
Keesokan harinya, kini perasaan Kirana sudah sedikit mulai reda dirinya telah melupakan segala masalahnya bersama suaminya dan dirinya hanya ingin mempertahakan usia pernikahannya.
Kini dirinya telah segar dan dirinya tinggal menunggu kedua sahabatnya menjemput dirinya untuk pulang.
"Udah siang ko belum datang sih, padahal aku pengen masih pagi kasihan mas Rangga belum ada makan untuk sarapan" Ucap Kirana sambil tak henti melihat jam tangan miliknya.
Dan pada saat itu juga dirinya menyalakan telfon genggamnya lalu berencana untuk menghubungi kedua sahabatnya yang memang sudah janji akan menjemput dirinya.
"Kenapa pada enggak aktif semua sih! atau mungkin mereka sedang di jalan yah?" Ujar dirinya berusaha untuk berpositif tinking.
Setelah beberapa menit lamanya Kirana menunggu di depan rumah namun masih belum ada kabar dari kedua orang sahabatnya.
"Ish ko lama sih" Ujar Kirana sambil bermondar mandir di depan rumah orang tuanya.
"Kirana! mondar mandir mulu dari tadi, tenang aja mungkin mereka lagi di jalan atau mungkin kena macet" Ucap Kedua orang tua Kirana namun saat itu dirinya menghiraukan ucapan kedua orang tuanya tersebut.
"Kirana!" Teriakan seorang wanita itu terdengar jelas, tanpa Kirana harus menatapnya pun dirinya sudah tahu pasti itu Anya seorang sahabatnya.
"Pasti An-" Ucapan nya terhenti ketika Kirana melihat jika seorang sahabatnya kini sudah berada di hadapannya dan kini dirinya mengenakan gaun kebaya warna putih.
"Anya?! ada apa ini?" Tanya Kirana lalu menghampiri Anya yang baru saja turun dari ojek.
"A Aku mau di dijodohin" Ucap Anya dengan nada yang sangat melas dan tanpa disuruh alisan air mata itu kini mengalir dan sudah membasahi pipi Anya.
"Dijodohin? Bagaimana itu semua bisa terjadi?" Tanya Kirana sambil memegang pipi Anya.
"Bapak aku sudah menjodohkanku bersama Om Bram, dan aku juga tidak tahu bahwa sekaramh aku dinikahkan tanpa sepengetahuan ku. Maka dari itu aku pergi kabur dan menghampirimu" Jawab Anya.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu duduk terlebih dahulu yah. Kamu tenangin dulu perasaan kamu terus sekarang kamu masuk dulu kerumah ibuku dan sekarang aku akan menghubungi Dito" Ucap Kirana lalu diiringi dengan langkah kaki Anya dan Kirana memasuki rumah orang tua Kirana.
"Hallo To, kamu bisa nggak sekarang ke rumah ibu ku terus jangan lupa bawa mobil kamu ya soalnya ini penting banget" Ujar Kirana kepada Dito yang berada di dalam telfon genggamnya.
"Penting apanya? ada apa?" Tanya Dito yang masih kebingungan.
"Pokoknya sekarang kamu kesini nanti aku ceritain semuanya" Ujar Kirana lalu memutus sambung telfonnya.
Setelah beberapa lama Kirana dan Anya menunggu kedatangan seorang sahabatnya yang bernama Dito akhirnya kini dirinya sudah datang dengan mobil hitam miliknya.
"Ada apa?" Tanya Dito setelah turun dari mobilnya
Lalu dirinya menghampiri Kirana dan Anya yang tengah terduduk di kursi depan rumah orang tua Kirana.
"Anya?" Ucap Dito kaget setelah melihat Anya yang sedang menggunakan pakaian gaun pengantin berwarna putih yang tanpa ada balasan ucapan dari seorang pun.
"Kenapa kamu menggunakan gaun pengantin seperti ini?" Tanya kembali Dito.
"Anya mau dinikahin sama om om, dia di jodohin sama bapaknya" Ujar Kirana sebagai perwakilan karena Anya masih lemas tak bisa berkata.
