Pernikahan Semu

Pernikahan Semu
BAB 23 - Malam yang Tertunda


__ADS_3

Mas Fahri melajukan mobil yang kami naiki dengan sangat cepat menuju rumah.


"Sebenarnya ada apa, Mas?" Aku merasa ada hal penting yang membuat Mas Fahri ingin segera sampai.


Mas Fahri menoleh ke arahku. "Tidak ada apa-apa, Zahira. Aku hanya ingin cepat bertemu bunda. Sudah beberapa hari bunda tidak ke rumah, kan?"


"Iya Mas, aku juga kangen sama bunda," balasku tersenyum ke arahnya.


Beberapa menit berlalu mobil yang kami naiki perlahan memasuki pelataran rumah. Terlihat mobil milik ayah mertuaku sudah terparkir cantik di sana, sedang pemiliknya tengah duduk di kursi teras depan rumah.


"Kalian dari mana?" tanya Bunda sesaat setelah memelukku.


"Dari kantor tempat Zahira bekerja, Bun," jawab Mas Fahri. Tumben sekali dia sangat ramah pada orang tuanya.


Bunda menoleh ke arah Mas Fahri. "Apa kakimu sudah benar-benar sembuh?"


"Iya, sudah. Besok aku akan kembali bekerja ke kantor," jawab Mas Fahri tersenyum.


Mas Fahri membuka pintu dan mempersilakan Ayah dan Bunda masuk.


"Berarti besok Zahira akan berangkat bekerja?" tanya Bunda padaku.


"Iya, Bun. Nggak enak kalau kelamaan cuti, Bun."


Bunda kembali menatapku. "Kenapa tidak bekerja di perusahaan Ayah saja? Biar enak sekalian sama Fahri, kalian bisa membangun perusahaan sama-sama."


"Zahira ingin mencari pengalaman, Bun. Biarkan saja," sahut Ayah membelaku.


"Oh ya, Yah. Perusahaan yang ditempati bekerja Zahira lumayan bagus, apa kita bisa mencoba bekerja sama dengan mereka?" tanya Mas Fahri pada Ayah.


"Benarkah?" Ayah sepertinya tertarik dengan usulan Mas Fahri.


Mas Fahri mengangguk pelan. "Iya, Yah. Fahri bisa pastikan kita akan jadi partner yang baik dengan mereka."


"Jika menurutmu begitu, Ayah setuju saja. Ayah akan tetap mengawasi dari belakang. sekarang giliranmu yang turun lapangan." Senyum Ayah mengembang pada putranya. Ada binar bahagia di mata Ayah.


"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan menghubungi Iqbal. Ra, kirimkan nomor pribadi Iqbal padaku," ucap Mas Fahri sambil menoleh ke arahku.


"Iqbal? siapa dia?" tanya Bunda.


"Ohh, Iqbal itu teman Zahira, Bun. Dia juga satu kantor dengan Zahira," jelas Mas Fahri pada Bunda yang terlihat bingung.


Bunda semakin lekat memandangku. "Apa hubunganmu dengan Iqbal sangat dekat?"


Kenapa Bunda bertanya seperti itu?


Apa mungkin Bunda mencurigai hubunganku dengan Iqbal?


"Zahira sayang, koq diam?" tanya Bunda lagi yang entah kenapa membuatku gugup.

__ADS_1


"Ya, lumayan, Bun. Iqbal temanku dari kecil."


Bunda mengangguk Paham. "Ooh, begitu ya. Bunda heran saja, yang Bunda ketahui selama ini kan, kamu gadis yang pendiam. yang sukanya di rumah, nggak keluyuran. Ternyata punya teman dekat laki-laki juga. Ini Bunda tidak memojokkan kamu ya, Sayang. Bunda hanya ingin tahu."


Mas Fahri yang mendengar penuturan Bunda tentang sifat baikku berdecik heran. "Bunda belum tahu sifat aslinya Zahira, ya?"


"Maksudmu apa Mas?" tanyaku tak terima.


Mas Fahri tertawa kecil. "Zahira bukanlah gadis yang Bunda bayangkan. Dia adalah gadis yang super cerewet Bun."


Mas Fahri, bisa-bisanya dia mengejekku di depan Ayah dan Bunda.


Bunda tersenyum. "Ya, kalau cerewet karena kamu nakal sih, Bunda setuju-setuju saja. kalau perlu Zahira Bunda suruh jewer telingamu," timpal Bunda malah membelaku.


