
"Hahaha." Mendengar tebakanku seketika membuat Papa tertawa renyah. "Jadi kamu berpikir begitu?" tanyanya yang membuatku sedikit kesal. Mungkin maksud Papa baik karena ingin aku mendapatkan pasangan, tapi saat ini hatiku masih tertutup untuk pria mana pun. Apalagi David? Pria yang baru sehari kukenal?
"Pa? Tolonglah jangan seperti itu. Zahira ingin fokus membantu Papa. kalau Papa berniat menjodohkan aku dengan David, lebih baik aku di rumah saja," sahutku seraya cemberut kesal.
Papa menatap tajam ke arahku. "Iya, iya. Papa tidak serius, kok. Jadi anak jangan baperan."
"Papa juga sih yang bikin Zahira mulai berpikir seperti itu," balasku lagi.
"Sudah, sudah. Ini jadi sarapan enggak? koq malah bertengkar, dah kayak Tom Jerry aja." Mama ikut mengomentari perdebatanku dengan Papa.
"Sepertinya Zahira masih belum move on dari Fahri Ma," ucap Papa menyahuti Mama sambil terkekeh menahan tawa.
Mendengar itu membuatku melebarkan kedua mata. "Papa, ish!"
"Papa! Jangan begitu, kasihan Zahira, Pa." Mama menepuk pelan bahu Papa, kemudian menghampiriku. "Zahira sudah move on, kok. Ya kan, Sayang?" Wanita yang melahirkanku itu memelukku dengan hangat.
"Tentu, Ma. Sepertinya Papa yang belum move on kan??" sindirku pada Papa yang langsung menoleh ke arahku.
"Pinter ngejawab sekarang, ya??"
"Ish! Papa. sudah, sudah! Cepetan sarapannya, nanti kalian terlambat." Mama kembali menghentikan pembicaraan Papa yang entah kenapa pagi ini niat sekali menggodaku.
kami bertiga pun mulai sarapan hingga selesai, setelah itu aku dan Papa berangkat ke kantor bersama.
"Bu, hari ini kita ditugaskan untuk meeting dengan salah satu klien," ucap David sesaat setelah aku duduk di kursi kerja.
"meeting?" tanyaku. Kenapa Papa tidak memberitahuku sendiri?
"Meeting mendadak, Bu. Pak Harun tidak bisa hadir, karena saat ini beliau jadwal meeting lain," jelas David lagi. Pria muda berkaca mata itu tersenyum ke arahku. Ck! Jadi ingat celotehan Papa tadi pagi tentang pemuda yang berdiri di hadapanku ini, kan?
"Baiklah, mari kita pergi." Aku bangkit dari duduk dan berjalan mengekor di belakang David.
__ADS_1
Keluar dari kantor, dengan menggunakan mobil miliknya, David membawaku ke satu resto tempat klien kami sudah menunggu di sana.
"Maaf, karena meminta bertemu mendadak," ucap wanita muda dengan mengulas senyum sembari menjabat tanganku.
"Tidak apa-apa, Nona. Mari," jawabku sok elegan, padahal aku tidak tahu pertemuan ini akan membahas apa.
David, orang kepercayaan Papa membuka laptop yang dibawanya dan menerangkan sesuatu pada sang klien, juga padaku yang memang masih harus banyak belajar darinya.
Begitulah meeting berlangsung hingga tak terasa dia jam berlalu dengan sangat cepat. Setelah dirasa cukup, dan sama-sama sepakat, wanita muda itu pamit undur diri lebih dulu. Aku dan David pun mengangguk dan mempersilakan.
"Bu, silakan dimakan dulu," ucap David seraya menunjuk ke menu hidangan yang sudah dipesankannya untukku.
Sejak kapan hidangan ini ada di hadapanku? Rasanya baru saja aku men-scroll akun instagramku untuk melihat akun penulis favoritku yang bernama @heaven_nur25 mengunggah satu foto, tapi tiba-tiba semua hidangan enak sudah berjejer rapi di atas meja.
"Kamu yang pesan semua ini?" tanyaku pada David yang sudah menyunggingkan senyuman.
"Iya, Bu. Daripada repot bertanya sama Ibu, lebih baik aku pesankan langsung beberapa menu yang menurut saya enak di sini," jawab pria berkacamata itu. Senyumnya masih terukir indah di wajahnya.
