
"Halah, jangan bertindak sok suci kamu, Ra! Dulu, waktu kamu hanya mengaku bersahabat dengan Iqbal, ternyata kalian saling mencintai kan?? Dan sekarang? Kamu mau mengelak lagi setelah ketahuan berkencan dengan pria lain lagi???" Mas Fahri kembali memberondongku dengan tuduhan-tuduhan tidak masuk akalnya yang membuatku benar-benar kehilangan kesabaran.
"Mas, kenapa kamu peduli sekali dengan hidupku? Kita sudah bercerai, ya? Tolong urus hidup kita masing-masing. Aku pun tak pernah mengganggu hidupmu, kan?" Aku mengatakan itu dengan pandangan kemarahan. Entah pria itu paham atau tidak dengan ucapanku yang penuh dengan penekanan ini. Yang terpenting saat ini aku ingin dia diam dan tidak menuduhku dengan pemikiran liarnya lagi. padahal sudah resmi bercerai, tapi masih saja menganggu hidupku.
Pria itu tertegun sesaat, mungkin dia paham. Namun beberapa detik kemudian kembali berucap, "aku memang bukan suamimu lagi, tapi aku tidak suka melihatmu dengan pria lain," jawabnya enteng. untung saja suasana resto sedang sepi. jadi tidak ada yang menyaksikan perdebatan kami.
"Apa???" Aku memekik tak percaya. "Asal kamu tahu, Mas. Karena kekecewaanku padamu dan Iqbal, sampai saat ini hatiku sudah kututup rapat. Jadi kamu tidak usah khawatir lagi tentang itu," jawabku lagi kembali dengan nada penuh penekanan. Sepertinya Mas Fahri ini sangat membenciku hingga ia tidak rela melihatku bahagia dengan pria lain.
"Sudah, Bu. Ini sudah lewat jam makan siang, mari kembali ke kantor." David kembali mengingatkan.
Aku menoleh ke arah David dengan cepat. "Ayo!" Aku dan David mulai melangkah pergi meninggalkan Mas Fahri tanpa menoleh ke arahnya lagi.
"Maaf, Bu. Apa pria tadi mantan suami Ibu?" tanya David sesaat setelah kami berada di dalam mobil.
"Iya, Vid. Dia putra dari salah satu rekan kerja Papa."
"Emm ... sepertinya pria tadi masih belum move on dari Anda, Bu," komentar David yang membuatku sangat terkejut.
"Masa sih, Vid?" Aku benar-benar tidak sependapat dengan pemuda berkacamata ini. Mana mungkin Mas Fahri masih menginginkanku jika dia terus saja menghinaku seperti tadi.
"Iya, Bu. Saya yakin seratus persen!" Jawaban David semakin membuatku ingin terpingkal.
"Ada-ada saja pemikiranmu itu."
Aku berusaha keras untuk menampik, tapi David tampak semakin yakin dengan pendapatnya. "Bu, saya ini laki-laki, saya tahu betul dengan sikap yang diperlihatkan oleh mantan suami ibu tadi."
"Lalu, jika ucapanmu itu benar, menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus bersikap lembut padanya dan meminta kembali bersamanya?" Kutanyakan itu pada sekretarisku yang entah kenapa saat ini ia bersikap seperti penasihat cinta untukku.
__ADS_1
"Ya, itu tergantung bagaimana hati Ibu juga," jawabnya enteng. "Apa Anda masih memiliki perasaan pada pria tadi atau tidak?"
"Asal kamu tahu, Vid. Saat ini hatiku sudah tertutup rapat untuk pria yang kita jumpai tadi. Juga, aku sedang tidak ingin menjalin cinta dengan pria yang lain dulu. kamu tahu apa?"
David tampak berdecak bingung. "Mana kutahu, Bu," balasnya. Pemuda berkacamata itu fokus menatap lurus ke jalan sembari menyetir dengan tenang.
"Itu karena aku masih trauma dengan hal ini," terangku yang membuat David melirik ke arahku seraya tersenyum kecil.
"Jadi, maksud Anda tidak akan jatuh cinta lagi pada pria manapun?" tanyanya.
Aku mengangguk yakin. "Iya, begitulah untuk saat ini."