Mas Fahri cemberut. "Aih, Bunda. Anak Bunda ini Fahri apa Zahira? Kenapa Bunda malah membela Zahira? pakek suruh jewer Fahri, pula?"


"Makanya, kamu jangan nakal-nakal!" kekeh Bunda yang membuat semua orang tertawa.


Kurang lebih dua jam kami menghabiskan waktu bersama di ruang tamu, Ayah dan Bunda pamit pulang. Kami mengantar Ayah dan bunda sampai mobil yang dinaiki keduanya benar-benar hilang dari pandangan.


****************


Malam hari.


"Sayang, laper." Mas Fahri menarik tanganku untuk mengajakku ke dapur.


Aku menurut. "Mau makan apa, Mas?"


"koq diem? Aku ingin makan nasi goreng buatanmu."


Aku tersenyum kecil. "Iya, boleh. Asal jangan cerewet!"


Ucapanku membuat Mas Fahri melebarkan kedua mata. "Cerewet?"


"Iya, cerewet pakai banget!" Aku menyunggingkan sebelah bibir.


Mas Fahri tidak terima. Dia menghampiriku, namun dengan cepat aku berusaha menghindar.


"Mau kemana kamu?" Mas Fahri terus mengejarku, dan aku semakin menghindar.


"Zahira, please. Kamu ngajak main kejar-kejaran, ya?"


Melihat Mas Fahri mengeluh membuatku ingin terus melakukannya. Jarang-jarang aku bisa mengalahkannya.


"Kalau bisa, tangkap aku Mas!"


Aku terus menghindar dan meninggalkan Mas Fahri yang masih di dalam dapur.


"Zahira, aku ini lapar, kenapa malah mengajakku bermain?" ujarnya terdengar lirih karena aku sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


Aku bersembunyi di balik pintu. Menunggu Mas Fahri datang, karena aku berniat akan mengejutkannya dengan satu sorakan. Pasti seru, pikirku.


Pintu terbuka, lalu Mas Fahri masuk. "Ra, kamu di mana?"


Belum sempat aku mengejutkan Mas Fahri, namun dia sudah menemukanku. "Nah! Dapat, kan? Kamu tidak bisa ke mana-mana lagi." Mas Fahri sudah mengunci jalanku, sehingga aku tidak bisa bergerak.


Aku hendak menghindar lagi, namun tanganku sudah dipegangnya. "Lepaskan tanganku, Mas!"


Mas Fahri menolak. "Ti-dak!"


"Emmm, tolong, Mas. Aku mau ke dapur. Bukankah tadi kamu minta dibuatin nasi goreng?"


"Tidak. Aku sudah tidak ingin nasi goreng," bantahnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Lalu, kamu maunya apa?"


Mas Fahri tersenyum miring. "Aku mau kamu, Zahira."


Ucapan Mas Fahri berhasil membuat jantungku berhenti berdetak. Aku menundukkan wajah, tersipu.


Apa mas Fahri ingin menagih haknya padaku?


Sebelum ini tidak ada pembicaraan yang mengarah ke sana. Namun, dari sorot matanya saat ini membuatku merasakan hal itu.


"Maksudmu apa, Mas?" tanyaku dengan wajah masih menunduk.


Mas Fahri tertawa kecil. "Kamu yang sudah membuatku kesal, jadi kamu harus bertanggungjawab."


"Bertanggungjawab untuk apa, Mas?"


"Bertanggungjawab agar hatiku tidak kesal lagi."


Aku kembali terdiam.


Mas Fahri mengangkat lembut wajahku dengan kedua tangannya. "Zahira, i love you."


Mas Fahri menuntunku duduk di tepi ranjang.


Satu kecupan mendarat di pipiku yang membuatku bisa merasakan berbagai rasa.


karena ini memang kewajibanku, aku menerima setiap sentuhan yang Mas Fahri berikan. Hingga ....


*************


Kumandang adzan Subuh membangunkanku dari tidur. kulirik Mas Fahri yang masih terlelap dengan tubuh tertutup selimut membuatku teringat dengan kejadian yang kami lakukan semalam.


Kehormatanku sudah lenyap, namun kenapa aku merasa sangat bahagia?


Satu hal yang diinginkan seorang wanita adalah menyerahkan hal yang paling berharga baginya untuk pria yang dicintainya. Tentunya dalam ikatan pernikahan.

__ADS_1


Seperti diriku saat ini. Walau terlambat, dan awalnya muncul banyak keraguan. Namun, aku percaya pada suamiku. Dan saat ini aku benar-benar bahagia.


__ADS_2