
Ada apa dengan keadaan ini?
Kenapa Mas Fahri begitu marah dengan kehadiran Iqbal di rumahku? Lebih tepatnya di rumah mamaku, karena aku sudah memutuskan untuk berpisah dengannya.
"Mas, apa hakmu untuk kecewa padaku?"
Mas Fahri yang tampak ingin pergi menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arahku. "Ternyata karena ini kan, kamu ingin berpisah dariku? Kamu ingin bersama dengannya," ucapnya dengan nada penuh penekanan seraya menunjuk ke arah Iqbal.
Iqbal yang sedari tadi diam ikut angkat suara, "apa maksudmu? Jangan memutar balikkan fakta! Hubungan kalian berakhir karena kesalahanmu sendiri. Jangan malah menuduh Zahira dengan omong kosong seperti ini!"
"Aku tidak menuduh, ya? Karena buktinya sudah jelas! Kalian menggunakan kata persahabatan sebagai tameng untuk hubungan asmara kalian!" Pria itu berdecik malas, kemudian melirik ke arahku. "Ck! Aku sangat menyesal dengan hatiku sendiri. Kenapa bisa hatiku mencintai wanita licik sepertimu."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Mas Fahri. Siapa lagi yang menampar kecuali Iqbal. Sahabatku itu tampak sangat emosi mendengar kata-kata yang diucapkan Mas Fahri padaku.
"heh! Terbukti, kan?" Bukannya marah atau membalas, Mas Fahri malah tersenyum. "Kalian berdua tidak bisa menghindar lagi. Hanya karena aku berbicara seperti itu, kamu langsung menamparku? Coba katakan sekarang, seberapa besar cintamu pada mantan istriku itu??"
mendengar ucapan Mas Fahri membuat Iqbal semakin bengis! Dia mendorong tubuh Mas Fahri hingga tersandar di tiang. "Aku peringatkan padamu, jangan sekali-kali berkata kasar tentang Zahira lagi! Kalau tidak ...."
"kalau tidak, apa? Hah?!" Mas Fahri malah menantang sambil tertawa mengejek.
Iqbal menundukkan pandangan kemudian kembali menatap tajam wajah Mas Fahri. Dua pria itu tampak sedang perang dingin, sedang aku hanya berdiri mematung di tempat. Seperti tersihir oleh suasana, aku malah diam, tidak melerai mereka.
Mas Fahri kembali berdecik. "Ck! Aku sangat kagum dengan hubungan persahabatan kalian yang begitu akrab. Hingga kamu ...." Pandangan pria itu tajam menatap Iqbal. "Rela menjadikan Zahira yang statusnya adalah istriku sebagai karyawanmu tanpa jujur padanya bahwa perusahaan itu adalah milikmu sendiri," jelas Mas Fahri yang membuatku terhenyak. Benarkah apa yang dikatakannya?
__ADS_1
Iqbal mundur dari posisinya. Ia tampak gugup.
"Mengaku saja kepada mantan istriku itu," ucap Mas Fahri lagi seraya mengisyaratkan matanya melirik ke arahku. Dan itu mampu membuat Iqbal kembali tersulut.
Iqbal kembali mendorong tubuh Mas Fahri hingga tersandar ke tiang lagi. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu menjadi sangat peduli padaku?! Hah?"
Mas Fahri tersenyum kecut. Walaupun tubuhnya saat ini dihimpit sebelah lengan Iqbal, namun tidak membuatnya berontak sama sekali. "Kamu ingin tahu alasannya? Baiklah, akan kukatakan," balas Mas Fahri lagi sambil mengedarkan pandangan, hingga pandangan itu nanar menatap ke arahku. "Karena kamu bisa lebih dekat dengan Zahira dari pada aku."
Ucapan Mas Fahri berhasil membuat hatiku luruh. Ada getaran penyesalan di dalam dada ini. Namun, bagaimanapun aku tidak bisa kembali lagi, Mas. Ada Arumi dan anak kalian yang sudah menantimu.
Iqbal melepas kasar tubuh Mas Fahri. Kedua netranya sepintas melirikku dan kembali menakan pria yang ada di hadapannya. "Hubunganmu dengan Zahira sudah berakhir. Jadi, jangan mengganggunya lagi."
"Ck! kamu melarangku mendekati Zahira lagi agar kamu bisa bersatu dengannya, kan???" Mas Fahri kembali memulai perdebatan yang tak kunjung usai ini.
