
Gelas berisi air minum itu kini sudah pecah, hanya sisa pecahan gelas yang tajam di lantai bersama air yang membasahi lantai.
"Bapak? apa Pak Rangga baik baik saja?" Tanya Dokter Arya kepada Rangga yang masih terdiam bagaikan patung.
"Mas? Mas Rangga kenapa?" Tanya Kirana namun masih belum ada jawaban dari Rangga.
"Apa Mas terpikir kembali ke Mand-" Ucapannya terhenti.
"Sudah! lupakan saja" Ujar Rangga.
"Biarkan saya yang membereskan ini semua, sebaiknya mas Rangga segera terapi kasihan Dokter Arya harus buru buru" Ujar Kirana lalu pergi kedapur untuk mengambil sapu dan pelan.
Alih alih langsung mengambil sapu, Kirana kini malah merenung di dapur sendirian. Dirinya memikirkan apa yang Dokter Arya ucapkan tadi. Kirana mengetahui bahwa tadi Suaminya terpikirkan kembali ke Manda selingkuhannya.
"Jika Manda selamat, apakah Manda akan menggoda kembali mas Rangga?" Pertanyaan pertanyaan Negatif dari dalam diri Kirana sudah mulai bermunculan. Namun dirinya berusaha untuk melupakan tentang Manda, sekarang dirinya harus memikirkan kesembuhan suaminya.
"Jika kamu selamat perbaikilah hidup kamu, jika kamu tidak selamat maka itu ada balasan dari tuhan untuk kamu" Gumam hati Kirana lalu mengambil sapu dari belakang rumah.
Saat Kirana menyapukan pecahan pecahan beling itu, Kirana memperhatikan suaminya yang memang sampai sekarang masih terlihat memikirkan sesuatu. Kini Rangga terlihat tidak Fokus karena perkataan Dokter Arya tadi.
"Aw" Teriak Kirana saat jarinya kesakitan terkena pecahan beling.
"Bu Kirana? apa Bu Kirana tidak kenapa kenapa?" Tanya Dokter Arya lalu menolong Kirana.
"Berdarah?" Ujar Dokter Arya, tanpa memikir panjang dirinya langsung menyedot darah Kirana karena dirinya cemas terhadap Kirana.
"Dokter Arya? mengapa aku menjadi teringat kembali kepada Raihan" Gumam hati Kirana saat melihat wajah Dokter Arya.
Flashback..
"Berdarah? Kirana apakah kamu baik baik saja?" Tanya Raihan lalu menyedot darah Kirana.
__ADS_1
Raihan adalah seorang sahabat Kirana waktu dirinya berusia 5 tahun atau waktu dirinya satu sekolahan TK dikampung.
Namun pada saat itu Raihan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya kritis. Dulu semua dokter di Rumah Sakit kampung Kirana sudahlah tidak sanggup melihat kondisi Raihan yang semakin hari semakin memburuk. maka dari itulah Raihan sempat dibawah ke Rumah Sakit di kota untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik lagi.
Semenjak itulah dirinya tidak pernah bertemu kembali bersama Raihan. Dan semenjak itu pula dirinya jadi lebih sering bermain bersama Anya. Sedih bagi Kirana kehilangan sahabat cowok satu satunya yang selalu mendampingi bermain kesana kemari, pergi dan pulang sekolah bersama namun sampai saat ini dirinya tak menemukan sahabatnya kembali.
Flashback off...
"Apa apaan kalian ini? Mengapa kalian malah bermesraan seperti itu?!" Teriak Rangga kesal saat melihat Kirana dan Arya masih saling tatap menatap.
"Maaf pak Rangga, saya hanya membantu Bu Kirana saja" Ucap Arya lalu terbangun dari jongkoknya setelah menolong Kirana.
"Terima kasih Dokter Arya" Ucap Kirana lalu tersenyum.
"Sama sama Bu" Timpal Arya lalu membalas senyuman Kirana.
_Kediaman Dito_
"Aku cape, apa kamu mau menolongku?" Tanya Dito lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
"Menolong?" Tanya Anya tak mengerti apa yang diucapkan oleh Dito.
"Ya betul. Menolong memijat keningku yang sakit ini" Ucap Dito lalu meraya Anya dengan memegang pipi gemas.
"Baiklah hanya kali ini saja" Ujar Anya lalu memijat kening Dito dengan kasih sayang.
Hingga pada akhirnya kini Dito sudah tertidur pulas setelah merasakan pijatan yang begitu nikmat yang diberikan oleh Anya.
"Wajahmu begitu manis, boleh kah aku menciummu?" Bisik Anya ke samping telinga Dito.
Kini mulut monyong Anya sudah mulai mendekat, dirinya sudah tak tahan melihat ketampanannya. Hingga pada akhirnya...
__ADS_1
"Dito!" Teriakan Ayah Dito sontak membuat Anya kaget dan menjauhkan kembali mulutnya terhadap pipi mulus Dito.
Teriakan itu bukan hanya mengagetkan Anya saja, namun berhasil mengagetkan Dito yang tengah tertidur kecapean.
"Ada apa sih Yah?" Tanya Dito lalu merentangkan tubuhnya.
"Uang sebesar 150juta kamu ambil tanpa sepengetahuan Ayah untuk apa?!" Ucap Tegas Ayah Dito berhasil mengagetkan Anya dan Dito.
Mata Anya yang sudah membulat dan melihat kearah Dito itu dibalas oleh tatapan Dito yang sama membulat matanya seperti Anya. Hingga saat itu hening tanpa ada yang berani mengeluarkan suara.
"Dito Jawab!" Sentak Ayah Dito.
"M Maaf Ayah seb-" Ucapan Dito kini terpotong oleh ucapan Anya.
"Uang itu Anya yang pake om, Dito memberikan uang itu ke Anya untuk melunasi hutang keluarga Anya. Jika Om akan memarahi Anya, Anya rela ko Om asalkan Om jangan memarahi Dito" Ucap Anya lalu menunduk dihadapan Ayah Dito.
"Bagaimana bisa kamu berikan uang kami ke keluarga Anya! Kami juga sama halnya membutuhkan uang itu Dito!" Ucap Ayah Dito marah terhadap Dito.
"Apakah Ayah tidak kasihan sama Anya? Anya begitu membutuhkan uang itu Ayah! Apakah ayah tidak memiliki hati nurani terhadal keluarga Anya?!" Teriak Dito lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu jangan membaik baikan diri dihadapan orang lain Dito! Bisa jadi dia memanfaatkan kamu!" Ucap Ayah Dito lalu menatap tajam Anya.
"Baik om, Jika om tidak mengikhlaskan uang om itu di pinjam oleh keluarga Anya baiklah berikan waktu untuk Anya melunasi ini semua Om. Tenang saja Om, Anya tidak memanfaatkan Dito, Anya akan membalas semua kebaikan Dito terhadap saya" Ucap Anya dengan air mata yang mengalir.
Kini Anya sudah melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah Dito.
"Anya jangan dulu pergi!" Teriak Dito namun Anya menghiraukan perkataan Dito itu.
"Biarkanlah dia pergi! mungkin dia sudah menyadari bahwa dirinya hanya memanfaatkan keluarga kamu!" Ujar Ayah Dito lalu pergi memasuki ruanh kerjanya kembali.
..._Bersambung_...
__ADS_1