Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Yakin


__ADS_3

"Jadi sekarang hubungan kita apa?" tanya Luna


Jeno tersenyum kemudian menoleh ke arah Luna sembari berkata, "Hubungan kita....,"


"Copeeet!"


Terdengar lengkingan suara seorang perempuan berteriak dengan bahasa Korea tak jauh dari Jeno dan Luna berjalan.


Tak berapa lama ada seorang pria berlari berlawanan arah hampir menabrak Luna kalau saja Jeno tak segera menarik Luna.


Jeno tak begitu mengerti bahasa Korea, tetapi saat melihat yang dibawa pria itu adalah tas wanita, dan pria itu berlari sesekali melihat kebelakang segera saja Jeno menarik lengan si pencopet mencegahnya agar tidak berlari semakin jauh.


Si pencopet menepis tangan Jeno kemudian memukulnya dengan beberapa tinjuan, sayangnya tinjuan itu tak mengenai Jeno. Kemudian si pencopet menendangnya, tetapi Jeno berhasil mengelak secara bersamaan ia meraih kaki si pencopet dan memutarnya hingga si pencopet kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Dia pencopet nya," ujar si wanita yang baru datang, menuding si pencopet. Ia datang dengan polisi lokal yang ada di sampingnya.


Jeno melepaskan pencopet itu setelah di tangani polisi. Luna kagum melihat Papanya. Kemudian si wanita yang tasnya kecopetan tadi langsung berterima kasih


"Kamsahamnida," ucap Wanita itu seraya membungkukkan badan berkali. Artinya Terimakasih.


"Cheonmaneyo," jawab Jeno yang artinya sama-sama. Dia sedikit bisa berbahasa Korea.


Kemudian sang Wanita pergi meninggalkan Jeno dan Luna.


"Wah Papa hebat, keren banget tadi berasa nonton film action," puji Luna mendekati Jeno


"Papa Jeno gituloh, Kesayangan siapa dulu dong," sahut Jeno


"Kesayangan Luna lah, Papa," ucap Luna


Wanita tadi yang mendengar percakapan Luna dan Jeno yang menggunakan bahasa Indonesia, ia pun langsung menoleh ke belakang, dan mengamati wajah Jeno kembali.


"Jeno?" gumam wanita itu pelan bahkan hampir tak terdengar. Namun karena wanita itu tidak kunjung pergi, Jeno melihatnya dan bertanya


"Maaf? Anda butuh sesuatu?" tanya Jeno dengan bahasa Inggris. Jeno tidak mendengar wanita itu menyebut namanya.


"Ah kamu benar Jeno Alvaro?" tanya wanita itu dengan bahasa Indonesia seraya berjalan mendekat


"Ya benar, maaf siapa ya?" tanya Jeno


"Aku Jenie, kamu ingat tidak waktu SMP kita sering di jodohkan dengan teman-teman karena nama kita yang hampir sama," ucap wanita itu yang ternyata bernama Jenie


"Oh Jenie, haha ya aku ingat. Lama tidak bertemu," tanya Jeno sementara Luna hanya melihat keduanya berbicara.


Jenie berbeda dengan Tika yang saat berjumpa langsung genit. Pembawaan Jenie dewasa.


"Ya lama, tidak berjumpa. Dia putri kamu?" tanya Jenie

__ADS_1


"Hmmm bukan, Kenalin, Dia calon istri aku," ucap Jeno seraya merangkul Luna.


Luna langsung menoleh ke arah Jeno dengan sedikit membelalakkan matanya.


"Calon istri? Kamu pintar ya cari pasangan, semoga hubungan kalian langgeng dan lancar saat pernikahan," sahut Jenie sementara Luna hanya tersenyum


"Amiin," jawab Jeno.


Astaga calon istrinya muda banget, bukannya tadi cewek itu panggil Papa ya? Apa jangan-jangan dia sugar babynya Jeno, batin Jenie


"Kalian mau kemana ini?" tanya Jenie


"Kita mau cari makan," sahut Jeno


"Gimana kalau kita makan bareng, kebetulan aku juga mau cari makan. Aku tau nih mana makanan yang halal," ucap Jenie


Jeno tidak langsung menjawab ia bertanya pada Luna dahulu, agar Luna tidak merasa terasingkan.


"Ya terserah Papa," sahut Luna pelan


Jeno pun menoleh ke arah Jenie dan berkata, "Hemm mungkin lain kali ya, karena kita mau meluangkan waktu berdua. Terimakasih ajakannya. Kita duluan ya," ujar Jeno


"Hmm ayolah Jeno, kita ketemu kan gak setiap hari. Toh saat ini aku tinggal di Korea," sahut Jenie tak gentar terus mengajaknya


"Yaudah deh," jawab Jeno


Ia juga tidak enak menolak teman lama. Jenie juga telah berkeluarga jadi Jeno berpikir itu tidak akan mengganggu hubungannya.


