
Luna memutuskan untuk kuliah di Indonesia saja, niatnya sekolah di luar negri ia urungkan. Dia juga tidak mengambil jurusan kedokteran karena tidak cocok dengan bidangnya, Luna cenderung menyukai arsitektur.
Arya satu kampus dengannya, dan keakraban mereka terus terjalin hingga semester akhir. Ya... mereka saat ini tengah menghadapi bimbingan skripsi.
Selama kuliah Luna tidak lagi satu rumah dengan Papanya. Ia memilih ngekost dekat dengan kampusnya. Jika ditempuh dari rumahnya itu memakan waktu yang lama. Selain menghindari kemacetan dan pengiriman ongkos, ada alasan lain yang lebih penting yaitu untuk menghindari hal yang diluar batas.
Paras Luna yang semakin dewasa kian mempesona. Begitu juga Jeno, yang selalu membuat Luna berdebar. Makin tua bukannya makin rapuh dan peyot namun malah semakin manly, sisi kedewasaan dan berwibawanya mampu menyedot perhatian Luna.
Sudah satu minggu Jeno tidak bertemu Luna dan ia memutuskan untuk menemui Luna secara diam-diam di kampusnya. Jeno menunggu kekasihnya itu di taman depan kampus.
Luna keluar dari ruangan dosen setelah mendapatkan pengarahan dari dosen pembimbing skripsinya. Tinggal memperbaiki bab akhir dan halaman pustaka yang mana penulisan daftar pustaka Luna masih ada yang salah.
"Untung gak banyak revisi ahhh capek bener," gumam Luna seraya menutup kembali pintu ruangan dosen.
Saat mau menuruni tangga, Luna juga bertemu teman-temannya yang saat itu juga telah selesai bimbingan. Mereka bercanda tawa sedikit melepas penat dari lelahnya menyusun bahan skripsi.
Ketika sampai di lantai dasar, Luna berpisah dengan teman-temannya. Ada seorang pria tampan yang susah menunggunya di depan. Bukan Jeno melainkan pria lain yang juga sudah lama mencintainya dia adalah Arya.
"Aku duluan ya bestie," pamit Luna pada teman-temannya.
"Cie yang di jemput pacar haha," goda teman-temannya
"Eh bukan ya, ahaha ada-ada aja," ucap Luna dan Arya malah tersenyum
"Siang cantik," sapa Arya
"Hmm pasti ada maunya kalau udah muji gitu. Kamu ga bimbingan?" tanya Luna kemudian hidungnya sudah mencium aroma sesuatu yang membuat perutnya bergerak.
"Nih buat kamu," ucap Arya seraya menyodorkan bungkusan paperbag dan didalamnya ada kotak bertuliskan Bangor, dan kotak itu berisi Burger Favorit Luna
"Ah apa nih, baunya kayak kenal," sahut Luna
"Iya buka aja, dimakan ya. Aku ga bimbingan, tuh dosen gak masuk terus kesel banget. Kapan kelarnya coba?" cerutu Arya
"Huaaaa! Ini favorit aku banget, makasih ya Arya pas banget ini pas laper-lapernya hehe," sahut Luna
"Sama-sama," ucap Arya
"Ya temui aja tuh dosen ke rumahnya, trus bawa makanan favorit dia," ucap Luna seraya membuka kotak burger dan mulai memakannya.
Mereka sambil berjalan menuju pintu keluar gedung.
"Itu sama kayak nyogok gak sih bawain makanan hehe,"
"Ya namanya juga usaha, siapa tahu dia jadi sungkan dan langsung acc tuh skripsi," ucap Luna melahap besar burger tersebut hingga tepi bibirnya terkena saos tomat dan mayonaise
Arya mengambil paperbag dari tangan Luna yang satu dan mengambil tisu yang ada di dalamnya.
"Makan pelan-pelan, yang manis gitu makannya. Ini asal makan aja, belepotan kan," sahut Arya
"Abis enak sih," ucap Luna
__ADS_1
"Berenti dulu jalannya, sini bentar," Kemudian Arya menarik dagu Luna
"Apaan sih?" sahut Luna dengan mulut penuhnya.
Arya membersihkan tepi mulut Luna yang terkena saos dan mayonaise dengan tisu.
"Ini saos nya kemana-mana," ucap Arya
"Hehe makasih ya Arya," ucap Luna
Aksi Arya barusan tertangkap oleh kedua mata Jeno. Ada api yang membara di dalam hatinya. Ingin sekali dia marah namun Luna dan Arya hanya sahabat, dan Jeno tidak mungkin meminta Luna memutuskan persahabatannya, itu terlalu over protective. Jeno hanya bisa memendam kecemburuan nya.
"Kenapa aku harus lihat pemandangan ini," ucap Jeno
Setelah itu Luna kembali menggigit burger nya dan melanjutkan jalannya. Kemudian ia melihat sosok Jeno yang sedang duduk di bangku taman.
"Sayaaang," ucap Luna menyapa Jeno dengan berteriak serta melambaikan tangannya. Cepat-cepat Luna memasukkan burger nya kembali kedalam kotak.
