
"Pesawat Jalur Indonesia-Singapura akan segera terbang dalam waktu 10 menit yang akan mendatang. Di mohon untuk seluruh penumpang mengecek kembali barang bawaan lalu bersiap"
"Mas, aku terpaksa harus pulang ke Singapura" Gumam hati Manda walaupun itu berat baginya.
"Aku harus menikah dengan secara terpaksa mas, semoga mas bahagia bersama istri mas" Ucap Manda lalu menaikan kakinya.
Tangga satu demi satu ia naiki dengan secara perlahan. Dirinya belum siap untuk meninggalkan seorang kekasihnya, dirinya sangat berat untuk berpisah dengan seorang kekasih gelapnya. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya waktu telah menunjukan pukul 16.00 WIB atau pukul 4 sore.
'Tringgg Tringgg' Handphone milik Manda berbunyi dan bergetar seakan ada telfon masuk.
"Siapa sih?!" Gumam hatinya seraya mengeluarkan handphone nya dari tas kecil miliknya.
"Mas Rangga?" Sambung dirinya lalu segera mengangkat telfonnya.
"Halo mas?" Ucap Manda mengawali pembicaraan.
"Sayang kamu dimana?" Tanya Rangga.
"A Aku harus pulang mas, aku harus ke Singapura" Jawabnya.
"Pulang? Kenapa? Ada Apa?" Tanya Rangga dengan cemas.
"Aku akan dijodohkan sama ayah dan ibuku mas" Jawabnya.
"Gak Gak boleh, pokonya kamu harus tetap disini, kamu jangan pulang ke Singapura!"
"Tapi, ada satu syarat jika kamu nyuruh aku tetep di sini mas"
"Apa? syaratnya apa? aku akan lakukan apa pun itu syaratnya, asalkan kamu jangan pulang" Ujar Rangga dari sebrang telfon.
"Kamu harus jadiin aku istri kedua kamu" Ucapan itu sontak membuat Rangga kaget.
"Menikah? entah bagaimana perasaan Kirana jika tahu ini semua, hatinya pasti akan hancur dan dia bakalan minta cerai sama aku" Gumam hatinya.
"Mas? Tidak bisa kan? ya sudah jika tidak, aku akan pulang saja ke Singapur dan menikah dengan pria lain yang memang entah siapa" Ucap Manda.
"Ta Tapi kan aku juga ha-" Pada saat itu ucapan Rangga belum tuntas selesai namun Manda dengan amarahnya menutup sambung telfon dari kekasihnya.
"Aku tahu, kamu pasti kecewa sama aku. Tapi bagaimana pun juga aku masih mempunyai perasaan terhadap Kirana" Gumam hatinya.
_Pemakaman Bu Ratih_
Setelah kurang lebih 30 menit di pemakaman, akhirnya kini waktunya untuk pulang kembali kerumah dan meninggalkan Bu Ratih di liang lahat sendirian.
"Dito, mari pulang" Ucap Ayah Dito menarik lengan Dito seakan memerintah berdiri dari jongkoknya.
"Dito masih mau di sini Yah" Jawab Dito menghiraukan ucapan ayahnya.
"Iya om, lebih baik om pulang saja. Anya akan menjaga Dito" Sahut Anya.
"Ya sudah jika begitu, om minta kamu jagain anak om yah"
"Iya Om"
"Kamu ingat apa yang aku ucapkan tadi?" Tanya Anya kepada Dito yang masih memeluk tunggul makam ibunya.
"Apa?" Jawab Dito masih dengan air mata yang mengalir.
"Ibu kamu tidak pengen kamu menjadi anak yang cengeng, ibu kamu tidak ingin kamu jadi anak yang lemah. Ibu kamu hanya ingin kamu menjadi pria yang kuat dan tangguh" Ujar Anya.
"Aku tidak lemah, Aku kuat" Jawab Dito.
"Ini apa?" Ujar Anya seraya membersihkan air mata yang masih berada di kedua sisi pipi manis Dito.
__ADS_1
"Sudah To, ikhlaskan kepergian ibu kamu. Mendingan sekarang kita pulang" Sambung Anya sembari menarik lengan Dito agar berdiri.
_Rumah Sakit_
"Ayo mas, kita pulang" Ucap Kirana setelah selesai membereskan baju dirinya dan suaminya.
"Jika aku menerima permintaan Manda, apa jadinya Kirana? Jika aku menolaknya, apa jadinya Manda" Gumam hati Rangga saat itu.
"Mas?" Ucap Kirana seraya melambaikan tangannya di hadapan muka Rangga.
"Hah? Apa?"
"Kamu lagi memikirkan apa sih Mas?" Tanya Kirana.
"Kepo amat kamu"
"Yaudah, kita pulang mas. tadi kan kata dokter kamu udah bisa pulang" Ujar Kirana.
Kini Rangga dan Kirana telah meninggalkan ruangan tersebut, langkah demi langkah yang mereka langkahkan sangat lega karena mereka bisa menghirup udara yang sejuk dan bebas dari ruangan apek di kamar tidur pasien.
"Sejuk yah mas" Ucap Kirana.
"Iya, akhirnya aku bisa menghirup udara ini kembali" Jawab Rangga.
"Dari dulu aku percaya bahwa kamu kuat, maka dari itu kamu bisa melewati masa masa sakit kamu" Ujar Kirana.
"Bisa aja kamu" Ucap Rangga lalu menarik tangan Kirana lalu berlari menuju parkiran.
Bruk
"Aw" Teriak Kirana.