Mndengar mereka berdebat membuatku jengah. "Mas! Sudahlah! cepat pergi dari sini!" Aku mengusir mantan suamiku itu namun sepertinya dia masih betah berdebat dengan Iqbal.
Ucapan pria itu terasa sangat tak menusuk hatiku. "Mas! Apa yang kamu bicarakan??"
"Halah, nggak usah banyak alasan! Tinggal mengaku saja, apanya yang susah??" Pria itu tersenyum kecut ke arahku, kemudian menatap ke arah Iqbal lagi. "Kamu, juga. tinggal mengaku saja, apa susahnya? Aku terima saja jika kalian mau bersama."
Entah kenapa aku seperti tidak mengenali Mas Fahri yang saat ini berada di hadapanku. Dari cara bicaranya yang kasar dan berulang kali memojokkanku. Dia benar-benar lupa jika alasanku memilih mundur adalah karena kesalahannya, karena anak yang dihasilkannya dengan Arumi. Tapi, kenapa saat ini dia malah menuduhku memilih mundur karena ingin bersama dengan Iqbal? Sangat tidak mungkin, lah. Karena Iqbal hanyalah sahabatku sejak kecil, tidak lebih!
"Kalian diam, kan? Tandanya apa yang kuucapkan adalah kebenaran."
Seketika aku memekik memanggilnya, "Mas!" Emosiku yang sedari tadi kutahan agar tidak tersulut, akhirnya membuncah juga. Aku semakin melangkah mendekati Mas Fahri. Aku ingin memberi satu pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya. Aku ingin menampar wajah sombong itu dengan sangat keras, hingga sakitnya terasa sampai ke reling hati.
__ADS_1
Namun, langkahku dihentikan oleh Iqbal dengan mengangkat sebelah tangannya. Sahabatku itu menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang sulit kuartikan.
sekilas ia melirik ke arah Mas Fahri dan kembali menatapku. "Fahri, kamu ingin aku mengaku, kan?" ucapnya dengan nada tanya. kedua netra Iqbal masih menatap lekat ke arahku. "Baiklah, aku akui. Aku memang mencintai Zahira."
"Apa?" Aku memekik penuh tanya, sementara Mas Fahri tampak tersenyum kecut.
"Aku benar-benar mencintaimu, Ra," ucap Iqbal lagi seraya berjalan menghampiriku. "Maaf jika aku sudah merusak persahabatan kita. Namun, yang sebenarnya kurasakan selama ini bukanlah persahabatan, melainkan cinta."
Plak!
Mas Fahri mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Iqbal. Namun, pria yang baru saja ditampar itu sama sekali tidak merespon. Dia masih menatap lekat ke arahku.
"Benar kan, apa kataku? Pasti hubungan kalian lebih dari persahabatan! Dan sekarang benar-benar sudah terbukti." Mas Fahri sangat marah. Ia menunjuk wajah Iqbal dengan telunjuknya. "Dasar, munafik!" Pria itu melangkah meninggalkan kami yang masih mematung.
Iqbal menghentikan langkahnya tepat di hadapanku. "Ra, maafkan aku. sebenarnya aku mencintaimu sudah sejak kec—"
"Stop, Bal! Hentikan! Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Sekarang, lebih baik kamu pergi dari sini." Aku mengusirnya, ingin menenangkan hatiku.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pengakuan Iqbal yang tiba-tiba. Bagaimana mungkin sahabatku daru kecil itu sampai menaruh hati padaku?
"Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Ra." Iqbal masih berdiri di tempatnya. Sepertinya dia masih belum bisa menerima keputusanku. Iqbal meraih tanganku namun segera kutepis. Saat ini aku masih sangat marah. Karena pengakuan Iqbal, membuat semua tuduhan Mas Fahri padaku menjadi seperti nyata.
"Tidak, Bal. Ini sudah cukup. Tolong, jangan hubungi aku lagi."
"Jangan seperti ini, Ra. Aku memang mencintaimu, tapi aku akan terima jika kamu hanya ingin bersahabat saja seperti biasanya, tanpa melibatkan perasaan." Iqbal mengatakan itu dengan penuh kesedihan di wajahnya.
__ADS_1
Mana mungkin bisa? Setelah dia menyatakan perasaannya, apa dia pikir aku akan baik-baik saja?
"Tidak, Bal. Tolong pergi dari sini, dan jangan pernah menghubungiku lagi. Anggap saja persahabatan kita telah selesai."