
Terlalu lama kau abaikan aku hingga aku terbiasa sepi, dan mulai akrab dengan kesendirian.
--Eliza--
Ku coba beberapa kali untuk tidak jatuh hati padamu setiap hari. Percayalah sudah kucoba. Tetap saja tak bisa.
--Bastian--
Kadang aku terlalu bodoh untuk jatuh. Tetapi terlalu naif untuk menjauh.
--Reino--
Satu tahun berlalu, secepat itu waktu tertinggal tanpa perubahan berarti dalam rumah tangga Eliza dengan Reino. Sedangkan Bastian masih mengagumi Eliza dari kejauhan. Rasanya mustahil mimpi itu untuk ia gapai.
Bastian sedang berada dalam mobil box bersama ayah dan kakak perempuannya. Kini ekonomi mereka semakin membaik, kakaknya mendapat kenaikan gaji sedangkan Bastian sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai penyanyi di kafe dengan gaji yang lumayan.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah baru mereka. Ayah dan kakaknya begitu antusias, tapi tidak dengan Bastian. Dia pikir semua tempat terasa sama jika tidak ada kedamaian di dalamnya. Kenyataannya meskipun Bastian sudah memiliki pekerjaan bagus, tidak membuat ayahnya berubah menjadi baik padanya. Dia hanya akan baik jika sedang ada anak perempuannya saja. Namun kini intensitas pertemuan mereka lebih sedikit karena Bastian lebih banyak menghabiskan waktu di kafe. Dan itu membuatnya sedikit terbebas dari siksaan ayahnya.
"Ayo kita sapa tetangga baru kita. Bagaimanapun juga bersikap baik lebih dulu akan memberi kita keuntungan nantinya," ucap kakak Bastian mengajak ia untuk menemui tetangga depan rumahnya. Bastian menurut saja, ia membawa sepiring besar buah semangka yang sudah dipotong-potong sebelumnya.
TING TONG
"Karena ini weekend, kurasa mereka ada di rumah" kata kakak Bastian.
TING TONG
Mereka membunyikan bel untuk kedua kalinya. Tidak lama pemilik rumah itu membuka pintu.
"Pak Reino?"
"Ana. Sedang apa kamu di sini?" tanya Reino pada Ana salah satu staff nya di kantor.
Bastian melirik Reino dan Ana bergantian. Ternyata kakaknya sudah mengenal tetangga baru mereka. Ia sendiri belum mengetahui jika lelaki yang ada di depannya adalah suami Eliza, wanita yang sudah membuatnya jatuh hati. Meskipun Reino beberapa kali menjemput Eliza di kafe, tapi lelaki itu tidak pernah turun dari mobil.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, saya baru pindah ke rumah yang ada di depan. Saya tidak menyangka jika Pak Reino yang menjadi tetangga saya," ungkap Ana panjang lebar.
"Ohh..." hanya itu yang keluar dari mulut Reino.
"Saya membawakan buah semangka. Bagaimana jika kita makan bersama, istri Pak Reino ada di rumah kan?" tanya Ana sambil melongok ke dalam rumah.
"Oh iya, masuklah," jawab Reino mempersilakan mereka berdua masuk.
"Kamu pulang dulu, ambil beberapa minuman soda yang kita bawa tadi," bisik Ana pada Bastian. Lalu lelaki itu mengangguk dan menuruti perintah Ana. Ia kembali ke rumah dan melihat ada beberapa kaleng minuman soda dari dalam kulkas.
Bastian kembali dengan membawa satu plastik penuh kaleng minuman soda. Belum sampai ia di depan pintu rumah Reino seekor anakan kucing lokal menghampirinya dan bergelayut di sepatunya. Bastian berhenti dan melihat makhluk lucu mungil itu. Dia teringat jika ia tadi masih membawa satu sosis di kantong jaketnya. Tadinya dia membawa tiga buah sebelum mereka pindah rumah, karena tidak sempat sarapan. Bastian berjongkok dan membuka bungkus sosis itu dan memberikannya pada anak kucing.
"Kamu pasti tersesat, apa kamu juga kehilangan orang tuamu? Kalau begitu kita sama," ucap Bastian sambil tersenyum pada kucing itu.
"Di sini kamu rupanya," kata Eliza sambil terengah-engah.
