Pernikahan Semu

Pernikahan Semu
BAB 22 - Berteman


__ADS_3

Aku dan Mas Fahri masuk ke dalam ruang kerjaku untuk menunggu kedatangan Iqbal.


"Zahira," panggil Iqbal saat dia telah kembali dari meetingnya. karena pintu ruangan tidak tertutup Iqbal bisa melihatku berada di dalam ruangan ini.


Mas Fahri yang baru pertama kali melihat Iqbal langsung menghampiri laki-laki itu. "Hai, kamu Iqbal ya? teman masa kecil istriku?" Mas Fahri mengulurkan tangan mengajak Iqbal untuk bersalaman.


Iqbal mengangguk sambil meraih tangan Mas Fahri. "Iya," jawabnya singkat.


Iqbal terlihat kikuk dengan kedatangan kami.


"Hai Bal, sudah selesai meetingnya?" tanyaku untuk mencairkan suasana.


Iqbal tersenyum. "Iya, Ra. ngomong-ngomong, ada apa ini?"


Aku berjalan mendekati kedua pria itu. "Ah, tidak ada apa-apa. kami hanya berkunjung kebetulan lewat sini tadi."


Mas Fahri tiba-tiba memeluk pinggangku mesra sambil tersenyum ke arah Iqbal. "Iya, kami hanya berkunjung. Terlebih aku ingin tahu kantor tempat bekerja istriku dan berkenalan dengan sahabatnya."


Iqbal membalas senyum. "Oh, iya, iya. Kita memang belum kenalan, kan? Kenalkan, namaku Iqbal."


Mas Fahri mengangguk. "Baiklah. Iqbal, ya. Kamu sudah punya pacar belum?"


Mas Fahri?


Entah kenapa Mas Fahri tiba-tiba menyinggung soal pacar kepada Iqbal.


Mendapat pertanyaan itu membuat Iqbal tersenyum. "Kebetulan belum."


"Why? Kamu pria yang sudah mapan, bukan hanya pacar, seharusnya kamu sudah memiliki seorang istri."


Mas Fahri terlihat bercanda. Namun, kenapa hatiku kurang nyaman dengan penuturannya?


Untungnya Iqbal tidak terlalu ambil hati dengan pertanyaan Mas Fahri padanya.


"Tidak semudah itu Mas, aku masih menunggu wanita yang tepat," jawab Iqbal yang membuat Mas Fahri kembali bertanya.


"Menunggu wanita yang tepat? Jangan bilang wanita yang kau incar saat ini sudah bersuami dan kamu sedang menunggunya untuk bercerai dari suaminya agar bisa kaudekati."


"Mas!" Aku memekik. Aku tahu kemana arah pembicaraan Mas Fahri kali ini.


Mas Fahri tersenyum ke arahku.


Senyummu aneh, Mas.


kenapa aku merasa dipermainkan oleh suamiku sendiri?


Iqbal yang tengah dipojokkan oleh Mas Fahri nampak masih tenang. "Tidak Mas, aku bukan pebinor koq."


"Pebinor? Apa itu?" Mas Fahri bingung.


Iqbal menjawab, "Perebut Bini Orang, Mas. Aku bukan seperti itu."

__ADS_1


Mas Fahri terkekeh mendengar jawaban Iqbal. "Oke, oke. Tapi kalau bisa segera cari pasangan, ya. Biar nggak dikira orang JoNes."


"Jomblo Ngenes, kan?" sahut Iqbal yang langsung disambut gelak tawa oleh Mas Fahri.


Setelah banyak berbincang dan bercerita, Mas Fahri dan Iqbal terlihat lebih akrab.


Kami masih duduk di sofa ruang kerjaku. Tiba-tiba, pintu diketuk oleh seorang perempuan yang tadi meninggalkan kami begitu saja.


Ya, dia adalah Risti. Teman kerjaku yang menaruh hati pada Iqbal.


Setelah Iqbal mempersilakan Risti masuk, wanita berambut panjang itu menghampiri Iqbal. "Maaf, Pak. Dokumen ini harus segera ditandatangani."


Risti menyodorkan satu map besar kepada Iqbal yang langsung diraih oleh Iqbal. Tanpa bertanya lagi Iqbal langsung menandatangani beberapa lembar kertas itu dan kembali menyerahkannya kepada Risti.


"Terimakasih, ya. Kamu boleh pergi," ucap Iqbal.


Risti menganggukan kepala dan tersenyum kepada Iqbal tanpa menoleh ke arahku dan Mas Fahri. "Sama-sama, Pak." Risti kembali berlalu dari hadapan kami.


Suasana kembali mencair saat Iqbal bertanya kepadaku tentang Risti.


"Bagaimana menurutmu, Ra?"


Aku menautkan dua alis. "Menurutku? Tentang apa?"


"Bukankah dia tadi yang ingin kaujodohkan denganku?" tanya Iqbal lagi.


Mas Fahri memandangku bingung. "Benarkah, Sayang? Kamu berteman dengannya? Tapi, kenapa sikapnya tidak bersahabat seperti itu?"


Aku menoleh ke arah Mas Fahri. "Iya, dia memang temanku untuk berberapa waktu sebelum kamu kecelakan, Mas. Tapi entah kenapa sepertinya dia kini menjauhiku."