"Anak aku udah kuliah No, dia sebaya Luna deh kayaknya. Luna umur berapa ya?" tanya Jenie


"Baru aja lulus, rencananya mau kuliah di Indonesia aja," jawab Luna


"Uhuk..., " Jenie tersedak kemudian ia meraih air minum dan meminumnya


"Astaga jadi beneran kamu seumuran sama anakku?" tanya Jenie


"Memang apa yang salah ya kalau umur dia seumuran dengan anak kamu?" tanya Jeno yang sudah mengerti arah pembicaraan Jenie


"Ya gak ada masalah sih, wajar kok jaman sekarang usia pasangannya terlampau jauh. Hehe yaudah abisin makanannya," sahut Jenie


Jeno sebenarnya sudah tidak mood untuk melanjutkan makan, namun melihat Luna yang mahal memakan makanan itu ia pun jadi tidak tega mengganggu acara makannya.


"Coba ini deh sayang, enak banget," sahut Luna seraya menyuapkan makanan ke mulut Jeno


Jeno membuka mulutnya dan menerima suapan Luna untuk pertama kalinya sebagai sepasang kekasih.


"Hmm enak cuma lebih enak punya ku nih," Jeno sengaja membahasakan dirinya aku di depan Jenie. Agar tidak ada kata julid yang keluar dari mulutnya

__ADS_1


Jeno mengambil beberapa sumpit makanannya dan menyuapkannya ke Luna


"Iya, enak lebih lembut hehe,"


"Romantis sekali ya kalian? sudah berapa lama jadian? Kalau nikah kabar-kabar ya," ucap Jenie


"Ya harus dong, mesra sampai maut memisahkan, ya kan sayang. Luna udah selesai. Pulang yuk," sahut Luna


"Iya udah malam juga. Kalau gitu kita duluan ya, terimakasih Jenie udah rekomendasiin tempat ini," sahut Jeno seraya beranjak dari duduknya.


"Eh... Aku belum selesai makan nih, Yaudah deh, hati-hati ya," ucap Jenie


Jeno pamit lalu membayar pesanannya dan Luna. Ia merangkul bahu Luna saat keluar dari warung makan tersebut.


Mereka berjalan menuju asrama, di sepanjang perjalanan keduanya terdiam dengan perasaan baru dan masih terasa canggung.


Pasti akan ada omongan julid lainnya tentang hubungan mereka. Dan mungkin pertanyaan atau perkataan itu akan lebih parah dari ini. Apakah Luna sudah siap?


"Luna gak masalah kok kalau tante Jenie menanyakan soal umur kita, kan memang benar. Kita yang menjalankan kenapa harus mendengarkan selentingan orang lain. Kita yang tahu seberapa bahagianya kita jika kita bersama, gak usah pedulikan apa kata orang lain. Mereka hanya iri dengan keharmonisan kita,"


"Kamu makin dewasa ya. Papa hanya...," ucapan Jeno terhenti karena Luna menutup bibirnya dengan satu jari.


"Jangan sebut Papa dong,"


"Trus apa?" tanya Jeno


"Mas... Mas... Jeno," Luna terkekeh kecil sangat menyebut kata Mas...


Jeno terkekeh geli, merasa ada yang berbeda saat membahasakan dirinya dengan sebutan Mas.


"Aneh sayang Papa gak terbiasa,"


"Yaudah terserah Papa, hehe. Tadi Papa mau bilang apa?"


"Yaudah Papa coba ya. Tadi mau ngomong apa ya kok jadi lupa," ucap Jeno yang tiba-tiba buyar dengan apa yang ingin diutarakan.


"Ayo dipikir lagi, kalau ngeganjal itu gak enak loh," sahut Luna


Jeno pun memikirkan lagi setelah ingat apa yang tadi ingin ia utarakan Jeno berkata, "Gini, Aku hanya gak mau kamu sedih. Luna yakin mau menjalani kisah cinta kita ini?"


"Yakin, Luna yakin mau hidup sama Mas Jeno. Luna sayang Mas Jeno," Sahut Luna dan mereka tersenyum.


"Papa bener ucapannya jadi aneh ahaha," timpal Luna lagi


Keduanya terkekeh geli. Setelah itu mereka berbicara banyak hal sampai tak terasa langkah mereka sudah sampai di Asrama Luna


Sebenarnya laki-laki tidak boleh masuk. Namun jika orang tua atau Wali yang datang, diperbolehkan.

__ADS_1


Malam itu Jeno menginap di asrama Luna karena besok pagi nya dia harus pulang. Jeno salah memilih jalur pesawat pribadinya. Harusnya ia memilih hanya keberangkatan saja tetapi dia juga memilih jalur berangkat dan pulang.


Jeno tidur di sofa sementara Luna tidur di tempat tidurnya.


__ADS_2