
"Tidak Zahira, aku tidak melakukan itu. Bayi yang dikandung Arumi bukan anakku!" teriak Mas Fahri dari balik pintu kamar.
Setelah kepergian Arumi, aku berlari masuk kamar dan langsung menguncinya dari dalam.
Mas Fahri menggedor pintu berulang-ulang. berharap aku mau mendengarnya, namun aku tidak perduli. Hatiku sangat hancur dan entah bagaimana lagi.
"Zahira, tolong percayalah padaku." Suara Mas Fahri terdengar lirih dari sebelumnya. Sepertinya dia masih di depan pintu.
Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus memberi tahu ayah dan bunda dan mencari solusi bersama. Dan jika benar Arumi mengandung bayi Mas Fahri, lebih baik aku mundur. Aku tidak ingin semuanya akan semakin rumit.
Aku meraih gawai yang ada di atas nakas untuk menghubungi ayah dan bunda agar mereka berdua segera ke rumah ini tanpa memberitahu masalah yang sedang terjadi.
panggilan tersambung. Ayah dan bunda berjanji akan ke rumah nanti malam. mengetahui aku meminta mereka datang secara mendadak membuat keduanya penasaran.
Malam tiba. Kami berempat berkumpul di ruang keluarga. Wajah Mas Fahri nampak sangat tegang seperti sedang menghadapi ujian kelulusan. Dan entah kenapa itu membuatku semakin curiga.
"Fahri, cepat katakan yang sejujurnya!" bentak Ayah pada anaknya. Setelah aku memberitahu tentang masalah ini padanya ia langsung murka.
Bukannya langsung menjawab, wajah Mas Fahri malah tertunduk. "Bukan aku, Ayah." Pria itu membantah, namun reaksinya sangat berbeda.
"Fahri, Bunda tidak ingin kamu menjadi lelaki pengecut." Bunda ikut menasihati Mas Fahri. kedua orang tua ini ingin mendengar kejujuran yang sebenarnya.
Mas Fahri kembali diam. lama, hingga hampir tiga puluh menit baru ia kembali berucap, "Baiklah, iya. Aku memang pernah berhubungan suami istri dengannya. Tapi, aku tidak yakin bahwa yang dikandung Arumi itu anakku."
Aku terhenyak sedang Bunda tersentak histeris. "Astaghfirullah, Fahri!!" Bunda memukul pelan bahu putranya. Sepertinya wanita ini sangat terpukul.
"Kapan kamu melakukan itu, Mas?" Aku ikut buka suara. Sebagai istri aku berhak tahu.
Mas Fahri menoleh ke arahku. "Yang terakhir, sebelum aku mengalami kecelakaan dulu."
"Apa?? Yang terakhir???" Aku memekik. Ternyata suamiku sudah sering melakukan hal itu dengan wanita lain sebelum denganku yang istri sahnya?
__ADS_1
Kamu benar-benar kelewatan, Mas!
"Bunda tidak pernah menyangka jika kamu sudah sebejat ini, Fahri!!" Bunda sangat syok hingga tubuhnya lunglai terbaring di sisi Ayah. Bunda pingsan.
"Bunda!" Mas Fahri memekik dan hendak menghampiri Bunda, namun segera ditepis oleh Ayah.
"Jangan mendekat!" bentak Ayah.
Jangankan aku, kedua orang tuanya saja sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Mas Fahri selama ini.
Aku segera berlari ke kamar lalu mengambil bantal untuk Bunda yang sudah tergeletak di lantai beralaskan karpet tebal. Mas Fahri ingin membantu mengangkat Bunda ke Kamar, namun Ayah melarangnya.
Saat ini ia hanya duduk di ujung sofa sedang aku dan Ayah berada di lantai menunggu Bunda yang masih belum sadarkan diri.
"Zahira, maafkan Ayah yang tidak bisa mendidik Fahri," ucap Ayah menatap lekat wajahku. Nampak sekali pria tua yang duduk di sampingku ini sangat terpukul.
Aku hanya diam. Aku hendak menjawab tidak apa-apa, namun kenyataannya sebaliknya. Hatiku sangat hancur. Jika Bunda tidak pingsan, aku ingin berlari keluar dari rumah ini sekarang juga.