Pada saat itu, mereka terjatuh di lantai rumah sakit. Tepatnya saat itu Kirana berada di bagian atas Rangga, sedangkan Rangga berada di bagian bawah Kirana.
"Kirana, aku tak tahan jika harus berlama seperti ini" Gumam hati Rangga saat itu.
"Aw mas, malu banyak orang" Ujar Kirana.
"Apa apaan sih kamu! jadi jatoh kan, mana banyak orang lagi!" Ujar Rangga menyentak Kirana.
"Kan Mas yang ngaj-"
"Sudah sudah, buruan pulang!" Sahut Rangga memotong pembicaraan Kirana.
Pada saat diperjalanan Rangga tak ada hentinya memikirkan seorang kekasihnya yang tak tahu apa yang harus ia lakukan. Saat ini Rangga tengah berada di dua pilihan yang sangat susah untuk ia pilih.
"Mas Awas!" Teriakan Kirana membuyarkan lamunan Rangga pada saat itu.
Pada saat itu juga Rangga membantingkan setiran mobilnya lalu mengerem mobil miliknya itu.
"Mas kenapa? ko kaya lagi mikirin sesuatu?" Tanya Kirana sambil memegang tangan Rangga yang bergetar kencang.
"Tangan aku lemas" Ujar Rangga.
Pada saat itu juga Kirana menggenggam erat tangan Rangga dan meniup tangan Rangga agar tangan Rangga lebih hangat. Lalu Kirana mencari minyak hangat untuk menghangatkan tangan Rangga yang sangat dingin dan lemas.
"Lagi lagi, Kirana membuat jantung ku berdetak kencang" Gumam hati Rangga sambil menatap wajah Kirana yang sangat manis itu.
_Kediaman Dito_
Sepulang dari pemakaman dan mendengarkan perkataan yang di keluarkan dari mulut Anya, kini Dito sudah merasa lebih tenang dari pikiran sebelumnya.
"Makasih yah Anya" Ujar Dito lalu menatap bola mata Anya.
__ADS_1
"Untuk?" Tanya Anya.
"Kamu berhasil membuat pikiranku kembali seperti semula, kamu sudah mengajariku banyak hal dan kamu membuat aku jadi tidak cengeng lagi" Sahut Dito lalu melebarkan mulutnya.
"Jangan senyum!"
"Kenapa?"
"Terlalu manis" Ucap Anya lalu berpaling dari tatapan Dito.
"Bisa aja!" Sahut Dito.
Setelah itu Anya memutuskan untuk pulang dari rumah Dito saat itu juga dikarenakan hari yang sudah menuju malam dan langit yang sudah menggelap.
"Mau aku anterin?" Tanya Dito.
"Sudah, tidak usah. Aku kan ambil mobil" Ucap Anya lalu pergi meninggalkan Dito.
"Bye" Ucap Dito setelah Anya sudah menjauh dari dirinya.
"Bye" Sambung Anya dengan melambaikan tangannya dan melebarkan senyumannya.
Pada saat itu juga Anya pergi dari rumah Dito dan pada saat itu juga mobil yang di kendarai oleh Anya perlahan menjauh dan sudah tak terlihat dari ujung jalan.
"Dito Dito, bikin jantung bergetar aja" Gerutu hati Anya sambil tersenyum sendiri di dalam mobil miliknya. Lalu dirinya menyalakan musik agar tak sunyi di dalam mobil.
"Yeah!" Teriak Anya dengan sangat happy mengendari mobil dengan perasaan yang sangat senang sekali setelah berduaan dengan Dito.
"Ya Tuhan, aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal tersebut di saat Tante Ratih meninggal" Ucap dirinya.
Setelah beberapa waktu dirinya bernyanyi menari dan happy di dalam mobil, kini dirinya melihat mobil seorang sahabatnya yang sedang berada di pinggir jalanan.
"Itu kan mobil Rangga!" Ucap dirinya lalu berniat untuk memberhentikan perjalanan nya.
Pada saat itu juga dirinya keluar dan turun dari mobil untuk membuktikan bahwa itu sahabatnya dan suaminya.
"Kiran?" Ucap Anya setelah melihat dari kaca mobil Rangga.
"Anya! sukurlah kamu kebetulan ada di sini" Ujar Kirana yang masih menggenggam tangan Rangga.
"Rangga kenapa?" Tanya Anya lalu naik ke dalam mobil sahabatnya.
"Entah kenapa Rangga, aku pun belum paham apa yang terjadi dengan dirinya" Jawab Kirana masih kebingungan.
"Ya sudah kalau begitu aku aja yang nyetirin mobil kamu ya Rangga" Ucap Anya.
"Trus mobil kamu?" Tanya Rangga masih dengan tubuh yang bergetar kedinginan.
"Sudahlah itu gampang, nanti aku suruh Dito saja"Ujar Anya lalu berpindah posisi bergantian dengan Rangga.
Kini tepatnya Anya menyetir mobil di depan sedangkan Rangga dan Kirana berdua duduk di jok bagian belakang mobil.
"Aku kedinginan" Ucap Rangga lalu memeluk Kirana dengan tangannya yang refleks.
"Mas Rangga? aku sangat merindukan pelukan ini mas" Ujar Kirana seraya mengusap usap punggung Rangga.
"Sebetulnya bukan kamu saja Kiran, aku juga sama seperti itu" Gumam hati Rangga.
Sedangkan Anya masih sibuk menyetir dan melihat ke kaca dan tersenyum kepada Kirana. Alis Anya menaik dan tersenyum melihat kejadian itu.
"Jadi pengen nikah" Ucap Anya dengan keras tanpa ada balasan dari seorang pun.
..._Bersambung_...
__ADS_1