Pernikahan Yang Tak Dirindukan

Pernikahan Yang Tak Dirindukan
Belajar Ikhlas


__ADS_3

_Kediaman Anya_


Kini langkah Anya sudah menuju rumah kecil miliknya, Anya tahu pasti dirinya akan dimarahi oleh bapaknya karena dirinya tidak meminta izin keluar rumah. Kini Anya membuka pintu dengan sangat perlahan, dan langkahnya pun sangat perlahan tanpa ada suara.


"Dari mana kamu Anya?" Ucap seorang pria dari arah belakang tubuh Anya. Tanpa harus membalikan badan, Anya sudah mengetahui suara itu milik bapaknya.


"Anya udah anterin Kirana ke Rumah Sakit, Bapak mau marahin Anya?" Ujar Anya dengan memberanikan dirinya menjawab pertanyaan bapaknya.


Tetapi alih alih memarahi Anya, bapaknya Anya malah meninggalkan Anya. Kini bapaknya malah terduduk di meja makan.


"Bapak sudah tidak marah Nya, bapak hanya ingin yang terbaik buat anak perempuan bapak satu satunya" Ucap bapaknya Anya seraya mengambil nasi.


"Apa harus seperti itu? Apa harus seperti itu cara bapak mendidikan Anya? Apa harus bapak memarahi ibu?" Tegas Anya lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan.


Tanpa ada balasan satu kata pun, kini bapaknya Anya malah melanjutkan makan di meja makan sendirian. Namun setelah beberapa menit, kini bapaknya Anya kembali bersuara.


"Kamu tahu hutang bapak dimana mana?"


"Tahu, hutang bapak dimana mana sedangkan yang bayar harus ibu ibu dan selalu ibu" Sahut Anya lalu menyalakan televisi.


"Bapak pengen, kamu lunasin hutang bapak" Sambung bapak Anya.


"Lunasin? Anya dapat uang dari mana pak?" Ujar Anya lalu menghampiri bapaknya yang berada di meja makan sedar tadi.


"Kamu harus menikah dengan Om Rades" Ucapan itu seakan sebagai pedang yang menusuk tepat ke bagian jantung milik Anya. Anya tak menyangka seorang bapak kandungnya sendiri bisa berbicara seperti itu.


"Maksud bapak Anya mau di jual ke Om Rades?" Tanya Anya dengan hati yang masih bergetar ketakutan akan semua itu jika terjadi.


"Bukan begitu Anya, tapi bapak hanya ingin kamu menikah dengan orang kaya. Agar hutang kami bisa terbayarkan" Ucap bapaknya Anya.


"Anya tidak mau pak, Anya hanya ingin menikah atas dasar cinta bukan karena harta" Ujar Anya. Pada saat itu air mata Anya sudah sangat menggumpal, seakan akan ingin keluar namun di bendung oleh Anya.


"Tapi, kita harus bagaimana Nya? apakah kamu pengen bapak di penjara?" Tanya Anya.


Hingga pada saat itu, Anya sangatlah bingung dalam keadaan seperti itu. Dan air mata yang dari tadi di bendung oleh Anya, kini sudah mengalir tanpa disadari.


Pada saat itu keadaan sangat begitu hening tanpa ada suara dari bapaknya Anya mau pun Anya sendiri.

__ADS_1


Drttt Drttt...


Gentaran handphone milik Anya itu menghentikan keheningan, lalu saat itu juga Anya meraih handphone miliknya dan mengangkat telpon dari seorang sahabatnya.


"Hallo kir ada apa?" Tanya Anya sembari keluar dari dalam rumahnya.


"Kamu udah tahu tentang Dito?" Ucap Kirana di sebrang telfon.


"Dito? kenapa Dito" Tanya Anya.


"Ibunya Dito meninggal" Dan Ucapan itu berhasil membuat Anya kaget.


"Meninggal? trus sekarang dimana?"


"Tadi katanya sekarang bakalan di bawa kerumahnya. Mendingan sekarang kamu pergi ke rumah Dito terus temenin Dito, soalnya aku gak bisa kesana, aku gak diizinin sama Mas Rangga" Ujar Kirana.


"Iya iya, yaudah aku sekarang ke rumah Dito ya Kir" Ucap Anya lalu mematikan sambungan telfon tersebut.


"Bu, pak Anya pergi ke rumah Dito dulu ya. ibunya Dito meninggal" Teriak Anya kepada Ibu dan Bapaknya yang sedang berada di dalam rumah.


"Meninggal? Bu Ratih sakit apa Anya?"


_Apartmen Manda_


Manda yang semalaman sudah mencari Rangga, tetap saja belum mendapatkan kabar jika Rangga sedang dimana. Dirinya tampak begitu cemas terhadap Rangga seorang kekasih nya.


