
"Itu tadi siapa yang datang, Mas?" tanyaku pada Mas Fahri. Entah kenapa wajah Mas Fahri terlihat gugup.
"Oh, itu. cuma orang lewat, orang tanya jalan," jawabnya.
Aneh. Tanya jalan koq pakai mencet bel?
"Masa sih, Mas?"
Mas Fahri menghampiriku. "Iya, Zahira sayang."
Sebenarnya aku masih sangat penasaran. Lebih tepatnya curiga sih? Tapi, tiba-tiba Mas Fajri merangkulku dan mengajakku masuk ke rumah sehingga membuat rasa curigaku seketika menghilang.
Kami bersama menuju dapur untuk sarapan.
"Emmm, ini enak banget!" puji Mas Fahri saat menikmati sarapan yang kubuat.
"Jangan berlebihan Mas."
"Tidak, Zahira. Ini benar-benar enak." Mas Fahri nampak begitu menikmati masakanku.
"Mas," panggilku.
Mas Fahri mengangkat wajahnya menatapku. "Ada apa Ra?"
"Sudah seminggu lebih aku cuti kerja. Aku boleh kan masuk kerja lagi?"
Pria yang sedang duduk itu nampak berpikir. "Apa kamu tidak bisa pindah ke kantor Ayah saja? Aku kurang suka jika kamu bekerja bersama Iqbal."
"Kenapa Mas? Aku dan Iqbal hanya berteman. Mas tidak usah khawatir," jelasku.
Mas Fahri kembali terdiam sejenak. Wajah tampan dengan alis tebal itu kembali berpikir dengan melipat kedua telapak tangan yang ditumpukan ke dagu.
"Emmm, baiklah. Aku akan mengizinkanmu bekerja dengan sahabat kecilmu itu, tapi ada syaratnya."
"Syarat? Apa itu, Mas?"
Mas Fahri kembali menatap ke arahku. "Mari kencan, malam ini."
Hah?
Kencan?
"Apa tidak ada syarat lain? Aku sedang malas keluar, Mas."
Mas Fahri mendecik. "Kamu lebih senang jalan dengan sahabatmu itu ketimbang suamimu sendiri?"
"Bukan begitu, Mas. Tapi aku memang sedang malas keluar. Kakimu juga belum sembuh betul kan, Mas?"
Mas Fahri kembali terdiam kemudian tersenyum menyeringai. "Jika malas kencan di luar, bagaimana kalau kita kencan di dalam kamar? Hah?"
Ish!
"Apa yang kamu bicarakan Mas?" Mendengar Mas Fahri mengatakan itu membuatku tersipu sendiri.
Mas Fahri bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekatiku. "Kenapa Zahira? Kamu tidak mau?"
__ADS_1
Aku menunduk malu. "Bukan begitu, Mas."
Dulu, waktu aku sangat siap untuk melakukannya kenapa kau menolakku, Mas?
Hingga rasa itu mulai memudar dan kini kau malah mempertanyakan itu.
Entah kenapa hatiku masih belum sepenuhnya menerima perubahan Mas Fahri.
Mas Fahri mengangkat lembut wajahku dengan kedua telapak tangannya hingga pandangan kami bersatu.
"Zahira, aku mengerti perasaanmu, karena memang aku sendirilah yang menjadi penyebabnya. Baiklah, aku akan menunggumu hingga kamu benar-benar siap."
Setelah mengatakan itu, Mas Fahri mengecup lembut keningku.
"Terimakasih atas pengertianmu, Mas."
Mas Fahri memutar badan. "Tapi, syarat yang tadi masih berlaku ya," ucapnya lagi.
"Syarat? pergi kencan malam ini, kan?"
"tidak, tidak. Aku ingin mengubahnya."
Secepat itu?
"Lalu, syarat apa kali ini Mas?"
Mas Fahri kembali duduk ke kursi semula. "Aku ingin bertemu dengan sahabatmu itu dan berbicara empat mata dengannya."
"Apa, Mas?"
"Iqbal," sahutku datar.
"Iya, Iqbal. Aku ingin berbicara dengannya sebelum kamu kembali bekerja ke kantornya."
Entahlah. Sebenarnya rencana apa yang ada di pikiran pria ini.
Aku mengangguk setuju. "Baiklah, Mas. Besok aku akan menyuruh Iqbal ke sini."
"Tidak perlu. Aku akan menemuinya sendiri di kantornya," sanggah Mas Fahri dengan nada bon cabenya.
"Mas, jangan membuat keributan, ya?" Aku khawatir jika Mas Fahri malah membuat masalah di tempat kerjaku nanti.
