Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Hadiah Kejutan


__ADS_3

Setelah menunggu Reino menyelesaikan urusannya mereka lalu kembali ke mobil.


"Aku harap kamu tidak keberatan, jika aku masih sering mengunjungi mendiang istriku," kata Reino saat dalam perjalanan.


"Tentu saja, aku tidak keberatan kok," jawab Eliza.


"Terima kasih,"


Kata terakhir yang Reino ucapkan sampai mereka tiba di tujuan selanjutnya.


Eliza menatap kafe yang kini ada di depannya.


Dia heran kenapa Reino membawanya ke sana. Sepertinya kafe itu belum buka.


Karena sama sekali tidak ada orang di sana.


Reino lalu turun dari mobil dan diikuti oleh Eliza.


Dia enggan menanyakan hal itu pada suaminya karena mungkin lelaki itu hanya akan menjawab dengan kalimat yang sama "Nanti kamu juga tahu".


Karena itu Eliza lebih memilih diam dan menunggu apa yang akan dilakukan Reino selanjutnya.


"Bagaimana?" tanya Reino.


"Apanya?"


Eliza balik bertanya karena tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya itu.


Bagaimana dia bisa paham jika ia hanya menanyakan satu kata saja?


Sedangkan kata itu masih terdengar ambigu di telinga Eliza.


"Bagaimana kafenya? Bagus kan?" tanya Reino lagi.


"Bagus, lalu kenapa jika bagus?"


Eliza masih belum paham dengan maksud suaminya.


"Kamu menyukainya?" tanya Reino kembali.


"Iya aku suka. Lalu?"


Eliza benar-benar tidak paham dengan maksud lelaki itu.


"Apa kamu tidak mengerti juga dengan situasinya? Aku membelikan kafe ini untukmu. Kenapa kamu terus bertanya lalu dan lalu??" seru Reino.


Eliza memandang suaminya dengan wajah terkejut.


Bukan karena apa, melainkan itu tadi adalah kalimat terpanjang yang pernah Reino ucapkan padanya selama dia mengenalnya.


"Ternyata kamu bisa mengatakan kalimat sepanjang itu. Tapi apa katamu tadi? Kafe ini untukku? Hah?? Tapi kenapa? Kenapa kamu ingin memberikannya padaku?" tanya Eliza tidak percaya.


"Ya sudah kalau tidak mau. Biar ku jual lagi," kata Reino setelah mendapat reaksi Eliza yang tidak sesuai ekspektasinya.


"Ah jangan! Siapa bilang aku tidak mau. Tentu saja aku mau," sewot Eliza.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu bisa lihat-lihat dulu. Jika ada yang tidak kamu suka, kamu bilang padaku. Nanti akan ku ganti dengan yang baru,"


Eliza mengangguk mengerti.


Dia mulai berkeliling isi kafe itu.


Semua yang ada di sana membuatnya kagum saat melihatnya.


"Wah,, ini besar sekali..wah,, kursi ini pasti mahal,, wah..." gumam Eliza sambil terus berkeliling.


Reino hanya melihat Eliza dari kejauhan.


Tanpa di sadari sudut bibirnya meyunggingkan sedikit senyuman.


Senyuman yang tidak pernah orang lain lihat lagi selama ini.


Untuk pertama kali dalam hidupnya dia tersenyum karena wanita lain setelah kepergian Lyla.


Setelah selesai melihat-lihat Eliza kembali lagi ke tempat Reino berada.


Sedangkan Reino saat melihat Eliza mendekatinya, dia kembali mengatur ekspresinya agar tidak di lihat oleh istrinya itu.


"Benar-benar luar biasa. Aku sangat menyukainya. Terima kasih," ucap Eliza saat sudah berdiri di depan suaminya itu.


"Kalau begitu, besok kamu sudah harus berhenti dari tempat kerjamu. Dan mulai jalankan kafe ini. Aku percayakan semua padamu," ungkap Reino.


"Iya baiklah. Besok setelah aku menyerahkan surat pengunduran diriku. Aku akan segera membuka lowongan untuk karyawan di kafe. Dan karena aku melihat panggung di sana, berarti aku juga harus mencari band atau penyanyi untuk hiburan di kafe ini. Wah aku sudah tidak sabar," kata Eliza


"Kalau begitu sekarang kita cari tempat untuk makan malam, baru setelah itu kita pulang," ucap Reino.


Ini kali pertama bagi Eliza makan di tempat mewah seperti ini.