David tampak tersenyum kecil. "Tidak perlu berlebihan, Bu," balasnya.
"Selain pintar dan cekatan, ternyata kamu rendah hati juga, ya?" sambungku yang membuat David tampak semakin menundukkan pandangan.
Gurauanku pada David terhenti saat seseorang pria tiba-tiba datang menghampiri kami dengan wajah masam.
"Cie, yang lagi mesra-mesraan," celetuk pria yang tak lain adalah mantan suamiku sendiri. Entah kenapa dia tampak semakin membenciku.
Aku terdiam begitu juga David.
Mas Fahri menghempaskan tubuh ke kursi kosong yang terletak di tengah-tengah kami. "Kenapa kalian diam? Bukankah tadi asyik haha-hihi?" tanyanya sangat enteng dan terkesan sombong.
Jujur, aku sangat tidak ingin melihatnya. "Vid, mari kita kembali ke kantor," ajakku pada David yang tampak bingung.
__ADS_1
"lho, Bu. Bagaimana dengan makanannya?" tanya David langsung. Sepertinya dia belum tahu kenapa aku mengajaknya pergi.
"Sudah, biarkan saja," balasku cepat. Aku bangkit dari posisi, mengalungkan tas selempangku, hendak melangkah pergi. Namun, pergerakanku segera dihentikan oleh Mas Fahri yang tiba-tiba saja menarik kasar lenganku.
"Sombong sekali kamu, Zahira."
Aku tak habis pikir dengan pria ini. Padahal kami sudah resmi bercerai, tapi kenapa Mas Fahri masih saja menggangguku.
"Mas, lepaskan," pintaku masih dengan nada baik-baik, tapi jika dia sangat susah untuk diajak damai ya terpaksa aku juga akan menggunakan kekerasan, entah apa itu.
"Oke." Pria itu melepaskan genggaman tangannya. "Ternyata hatimu mudah sekali berubah, Ra," ucapnya lagi yang membuatku langsung menatap tajam ke arah matanya.
"Maksudmu apa?" tantangku mulai tersulut emosi. Entah kenapa mulut pria ini semakin tidak dijaga, seenaknya saja menilaiku. Padahal, sudah sekian lama kami baru bertemu lagi, tapi kenapa pertemuan kami malah diawali dengan celotehannya yang memuakkan.
Mas Fahri bukannya menjelaskan, tapi pria itu malah cengengesan. "Ya ini maksudku," balasnya sembari menoleh ke arah David. "Bukankah kamu jadian dengan sahabat tercintamu itu? Tapi kenapa sekarang malah kencan dengan orang lain??"
"Astaghfirullah, Mas!" Aku ingin mendaratkan telapak tangan ke pipi pria lemes ini, tapi David berhasil menghentikanku.
"Lebih baik kita pulang, Bu. Tidak perlu membuat keributan seperti ini," ucapnya pelan namun sepertinya bisa didengar juga oleh Mas Fahri.
"Hei! Pria culun! Kamu menyindirku? Hah??" Mantan suamiku itu kembali terbakar jenggot. Ia meraih kerah kemeja yang dipakai David, seperti mencekiknya dengan sangat erat.
"Mas! Hentikan!" Aku mencoba melepaskan cengkeraman kedua tangan Mas Fahri, tapi tidak bisa. Kekuatan pria itu sangat berbanding dengan kekuatan lemahku.
Mas Fahri tampak sangat marah. Ia semakin menarik kerah kemeja pria berkacamata itu. "Dasar pria culun! Berani-beraninya kamu mendekat Zahira. Asal kamu tahu, dia adalah mantan istriku! Hah?!" sentaknya yang membuat David semakin bingung dan kesusahan bernapas.
"Maksudmu apa, Mas?" Bukan hanya David, tapi aku pun juga dibuat bingung oleh ucapan Mas Fahri yang baru saja kudengar.
"Aku tidak akan melepaskan pria culun ini sebelum kamu menjelaskan hubunganmu dengannya," jawab Mas Fahri lagi yang semakin beringas. seperti sudah kerasukan setan.
"Hubungan apa maksudmu, Mas? aku dan dia hanya sebatas rekan kerja, nggak lebih!!!"
__ADS_1