"Apa? bagaimana bisa dijodohkan?" Tanya Dito yang masih kebingungan dengan apa yang di ucapkan Kirana.
"Keluarga Anya banyak sekali hutang, dan satu orang yang bisa membayar hutang hanyalah Om Bram" Jawab Kirana menjelaskan.
"Memangnya, kamu punya hutang berapa Nya?" Tanya Dito lalu menghampiri Anya yang masih terduduk di kursi.
"150jt To" Jawab Anya lalu mengusap air mata yang berada di pipinya.
"Yasudah, sekarang juga akan aku bayar semua hutang keluarga kamu" Ucapan Dito itu kini membuat Anya terkaget kaget.
__ADS_1
"Tidak usah To, uang itu sangat besar tak bisa aku menggantinya" Ujar Anya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak apa apa jangan memikirkan itu, sekarang juga kita kerumah kamu"
"Tapi To-" Ucapan nya terhenti karena tarikan dari Dito.
"Yasudah kalian berdua aja, aku bisa naik angkutan umum" Ucap Kirana.
"Tidak apa apa kan Kir?" Tanya Dito kepada Kirana.
"Tidak, tenang saja" jawabnya.
_Kediaman Rangga_
"Bagaimana bisa Kirana meninggalkan suaminya yang sedang sakit seperti ini? bisa apa aku? mana sarapan enggak ada lagi!" Ucap Rangga yang tengah menunggu kedatangan Kirana.
Kini dirinya membuka tutup saji di tempat makan namun tidak ada satu pun makanan yang bisa di makan oleh dirinya, semuanya sangat kosong.
Namun tidak lama dari itu dirinya mendengar suara seorang istrinya dari luar rumahnya.
"Assalamualaikum mas" Ucap seorang wanita di balik pintu.
"Waalaikumsalam, buka!" Jawab Rangga yang masih terduduk di kursi roda di depan meja makan.
"Kemana aja kamu? Aku kelaparan dari tadi!" Ucap Rangga.
"Maaf mas, aku tadi abis nge itu"
"Nge apa?" Ucap Rangga.
"Tadi kan ada Anya trus-"
"Iya mas" Ujar Kirana lalu pergi menuju dapur kotor dan memasak untuk sarapan suami dan dirinya.
_Kediaman Anya_
Pada saat itu juga Anya dan Dito langsung pergi menghampiri pernikahan Anya dan Bram yang akan di selenggarakan hari ini juga.
"Pengantin wanitanya mana? keluarin dong sudah tidak tahan aku" Ucap Bram yang mengenakan jas hitam.
"Ibu! cepetan suruh Anya keluar!" Perintah Bapak Anya kepada Ibu Anya.
Dan pada saat Ibu Anya memasuki kamar anaknya itu, kini hanya tersisa make up yang berantakab dikamar anaknya itu. Dan pada saat itu juga ibu Anya sudah tidak tahu harus bagaimana.
"Ya ampun Anya, segitu nekatnya kamu nak tidak mau menikah dengan Bram" Ujar Ibu Anya sambil memandangi jendela yang sudah terbuka akibat Anya yang melarikan diri.
"Ibu! cepetan" Teriak bapak Anya dari luar rumah sehingga membuat dirinya ketakutan karena dirinya tidak mau semua acara ini kacau hanya karena Anya pergi.
"Em, sebetulnya-" Ucapan ibu Anya terhenti karena dirinya memikirkan nasib anaknya yang begitu pahit.
"Sebetulnya apa?"
"Anya tidak ada dikamar" Ujar Ibu Anya memberanikan diri.
"Bagaimana bisa?" Ucap Bram terkejut lalu dirinya berdiri dan menghampiri tepat ibu dan bapak Anya berada.
"Bagaimana Anya sampe bisa kabur seperti itu?!" Sambung Bram sambil dengan emosi yang tinggi.