"Mas Rangga dimana mas? sekarang aku harus pulang ke Singapura" Ucap dirinya seraya meraih telfon genggam miliknya.


Dirinya mengaktifkan handphone, lalu melihat jam sudah menunjukan pada angka 15.00 WIB. Sedangkan dirinya harus pergi menuju bandara tepatnya sebelum pukul 16.00 WIB. Setidaknya dirinya hanya ingin mendapatkan pelukan dan kecupan dari kekasihnya, namun Manda tetap saja belum mendapatkan kabar dari kekasihnya.


"Terpaksa, aku harus pergi meninggalkan kamu Mas" Gumam hati Manda seraya memberekan bajunya lalu memasukan bajunya kedalam koper warna pink miliknya.


"Aku terpaksa harus dijodohkan oleh ayah aku mas, maafkan aku yang tidak setia dengan kamu" Sambungnya lalu menurunkan kopernya kelantai.


Langkah demi langkah Manda langkahkan menuju parkiran mobil. Langkahnya begitu sangat berat untuk meninggalkan kekasihnya.


"Aku harus ikhlas meninggalkan segala kenangan yang ada di negara ini" Gumam hatinya lalu menguatkan niatnya untuk pergi meninggalkan negara yang penuh kenangan olehnya.

__ADS_1


_Kediaman Dito_


Kini Anya sudah berdiri di depan pintu rumah Dito, dirinya menjaga rumah Dito dan menunggu kedatangan Dito dan keluarganya yang masih berada di Rumah Sakit.


Tidak lama dari itu, Suara Ambulance dan suara tangisan sudah menghampiri rumah Dito. Air mata yang sudah di bendung sedemikian rupa oleh Anya, akhirnya kini mengalir juga tanpa ada penghalang. Air mata Anya itu kini mengalir begitu deras, karena dirinya begitu sangat dekat dengan Bu Ratih atau ibunya Dito.


Begitu Dito turun dari mobil, langkah Dito begitu sangat lemas. Kini Anya sudah menuntun jalannya Dito menuju rumahnya.


Dito di kenal dengan ketegarannya, namun jika bermasalahan dengan Ibunya, Dito sangat begitu cengeng. Dito sangat begitu dengan dekat dengan ibunya dibanding dengan Ayahnya. Dito selalu dimanja oleh ibunya, sehingga saat ini dirinya sangat tidak rela jika ibunya di ambil kembali oleh penciptanya.


"Aku tahu To, ini semua berat bagi kamu. Tapi kamu pasti kuat ko menjalani ini semua, Kini ibu kamu sudah tenang di alam sana, mungkin juga kini ibu kamu sedang melihat anaknya yang begitu ia sayangi ini sangat cengeng. Sekarang ibu kamu hanya perlu doa dari kami semua. Ibu kamu sudah tak ingin melihat anaknya yang begitu ia sayangi ini cengeng" Ucapan Anya itu kini sangat membuat Dito tenang.


"Benar juga yang dikata kan oleh Anya, sekarang waktunya aku untuk membuktikan kepada ibu bahwa aku adalah seorang lelaki yang kuat dan tangguh sehingga bisa membuat ibu bangga terhadap aku" Gumam hatinya.


"Aku tahu kamu tak bisa menjawab perkataan ku, tapi aku percaya bahwa kamu menjawabnya dalam hati" Sambung Anya menebak pikiran Dito.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Dito.


"Ahah, cuma menebak" Jawab Anya.


Kini mayat ibunya Dito sudah tidur terlentang di kelilingi oleh orang orang baik yang meluangkan waktunya untuk pengajian untuk Bu Ratih.


"Ibu adalah orang yang baik, pantas jika banyak orang yang sangat kehilangan ibu" Ucap Dito dalam hati seraya mengusap pipi ibunya.


"Ibu adalah wanita cantik, ibu juga wanita baik. Aku bangga bisa lahir dari ibu" Sambung Dito masih dalam hati.


Kini pengajian sudah selesai, kini tinggalah waktunya untuk pemakaman jenazah Bu Ratih.


Di pimpin oleh Bapaknya, langkah demi langkah menuju pemakaman ibunya Dito. Diiringi dengan Tahlil dari seluruh orang yang mengantar ke pemakaman Bu Ratih.


"Allahu akbar, Allahu akbar" Adzan yang sangat merdu di lantunkan oleh Dito, kini Dito sudah merasa ikhlas terhadap kepergian ibunya, Dito pun sudah tahu bahwa Allah lebih menyayangi ibunya.


..._Bersambung_...


Pesan dari episode kali ini adalah :


Sayangilah orang tua kalian selagi masih ada, apalagi kepada seorang ibu karena surga tepatnya berada di bawah kaki ibu. Jika orang tuanya yang sudah meninggal dunia makan jangan berhenti mendoakan nya yang baik baik.

__ADS_1


☁Al-fatihah☁


__ADS_2