Pernikahan Yang Tak Dirindukan

Pernikahan Yang Tak Dirindukan
Pelukan Hangat


__ADS_3

Setelah sampainya di rumah, kini Rangga hanya bisa terbaring dan memikirkan kekasih gelapnya yang sudah pulang menuju Singapura.


"Mas, tadi mas kenapa sih sebenarnya?" Tanya Kirana lalu menatap kedua bola mata Rangga dengan sangat mendalam.


"Jangan ikut campur!" Ujar nya dengan nada tinggi.


"Hallo To, tolong bawain mobil aku yah di jalan permata indah. sekarang aku ada di rumah Kirana" Ucap Anya kepada Dito.


"Iya siap Nya, nanti aku bawa kesana" Jawab Dito lalu menutup sambung telfon.


Ketika saat itu ruangan memang terdengar sangat sepi sunyi tanpa suara, maka saat itu juga Rangga mengambil remot tv lalu menyalakan Tv agar tidak terlalu hening.


Setelah menyalakan tv dirinya berusaha meraih satu gelap air putih untuk dirinya minum.


"Kecelakaan pesawat Indonesia-Singapura terjadi di pulau perbatasan antara Indonesia Malaysia. Beberapa penumpang belum ditemukan" Ucapan reporter dalam Tv itu sontak membuat Rangga terkejut.


'Prayy' Suara pesahan gelas yang tadi di genggam oleh Rangga itu kini sudah pecah.


"Gak mungkin, ini pasti bukan pesawat yang di tumpangi Manda!" Teriaknya sambil cemas.


"Mas, mas kenapa mas?" Sahut Kirana lalu agak menenangkan suaminya.


Air mata Rangga kini sudah jatuh satu demi satu, dirinya sangat sedih membayangkan jika seorang kekasih nya tidak selamat.


"Mas tenang dulu ya mas, mas tenang dulu" Ucap Kirana lalu mengusap usap punggung Rangga.


"Aku harus pergi ke tempat itu, aku harus pergi sekarang juga!" Teriakan Rangga yang sudah menurunkan kakinya untuk pergi ke tempat kejadian jatuhnya pesawat yang ditumpangi Manda seorang kekasihnya.


"Ini semua salah aku, jika tadi aku menyetujui pernikahan itu mungkin sekarang Manda tidak akan seperti ini" Ucap Rangga yang sontak membuat Kirana terkejut.


"Menikah? Mas mau menikahi wanita itu?" Ucap Kirana dengan nada lembut dan tak lupa ia meneteskan air mata.


"Astaga, aku keceplosan" Gumam dirinya dalam hati.


"Iya, memang kenapa? aku akan menikahi Manda, seorang wanita yang sangat aku cintai" Ucapan Rangga itu membuat Kirana lemas saat itu juga dan jika ditanya bagaimana perasaan Kirana saat ini tentu sangat rapuh, apalagi pertengkaran saat ini sedang ada seorang sahabatnya.


"Tega kamu Rangga!" Ucap Anya lalu menampar pipi Rangga dengan sekuat tenaga.


"Jangan berani macam macam kamu Anya! kamu bukan siapa siapa disini!" Teriak Rangga sambil memegang pipi nya yang sudah kena tamparan keras dari Anya.


"Bukan siapa siapa kamu bilang? aku disini seorang sahabatnya Kirana loh Rangga! aku yang selalu ada disaat Kirana susah maupun senang! apakah kamu ada ketika Kirana kesediahan? apakah kamu selalu menyiapkan tuangan air mata Kirana? itu tidak pernah sekalipun Rangga!" Teriakan Anya didepan Rangga saat itu juga.


"Sudah cukup Anya cukup" Ucap Kirana seraya memegang dadanya yang sakit.


"Kamu harusnya mikir Rangga! Kirana selalu ada buat kamu sedangkan kamu? malah sama selingkuhan kamu si wanita ular itu!" Ucapan itu membuat Rangga sedikit lebih mikir.


"Betul apa yang diucapkan Anya, Kirana selalu ada bagiku sedangkan aku? Dasar aku bodoh, aku adalah laki laki bajingan!" Gumam hati Rangga.


"Assalamualaikum" Ucapan itu dari luar pintu menghentikan semuanya.


"Masuk" Sahut Anya.


"Anya itu mo-" Ucapan Dito terhenti ketika dirinya melihat seluruh penghuni rumahnya saat terdiam.