Mas Fahri tersenyum. "Jangan khawatir, Sayang. Aku akan datang ke sana dengan perdamaian."
************
Dua minggu berlalu, aku belum juga kembali bekerja karena syarat yang diajukan Mas Fahri masih belum terpenuhi.
Bagaimana bisa cepat terpenuhi? karena Mas Fahri harus menunggu kakinya sembuh betul baru bisa pergi ke mana-mana sendiri.
Selama dua minggu pula, hubungan kami semakin membaik. Mas Fahri kerap memujiku dan berkali-kali menyatakan cintanya padaku. Perlahan, hatiku mulai luluh dengan semua perlakuan manisnya yang semakin hari semakin terasa lebih dan lebih.
Pagi hari ini, Mas Fahri yang sudah merasa sembuh total berkata ingin ke kantor Iqbal.
Pagi-pagi sekali Mas Fahri sudab bersiap untuk menemui Iqbal di kantornya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Mas Fahri menghampiriku yang sedang mencuci piring di wastafel.
Aku menoleh ke arahnya. "Ada apa Mas?"
"Apa kamu ingin ikut denganku?" tanyanya.
"Loh? bukannya Mas pengen ke sana sendiri?"
Mas Fahri membenarkan kancing lengan kemejanya. "Aku berubah pikiran lagi. Aku ingin kamu ada di antara kami, agar kamu tahu apa yang ingin kubicarakan dengan Iqbal."
Seperti serius sekali.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan Iqbal, Mas?"
Mas Fahri tersenyum. "Adalah, pokoknya. Makanya kamu harus ikut, biar tahu."
"Tapi aku belum mandi Ma." Aku kembali meneruskan aktivitas cuci piringku.
"Ayolah, Sayang. Aku akan menunggumu," desak Mas Fahri, hingga terpaksa aku harus menurutinya.
Setelah menyelesaikan mencuci piring, aku langsung mandi dan bersiap untuk mengikutinya ke kantor Iqbal.
"Yakin bisa nyetir sendiri Mas?" tanyaku pada Mas Fahri yang terlihat kaku menggerak-gerakkan kedua kakinya. Kami sudah di berada dalam mobil.
Mas Fahri mengangguk pelan. "Iya, yakin. mari berangkat."
Mobil yang kami naiki melaju sedang menuju kantor tempat kerjaku.
Tiba di depan kantor. Kedatanganku dengan Mas Fahri disambut dengan tatapan mata penuh tanya oleh sebagian besar karyawan.
mungkin di benak mereka saat ini aku sedang berjalan dengan siapa? Atau mungkin mereka takjub melihatku yang turun dari mobil mewah milik Mas Fahri. Wajarlah. karena aku memang belum menceritakan status pernikahanku pada hampir semua karyawan di sini. Juga, setiap aku berangkat bekerja aku lebih sering naik ojek, dan tak pernah diantar oleh Mas Fahri.
Pandangan penuh tanya itu terus mengikuti langkah kami hingga sampai di ruangan tempat kerja Iqbal.
"Ini ruangannya?" tanya Mas Fahri saat kami tiba di depan pintu.
Aku mengangguk. "Iya Mas."
"Terus, ruangan kerjamu yang mana?" tanya Mas Fahri lagi.
"Di sana, Mas." Aku menunjuk pintu ruangan yang besebrangan dengan ruang kerja Iqbal.
Mas Fahri tersenyum kecut. "Ayo." Dia langsung mengetuk pintu ruangan Iqbal berkali-kali.
Tidak ada jawaban.
"Apa Iqbal sedang tidak ada di dalam?" gumam Mas Fahri yang sangat jelas kudengar.
Beberapa menit kemudian datang seorang perempuan menghampiri kami. "Zahira. Pak Iqbal sedang meeting di luar." Risti. teman yang tempo hari meminta didekatkan dengan Iqbal sedang berdiri di hadapanku.
Tatapan gadis itu terlihat sangat tidak menyukaiku. Mungkin karena dulu dia pernah disentil Iqbal karena membelaku, hingga mulai saat itu dia menjaga jarak dariku.
"Ku tatap wajah gadis itu dengan senyuman. " memangnya Iqbal sedang meeteng di mana?" Mungkin saja kami bisa menyusulnya dan menemuinya di tempat tersebut.
"Untuk tempatnya aku tidak tahu. kalian tunggu saja di ruanganmu sendiri kan bisa. Sebentar lagi juga balik." Risti mengucapkan kalimat itu dengan nada malas. Dia langsung berlalu pergi meninggalkanku dan Mas Fahri.
__ADS_1