Bastian menoleh ke arah sumber suara. Dia membeku setelah ia melihat pemilik suara itu, tidak menyangka jika akan bertemu dengan Eliza di sini.
"Kamu? Sedang apa di sini?" tanya Eliza sambil menghampiri Bastian yang masih berjongkok dan mematung. Eliza melirik bungkus sosis yang masih di pegang Bastian.
"Apa ini kucingmu?" tanya Bastian.
"Bukan. Dia tadi masuk ke dalam rumahku, karena kasihan melihat dia yang sangat kurus makanya aku beli ini di minimarket. Tadinya dia mengikutiku, tapi tiba-tiba lari begitu saja," ungkap Eliza sambil menunjukkan kantong plastik berisi makanan kucing di tangannya. Eliza lalu ikut berjongkok di depan Bastian. Ia lalu membuka kaleng makanan kucing itu dan memberikannya pada anak kucing tersebut.
"Makanlah yang banyak kucing manis," ucap Eliza lebih seperti bermonolog. Bastian memandangi Eliza yang masih fokus membelai kepala kucing.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Eliza saat memergoki Bastian sedang memandanginya.
"Tidak. Aku hanya berpikir kenapa kita masih harus bertemu di sini dan dalam situasi yang tidak terduga seperti ini," jawab Bastian.
"Kamu bicara apa sih? Oh iya kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu tiba-tiba berada di sini?" tanya Eliza kembali.
"Aku baru pindah ke sini," jawab Bastian sambil menunjuk rumah barunya dengan kepalanya.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu kita tetangga dong. Ini rumahku," kata Eliza sambil menunjuk sebuah rumah yang ada di depan mereka.
"Jadi ini rumahmu?"
"Bastian, kenapa lama sekali?? Eh ada bu Eliza," ucap Ana sambil memberi salam saat ia melihat Eliza berada di sana. Dia lalu mengambil alih kantong plastik yang tadi dibawa Bastian.
"Selamat pagi bu Eliza, kami baru pindah ke rumah yang ada di sana. Jadi kami mau mengajak pak Reino dan bu Eliza untuk makan semangka bersama," kata Ana menjelaskan maksud tujuannya ke rumahnya.
"Oh, masuklah dulu. Nanti saya menyusul," ucap Eliza. Ana lalu masuk ke dalam rumah Reino duluan. Awalnya ia mengajak Bastian tapi, Bastian memberikan kode dengan tangan pada kakaknya itu untuk masuk duluan.
"Kamu tidak dengan sengja mengikutiku dan tinggal disini kan?" gurau Eliza. Dia melipat tangannya ke depan dadanya.
Bastian tersenyum mendengar pertanyaan dari Eliza. Meskipun ia tahu jika wanita itu hanya bergurau.
"Konyol sekali, bahkan aku tidak tahu jika kamu tinggal di sini," jawab Bastian.
"Hehe baiklah, tidak usah dianggap serius. Ayo kita masuk," ucap Eliza. Mereka lalu masuk bersama ke dalam rumah. Tidak sengaja lengan mereka bersentuhan saat berjalan bersama. Hati Bastian kembali berdesir saat melihat wanita itu terus tersenyum padanya.
"Dari mana saja?" tanya Reino saat Eliza sudah masuk ke dalam rumah.
"Aku habis dari minimarket depan. Kalau begitu aku akan mengambil beberapa makanan di dapur. Kamu duduklah," ucap Eliza dan mempersilakan Bastian untuk duduk.
Bastian mengamati Eliza dan Reino bergantian.
"Apa seperti ini kehidupan berumah tangga? Sepertinya terasa sangat dingin dan sepi. Apa Eliza tidak bahagia menikah dengannya?" batin Reino.
Ana masih sibuk berbincang dengan Reino masalah pekerjaan yang tidak di mengerti oleh Bastian. Ia lalu beranjak dan berjalan menuju sebuah foto besar yang tergantung di dinding. Dia mengamati foto pernikahan Eliza bersama dengan Reino. Berandai-andai jika ia yang berdiri di sebelah wanita itu, bukan lelaki lain.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Eliza yang menghampiri Bastian dan berdiri di sebelahnya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Bastian dan menoleh pada wanita yang kini memandangnya dari samping itu.
"Bertanya apa?"
__ADS_1
"Apa kamu bahagia menikah dengannya?"