"Ada apa ini? ko semuanya terdiam, apakah tidak ada rencana untuk menyambut kedatanganku dan apakah kali-"


"Diam Anda!" Ucapan Dito terpotong oleh tegasan Rangga dengan telunjuknya yang menunjuk kehadapan Dito.


Saat itu juga Dito terdiam dan duduk di samping Anya, dan selama beberapa menit ruangan itu sangat sunyi dan sepi tanpa ada suara.


"Tidak enak aku disini, tetapi jika aku pulang bagaimana jika Kirana dimarah marahi lagi sama Rangga? Apakah Kirana akan melawan? atau dirinya malah terdiam?" Gumam hati Anya.


"Ya sudahlah sebaiknya aku diam disini sampai suasana nya membaik" Sambung Anya masih dalam hatinya.


Saat itu Dito dan Anya hanya bisa berbicara lewat isyarat, karena Dito tidak ingin Rangga memarahinya kembali.

__ADS_1


"Kenapa?" Ucap Dito sambil melihat ke arah tempat duduk Rangga dan Kirana.


"Syuttt!" Jawab Anya lalu manaruh telunjuknya dan memonyongkan bibirnya mengisyaratkan jangan berisik.


"Aku harus pergi" Ucap Rangga menghentikan keheningan didalam ruangan tersebut.


"Pergi? mas kan baru sembuh mas lagi pula ini sudah malam" Ucap Kirana.


"Jangan melarangku! lagi pula aku cuman mau ke taman" Ucap Rangga lalu dirinya pergi menaiki kursi roda dan meninggalkan Kirana.


Saat itu juga, Dito dan Anya mengeserkan tubuhnya dari kursi sofa untuk mendekati Kirana.


"Kalian kalau mau pulang silahkan pulang saja" Ucap Kirana.


"Aku tidak mau kamu disakiti terus sama suami kamu, aku ingin rumah tangga kamu baik baik saja Kir" Ujar Anya lalu memeluk Kirana.


"Maaf ya Dito, aku tadi tidak pergi ke pemakaman tante Ratih"


"Tidak apa apa Kiran, aku juga memahami kondisi kamu ko, lagi pula tadi ada Anya yang sudah menenangkan aku" Ujar Dito.


"Malam ini aku ingin tidur di rumah ibu aku, kalian bisa antar aku?" Ucap Kirana.


"Bisa dong Kir" Jawab Anya dan Dito bersamaan.


Lalu mereka bertiga keluar rumah lalu Kirana meminta izin kepada suaminya yang berada di luar rumah.


"Mas, malam ini aku tidur di rumah ibu yah. Tidak apa apa kamu ditinggal sendirian di rumah?" Ujar Kirana.


"Terserah!" Jawab Rangga lalu memutarkan Kursi rodanya dan memasuki rumahnya.


"Dasar cowok egois!" Teriak Anya kepada Rangga yang sudah menutup pintu rumahnya.


"Maunya menang sendiri" Sambung Dito dengan perasaannya yang sangat kesal.


"Sudah sudah, ayo naik" Sahut Kirana dibarengi dengan langkahnya memasuki mobil milik Anya.


Tanpa Kirana sadari ternyata sedari tadi Rangga mengintip istrinya pergi dari jendela. Hingga pada akhirnya mobil yang di tumpangi Kiran itu kini sudah pergi meninggalkan rumahnya.


"Bisa bisanya dia ninggalian aku sendirian, sedangkan aku disini masih dalam keadaan sakit" Ucap Rangga lalu memasuki kamar dirinya.


"Apa tadi aku terlalu kasar terhadap Kirana? sehingga Kirana langsung pergi meninggalkan ku?" Gumam hati Rangga seraya merebahkan tubuhnya di kasur besar miliknya.


"Bagaimana jika dirinya pergi kerumah orang tuanya hanya untuk mengadu kepada kedua orang tuanya? jika nanti Kirana meminta cerai kepadaku bagaimana?" Sambung Rangga.


"Walaupun aku mencintai Manda, tetapi entah kenapa pikiran ini selalu terbayang wajah Kirana terus?" Sambung dirinya masih di dalam hati.


"Entahlah, buat apa aku memikirkan itu" Ucap nya lalu membuat pikirannya terhadap Kirana.


"Manda?" Ucapnya lalu membukaan matanya lebar.


"Kenapa aku dari tadi tidak memikirkan Manda? kenapa pikiranku hanya kepada Kirana Kirana dan bahkan terus Kirana. Sedangkan sekarang Manda belum ketemu? bagaimana jika dirinya tidak selamat? ini semua salahku, seharusnya tadi aku mencegah kepergian Manda, bukan malah memikirkan Kirana terus" Ucap Rangga sambil menyalahkan dirinya sendiri.


