Pernikahan Semu

Pernikahan Semu
BAB 25 - Apa Lagi, ini?


__ADS_3

"Iya, Ris. Aku benar-benar sudah menikah," jawabku pada Risti. Wanita yang dari tadi memandangku dengan sinis itu menghampiriku.


"benarkah? Siapa suamimu? kenapa kamu tidak bercerita dari awal?"


Aku menoleh ke arahnya. "Sebelumnya, apa kamu pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan?"


Risti nampak kikuk. Mungkin dia merasa bersalah. "emm ... maafkan aku, Ra. Aku memang egois."


"Suamiku adalah pria yang datang bersamaku kemarin," jelasku lagi agar Risti benar-benar mempercayaiku.


"Pria tampan yang datang bersamamu kemarin? Bukankah itu anak pemilik salah satu perusahaan terkenal di kota ini?" Mata Risti membulat tak percaya.


Aku mengangguk pelan. "Iya, begitulah."


"Waah, hebat sekali kamu, Ra." Risti mengeleng kepala takjub dengan kabar yang kusampaikan.


Padahal, baru kemarin hingga semenit yang lalu dia bersikap dingin kepadaku. Tapi kenapa sikapnya langsung berubah drastis?


Sepertinya aku tahu. Dia pasti merasa lega karena merasa aku bukan saingannya lagi.


Risti ... Risti. Seberapa besar kekagumanmu kepada Iqbal hingga selama ini menganggapku sebagai musuh.


"Kalau begitu kamu mau dong jadi mak jomblang lagi untukku?" Risti sepertinya tidak sadar. Dengan manja di menarik lenganku dan merengek untuk dipersatukan dengan Iqbal.


Apa dia lupa bagaimana tatapan sinisnya tadi, padaku?


Aih ... aku malas meladeni wanita ini.


"Ayo dong, Zahira," pintanya lagi yang terkesan seperti rengekan bagiku.


Aku mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan berusaha membantumu," pasrahku. Dari pada dia terus merengek di hadapanku, lebih baik aku menyetujuinya saja.


"Terimakasih, Zahira." Wajah Risti seketika berubah terang benderang. wanita yang berdiri di depanku ini tampak bahagia sekali.


Aku kembali mengangguk. "iya, sama-sama."


Risti kemudian pamit pergi meninggalkan ruanganku.


Kling!


Satu pesan singkat masuk di gawai pipihku yang tergeletak di atas meja.


Mas Fahri?


Tumben kirim pesan.


[Sayang, nanti malam mari kita kencan]


Kencan?


Mas Fahri mengajakku pergi kencan?

__ADS_1


Ahh ... kenapa aku jadi tersipu sendiri?


suasana hatiku yang tadinya sebal karena Risti berangsur membaik setelah membaca pesan singkat dari Mas Fahri.


Aku tidak membayangkan hubunganku dengan Mas Fahri akhirnya bisa sedekat ini. Jika mengingat respons pertamanya dulu saat malam pertama kami membuatku ingin terus membencinya.


Namun, sekarang perasaan benci itu sudah berubah menjadi cinta. Ya, kami sudah selayaknya pasangan suami istri sekarang.


Apalagi, semakin hari kurasakan sikap Mas Fahri padaku semakin romantis. Yang membuat hatiku terus berbunga jika berada di sisinya.


Harapanku, semoga hubungan kami selalu seperti ini. Hubungan yang selalu dipenuhi kasih dan cinta.


****


Pukul 04.00 sore hari, aku keluar dari ruanganku. Aku ingin pulang. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suamiku.


"Hei, Ra. kenapa buru-buru sekali?" seru Iqbal sambil bertanya padaku. Pria itu sedang berdiri tak berjalan di belakangku.


Aku menoleh cepat ke arahnya. "Hai, Bal. Aku ada janji, nih."


Iqbal menyipitkan matanya. "Janji? Jangan bilang janji dengan Fahri?" selidiknya.


"Iya, begitulah. Mas Fahri mengajakku berkencan," sahutku setengah berbisik saat langkahnya menyamai langkahku.


Iqbal tertawa kecil. "wah, jadi pengen nikah, nih." Bagaimana mau nikah? Pacar saja tidak punya.


"Eh, Bal. Bagaimana kalau kamu ikut saja dengan kami." Aku memberinya tawaran. Niatku yang sebenarnya adalah mengajaknya pergi bersama Risti, jika dia mau.


Aku tersenyum. "Kalau kamu mau, aku bisa mengajak Risti, sekalian."


