
Seminggu kemudian tepatnya pada hari Minggu.
Siang menjelang sore, Jeno menyiapkan pakaian untuk dikenakannya nanti. Rencananya, malam nanti ia akan pergi ke sebuah hotel untuk menghadiri acara reuni kampusnya, bersama teman seangkatannya dari fakultas Kedokteran.
Pria itu berdiri di depan pantulan cermin memperlihatkan sosok Jeno yang sudah tak lagi muda. Ia pun memajukan wajahnya, mengamati dirinya dari dekat. Banyak brewok dan kumis yang mengerubuti dagu dan rahangnya. Sambil menyentuh pipinya dan menolehkan wajahnya ke sisi kiri dan kanan.
"Sebaiknya aku mencukurnya," gumam Jeno
"Semir rambut juga Pa," ucap Luna yang tiba-tiba datang di depan kamarnya dengan pintu yang terbuka lebar.
Luna bersandar pada dinding pintu sambil memakan buah apel berwarna merah. Ia membuka lebar mulutnya lalu menggigit buah itu dengan gigitan besar kemudian mengunyahnya dengan cepat.
"Buat apa disemir,"
"Ya biar kelihatan lebih muda dong Pa, semirnya jangan warna hitam tapi hitam agak kecoklatan gitu. Lihat tuh di belakang telinga Papa ada banyak uban," ujar Luna kemudian mendekati Papanya.
"Hemm yaudah deh nanti Papa ke salon,"
"Gak perlu Pa, Luna bisa kok. Semirnya pakai punya Luna aja, bentar ya Luna ambilin,"
"Sejak kapan kamu semir rambut?"
"Baru aja seminggu yang lalu hehe,"
"Dasar anak bandel, awas ya kalau ketahuan guru BK, Papa gak mau bela kamu," ujar sang Papa yang sedikit kesal dengan putrinya yang mulai nakal. Sementara Luna sudah pergi ke kamar mengambil cat rambut sambil tertawa
Tak butuh waktu lama, Luna sudah kembali ke kamar Papanya dan mulai menyemir rambutnya untuk menutupi uban. Sebenarnya rambut Jeno masih sehat dan rambutnya masih banyak yang berwarna hitam, hanya ada sedikit uban di belakang telinga dan belakang kepala. Namun Luna ingin membuat Papanya terkesan lebih muda. Ditambah wajah sang Papa masih terlihat baby Face. Rahasianya banyak minum air putih, makan sayur dan bubur kacang hijau serta tak lupa berolahraga.
Setelah beberapa jam mendiamkan pewarna rambut tersebut, Jeno lalu membilasnya setelah itu dia mencukur brewok dan kumisnya sekaligus mandi.
Tak berapa lama Jeno keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk menutupi area bawah sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.
Luna yang masih membaca majalah di kamar Papanya terkejut melihat sang Papa yang keluar dari kamar mandi terlihat begitu muda, lebih mempesona. Dia bahkan sempat tak mengenali Papanya.
Sementara itu Jeno pun terkejut, ia tidak tahu jika putrinya masih berada di kamarnya. Segera Jeno membuka lemari dan memakai kaos putih berlengan.
__ADS_1
"Pa-pa...," Luna terbata, matanya tak berhenti memandang wajah tampan Jeno saat itu
Setampan inikah Papaku? Dia bagaikan malaikat, batin Luna
"Gimana, tampan kan tanpa kumis dan brewok hehe," ucap Jeno mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Iya, tampan Pa...tapi sejak kapan ya perut Papa ngotak-ngotak gitu," sahut Luna
"Udah lama lah, udah sana keluar Papa mau pake baju, mau pergi," usir Jeno yang sebenarnya dia tidak betah lama-lama dalam satu ruangan kecil bersama Luna.
"Iya, Luna pergi," Luna beranjak pergi meninggalkan kamar Papanya tak lupa ia menutupnya pula.
Debaran jantung Luna tak mau berhenti sejak saat ia pertama kali melihat sang Papa yang hanya mengenakan handuk. Ia pun meneguk air mineral untuk menetralisir debaran yang tak menentu.
.
.
.