_Kediaman Orang Tua Kirana_


Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya kini Kirana, Anya, dan Dito telah sampai di kediaman ibunya Kirana.


"Makasih yah Anya, Dito. Mau masuk dulu nggak?" Tanya Kirana yang sudah keluar dari mobil milik Anya.


"Enggak usah, udah malem Kir. Besok aja yah, mungkin besok kita berdua akan jemput kamu yah" Teriak Anya dari dalam mobil.


"Ya sudah jika begitu, aku masuk yah"


"Iya Kir" Ucap Anya dan Dito bersamaan.


Dan pada akhirnya kini mobil milik Anya telah menjauh dari rumah Ibu Kirana.

__ADS_1


"Mau langsung pulang?" Tanya Anya yang sedari tadi masih menyetir mobil.


"Terserah, kan yang punya mobil kamu" Jawab Dito.


"Gak mau main dulu gitu?" Tanya Anya kepada Dito.


"Pulang aja lah, udah malem" Jawab Dito.


"Padahal kan aku nunggu kamu peka Dito, aku pengen main berduaan sama kamu To. Tapi kamu nggak peka sama pesaan aku" Gumam hati Anya sambil menatap Dito.


"Kenapa? ada yang salah?" Tanya Dito sambil menatap balik tatapan Anya.


"Enggak" Jawab singkat Anya dengan ketus.


"Yaudah iya ayo ke taman, tapi sebentar aja yah buat istirahat doang oke?" Ucap Dito tanpa ada balas jawaban dari Anya.


"Jangan marah dong" Ujar Dito sambil memegang pipi Anya.


"Astaga, kenapa perasaan aku seneng banget ketika Dito berdekatan dengan ku seperti ini" Gumam hati Anya yang perasaan nya kini tak karuan.


"Enggak, orang siapa juga yang marah" Ucap Anya lalu memberhentikan mobilnya.


"Turun" Ujar Anya.


_Kediaman Orang Tua Kirana_


"Memangnya kenapa kamu bisa sampe pergi kesini Kirana?" Tanya Bapaknya Kirana.


"Enggak kenapa kenapa ko ayah, aku cuman lagi kangen aja sama ayah sama ibu. jadi Kirana mau nginep disini semalem doang" Jawab Kirana sambil tersenyum menutupi segala kesedihan yang dirinya miliki.


"Bagaimana pun juga, ayah sama ibu jangan sampai tahu kalo Aku sama Mas Rangga kini tengah memiliki masalah" Gumam hati Kirana.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu makan gih. Ibu sudah masak tadi" Ucap Ibunya Kirana.


"Iya bu" Jawab Kirana lalu pergi ke tempat makan.


_Taman_


Kini Dito dan Anya tengah terduduk di dua kursi besi yang berada di taman. Jika ditanya perasaan Anya ketika itu, tentu saja perasaannya sangat bahagia dan tak bisa di ungkapkan, karena dirinya tak menyangka bisa berduaan dan bisa sedekat ini dengan Dito seorang pria yang dirinya sukai diam diam.


"Dito" Ucap Anya lalu menatap wajah Dito dengan sangat dalam.


"Ada apa?" Tanya Dito yang belum melihat ke tatapan Anya.


"Dinginnn" Ucap Anya dengan sangat mengigil kedinginan.


"Tuh kan aku tadi bilang apa, jangan main dulu" Ucap Dito.


"Ish, ko malah marah sih. Orang mah cewek kedinginan itu di hangetin di kasih jaket nya" Ucap Anya lalu berpaling dari dekat wajah Dito.


"Aku gak ambil Jaket. Yaudah sini biar anget" Ucap Dito lalu memeluk Anya.


"Pelukan ini? kenapa pelukan ini sangat hangat dan mengapa aku sangat menyukai wangi badan Dito?" Gumam hati Anya dengan jantung yang berdetak kencang.


"Enak To, hangat" Ucap Anya kepada Dito yang membalas pelukan Dito dengan sangat erat.


"Enak karena hangat atau karena di peluk sama aku?" Ujar Dito lalu memandangi wajah Anya.


"Dua duanya"


"Eh maksud aku, enak hangat nya lah" Ucap Anya keceplosan.


"Oh dua duanya?" Ujar Dito dengan sedikit candaan.


"Ish ko gitu sih" Ucap Anya lalu melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ayo pulang!" Ucap Anya lalu pergi meninggalkan Dito.


..._Bersambung_...


__ADS_2