"Apa?" Langkah Iqbal terhenti.


Aku menoleh ke arahnya. "Ada apa? Kenapa terkejut?"


Iqbal menggeleng cepat. "Kenapa harus Risti? Tidak ada yang lain, kah?"


"Untuk sementara itu. Sepertinya dia benar-benar menyukaimu, Bal."


Iqbal berdecik. "Nggak, ah. Dari awal aku kurang suka dengannya."


Jawaban Iqbal membuatku refleks menoleh ke arahnya. "Loh? Kenapa? Risti wanita yang cantik, pintar. Sangat cocok untukmu."


"Mau bagaimanapun, yang namanya nggak suka, ya nggak suka, Ra."


"Terserah kamu sajalah." Langkah kami terpisah di parkiran. Aku berhenti di tempatku berdiri, sedang Iqbal melangkah terus ke deretan mobil yang tak jauh dari tempat kuberdiri.


Iqbal kembali menoleh ke arahku. "Kamu mau kuantar?"


"Tidak usah, Bal. Mas Fahri sudah janji mau jemput aku," jawabku cepat setengah berteriak.


"Oke." Iqbal melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


beberapa menit selanjutnya datang mobil hitam menghampiriku. Ya, ini adalah Mas Fahri. Dia datang menjemputku.


"Maaf, Sayang. Lama ya, nunggunya?" ucap Mas Fahri sesaat setelah aku masuk ke dalam mobil.


Aku menggeleng cepat. "Nggak, Mas. ini aku juga baru keluar."


Mas Fahri tersenyum dan kemudian mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah kami.


*****


Tiba di rumah, kami dikejutkan dengan hadirnya seorang perempuan berambut panjang yang langsung memelukku dengan terisak.


Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa perempuan itu. Dia adalah Arumi, mantan kekasih Mas Fahri.


Dan yang semakin membuatku tercengang adalah ukuran perutnya yang terlihat sangat besar. Wanita ini sedang hamil! kenapa dia memelukku sambil menangis??


"Maaf, ada apa ini?" tanyaku bingung pada Arumi yang masih saja di posisinya. bahkan dia semakin mengeratkan pelukan.


"Tolong aku, Mbak." Arumi menyahut, namun wajahnya masih tertunduk. dia masih terus menangis.


Aku yang bingung memberi isyarat kepada Mas Fahri. Sebenarnya apa yang sedang terjadi???


Mas Fahri berdecik sambil menggeleng cepat, seolah tidak tahu.


Aku mencoba menenangkannya. "Katakanlah, ada apa?"


Arumi mengurai pelukan lalu menatap tajam ke arahku. "Mbak Zahir, tolong aku," ucapnya lagi yang membuatku semakin bingung.


"Bagaimana aku bisa menolongmu jika kamu sendiri tidak mau berterus terang. Katakanlah, apa yang bisa kubantu?" Sebenarnya aku sangat malas, namun aku terpaksa bersikap seperti ini.


Arumi kembali menunduk. "Aku hamil anak Mas Fahri, Mbak."


Hah???


Apa maksud wanita ini???


Seketika hatiku hancur. kakiku langsung terasa lemas. "Mas, ada apa ini?" tanyaku pada Mas Fahri yang langsung menarik paksa lengan Arumi.


"maksudmu apa??? Kamu mau memfitnah juga?? Hah!" Mas Fahri tidak terima. Pria itu malah memaki Arumi.


"Benar, kan? Aku sudah tahu jika kamu tidak akan mau bertanggungjawab, Mas!" Arumi tidak mau kalah. Wanita perut besar itu ikut meninggikan suaranya.


"Hei, ******! Apa kamu lupa siapa yang sudah tidur denganmu? Kenapa aku yang harus bertanggungjawab???" Mas Fahri mendengkus kesal. Dia sangat tidak Terima karena merasa difitnah oleh Arumi.


"Kamu bisa menghindar sekarang, Mas. Tapi jika anak ini lahir, aku akan pastikan bahwa dia adalah anakmu!!!" Arumi kembali menangis. Tanpa berkata-kata lagi wanita itu berlalu pergi.


kejutan apa ini?


Dan aku harus percaya pada siapa??


Mas Fahri segera menghampiriku yang masih histeris. Aku masih berusaha mencerna keadaan ini. Jika Mas Fahri benar-benar ayah dari bayi yang dikandung Arumi, lalu bagaimana dengan pernikahan kami?

__ADS_1


__ADS_2