Kulirik pria yang menjadi penyebab semua terjadi. Dia terlihat menunduk sedih.
Percuma saja kamu menyesal, karena semuanya telah terjadi.
***************
keesokan harinya. Ayah sudah memberitahu kepada Papa dan Mama agar bisa datang ke rumah untuk berunding dengan semua anggota keluarga.
Pagi-pagi sekali Papa dan Mama sudah tiba di rumah. mereka berdua kaget setelah mendengar apa yang terjadi dengan pernikahanku.
Ayah dan Bunda ingin aku tetap tinggal bersama Mas Fahri sampai kebenaran tentang anak Mas Fahri terbukti. Namun, Papa dan Mama tidak setuju. Mereka berdua mengajakku pulang ke rumah sembari menunggu hasil tes DNA nanti.
Sebenarnya bisa saja melakukan tes DNA pada bayu di usia tujuh bulan ke atas selamat kehamilan. Namun, agar lebih meyakinkan, semua orang sepakat menunggu hingga Arumi melahirkan anaknya nanti.
__ADS_1
Aku mengangkat wajah setelah menunduk sesaat untuk berpikir. "Maaf, Bunda. Sepertinya, akan lebih tenang untukku jika aku ikut pulang ke rumah Mama dan Papa." Jawabanku akhirnya.
Nampak Mas Fahri protes dengan keputusan yang kuambil. Terlihat jelas dari wajahnya raut kecewa namun lagi-lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Maafkan aku, Mas. Untuk sementara, aku ingin menenangkan diri dulu.
Setelah berkemas dengan hanya membawa sedikit pakaian, aku ikut pulang ke rumah Mama.
Tidak ada kata dan salam perpisahan antara aku dengan Mas Fahri. Pria itu masuk ke dalam kamar dan tidak melepas kepergianku.
****
"Sayang, kalau menurut Mama lebih baik kamu bercerai dari Fahri," saran Mama sesaat setelah kami tiba di rumah. Baru saja aku duduk di sofa ruang keluarga, Mama sudah kembali mangajakku diskusi.
Aku menatap lekat Manik perempuan yang melahirkanku ini. "Ma, kalau Mama jadi Zahira, apa Mama akan langsung meminta cerai sebelum mengetahui hasil tes DNA itu??"
Mama tampak berpikir. "Tidak begitu, Sayang. Tapi, coba kamu Pikir, Fahri itu sudah melakukan hubungan suami istri dengan wanita lain. Mau dia hamil atau tidak, tapi Fahri sudah mengakuinya, kan?"
"Iya, Ma. Tapi apa Zahira harus langsung menggugatnya??? Lalu bagaimana dengan perasaan Zahira?" kilahku seketika membuat Mama tertegun.
"Apa kamu benar-benar masih mencintai Fahri? Bahkan setelah kamu tahu jika dia berhubungan badan dengan wanita lain??" Mama sepertinya berubah pendirian.
Saat awal perjodohan dulu, dia adalah orang pertama yang memuja-muja Mas Fahri. Mulai dari wajah, kepribadian, hingga kekayaannya. Tapi, sekarang sepertinya sudah sangat terbalik. Sikap Mama seolah merasa ilfeel dengannya.
"Entahlah Ma. Yang terpenting untuk saat ini Zahira ingin menenangkan hati dan pikiran dulu." Aku bangkit dari duduk lalu melangkah menuju kamar.
"Zahira, maksud Mama baik, loh? Mama tidak ingin kamu tertular penyakit yang berbahaya jika kamu masih tetap dengan Fahri." Mama kembali berujar. Mama mengekor masuk ke kamarku.
Aku menoleh ke arahnya lagi. "Ma, kita bicarakan ini nanti lagi, ya," pintaku.
Mama tersenyum pasrah. Dielusnya kepalaku dengan penuh kasih. "Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang. Dan ... maafkan Mama dan Papa yang sudah menjodohkanmu dengan pria yang salah."
__ADS_1
Mama memelukku sambil terisak. Rasa pilu yang dari kemarin sore kutahan akhirnya tumpah juga. Aku menyambut pelukan Mama dan ikut menangis meluapkan segala rasa yang mengganjal di hati.
"Sayang, kamu tidak usah takut, ya. Sampai kapanpun, Papa dan Mama akan selalu ada untukmu."