Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Pertengkaran


__ADS_3

Di ruang makan, Jeno dan Luna makan bersama siang itu, namun tidak ada pembicaraan dari keduanya. Hanya ada suara sendok yang menyentuh piring.


"Gimana tadi sekolahnya sayang?" tanya Jeno memulai pembicaraan.


Luna hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah. Sama sekali tidak menjawab atau bahkan memandang Jeno.


"Luna....Papa mau membicarakan soal kenapa Papa menutupi hal itu dari kamu. Papa berniat membicarakan itu semua di saat kamu sudah bisa benar-benar dewasa. Contohnya saja saat ini, kamu sampai mendiamkan Papa,"


"Kalau lagi makan itu sebaiknya diam," ucap Luna kemudian menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya. Suapan terakhir, setelah itu ia mengunyah dengan cepat kemudian minum beberapa tegukan.


"Oke, kita bicarakan lagi setelah makan siang,"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan," ucap Luna


Kemudian Luna beranjak dari meja makan dan melangkah menuju kamarnya namun sebelum itu ia berbalik dan berkata, "Dan tolong jangan panggil Luna dengan kata 'sayang', Luna merasa risih dipanggil itu apalagi kita tidak memiliki hubungan darah,"


Duaaar

__ADS_1


Jeno merasa pedih, hatinya seperti ditusuk. Bagaikan anak yang tidak tahu berhutang Budi, namun Luna benar mereka tidak mempunyai hubungan darah. Disamping itu Luna mengatakannya dengan tatapan tajam dan sinis seperti orang yang tidak senang.


Sementara Jeno diam tanpa berbicara sedikitpun. Hanya membalas tatapan Luna yang tak kalah tajam.


"Maaf kalau Luna selama ini membuat Anda terbebani. Sekarang Anda bebas memilih jika ingin menikah lagi, silahkan. Luna tidak akan menjadi penghalang. Setelah Lulus nanti Luna akan pergi dari rumah ini,"


"Tidak jangan lakukan itu, jangan pergi dari rumah ini. Ini rumahmu juga," ucap Jeno yang langsung beranjak berdiri


"Luna hanya beban,"


"Kalau kamu beban, aku sudah membuangmu ke tempat lain sejak dulu. Ada apa dengan mu Luna hah? Bilang sama Papa," seru Jeno seraya menyentuh kedua lengan atas Luna


"Luna masih tidak bisa menerima keadaan ini. Dimana makam Papa kandung Luna? Bahkan wajahnya pun Luna tidak tahu. Sejahat itukah Papa? Apa Luna masih pantas memanggil mu Papa," sarkas Luna


Luna melangkah pergi dan masuk ke kamarnya. Menutup pintunya dengan sedikit bantingan. Jeno tersentak mendengarnya.


Apakah ini benar Luna atau dia sedang kesurupan. Atau dia masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Jeno menarik napas dan membuangnya kasar. Melangkah pergi menuju kamar Luna. Ia berbicara di depan pintu kamarnya dengan lembut.

__ADS_1


"Mama mu tidak memiliki foto Papa kandungmu, semuanya lenyap dan hilang saat tsunami. Keluarlah Luna sayang maka Papa akan ceritakan semuanya,"


"Luna bilang jangan panggil Sayang! Papa ngerti gak sih? Dan lagi Luna masih kesal. Tinggalkan Luna sendiri!" ucap Luna


Ia sendiri tidak tahu dengan dirinya kenapa saat ini ia sangat membenci Jeno


Jeno hampir tersulut emosi, tapi ia menahannya dan tetap berkata dengan nada lembut namun mengiris hati


"Oke...jika itu mau mu Luna. Papa... tidak! Aku mungkin tidak berhak mendapat sebutan Papa. Lakukan saja seperti yang kamu mau! Anggap saja kita orang asing," Ucap Jeno kemudian pergi meninggalkan Luna di rumah itu sendirian.


Jeno pun pergi ke rumah sakit dan berniat bekerja melupakan pertengkarannya dengan Luna siang itu.


Labil


Itulah kondisi Luna yang belum siap berpikir secara dewasa. Belum bisa menerima keadaan jika dirinya seorang yatim piatu. Tapi pertengkaran siang ini membuatnya sakit hati saat Jeno mengatakan untuk menganggapnya seperti orang asing.


Sesampainya di rumah sakit lebih tepatnya di ruangan presiden direktur. Jeno masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Kenapa aku tadi mengatakan itu, bagaimana jika dia benar-benar menganggap ku orang asing. Aku masih belum siap. Luna memang bukan anak kandungku tapi aku sangat menyayanginya. Arghh!" Jeno memukul meja kerjanya.


Kesal dengan perbuatannya sendiri.


__ADS_2