
Tok Tok Tok
"Luna buka pintunya sayang, kita bicarakan baik-baik ya?" ucap Jeno setelah mengetuk pintu kamar Luna.
Sementara Luna masih menangis. Dia teringat ucapan Tika yang mengatai dirinya egois. Terlebih dia shock ketika ketika tahu Jeno bukanlah Papa kandung. Yang sebenarnya dia sendirian di dunia ini, begitu pikirnya
Luna duduk terisak, sembari memeluk bantal dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Agar suara isak tangisnya tidak terlalu terdengar.
Jeno mengetuk pintunya lagi, dia ingin menjelaskan kenapa dan mengapa dirinya tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Tetapi Luna mengangkat kepalanya dan berkata.
"Luna butuh waktu sendirian Pa," ucap Luna dengan suara serak habis menangis.
Oke mungkin Luna butuh waktu untuk menyendiri. Sejujurnya alasan Jeno tidak mengatakan sebelumnya karena pikiran Luna belum begitu Dewasa. Diusianya yang masih labil terkadang ego yang sering naik turun terlebih Luna tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ia takut Luna tidak dapat menerima kenyataan dan pergi meninggalkan dirinya, menjauhinya. Itulah yang Jeno takutkan.
Akhirnya Jeno memilih duduk di ruang tengah sambil menunggu Luna keluar dari kamarnya.
Beberapa jam berlalu, Luna tak juga keluar dari kamarnya. Akhirnya, Jeno memilih keluar dari rumah untuk menenangkan pikirannya. Tak lupa ia menutup pintu rumah dan menguncinya dari luar. Yang ia butuhkan saat ini adalah seorang teman bicara, yaitu Haris.
Akhirnya mereka janji bertemu di sebuah kafe tongkrongan yang buka 24 jam dengan suasana alam terbuka.
"Aku jadi serba salah. Aku sengaja merahasiakannya hingga pemikirannya benar-benar dewasa. Kamu tahu sendirikan, Luna seperti apa, dia masih sering cemberut," ujar Jeno
__ADS_1
"Iya No, aku tahu. Tapi seharusnya, kamu mengatakannya saat dia masih kecil. Memang berat tapi begitulah kenyataannya. Biar dia tahu, meski kamu bukan Papa kandungnya tapi kamu tetap orang tuanya yang dengan tulus membesarkan dirinya. Kalau dia kabur aku rasa enggak ya, tapi ya sepertinya setelah ini dia akan jaga jarak dengan mu," ucap Haris
"Itulah, aku belum siap jika dia menjauh dari ku,"
"Hemm.. ini abstrak banget ya ucapan kamu ini. Gak mau dia menjauh? Perasaan kamu dari dalam hati tuh gimana...yakin nih hanya sebagai Papa dan Anak? Luna tuh makin cantik loh. Jangan-jangan kamu ada rasa sama dia," terka Haris yang pandai membaca raut wajah seseorang.
Jeno berpikir sejenak merenungi perkataan Haris.
Benar Luna semakin cantik, setiap hari ia makin mempesona, cantik, berkulit putih, senyumnya manis, bulu matanya lentik dan selalu ceria. Selalu dapat menghangatkan hatinya. Apalagi ketika gadis kecil yang beranjak dewasa itu tertawa riang. Jeno seperti melihat bidadari di rumahnya.
Benarkah dia memiliki perasaan lebih dari sekedar orang tua terhadap anaknya?
"Aku gak tahu yang kamu bicarakan. Intinya, aku udah anggap dia itu anakku sendiri," ucap Jeno yang terus menutupi perasaannya. Dia tidak ingin perasaannya ini berubah menjadi cinta yang bertentangan dengan norma asusila. Sebisa mungkin Jeno akan menepis perasaan itu.
"Tanya aja Ris, kenapa pake ijin segala sih,"
"Soalnya ini menyangkut hal yang sensitif, "
"Hmm apaan sih, udah gak apa-apa tanya aja," sahut Jeno kemudian meminum kopi panasnya yang mulai menghangat.
"Kamu pernah berhubungan panas di ranjang sama Marisa?"
__ADS_1
"Uhuk-uhuk....," Jeno terbatuk mendengar pertanyaan sahabatnya Haris
"Astaga gak ada pertanyaan lain apa?" timpal Jeno
"Hehe belum ya? Ketahuan dari raut wajahnya tuh," selidik Haris
Jeno pun akhirnya bercerita hal yang paling pribadi kepada Haris.
"Hmm iya belum, aku menikahinya karena aku mencintainya, tetapi dia belum bisa mencintai aku sepenuhnya. Dan saat kami menikah pun dia masih dalam keadaan Nifas. Setelah masa nifas nya selesai aku juga tak bisa menyentuhnya karena dia sakit, tubuhnya lemah," Jeno terdiam setelah mengatakan hubungannya dengan Marisa.
"Jadi bisa dikatakan kamu duda perjaka," ucap Haris setengah berbisik.
Tetapi Jeno malah tertawa menanggapinya. Sebenarnya ada kesedihan dalam hatinya. Dia kesepian.
"Iya, kamu jangan ketawa," ucap Jeno
"Kamu duluan yang ketawa. Haha....Tapi aku salut sama kamu. Kamu berhasil membesarkan Luna sendirian. Kamu tahu gak No, rumah sakit milikmu itu berkah dan buah dari ketulusan kamu merawat kakek mu juga membesarkan seorang anak yang sudah yatim piatu. Jangan pernah merasa sendirian ya. Aku selalu ada sebagai sahabat juga keluarga mu. Kalau Luna susah dikasih tahu, aku akan bantu menjelaskannya,"
"Terimakasih ya Haris," ujar Jeno mengusap air mata di pelupuk matanya. Air matanya hanya menggenang, ia terharu karena memliki sahabat yang selalu ada saat ia susah maupun senang.
Sementara Haris menepuk pelan punggungnya memberi semangat kepada sahabatnya untuk terus kuat menjalani hidup.
__ADS_1
Setelah itu mereka berbincang hal lain hingga malam semakin larut dan berganti hari.