"Luna, Papa pergi dulu ya, kemungkinan Papa pulang tengah malam. Pintu dan jendela jangan lupa dikunci. Jangan kemana-mana. Jangan nakal, kalau ada apa-apa segera hubungi Papa," ucap Jeno memberikan pesan
"Iya-iya Pa, bawel kayak emak tetangga," ujar Luna
"Astaga Luna," ucap Jeno yang terkejut dengan perubahan Luna. Ia yakin semua karena pergaulannya.
"Hehehe maaf Pa, bercanda. Hati-hati ya?" sahut Luna kemudian mengecup punggung tangan Papanya
"Hemm iya, jaga diri baik-baik dirumah. Kalau ke kamar mandi jangan lari," ucap Jeno yang masih memberi pesan meski sudah melangkah pergi
Luna yang mengantarkan Jeno sampai di depan pintu, kemudian masuk dan mengunci semua pintu dan jendela sesuai pesan Papanya.
"Yess gak ada Papa," ucap Luna yang kemudian menyalakan laptopnya dan mencari film barat tentu saja yang no sensor. Nakal luar biasa.
Tak berapa lama Jeno tiba di hotel yang sudah di pesan oleh panitia reuni. Tika langsung menghampiri Jeno setibanya ia disana. Padahal Jeno ingin menyapa teman laki-lakinya dahulu.
__ADS_1
"Jenoo....!" teriak Tika dari kejauhan kemudian langsung menggandeng lengan Jeno
Semua orang yang mendengar teriakan Tika langsung melihat ke arah Jeno yang datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Terlihat lebih muda dan terkesan awet muda.
Sementara Tika berdandan sangat tebal, lipstik menor dan memakai busana yang memperlihatkan belahannya. Padahal gelambir lemaknya terlihat di lengan dan itu sangat tidak cantik. Meskipun Tika menutupinya dengan selendang tipis tetap saja terlihat.
Jeno meringis saat lengannya ditarik paksa oleh Tika untuk bergabung dengan yang lain. Dia bukan anak kecil yang harus digandeng dan di tuntun jalannya. Pria itu merasa risih dan langsung menghentikan langkahnya membuat alasan lain.
"Tika, maaf aku harus ke toilet dulu," ucap Jeno seraya melepaskan tangan Tika
"Oh oke, Aku tunggu disini ya," ucap Tika
"Tidak usah menungguku, kamu kesana aja duluan," Jeno menuju toilet yang berada di samping dekat pintu lobby masuk. Ia melihat tanda yang menempel di dinding sehingga tidak perlu bertanya dimana letak toiletnya.
Jeno menghembuskan napas kasar setelah lepas dari cengkraman harimau betina. Sebelum Jeno masuk ke toilet ia bertemu teman pria lainnya lalu ikut nimbrung dan berbincang-bincang menanyakan kabar dan segala macam hal yang ingin di ketahui.
Tika merasa di bohongi, ijinnya ke toilet tapi malah nimbrung. Janda seksi itu pun kembali melangkah mendekati Jeno. Namun Jeno langsung menangkap sosok Tika yang ingin mendekatinya lagi. Pria itu pun langsung ngacir ke menuju toilet sebelum Tika mendekat.
"Duhh kok jadi serem gini ya?" gumam Jeno. Ia berencana berdiam di toilet sampai Tika pergi.
Tak berapa lama Jeno menerima panggilan telepon, terlihat dari layar ponselnya dari rumah sakit miliknya. Ia pun segera mengangkat.
"Ya Hallo," ucap Jeno
"Pak, ada tindakan. Mohon segera ke rumah sakit ya. Pasien sudah pembukaan ke 7," ucap suster Maya
"Kenapa tidak bilang sebelumnya,"
"Maaf pak, pasien juga baru datang," ucap Suster menjelaskan
"Baik saya akan segera datang. Tolong persiapkan semuanya. Jangan lupa cek kondisinya, jantung, pernapasan, darah. Jika hemoglobinnya kurang persiapkan kantong darah antisipasi. Serta oksigen jika kondisinya lemah," ucap Jeno sembari berjalan keluar dari toilet.
Ia berpapasan dengan Tika saat menerima telepon, Tika terus memanggilnya padahal ia tahu Jeno sedang berbicara di telepon.
Tak berapa lama Jeno sudah sampai di dalam mobil dan segera pergi menuju rumah sakit miliknya. Tugas dokter jauh lebih penting ketimbang reuni.
__ADS_1