Pernikahan Semu

Pernikahan Semu
BAB 27 - Kenyataan Pahit


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Bayi yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir juga. Arumi melahirkan bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang sangat manis.


Aku diantar Mama dan Papa pergi ke rumah sakit untuk menyaksikan hasil tes DNA yang akan dilakukan Mas Fahri dengan bayi yang dilahirkan Arumi.


Semenjak keluar dari rumah beberapa minggu yang lalu, aku dan Mas Fahri belum pernah bertemu. Hanya sekedar berkirim pesan menanyakan kabar. itupun selalu Mas Fahri yang mendahului. Jika tidak, aku lebih memilih untuk benar-benar menjaga jarak untuk saat ini.


Entah kenapa hatiku masih sangat sakit mengingat pengakuannya terakhir kali.


Dan saat ini, kami dipertemukan kembali di hari penentuan hasil Tes DNA-nya.


Mas Fahri nampak sangat kusut. Dengan rambut yang sudah agak panjang dan hanya memakai kaos oblong panjang yang terlihat dia hanya asal.


"Zahira," Panggil Mas Fahri menghampiriku yang duduk sendirian di kursi tunggu.


Mama dan Papa sedang berbincang serius dengan orang tua Mas Fahri.


"Ada apa, Mas?" Aku menatap wajahnya. Ada getaran rindu di hati, namun segera kutepis.


"Jika hasil dari tes ini menyatakan bayi itu bukan anakku, kamu mau kembali lagi, kan?" tanyanya dengan pandangan sendu.


Aku menghela napas panjang dan menghembuskan perlahan. "Apa kamu yakin jika bayi itu bukan anakmu, Mas??" selidikku. Aku tidak ingin memberi harapan sebelum mendapat kepastian.


Mas Fahri mengangguk ragu. "Semoga saja."


beberapa menit berlalu, Mas Fahri beserta Arumi yang menggendong anaknya masuk ke ruangan dokter untuk pengambilan sampel.


setelah beberapa jam menunggu, hasil tes DNA itu keluar juga. Deg-degan. tidak hanya aku dan seluruh keluarga. Pastinya Arumi, permpuan itu juga pasti merasakan hal yang sama.


kami semua masuk ke ruangan dokter untuk sama-sama mendengarkan hasil kecocokan itu. Dan ternyata, semua mata terbelalak karena terkejut.


Benar saja. Anak yang baru saja dilahirkan Arumi memang benar-benar anak dari Mas Fahri, suamiku.


Apa kabar hatiku???


Sakit, sesak, dan hancur. padahal kenyataan ini sudah kuperkirakan dari awal. namun, yang namanya perempuan, pastilah sakit jika suaminya memiliki anak dari wanita lain.


Mas Fahri menatap nanar ke arahku namun dengan cepat aku menghadap ke arah lain agar pandangan kami tidak bertemu.

__ADS_1


Jangan tanya air mata. Aku sudah tidak bisa membendungnya.


Mama mendekatiku dan memelukku. "Sabar, Sayang," bisiknya.


Aku mengangguk berusaha tegar. "Iya, Ma."


Begitu juga dengan Bunda. ibu mertua yang sudah kuanggap ibuku sendiri itu memelukku dengan bercucuran air mata. "Maafkan Fahri, Sayang." Tangis Bunda semakin pecah saat aku mengucapkan untuk meminta berpisah. "Jangan, Zahira. Jangan." Bunda masih terus menangis di pelukanku.


***


Pulang dari rumah sakit, aku ditemani Mama dan Papa singgah ke rumah yang dulu ketempati dengan Mas Fahri untuk mengambil semua pakaian dan beberapa barangku yang tertinggal. Aku memutuskan untuk menyerah dan meminta perceraian padanya.


Mas Fahri menyambut kedatangan kami. Mama dan Papa duduk di ruang tamu sedangkan aku langsung masuk kamar dengan membawa koper yang memang sudah kupersiapkan sejak awal.


