
"Assalamu'alaikum, Ma," sapaku pada Mama yang sedang memasak di dapur. Padahal baru bekerja setengah hari di perusahaan, membuat tubuhku terasa kelelahan.
Mama menjawab salamku dan langsung memelukku dengan kehangatan. "Kok sudah pulang??" tanyanya bingung. mengingat Papa selalu pulang sore, kan? Dan aku, baru jam satu siang, aku sudah sampai di rumah.
"Capek, Ma." Aku duduk di kursi makan. "Ma, aku tadi dapet buket bunga, Kira-kira dari siapa ya?" tanyaku pada Mama. Siapa tahu Mama bisa menjawab rasa kebingunganku.
"Buket?"
Aku mengangguk cepat. "Iya, Ma. Buket bunga, tapi aku meninggalkannya di tong sampah."
"Lho? Kenapa dibuang?? Kasihan yang ngasih lho," komentar Mama atas tindakanku.
"Aku takut aja, Ma. kan itu buket aku nggak tahu dari siapa. terus, kalau misalnya dari orang yang berbahaya, gimana?" Aku menjawab sekenanya. Berharap Mama menghentikan pertanyaannya.
"kalau orang yang berbahaya ya nggak ngasih bunga to, Nduk. Yang ada mereka kasih racun! Kamu ini terlalu suudzon aja sama orang."
"Bukan suudzon, Ma. Aku cuma waspada," balasku lagi. "Sudah ya, Ma. Zahira mau ke kamar dulu. Mau sholat Dzuhur, habis itu makan masakan Mama yang super lezat ini." Aku bangkit dari duduk dan bergegas menuju kamar.
Mama tidak membalasku lagi. wanita itu hanya tersenyum melihat langkahku pergi. Sampai di kamar, aku langsung bersih diri dan berwudu. setelah itu, aku langsung sholat Dzuhur lengkap beserta wiridnya hingga perutku sudah tidak bisa dikondisikan lagi. sepertinya cacing-cacing yang ada di dalamnya sudah meminta jatah karena sejak dari tadi pagi aku hanya mengisinya dengan sedikit roti sebagai sarapan.
"Lama banget sholatnya, Mama kira tadi ketiduran," celetuk Mama padaku.
"He, enggak, Ma. Kalau perut dalam keadaan kosong, pasti nggak bisa tidur, Ma. Jadi makan dulu, setelah itu baru tidur." Aku meraih piring dan segera mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk-pauk yang sudah disiapkan oleh Mama.
Ting Tong!
Bel rumah berbunyi nyaring yang membuat aktivitasku terhenti. Siapa yang datang? pikirku. Aku segera bangkit dari posisi, tapi Mama melarangku.
"Sudah, biar Mama yang bukain pintu. Kamu selesaikan makan," titahnya yang langsung kuturuti. Mama memang ibu yang ter-the best pokoknya. Selalu mengerti keadaan anaknya.
beberapa menit berlalu Mama sudah kembali ke dapur lagi dengan membawa seikat buket di tangannya. "Ra, ada yang ngirimin ini," ucap Mama setengah berteriak memberitahuku.
"Buket? untuk Mama?? Dari Papa mungkin, Ma," ledekku. So sweet bangetlah merek berdua ini. Sudah tua tapi masih saling pengertian.
__ADS_1
"Buka untuk Mam, Ra. Ini untukmu," jawab Mama lagi yang membuatku kembali bingung. Sama seperti pengirim buket uang kudapat di depan kantor tadi, buket kali ini juga tidak bernama pengirim. Hanya ada namaku, beserta alamat rumah.
"Ini siapa yang kirim, Ma??" tanyaku pada Mama dengan wajah kebingungan.
"Mama ya nggak tahu, Ra," jawab Mama. "Coba kamu ingat-ingat lagi siapa yang mungkin melakukan ini?"
"Ahh, entahlah, Ma. Aku capek!" Aku benar-benar ingin tidur. Maklum, perut kenyang membuat mata terasa ingin bersemayam. Tidur maksudnya.
"Jangan-jangan, Fahri??" terka Mama yang menurutku sangat tidak masuk akal.
"Ma, Mas Fahri itu sudah mengibarkan bendera perang padaku. Jadi, nggak mungkinlah kalau dia."