Setelah menjawab pertanyaan Mas Fahri, aku kembali menoleh ke arah Iqbal. "Dan, bukannya aku menjodohkanmu dengan dia ya, Bal. Tapi, dia sendiri yang ingin dekat denganmu. Sepertinya dia benar-benar menyukaimu."


Iqbal tertawa kecil. "Tapi aku tahu dia Ra. Dia wanita ambisius. Dan dia bukan tipeku Ra."


Sepertinya Iqbal lebih mengenal Risti dari pada aku. Terlihat jelas dia sudah bisa menilai Risti.


Mas Fahri berdehem. "Lalu, tipe wanita impianmu seperti apa, Tuan Iqbal? Apakah seperti istri saya ini?"


Tiba-tiba saja Mas Fahri mendekatkan posisi duduknya dan merangkul pundakku. Aku hanya tersenyum dan menolehnya.


"Sempurna."


Jawaban yang Iqbal berikan di luar perkiraanku. kenapa dia mengatakan itu? Di hadapan Mas Fahri, pula?


Mas Fahri menarik kembali lengannya dari pundakku. "Maksudmu apa?"


"Hehe. Kalian adalah pasangan yang sempurna," jawab Iqbal dengan nada ragu.


Untungnya Mas Fahri tidak begitu serius menanggapi ucapan Iqbal. Mas Fahri mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang keadaan perusahaan ini pada Iqbal.


Iqbal yang tampak kikuk kembali nyaman. Dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan Mas Iqbal.

__ADS_1


"Sepertinya persahaanku perlu membuka kesempatan bekerja sama dengan perusahaan ini," pikir Mas Fahri setelah mendapat beberapa pencerahan dari Iqbal.


Aku yang mendengar rencana Mas Fahri sedikit terkejut. "Mas, serius?"


Mas Fahri mengangguk. "Iya, sepertinya perusahaan ini cukup kompeten," senyumnya kembali mengembang.


"Ide bagus itu Mas. Kami sangat berterima kasih jika Mas Fahri mau bergandeng tangan dengan kami." Iqbal ikut menimpali ucapan Mas Fahri.


"Nantilah, aku akan bicarakan ini dengan ayahku dulu," ucap Mas Fahri lagi.


"Siap, Mas. Kami akan tunggu." Kembali, Iqbal tersenyum ke arah Mas Fahri.


Setelah kurang lebih satu jam Mas Fahri mengajakku pulang. Tak ada yang spesial dari pertemuan ini, yang terpenting bagiku Mas Fahri tidak membuat keributan dengan sahabatku yang sempat dicurigainya.


Sepertinya Mas Fahri ingin bertemu dengan Iqbal memang tulus hanya ingin mengenal temanku saja. Terbukti dari sikap Mas Fahri yang tenang dan kalem dari pada dulu. Terutama saat berbicara dengan Iqbal,as Fahri terlihat santai seperti berbicara dengan teman lamanya.


"Jadi, mulai besok kamu sudah mulai masuk kerja lagi, kan?" tanya Iqbal sesaat setelah Mas Fahri mengajakku pulang.


Belum sempat aku membuka suara, Mas Fahri sudah menjawabkannya untukku. "Iya, Zahira besok mulai bekerja. Tapi, jangan ganggu dia, ya. Dan, satu lagi. Aku tidak suka wanita yang ke sini tadi sampai mendekati istriku. Apalagi sampai menyakitinya."


Apa-apaan Mas Fahri ini?


Mendengar ucapan Mas Fahri membuat Iqbal tertawa lebar. "Wow Zahira! Aku senang kamu mendapatkan suami yang super protective seperti Mas Iqbal."


Bukannya senang, aku malah merasa ditertawakan.


"Baiklah, Bapak Fahri yang terhormat, aku akan pastikan, bahwa istri Bapak akan selalu aman bekerja di sini." Iqbal mengatakan itu dengan terus tertawa.


Apakah begitu lucu hingga membuatnya terus tertawa seperti itu?


Setelah berpamitan, aku dan Mas Fahri kembali pulang.


"Mas, apa perlu meminta Iqbal untuk menjauhkanku dari Risti?" tanyaku sesaat setelah kami masuk mobil.


Mendengar pertanyaanku, Mas Fahri malah tersenyum. "Perlu. Aku kurang suka dengan perempuan itu. Sepertinya dia bukan teman yang baik untukmu."


"Tapi, Mas. Seharusnya kita tidak boleh menuduh begitu, kan?"


Mas Fahri kembali menoleh ke arahku. "Sudahlah, Sayang. Aku melakukan ini juga demi kebaikanmu."


"Tapi, Mas ... "


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, fokus Mas Fahri sudah dialihkan dengan suara handphone yang ada dibalik jas yang dikenakannya.


"Ya, hallo, Bun." Mas Fahri langsung menjawab sang penelepon tanpa menanggapi protesku.


Dan ternyata bundalah yang sedang menghubungi Mas Fahri saat ini.


Sesaat kemudian, Mas Fahri mengakhiri sambungan teleponnya.


"Ada apa Mas?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


Mas Fahri menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya pelan. "Kita harus segera pulang. Ayah dan Bunda sedang di rumah."


__ADS_2