
"Assalamu'alaikum, siapa ini?" tanyaku pada sang penelepon.
Terdengar suara seorang pria menjawab salam dan langsung mencecarku. "Zahira, apa kamu sudah melupakanku?"
"Maaf, ini dengan siapa?" tanyaku lagi, karena sang penelepon menggunakan nomor baru. Suaranya pun terdengar asing bagiku.
Tidak ada jawaban, si penelepon malah memutuskan sambungan. Seperti hanya ingin bermain-main saja, hingga aku merasa kesal dibuatnya. Bukan hanya sekali, tapi lima kali seseorang benar-benar telah mengerjaiku. Dan anehnya, kenapa aku selalu meladeni?
Mungkin karena penasaran dengan siapa aku berbicara, sehingga aku terus menerima panggilan itu dan menjawabnya.
Sekali lagi, handphone yang kupegang kembali berdering. Dengan kesal kulempar asal benda pipih itu ke atas kasur, kemudian aku bangkit dari posisi menuju kamar mandi.
"Siapa sebenarnya pria iseng yang sedang mengerjaiku ini?" Aku hanya bisa bergumam lirih. Masuk ke kamar mandi aku langsung membersihkan tubuh dari keringat dan sekalian berwudhu untuk melaksanakan sholat Ashar yang tertunda.
Selepas sholat, tanpa menghiraukan benda pipih yang masih saja berdering itu, aku berlalu keluar kamar menuju dapur. Perutku terasa sangat lapar, dan aku ingin segera makan.
"Ma!" seruku pada Mama yang entah pergi ke mana, karena dapur kini sudah tampak sepi.
Aku menghempaskan tubuh ke kursi dan langsung mulai menyantap hidangan yang tersedia. Benar saja, tadi di resto aku batal makan siang, karena kehadiran Mas Fahri yang membuat nafsu makanku hilang.
"Zahira," panggil Mama seraya menghampiriku.
"Ya, Ma. Ada apa?" tanyaku dengan pandangan masih tetap fokus pada sepiring masi dan beberapa lauk yang tengah kunikmati.
"Papa nelpon kamu kenapa nggak diangkat?"
Pertanyaan Mama membuatku terkejut. "Apa? Papa nelpon??"
"ck! Kamu ini, ditanya kok malah nanya," celetuk Mama menanggapi kebingunganku.
Apa mungkin suara dering handphoneku yang terakhir tadi Papa yang nelpon?
Aku bergegas bangkit dari posisi dan segera masuk ke kamar. Kuraih benda pipih itu dan segera memindainya. Benar sekali, selain tujuh panggilan dari nomor tak dikenal, ada lima panggilan tak terjawab dari Papa.
"Bener, kan?" tanya Mama memastikan. Saat ini Mama sudah berdiri di sampingku.
Aku tersipu. "Iya, Ma. Maaf."
__ADS_1
Mama mengelus pundakku. "Sudah, tidak apa-apa. Sekarang, kamu selesaikan makanmu dulu, setelah itu kamu datangi papamu ke kantor lagi."
"Apa, Ma? Kenapa Zahira harus balik ke kantor lagi?" tanyaku bingung. Apa mungkin ada hal mendesak sehingga Papa menyuruhku kembali ke kantor?
"Kata Papa tadi ada klien yang komplen atas kerjamu," terang Mama dengan santai.
"Masa sih, Ma? Zahira sudah berusaha sebaik mungkin, lho." Aku berusaha berkilah, karena memang aku sudah melakukan tugasku dengan sebaik-baiknya.
"Entahlah, Sayang. Pesan Papa gitu, tadi. Sekarang, cepat selesaikan makanmu dan kembali ke kantor, karena Papa dan klien itu sedang menunggumu," saran Mama sambil berlalu pergi.
Mama ini, bagaimana aku akan menikmati makan soreku jika ada hal mendesak seperti ini??
Ya Allah ... tanpa balik ke dapur lagi, aku bergegas bersiap dan kembali ke kantor.
Untuk mempercepat waktu, aku menggunakan motor matic Mama untuk perjalanan ke kantor. Dengan melajukan motor dengan kecepatan penuh, membelah keramaian kendaraan, akhirnya aku tiba di teras kantor di menit ke dua puluh.
Turun dari motor aku langsung menuju ruang Papa. Suasana kantor sudah tampak sepi, hanya ada beberapa karyawan yang mungkin lembur karena tugas yang belum selesai. Aku terus melangkah menuju pintu ruangan.