"Hmm ... berarti ada kemungkinan suatu saat Anda akan menerima cinta seorang pria lagi?" tanya David lagi yang membuatku bingung.
"Maksudmu apa, Vid? Aku sedang membahas masa sekarang ya? jangan bawa-bawa masa depan yang kita tidak tahu bagaimana nanti." Aku menyahut dengan ketus, tapi David malah tertawa.
Tiba di kantor, aku masuk ke ruanganku diiringi David yang berjalan mengekor di belakang. Entah kenapa pria berkacamata ini tampak cengengesan mulai dari dalam mobil tadi, yang membuatku penasaran. Sebenarnya apa yang membuatnya terus tersenyum kecil.
"Vid, kamu kenapa?" tanyaku sebelum masuk ke ruangan.
David tampak terkejut dan langsung menghentikan langkah. "Oh, tidak ada apa-apa, Bu." Dia menjawab dengan santai.
"Ya sudah, kembali bekerja," titahku yang langsung ditanggapi anggukan olehnya.
Seperti menyembunyikan sesuatu dariku, David tampak menahan senyumnya sembari berjalan menuju meja kerja.
Aku pun terus melangkahkan kaki menuju meja kerjaku sendiri dan kembali bergelut dengan layar komputer yang tertera banyak angka dan huruf yang menunggu untuk kueksekusi. Waktu terus berlalu, hingga jam dinding ruangan menunjukan pukul empat sore. Ah, sudah waktunya pulang. Aku mematikan layar komputer dan segera meraih tas untuk bergegas pulang. Ini juga sudah saatnya sholat Ashar. Setelah berpamitan pada David, aku keluar ruangan lebih dulu. Sementara pria berkacamata itu tampak masih fokus dengan beberapa berkas yang ada di atas mejanya dan berkata akan pulang sekitar lima belas menit lagi.
__ADS_1
"Hati-hati, Bu!" seru David dengan setengah berteriak karena aku sudah berada di luar ruangan. Tanpa membalas ucapan David, aku keluar kantor dan menghentikan taksi yang menunggu penumpang di sisi jalan.
lagi, seorang wanita memanggilku dan memberikan satu buket bunga mawar padaku. Apa mungkin ini dari Iqbal lagi? Sama seperti tempo hari?
Aku ingin membuang bunga beraroma harum ini ke tong sampah, tapi aku tidak tega. Jika benar dari Iqbal, setidaknya aku ingin menghormatinya karena dia pernah menjadi sahabat terbaikku dulu. Baiklah, aku akan membawanya pulang dan memberikannya pada Mama nanti di rumah.
Aku pun menerima buket bunga itu dan membawanya pulang ke rumah.
"Bunga dari siapa Ra?" tanya Mama sesaat setelah aku masuk ke rumah.
"Dari Papa buat Mama," jawabku berpura-pura seraya memberikan buket bunga itu ke tangan Mama.
"Ah, Mama nggak percaya," sahut Mama sambil berdecik. "Papamu itu bukan tipe suami romantis. Dia tidak mungkin memberikan bunga seperti ini buat Mama."
"Masa sih Ma?" Ternyata Mama bukanlah wanita yang mudah percaya.
"Apa mungkin dari Iqbal lagi?" tanya Mama yang membuatku seketika tertegun.
"Entahlah, Ma. Aku juga tidak tahu. Yang penting diterima aja kan? Soalnya tidak ada nama pengirimnya, juga kalau mau dibuang sayang, Ma," terangku.
"Ya sudah, Mama akan simpan bunga ini di dapur."Mama menyahut lagi memberikan solusi. Tampaknya Mama juga sangat menyukai bunga mawar itu.
" Aku ke kamar dulu ya, Ma. Mau mandi sekalian sholat Ashar."
Mama mengangguk pelan. "Iya, sana sholat dulu. setelah itu makan," jawab Mama lagi.
"Siap, Ma!" Aku pun kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar.
__ADS_1
Tiba di kamar, suara dan getaran handphoneku terdengar nyaring sehingga membuatku terkejut dan langsung merogohnya. Ada yang menelepon dengan menggunakan nomor baru. Siapa ini?