Mas Fahri terus membuntutiku dan hanya memandangku dengan kesedihan. "Zahira, apa harus seperti ini?" tanyanya ragu. Pria itu sudah berdiri di sampingku.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


"Tapi, Ra. Aku benar-benar mencintaimu. Bukankah kewajibanku pada anak itu hanya menafkahinya? Aku bisa saja tetap menafkahinya tanpa harus menjadikannya istriku." Mas Fahri mengatakan itu dengan nada berapi-api. Sepertinya dia lupa bagaimana dia dulu lebih mementingkan wanita itu dari pada aku, istrinya.


"Maaf, Mas. Aku harus pergi. Mama dan Papa sudah menungguku."


Aku hanya wanita biasa yang memiliki hati yang rapuh. Aku tidak kuat jika harus terus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu suamiku. Apalagi, jika memikirkan hubungan Mas Fahri dengan Arumi pasti akan semakin dekat karena kehadiran buah hati mereka. walaupun Mas Fahri berjanji tidak menikahinya, tapi membayangkan dia menimang anak itu didampingi ibunya, membuat hatiku terluka.


Lebih baik aku yang mundur, dan mengalah. Aku berharap kamu bisa bahagia dengan Arumi dan anakmu, Mas.


******************


"Hei! koq bengong?" Seseorang membuyarkan lamunanku pagi hari ini.


Sudah hampir sebulan setelah aku meninggalkan rumah Mas Fahri, aku lebih banyak menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Ngapain lagi, kalau tidak melamun!


"Iqbal, ada apa kamu ke sini?"


Aku yang sedari tadi duduk termenung di teras depan rumah sangat terkejut dengan kedatangan Iqbal.


"koq gitu, sih? Apa aku tidak boleh mengunjungi sahabatku?" celetuknya sambil cemberut kesal.


"Bukan begitu, Bal. Nggak biasanya kamu ke sini. Ada apa?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Iqbal melangkah maju, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kosong di sampingku. "Aku ingin mengajakmu kembali lagi ke kantor," ucapnya dengan tatapan lurus ke depan.


Aku menoleh ke arahnya. "Sepertinya aku nggak bisa, Bal. Aku sekarang ingin fokus membantu Ayah membangun bisnis kami sendiri."


"Benarkah?"


"Iya, dari pada bekerja di tempat lain, lebih baik mengembangkan usaha sendiri, kan?"


Iqbal mengulas senyum. "Iya, aku setuju dengan itu," sahutnya. Pria itu tampak memegang leher. "Ra, kamu nggak punya air minum atau apa, gitu? haus, nih."


"Air?"


Iqbal mengangguk. "Iya, air, apapun. Aku haus, nih."


"Ada, banyak, air sumur," jawabku yang membuat Iqbal mendelik ke arahku.


"Kamu kira aku sapi, apa?"


"Ya, kali aja. katanya tadi yang penting air." Aku mencibir sembari beranjak masuk ke dalam rumah.


Iqbal tidak menjawabku lagi, dia hanya tertawa kecil.


Selesai membuatkan minum es teh untuk Iqbal, aku langsung nengantarke hadapannya.


Iqbal yang tampak sibuk dengan gawainya langsung menoleh ke arahku sangat antusias. "Waahhh, seger, nih!"


"silakan, diminum." Aku mempersilakan Iqbal untuk meminum es teh itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria yang amat kukenal ternyata sudah berdiri di belakangku.


"Oh, jadi begini kelakuanmu sebenarnya di belakangku?" selorohnya yang membuatku langsung terhenyak kaget.


"Mas Fahri?!" Aku memekik. Entah sejak kapan dia sudah mengintaiku.


"Zahira, aku sungguh tidak menyangka jika kamu menusukku dari belakang seperti ini," ucap Mas Fahri lagi dengan sorot mata tajam menatapku.


"Apa maksudmu, Mas?" Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang diucapkannya.


mungkinkah Mas Fahri mengira aku sedang berselingkuh dengan Iqbal?


Mas Fahri terdia sesaat, wajahnya sangat merah padam. "Zahira, aku kecewa padamu, dan aku membencimu!"

__ADS_1


__ADS_2