
Ya Allah ... baru saja aku menata hati untuk kembali bersemangat menjalani hari, tapi Papa seolah-olah kembali mendorongku pada keterpurukan. Setelah kegagalan pernikahanku dengan Mas Fahri, Papa masih juga belum memahami keadaanku. Lalu, aku harus bagaimana?
Aku tahu betul niat baik papa, tapi saat ini hatiku masih belum siap untuk menerima.
Lalu, aku harus bagaimana?
"Zahira," panggil Mama yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku.
Dengan cepat aku menoleh ke arahnya. Mama tersenyum penuh arti seraya berjalan menghampiriku. "Emm ... bagaimana, Sayang?" tanya Mama. Pasti ini bahasan soal perjodohan tadi sore.
"Bagaimana apanya, Ma?"
Mama semakin mendekatiku dan langsung memelukku. "Niat Papa dan Mama baik, Sayang. Kami hanya ingin melihatmu bahagia."
"Apa?" pekikku. "Berarti Mama juga ikut andil dalam rencana ini?"
__ADS_1
Melihat aku terkejut Mama malah tertawa kecil. "Iya, maafin Mama, ya? Kalau Mama nggak bohong soal klien yang komplen tadi, pasti kamu nggak bakalan mau ke kantor lagi, kan?"
"Tapi Zahira lebih suka jika ada klien yang benar-benar komplen, daripada perjodohan ini," sahutku spontan.
Mendengar ucapanku membuat Mama memicingkan sebelah mata. "Apa artinya kamu tidak setuju dengan perjodohan ini?" tanya Mama meminta pendapatku.
Aku mengangguk pelan. "Mama tahu kan aku masih trauma berhubungan dengan pria lagi. Tapi kenapa Mama dan Papa malah menginginkanku menikah? Apalagi dengan pria asing yang belum pernah kukenal." Aku berharap Mama bisa membujuk Papa agar membatalkan perjodohan ini.
Mama tampak bernapas dalam-dalam. "Ya udah, nanti Mama bakal bujuk Papa buat batalin," balas Mama lagi yang membuatku agak lega.
Satu bulan berlalu, aku benar-benar tidak menyangka Mama bisa membujuk Papa untuk membatalkan rencananya. Walaupun memerlukan waktu yang begitu lama, tapi akhirnya Mama mampu meyakinkan Papa.
Hari ini adalah hari spesial bagiku, karena akhirnya Papa memberiku izin untuk melakukan hal paling kuinginkan sejak kecil. Ya, aku ingin menjadi seorang desainer gaun pengantin. Karena dalam bidang ini aku hanya sekedar hobi menggambar tanpa ilmu, jadi aku memutuskan untuk memperdalamnya terlebih dahulu. Aku memutuskan untuk mengambil kuliah lagi khusus fashion desain di luar negeri. Tidak seperti bayanganku ketika aku mengutarakan niat ini, ternyata Papa dan Mama sangat mendukungku.
"Jika itu bisa membuatmu bahagia, Mama dan Papa akan selalu mendukungmu dan mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Mama dan Papa saat pertama kali aku menyampaikan niatku.
__ADS_1
Ini adalah cita-cita terpendamku sejak kecil yang belum pernah kuutarakan pada siapa pun. Eh, ada satu orang yang pernah aku beritahu, tapi aku melarangnya untuk memberitahu siapa pun lagi. Siapa lagi kalau bukan Iqbal, karena dia adalah teman yang selalu bersamamu sejak kecil. Walaupun saat ini kami sudah tidak berhubungan lagi, tapi aku yakin dia tidak pernah menceritakan tentang hobiku ini pada siapa pun. Nggak ada untungnya juga bahas ini, kan? Wkwkwk. Toh dia sekarang sudah menjadi orang nomor satu di perusahaan ayahnya, mana sempat dia mengingat cerita masa kecil kami dulu.
Lulus SMA aku dipaksa oleh Papa meneruskan jurusan manajemen perusahaan karena Papa ingin aku bisa menggantikannya kelak. Walaupun hatiku menolak, tapi aku harus melaksanakan keinginan Papa. Hingga dia minggu yang lalu Papa melihat satu ide karya desainku yang kugambar iseng saat senggang di kantor. Papa sangat memuji bakatku dan akhirnya ia mengizinkanku untuk meraih cita-citaku yang sebenarnya.
Selain itu, aku juga bisa terbebas dari gangguan Mas Fahri yang selalu menuduhku. Aku ingin bebas dari bayang-bayang masa lalu, dan bisa memulai hidupku yang benar-benar baru dengan kesibukanku sendiri.
Terima kasih, Pa, Ma. Zahira akan memulai awal baru di negeri Itali dengan penuh ketekunan dan kewaspadaan. Zahira berjanji saat pulang nanti akan membuat Papa dan Mama bangga pada Zahira.
Pagi ini aku pamit pada Papa dan Mama. Dengan haru dan diiringi doa, mereka berdua melepas kepergianku tepat di depan bandara Soekarno-hatta.
"Zahira pamit ya, Pa, Ma. Assalamu'alaikum."
Walaupun hati ini terasa amat berat, tapi aku harus kuat demi keinginanku membahagiakan mereka dengan caraku sendiri.
Bismillah, aku menaiki pesawat dengan perasaan penuh semangat, berharap apa yang kucitakan diberi kelancaran oleh Allah SWT, dan bisa membanggakan Papa dan Mama.
__ADS_1
BERSAMBUNG ****DI**** CERITA SELANJUTNYA YANG BERJUDUL ( THE REAL WEDDING)