__ADS_1
Sedangkan pada saat itu, Ibu dan Bapak Anya hanya bisa terdiam. mereka memikirkan jika Anya tidak bisa menikah dengan Bram bagaimana bisa dirinya melunasi semua hutang hutangnya kepada rentenir.
"Jangan harap hutang kalian ak-"
"Saya akan bayar semuanya!" Teriak seorang pria bersuara berat dari belakang tubuh Bram.
"Kamu tidak akan punya uangnya anak kecil!" Ujar Bram membalikan badan.
"Memangnya kamu tahu berapa total hutang ibu dan bapak Anya? Hah? apa kamu tahu?" Sambung Bram sambil mendekatkan tubuhnya bersama Dito.
"Berapa pun! Berapa pun total hutangnya akan saya bayar!" Teriak Dito sambil mendorong tubuh Bram.
"Jangan ikut campur kamu Dito! kamu tidak akan mampu melunasi hutang keluarga kami! hutang kami ini sangat besar sekali! tidak mungkin kamu punya uang sebanyak itu" Ucap Bapak Anya.
"Anya sudah menceritakan semuanya, dan ini saya bawa uang yang pas! dan saya ingin kamu jangan ganggu kehidupan keluarga Anya lagi!" Ujar Dito sambil mengeluarkan amplop berisi uang.
"Bagaimana bisa kamu punya uang sebanyak ini!?" Ucap Bapak Anya terheran heran.
"Tidak perlu om tahu, yang penting jangan paksa Anya untuk menikah tanpa sepengetahuan Anya sendiri, biarkan Anya memilih jodohnya yang terbaik untuk dirinya" Sambung Dito menasehati Bapak Anya.
"Terima kasih Dito, entah harus bagaimana kami membalas kebaikanmu. kami tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar semuanya ke kamu" Ucap Ibu Dito.
"Tidak apa apa tante, jangan memikirkan itu. Dito tidak akan menagihnya dalam waktu singkat ini" Jawab Dito.
"Kamu memang anak yang baik Dito, Om sangat bangga karena Anya bisa punya teman seperti kamu" Ujar Bapak Anya sambil menepuk punggung Dito.
_Kediaman Rangga_
Pada saat itu tidak ada suara sama sekali di meja makan rumah Kirana, melainkan hanya sendok dan garpu yang sekali sekali berada. Keheningan ini sudah mulai di rasakan dari tadi, namun tidak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan.
"Kirana" "Mas" Ucapan dari mulut Kirana dan Rangga keluar bersamaan sehingga kini entah siapa yang harus mulai pembicaraan.
"Silahkan kamu dulu Mas" Ujar Kirana.
"Tidak usah, kamu dulu saja" Tolak Rangga.
"Ya sudah, apa Mas tidak menghubungi Manda perempuan yang kamu cintai itu?" Ucapan yang keluar dari mulut Kirana itu membuat Rangga tersedak makanan.
"Uhuk uhuk"
"Astagfirullah mas, maaf" Ujar Kirana lalu mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.
"Lagian kamu kenapa sih tanya tanya tentang Manda! memangnya kamu kenal dengan Manda? Hah?" Tanya balik Rangga.
"Bukannya begitu mas, tetapi aku khawatir sekarang Manda bagaimana kabarnya. Apakah dirinya selamat atau bahkan dirinya tidak bisa selamat"
"Apa apaan kamu bilang seperti itu! kamu mendoakan Manda kenapa kenapa?!" Ujar Rangga lalu menepuk meja makan dengan sangat keras.
"Tapi maksud aku bukan seperti itu mas" Bela Kirana.
"Sudahlah! aku sudah tidak anak selera untuk makan!" Ucap Rangga lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Mas tidak boleh pergi! sebentar lagi Dokter Arya kesini untuk terapi kaki kamu mas" Ucap Kirana masih terduduk di meja makan.
"Aku tidak akan pergi! aku hanya akan menghirup udara segar di luar" Ucap Rangga.
"Hati hati mas!" Teriak Kirana.
__ADS_1
..._Bersambung_...