"Arya aku duluan ya, makasih burger nya. Bye!," pamit Luna yang langsung pergi
Arya belum sempat menjawab namun Luna sudah berlari menjauhinya.
Sayang? Ah masak iya sih pacarnya Luna itu Papanya sendiri gumam Arya
Luna sering cerita tentang dirinya dan pacarnya namun Luna belum mengatakan siapa pacarnya karena Arya juga tidak bertanya.
Jeno beranjak berdiri saat Luna sudah datang mendekatinya
"Kesini kok gak bilang sih sayang," ucap Luna yang langsung menghamburkan dirinya memeluk Jeno
Luna masih memeluk Jeno, melepaskan kerinduannya.
"Hey, udah dong, tuh temen kamu pada liatin," ucap Jeno
"Biarin, abis Luna masih kangen," ucap Luna
"Hmm kamu gak malu nanti dikatain pacarnya akik-akik," sahut Jeno
"Haha apaan sih akik-akik apanya coba, ganteng gini. Gak tuh, Luna gak malu punya calon suami seperti Papa," sahut Luna kemudian ia mengecup sekilas bibir Papanya itu.
Dan seketika Luna dan Jeno menjadi pusat perhatian. Semua orang di sekitarnya melihat tingkah Luna yang agresif. Termasuk Arya yang juga melihatnya dengan mata terbelalak besar.
Jantung Arya berdegup kencang, napasnya memburu bukan gugup melainkan cemburu.
Sementara Jeno tersentak melihat aksi Luna barusan. Meski sekilas namun sudah mendapatkan komentar dari netizen seantero kampus
"Luna, ini kampus," sahut Jeno
"Iya tahu ini kampus, hehe udah yuk pulang... eh gak mau. Kita jalan-jalan dulu baru pulang," ucap Luna yang kemudian menggandeng lengan Jeno dan menariknya keluar menuju mobil.
Jeno membukakan pintu mobil untuk Luna, kemudian Luna masuk. Jeno mengitari mobilnya kemudian masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Sekarang kita mau kemana bu boss," tanya Jeno
"Ke KUA," sahut Luna terkekeh kecil seraya mengeluarkan burger yang baru separuh di makan.
"Sayang, sayang. Nanti begitu kamu lulus sidang skripsi, kita ke KUA," sahut Jeno mulai mengemudikan mobilnya
"Serius? Wah sebulan lagi dong," ucap Luna kegirangan
"Ya makannya buruan selesaiin tuh skripsi. Jangan main terus," sahut Jeno
"Rebes itu mah, eh mau nyobain gak sayang. Ini enak banget burgernya," ucap Luna seraya menyodorkan burgernya pada Jeno
"Burger dari siapa? Papa kan gak suka burger sayang," sahut Jeno
"Dari Arya, ini enak banget burgernya. Dagingnya juga empuk banget. Renyah lagi. Ayo satu gigit aja," rayu Luna
Akhirnya Jeno pun menggigitnya kecil.
"Gimana enak kan?" tanya Luna
"Hemm enak juga, tapi yang bikin enak itu karena disuapin hehe," sahut Jeno.
"Selfie yuk, Luna gigit sini, Papa sayang gigit bagian sana ya,"
Kemudian Luna memotret mereka berdua sambil makan burger, terkesan romantis. Setelah itu Luna melihat hasil jepretannya.
"Ih lucu nih," sahut Luna memperlihatkan hasil fotonya pada Jeno
"Mana coba lihat," Jeno kemudian ikut melihat hasil fotonya, "Haha lucu-lucu mulut kamu jadi keliatan gede banget haha,"
"Haha," tawa Luna sambil memasukan suapan terakhir kedalam mulutnya. Ia tertawa dengan mulut yang penuh makanan.
"Nih minum dulu, kalau lagi makan jangan ketawa-ketawa sayang, nanti kesedak," sahut Jeno seraya memberikan satu botol berisi air mineral yang masih baru.
Luna pun membalasnya dengan anggukan kepala karena sambil menelan. Setelah selesai minum, Luna mengedit sedikit foto tersebut dan memposting ke media sosial yang bernama instagram. Dengan caption, 'Keseruan bareng pacar'.
Tak berapa lama banyak orang yang komentar mengenai Luna dan Jeno. Komentar positif dan kebanyakan dari mereka berkomentar
'Akhirnya Luna punya pacar juga'
'Cowoknya cakep banget Lun, kayak bule'
'Luna kenalin dong tuh cowok'
Dan Luna tertawa melihat para komentar temannya, kemudian gadis itu menlihat ke arah Jeno yang rupanya sedikit kebule-bulean.
"Papa itu ada keturunan Bule gak sih? Kok Luna baru sadar ya wajahnya Papa tu kayak bule,"
"Haha Bule dari mana sih. Asli orang Indonesia ini, "
dan pembicaraan mereka pun jadi panjang
__ADS_1
Sementara di sisi lain. Ada hati yang tersakiti.
"Astaga, sainganku papanya sendiri. Pantas saja Luna ga melirik aku sedikitpun....Lun gak bisa apa kamu lihat aku," lirih Arya yang masih berada di kampus dengan teman-temannya.