Dia akui setelah ia menikah dengan Reino kehidupannya memang berubah 180 derajat.


Dia tidak perlu memikirkan kesulitan keuangan sekarang.


Semua sudah pasti bisa Reino atasi.


Namun tetap saja, bukan itu alasan Eliza mau menikah dengan Reino.


Dia menerima lamaran lelaki itu karena memang sebagai bentuk balas budinya karena ia telah menyelamatkan hidup ayahnya.


Tiba-tiba Eliza memikirkan sebuah ide untuk ayahnya.


Bagaimana jika ia meminta suaminya untuk menaikkan jabatan ayahnya?


Itu tidak keterlaluan kan? Bagaimanapun juga ayahnya juga merupakan ayah Reino. Pikir Eliza.


"Ehm, boleh aku minta tolong sesuatu padamu?" tanya Eliza sedikit ragu-ragu.


"Minta tolong apa?" tanya Reino.


Tanganya masih sibuk memotong daging yang ada di piringnya.


"Mengenai ayah, apa kamu bisa memindahkannya ke bagian lain?" tanya Eliza hati-hati.

__ADS_1


"Ke bagian mana?" tanya Reino santai.


"Ke bagian yang lebih nyaman untuknya. Maksudku, hari ini aku melihat ayahku sangat kesulitan harus menjalankan perintah dari banyak orang sekaligus. Dan juga aku mendengar dengan telingaku sendiri, para karyawanmu bergunjing dan merendahkan ayah di belakangnya," ungkap Eliza.


Reino menghentikan kegiatan tangannya.


Kali ini bisa menatap istrinya yang duduk di depannya.


"Aku bisa saja melakukan hal itu. Tapi apa kamu sudah memikirkan dari sudut pandang ayah. Jika tiba-tiba ayah naik jabatan ke pekerjaan yang bukan bidangnya apa itu menjamin dia berhenti digunjingkan orang? Lalu apa ayah tidak akan kesulitan dengan pekerjaan yang tidak ia kuasai?"


Pertanyaan Reino membuat Eliza tertegun.


Dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.


Dia hanya melihat dari sudut pandangnya bukan dari sudut pandang ayahnya.


Padahal ayahnya lah yang melakukan pekerjaan itu bukan dirinya.


Semua memang tampak menyedihkan di mata Eliza.


Tapi melihat ayahnya yang bekerja begitu rajin tadi, Eliza menjadi sadar jika ayahnya memang melakukan pekerjaan itu dengan hatinya.


Dia tampak menikmatinya dan tidak mengeluh sama sekali.


Eliza jadi teringat jika selama ini ayahnya selalu dengan bangga menceritakan apa yang sedang dikerjakan oleh tim produksi saat ia sudah pulang ke rumah.


Dia sama sekali tidak mengeluh akan pekerjaannya.


Dan ia juga mengatakan jika dirinya bangga bisa menjadi bagian dari departemen produksi meskipun hanya berperan kecil di sana.


"Bagaimana? Apa kamu masih ingin ayah pindah ke bagian lain?" tanya Reino menyadarkan lamunan Eliza.


"Sepertinya tidak perlu, maaf aku belum memikirkan hal sejauh itu. Benar perkataanmu yang mengatakan aku hanya melihat dari sisiku bukan dari sisi ayahku. Maaf jika aku sudah lancang dan keterlaluan meminta hal ini padamu," ucap Eliza menyesal.


"Tidak apa-apa aku mengerti kekhawatiranmu akan ayah,"


Mereka kemudian melanjutkan makan malam mereka.


Dari luar Reino tampak biasa saja.


Namun setelah mendengar ungkapan dari Eliza tadi, mau tidak mau dirinya jadi berpikir.


Siapa yang sudah berani menghina dan menggunjingkan ayah mertuanya itu?


Dia tidak keberatan jika dirinya yang mereka gunjingkan.


Namun saat mendengar perkataan Eliza tadi dia sedikit tidak terima saat mereka mengatakan hal buruk tentang ayah mertuanya itu.


Karena Reino tidak memiliki keluarga lain lagi selain keluarga dari istrinya.


Saat masih bersama Lyla, Reino juga memperlakukan ibu mertuanya dengan baik.


Kini tidak ada salahnya jika ia memperlakukan hal yang sama juga pada ayah mertuanya.


Dia akan memikirkan kembali permintaan Eliza nanti.

__ADS_1


__ADS_2