
sebulan berlalu.
Pagi hari yang cerah. Hari ini aku memulai aktivitas baruku untuk membantu Papa di perusahaannya. Dari pada ikut andil dalam pengembangan perusahaan lain, lebih baik mengembangkan perusahaan sendiri, kan?
Jangan tanya kelanjutan hubunganku dengan Iqbal seperti apa, karena semenjak aku memutuskan persahabatan kami tempo hari, tepatnya sudah sebulan lebih, kami sudah tidak pernah bertemu lagi. Jangankan bertemu, aku sudah menghapus nomor kontaknya dari handphoneku. Sepertinya dia juga begitu, karena dia tidak pernah menghubungiku sama sekali. Tapi syukurlah, karena itu bisa membuatku sedikit lebih tenang.
Yang membuatku merasa bodoh adalah ketika aku mau saja diajaknya menjadi karyawan di perusahaan yang sebenarnya miliknya sendiri. Aku masih belum percaya jika Iqbal melakukan itu karena dia mencintaiku. kebenaran itupun aku baru tahu dari Mas Fahri. Kenapa juga dia harus merahasiakannya dariku? Ah, entahlah.
Aku masih sangat marah dengan pengakuannya. Karena dengan itu, Mas Fahri malah semakin yakin akan tuduhannya padaku. Tuduhan yang sama sekali tidak mendasar, karena hatiku sudah benar-benar tertutup untuk siapa pun sekarang.
"Sayang, sudah siap?" tanya Papa yang muncul dari balik pintu kamarku.
Aku yang masih berdiri di depan cermin langsung menoleh ke arahnya. "Iya, Pa. Sudah."
"kalau begitu, ayo berangkat sekarang. Papa akan memperkenalkanku pada seluruh karyawan di sana. Jangan sampai kita terlambat." Papa mengatakan itu dengan senyum bahagia yang terukir indah di wajahnya. Sepertinya Papa sangat bahagia karena akhirnya aku mengikuti permintaannya untuk bergabung di perusahaan.
"Iya, Pa," jawabku seraya membalas senyumannya.
Setelah berpamitan pada Mama, aku dan Papa langsung berangkat menuju kantor.
Kedatangan kami disambut hangat oleh semua karyawan. Papa mengadakan rapat dadakan karena ingin memperkenalkanku pada seluruh karyawannya. Dan, ternyata yang ku pikirkan selama ini salah. Kupikir perusahaan Papa hanya perusahaan kecil dan sederhana. Ternyata, perusahaan ini lumayan juga jika dilihat dari jumlah karyawannya yang banyak.
Semua karyawan berkumpul, Papa mulai memperkenalkanku pada semuanya, dan mereka semua pun tampak antusias menyambutku. Setelah perkenalanku di depan seluruh karyawan selesai, Papa memperkenalkanku secara pribadi pada karyawan teladannya. Menurut Papa, dia adalah karyawan paling cerdas dan sangat rajin.
Dia adalah David, seorang pemuda berkacamata dengan nilai kelulusan yang melebihi rata-rata. Dilihat dari penampilannya saja sudah dapat ditebak jika dia seorang yang sangat cerdas.
"Hai, Bu Zahira. Perkenalkan nama saya David," ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Aku pun menyambut tangannya. "Hai juga, saya Zahira. Mohon kerjasamanya, ya," balasku dengan senyuman.
__ADS_1
"Baik, Bu." Dia pun membalas tersenyum padaku.
"Ra," panggil Papa sambil menepuk pelan bahuku. "Karena perusahaan ini baru untukmu, Papa percayakan pembimbingan untukmu pada David, ini. Jadi, kamu harus sering bertanya kepadanya agar kamu bisa paham dengan cepat seluk beluk perusahaan Papa."
"Iya, Pa." Aku mengangguk seraya tersenyum.
"Ruang kerja kalian akan bersebelahan, karena Papa meletakkan di posisi manajer keuangan, sementara David akan menjadi sekretaris untukmu," jelas Papa lagi.