Aku mengetuk pintu dan mengucap salam. Terdengar suara beberapa orang menjawab salamku dan Papa langsung menyuruhku masuk ke ruangan.
Di depan Papa berdiri tampak seorang pria paruh baya dan duduk seorang pemuda di sampingnya. Keduanya tersenyum ke arahku.
"Zahira, sini." Papa menghampiriku dan menuntun untuk duduk ke sofa.
"Ada apa, Pa?" bisikku.
"Sudah, duduklah."
Aku dan Papa pun duduk tepat di depan klien yang rasanya baru pertama kali bertemu mereka.
"Mmm ... bagaimana, Nak Yudha?" tanya Papa pada pemuda yang terlihat masih menyunggingkan senyuman sedari tadi.
pemuda itu mengangguk, yakin. "Saya setuju saja, Om," sahutnya, kemudian menoleh ke arah pria paruh baya yang duduk di sampingnya. "Papa setuju juga, kan?"
"Iya, Papa terserah kamu saja, Yudha." Sang ayah membalas dengan senyuman pula.
"Maaf, ini sebenarnya ada apa?" tanyaku penasaran. Aku sudah tidak sabaran jika menunggu salah satu dari mereka untuk menjelaskan.
__ADS_1
Papa meraih tanganku seraya tersenyum. "Zahira, perkenalkan, ini Om Brata dan putranya. Beliau ini adalah sahabat Papa sejak kecil dulu, dan baru beberapa hari yang lalu kami dipertemukan karena urusan bisnis." Papa mulai menjelaskan.
Aku masih terdiam mencerna setiap ucapan Papa.
"Papa harap kamu setuju dengan keputusan Papa ini," jelas Papa lagi yang membuat kedua mataku melebar sempurna.
"Apa maksud Papa?"
Apa mungkin Papa akan menjodohkanku dengan anak sahabatnya ini?
"Papa dan Om Brata sepakat untuk menikahkanmu dengan anaknya."
Benar kan??
Mendengar keputusan sepihak dari Papa membuatku sangat kesal, tapi aku berusaha tetap tenang, karena ingin menjaga harga diri Papa. Namun, dengan sorot mata tajamku menatap Papa, aku berharap ia paham dengan penolakanku.
Papa melengos, dan malah menatap ke arah sahabatnya. "Zahira adalah putri manis kami. dia pasti setuju dengan rencana ini," terang Papa pada dua pria yang duduk di hadapanku ini.
Aku tidak habis pikir dengan sikap Papa kali ini. Setelah dulu ia menjodohkanku dengan Mas Fahri yang berakhir pada pernikahan yang kandas, kini Papa ingin melakukan hal yang sama lagi?
Di sepanjang pembicaraan aku hanya terdiam. Sesekali menjawab dan tersenyum jika Om Brata menanyakan suatu hal padaku. Walaupun hatiku menolak, tapi untuk saat ini aku harus mengutamakan harga diri Papa. Aku tidak mau Papa merasa malu jika aku menolak langsung perjodohan ini dengan terang-terangan.
Satu jam berlalu, kedua tamu Papa pamit pergi. Papa mengantar kepergian sahabatnya hingga ke depan kantor. Entah mengapa, Papa tampak sangat bahagia sekali.
"Pa," panggilku pada Papa yang masih melambaikan tangan ke arah mobil sahabatnya yang sudah berlalu pergi.
Papa menoleh cepat ke arahku. "Ada apa, Ra?" tanya Papa santai. Sepertinya Papa tidak paham dengan sorot mata penolakanku tadi.
"Pa, Zahira tidak mau dijodohkan lagi," jujurku tanpa basa-basi, yang membuat Papa membelalakkan kedua mata ke arahku.
"Papa tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mau," balas Papa seraya berbalik badan menuju ke tempat parkiran.
Dengan cepat aku berlari mengejarnya. "Tidak Pa. Zahira mohon, jangan jodohkan Zahira lagi." Aku mengucapkan itu dengan nada memelas, air mata sudah berlinang membasahi pipi. Untung saja tidak ada orang di sekitar kami, sehingga aku bisa bebas mengekspresikan hati.
Aku berharap Papa mau mengabulkan permintaanku, tapi aku salah. Papa kembali menatap tajam ke arahku sebelum ia membuka pintu mobil.
"Tidak bisa! Bagaimanapun, kamu harus menikah dengan Yudha!"
__ADS_1