Pernikahan Semu

Pernikahan Semu
BAB 24 - Hari-hari Indah


__ADS_3

Pagi hari, Mas Fahri sudah siap di meja makan sedang aku masih sibuk dengan penggorengan.


Tak ada percakapan di antara kami. Entah kenapa setelah kejadian semalam membuatku malu untuk menatap wajahnya.


Pagi ini, kami akan sama-sama berangkat bekerja. Mas Fahri kembali ke kantor perusahaan Ayah, sedang aku kembali ke kantor tempat kerjaku bersama Iqbal.


"Sayang," panggil Mas Fahri yang dari tadi sibuk dengan gawai.


Aku berbalik badan menoleh ke arahnya. "Ada apa, Mas?"


"Apa benar kamu dulu juga sekolah di SMA TARUNA?" tanyanya nampak berpikir.


"Iya, memangnya ada apa?"


Mas Fahri menautkan kedua alis. "Benarkah?? Tapi kenapa sepertinya aku tidak pernah melihatmu?"


"Ya, maklum saja, kamu kan bintang sekolah, Mas. Mana mungkin bintang yang tempatnya tinggi di atas langit memperhatikan debu di halaman," celetukku.


"Kenapa kamu ngomongnya begitu? Memangnya kamu dulu mengenaliku?" tanya Mas Fahri lagi.


"Kenal sih, enggak. Kan memang kita nggak pernah kenalan? Cuma tahu saja." Aku menjawab dengan nada datar. Berusaha menyembunyikan kenyataan.


Iya, kenyataan bahwa dulu aku termasuk penggemar berat di barisan pertama seorang Fahri Aditama. Kakak kelas pintar sekaligus tampan yang menjadi idola di kalangan murid perempuan.


"Masa sih? Apa berarti Iqbal juga sekelas denganmu? Katamu kemarin, kalian selalu satu sekolah di sekolah yang sama?" Seperti sedang wawancara pagi, Mas Fahri begitu detail bertanya.


"Iya, Mas. Aku dan Iqbal satu kelas. Kenapa kamu begitu ingin tahu masa-masa itu Mas?" tanyaku balik. Aku penasaran dengan apa yang sedang dipikirkannya.


"Tidak ada apa-apa, Zahira Sayang. Aku hanya penasaran dengan masa mudamu," jawabnya yang membuatku melebarkan kedua mata.


"Masa mudaku? Memangnya saat ini aku sudah tua?"


Mas Fahri mengernyit. "Salah, ya?"


Aku diam.


"Masa remaja, mungkin?" ucapnya lagi seperti menunggu responku.


"Terserah kamu sajalah, Mas."


"Aih, gitu aja marah. Aku hanya ingin tahu." Mas Fahri berjalan menghampiriku. Tak sampai setengah menit, pria jakung itu sudah berdiri di sampingku.


"Nggak marah, Mas. Cuma kata-katamu kurang tepat! Sudah, balik duduk di sana lagi. Nanti kena minyak panas, loh."


"Masak apa sih?" Bukannya menurut dan duduk tapi Mas Fahri malah melongo melihat beberapa ikan yang ada di penggorengan.

__ADS_1


"Goreng ikan, Mas."


"Pantes aja lama nggak mateng-mateng, posisi ikannya disejajarin gitu."


"Memangnya kenapa Mas?" tanyaku penasaran. Mana mungkin Mas Fahri tahu soal goreng-menggoreng ikan.


"Coba aja lihat posisi kepalanya saling dempet gitu. kan mereka malah pada ngobrol. Jadinya lama nggak mateng-mateng."


"Mas Fahri!"


"Kenapa? Salah lagi, kah?"


"Nggak lucu!"


Mas Fahri berdecik. "Memangnya siapa yang ngelawak?"


"Nggak ada Mas Fahri yang ganteng. Sudah, sana kembali duduk."


"Baru tahu kalau aku ganteng? Tapi memang sudah ganteng dari lahir, sih."


"Mas, ini kalau kena kepala, sakit loh," sahutku sambil menunjukkan sutil alumunium ke arahnya.


Mas Fahri mundur. "Iya, iya. Galak banget kamu, Ra."


"Mas Fahri juga pagi-pagi sudah ngajak orang perang."


"Mas!"


Mas Fahri tertawa kecil. "Iya, iya, Zahira Sayang."


*****


"Welcome, Zahira!" sambut Iqbal saat aku sampai di kantor. Suara teriakan Iqbal begitu lantang hingga membuat beberapa karyawan memperhatikan ke arah kami.