"Atau mungkin si Iqbal??" terka Mama lagi yang membuatku ikut berpikir.
"Masa Iqbal sih, Ma? Nama Iqbal itu sudah kucoret dari daftar temanku," balasku ketus. Menyebut namanya kembali mengingatkanku pada kebencianku.
"Terus siapa, Ra?? kalau bukan Fahri atau Iqbal? Atau jangan-jangan, kamu punya penggemar rahasia??" Pikiran ibu yang telah melahirkanku ini semakin ke mana-mana.
Aku terus melangkahkan kaki menuju kamar. Sampai di kamar kuhempaskan tubuhku ke atas kasur empuk tempat tidurku.
Kling!
Satu notifikasi pesan singkat masuk di gawaiku yang masih berasa di dalam tas. Aku merogoh benda pipih itu dan langsung memeriksanya.
[Selamat kembali ke kantor, Zahira!]
Pikiranku menelisik gaya penulisan si pengirim pesan singkat ini yang sangat kukenal. Tidak salah lagi, ibu memang benar. Dia adalah Iqbal. Mantan sahabatku itu memang selalu begitu jika aku kembali ke kantor lagi untuk bekerja. Ah, Iqbal. mengingatnya membuatku semakin jengah.
Aku tidak membalas pesan singkat itu. Kulempar benda pipih itu ke samping tempatku berbaring. Aku benar-benar tidak ingin membalasnya. Kantuk menyapa kedua mataku, hingga tak terasa akhirnya aku tertidur tak sadarkan diri.
***
Keesokan harinya. Seperti kemarin, aku harus kembali berangkat ke kantor untuk bekerja. Papa sudah siap di meja makan, sementara aku baru saja mandi dan belum bersiap-siap.
__ADS_1
"Zahira, cepat! Pagi ini kita ada meeting penting," titah Papa padaku dengan sorot mata tajam. Tidak seperti biasanya. ada apa dengan Papa pagi ini?
"Cepetan, Ra!" Kali ini Papa menyentakku karena aku tidak menjawab ucapannya.
"Ada apa sih, Pa??" tanya Mama yang mewakili pertanyaanku pada Papa yang tampak seperti gadis sedang dapet! Baru saja keluar kamar, hawanya udah pengen marah-marah aja.
"Papa ingin Zahira belajar disiplin, Ma. berangkat dan pulang sesuai waktu kerja." Papa menjawab datar tanpa menoleh ke arahku. Kenapa pria ini terlihat menakutkan pagi hari ini?
"Jadi, Papa marah karena kemarin aku pulang cepat??" tanyaku. Aku mendekati Papa sembari tersenyum polos dan merayu.
Papa menoleh ke arahku. "Kamu itu nantinya kan menggantikan Papa memimpin perusaan. Jadi kamu harus belajar disiplin, apapun itu."
Aku tertegun sesaat kemudian mengangguk pelan. "Iya, baik, Pa."
"Jangan manggut-manggut aja. jawab dong pertanyaan Papa."
Aku menautkan alis bingung. "Pertanyaan Papa yang mana? perasaan tadi Papa nggak ada bertanya." Aku menyahut sembari ikut duduk di kursi makan untuk menyantap sarapan.
"Oh, belum, ya?? Papa lupa berarti ini." Memang wajar, umur yang sudah tua mengendorkan syaraf ingatan
"Iya, memang belum, kan?" Aku meraih piring yang sudah penuh nasi dan ikan itu ke hadapanku, dan langsung menyantapnya.
Papa tampak berpikir sesaat kemudian kembali berkata, "menurutmu bagaimana dengan David??"
"David?"
Papa mengangguk yakin. "Iya, David. menurutmu dia bagaimana?"
"Baik, Pa. Dia seorang sekretaris yang baik, pintar dan cekatan. Papa nggak bakalan rugi dengan hasil kerjanya," jawabku apa adanya. Aku tidak tahu ternyata pertanyaan Papa memiliki maksud lain.
"Bukan itu maksud Papa, Zahira," sahut Papa. "Emm ... maksud Papa, bagaimana David di matamu sebagai perempuan dan laki-laki, begitu."
"Apa, Pa??" Aku memekik sedikit terkejut. "Jangan bilang Papa ingin menjodokanku dengan pemuda berkaca mata itu."
__ADS_1