"Dia sekretarisku?" Aku cukup terkejut. Bukankah tadi Papa bilang dia karyawan yang cerdas dan berpengalaman, kenapa dia malah diposisikan di bawahku?
Papa mengangguk. "Iya, dia akan menjadi sekretarismu."
"Baiklah, Pa." Aku menoleh ke arah pemuda yang kini tengah menyunggingkan senyuman indah di wajahnya.
Senyuman indah?
Iya, indah karena dia tampan. Kalian jangan berpikir aku tertarik padanya, ya? Kan tadi sudah kubilang jika hatiku saat ini sudah kututup rapat-rapat dari yang namanya pria.
David terus menuntunku masuk ke dalam ruangan. "Ini meja Anda, Bu." terangnya sambil menunjuk meja kerja yang ada di hadapanku.
"Baik, terima kasih." Aku melangkah menuju meja yang ternyata sudah terpampang namaku di papan nama itu. Sejak kapan Papa mempersiapkan ini semua?
"Kalau ada yang belum Anda pahami, silakan panggil saya, Bu. meja kerja saya yang di sana," ucap pria berkacamata itu lagi.
Aku hanya mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu saya kembali ke meja saya. Permisi, Bu." David berlalu dari hadapanku menuju meja kerjanya.
Karena hanya tersekat dinding kaca, aku bisa dengan jelas melihatnya. David tampak duduk di kursi kerjanya yang menghadap ke arah pintu. Saat ini yang terlihat dari tempatku duduk hanyalah punggungnya.
__ADS_1
Pandanganku teralihkan pada tumpukan map yang tersusun rapi di atas meja. Aku mulai meraih satu per satu untuk kuperiksa.
Pekerjaan di hari pertamaku berjalan lancar. Walaupun sesekali aku memanggil David untuk bertanya beberapa hal yang tidak kupahami. Namun, semua jadwal tugasku hari ini bisa kuselesaikan dengan cepat.
Hingga waktu jam makan siang telah tiba. David tampak berjalan menghampiriku.
"Bu, mari makan siang bersama," ajak David tanpa basa-basi. Baru beberapa jam di ruangan yang sama, David tampak sudah terbiasa denganku. Walaupun dia tampak mengakrabkan dirinya, tapi cara bicaranya masih tetap sama dengan sebelumnya.
Aku mendongakkan pandangan menatap ke arahnya. "Makan siang?"
"Iya, Bu. Ada resto di dekat sini yang sering dikunjungi beberapa karyawan. Menurut yang pernah maka di sana, menunya sangat enak. kalau Anda tidak keberatan, mari kita coba," ajaknya lagi dengan antusias bercerita.
Sebenarnya aku males. Jika diperbolehkan aku ingin pulang saja, mengingat jadwal kerjaku hari ini sudah selesai.
"Emm ... lain kali saja ya," tolakku secara halus. "Untuk hari ini, jadwalku cukup di sini dulu. Saya mau pulang duluan."
"Why? Anda tidak mau mencoba menu yang saya bicarakan tadi?"
"Mau, tapi lain kali saja ya, David. Tidak apa-apa. Silakan kamu dengan yang lainnya dulu." Tanpa menunggu jawaban dari sekretarisku itu, aku bangkit dari posisi dan berlalu menuju pintu keluar. Hanya butuh beberapa menit, aku sudah berada di luar bangunan.
Saat aku berdiri hendak menghentikan sebuah taksi, tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiriku. Perempuan itu menepuk pelan bahuku.
"Maaf, dengan Mbak Zahira?" tanyanya dengan tersenyum.
Aku menoleh ke arahnya. "Iya, benar. Ada apa?" tanyaku bingung. Aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi kenapa dia bisa mengenalku??
Perempuan itu semakin tersenyum lebar. "Ini," ucapnya sembari memberiku satu buket bunga dengan berbagai macam jenis.
"Ini apa, Mbak? Siapa yang ngasih?" Aku semakin bingung, sementara perempuan itu hanya tersenyum.
__ADS_1
"Dari seseorang," jawabnya, dan hanya itu. Dengan cepat perempuan itu berbalik badan meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
Bunga dari siapa ini?