnya.


Saat langkah Bastian hanya tinggal beberapa jengkal ke arah pintu rumah Reino, Eliza bergegas keluar agar Reino tidak tahu.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Eliza pelan.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, kenapa kamu nggak menghubungiku? Apa yang kamu lakukan dengan suamimu?" tanya Bastian yang sudah dibakar api cemburu.


"Aku rasa kamu nggak berhak menanyakan hal seperti itu,"


"Kenapa? Apa sekarang kamu mau membuangku?"


"Aku tidak bermaksud seperti itu.." Eliza memotong kalimatnya dan melirik ke dalam rumah. Waspada jika Reino tiba-tiba keluar dan memergoki dirinya sedang bersama Bastian.


"Lalu apa?"


"Nanti kita bicarakan lagi, aku nggak mau sampai Reino tahu kamu ada di sini, cepat pergilah,"


"Aku nggak mau pergi, aku masih ingin melihatmu,"


"Tolong Bas, mengerti posisiku. Percayalah ini nggak mudah berada di posisiku,"


"Apa menurutmu mudah berada di posisiku?"


"Bukan begitu maksudku, untuk sekarang tolong pergilah. Kita akan bicarakan besok setelah aku pulang dari Bandung,"


"Apa? Kamu mau ke Bandung?"


"Iya, Reino mengajakku ke Bandung hari ini, aku akan kembali besok. Aku janji setelah itu kita akan bertemu,"


"Baiklah, tapi aku ingin memelukmu sebentar saja,"


"Apa kamu sudah gila? Di sini banyak tetangga yang mengenal aku dan Reino,"


"Baiklah,, baiklah,, aku akan pergi. Jika kamu ada kesempatan tolong hubungi aku," Bastian akhirnya mengalah dan menuruti kemauan Eliza untuk segera pergi dari rumah Reino.


Eliza memandangi kepergian Bastian hingga lelaki itu masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak menyangka jika Bastian akan bertindak senekat ini. Untuk sekarang Eliza hanya ingin menghabiskan waktu bersama Reino.


"Semoga Bastian mau mengerti dan nggak bertindak nekat seperti tadi," gumam Eliza.


"Siapa yang bertindak nekat?"


Reino tiba-tiba muncul mengagetkan Eliza yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2