Sama seperti pertama kali aku masuk berkerja dulu, Iqbal kembali menyambutku dengan satu bouquet bunga mawar kesukaanku.


Bukan hanya itu, kali ini Iqbal bernyanyi pelan di hadapanku. "Nyanyian agar semangat," katanya.


"Terimakasih, Bal. Tapi ini terlalu berlebihan."


Iqbal tersenyum. "Jangan bilang gitu, Ra. Nanti aku jadi sedih," sahut Iqbal dengan wajah memelas. Ia merangkulku masuk ke dalam kantor.


Ada apa dengan hari ini?


Aku sudah cukup dibingungkan dengan sikap Mas Fahri yang aneh tadi pagi. Dan sekarang? Iqbal juga?

__ADS_1


"Ra, bagaiamana suamimu? Sepertinya dia sudah banyak berubah," tanya Iqbal sesaat setelah kami masuk di ruang kerjaku.


Aku tersenyum. "Alhamdulillah, Bal. Seperti yang kamu lihat terakhir kali. Doakan hubungan kami selalu seperti ini, ya?"


"Iya, deh. Aaamiiin," sahut Iqbal meng-aminkan.


"Tapi koq pakai deh? Nggak ikhlas banget."


Iqbal tertawa kecil. "Ikhlas, koq. ikhlas banget malah."


Akhirnya aku dan Iqbal sama-sama tertawa.


"Maaf, mengganggu." Suara seorang perempuan menghentikan tawa kami. Terlihat Risti sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjaku dengan beberapa berkas di tangannya.


Iqbal menoleh ke arah Risti. "Ada apa, Ris?"


"Ini, Pak. Saya disuruh bos mengabtar semua ini ke ruangan Anda, Pak. Tapi ternyata Bapak malah sibuk di sini." Risti mengatakan itu dengan tatapan sinis ke arahku. Maksudnya apa, coba?


Iqbal menghampiri perempuan itu. "Ya sudah, mari ke ruangan saya." Kemudian Iqbal menoleh ke arahku. "Ra, aku tinggal dulu, ya."


Aku mengangguk. "Iya, Bal. Santai aja."


Setelah Iqbal dan Risti keluar dari ruanganku, aku mulai fokus pada layar monitor yang ada di hadapanku.


Selang beberapa menit, terdengar suara langkah sepatu berjalan cepat ke arah ruanganku.


Pintu terbuka, Risti masuk dengan wajah sewot menatapku. "Zahira. Bukankah kamu dulu pernah bilang kalau Pak Iqbal hanya temanmu? Tapi, apa? Kalian semakin hari semakin mesra!" Setengah berteriak Risti mengintimidasiku.


Namun, bukannya marah aku malah tersenyum kecil. "Aku dan Iqbal memang hanya berteman, Ris. Dan memang pertemanan kami sudah lumayan dekat, sehingga kami tidak pernah risih satu sama lain selama masih tetap pada garis."


Risti nampak tidak percaya. "Alesan! Aku pernah melihat Pak Iqbal mmenggandengmu, Ra." Wanita itu sedang meluaplan kekesalannya. Sebagai pendengar yang baik, aku akan memberikan waktu untuknya agar hatinya bisa lebih tenang setelah mengeluarkan semua beban.


"Dan kamu berjanji padaku untuk mendekatkanku dengan Pak Iqbal, kan? Tapi mana?? Kamu malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kamu malah mencuri Pak Iqbal dariku."


Ucapan Risti sudah di luar batas. Kenapa dia bisa menuduhki mencuri Iqbal darinya? Sedangkan, Iqbal dan dirinya sendiri belum ada hubungan apa pun.


"Maksudmu apa, Ris?" Aku ingin mendengar penjelasannya lebih jelas.


"Nggak usah ngelak, kamu. Kini aku sudah tahu maksudmu masuk di perusahaan ini!" Perempuan itu nampak sangat marah hendak melangkahkan kaki.


"Tunggu Ris! Kamu salah sangka padaku. Untuk apa aku mendekati Iqbal jika aku sendiri sudah bersuami."


Ucapanku berhasil menghentikan langkah perempuan itu. Dengan cepat ia menoleh ke arahku. "Apa?? Kamu sudah bersuami?"


Aku mengangguk penuh keyakinan. "Iya. Aku sudah menikah."

__ADS_1


Risti memutar badannya kembali menghampiriku. "Kamu sudah menikah? Dengan siapa? Kenapa juga tidak cerita dari awal?"


__ADS_2