Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Pilihan Hati


__ADS_3

Malam harinya, Jeno mengadakan makan malam romantis sebagai perayaan kelulusan Luna. Hanya dirinya dan Luna. Sekaligus sebuah lamaran yang telah ia janjikan. Beruntung malam itu kondisi Jeno telah membaik.


Suasana alam terbuka, gelapnya malam dan hanya diterangi oleh cahaya rembulan serta lilin kecil di tengah meja menambah keromantisan malam itu. Beberapa lampu remang-remang juga menghias di sudut-sudut pilar.


Jeno menatap lekat manik mata Luna yang berwarna hitam kecoklat-coklatan, mengagumi pesona putri sambungnya yang sebentar lagi akan jadi miliknya.


Sebelum melanjutkan ke arah perbincangan yang serius, Jeno melayangkan satu pertanyaan untuk Luna.


"Luna, untuk malam ini ijinkan Aku menyebut diriku sebagai Aku," ucap Jeno


"Hemm okay hehe, Papa eh Mas, Memangnya mau ngomongin apa sih," tanya Luna penasaran


"Luna...., " sahut Jeno tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang.


"Iya," jawab Luna dengan suara lembut dan senyum yang memikat.


"Ada banyak pria seumuran kamu, kenapa harus aku yang kamu pilih. Ada Arya yang senantiasa disamping mu. Ada Dimas, tetangga yang selalu curi-curi pandang terhadapmu. Kenapa memilih aku yang usianya jauh lebih tua?"


"Arya itu hanya sahabat, sedangkan Dimas hanya tetangga dan Luna gak kenal sama dia. Hati Luna jatuh pada orang yang berjiwa tulus seperti kamu mas," sahut Luna


"Persahabatan dan cinta itu beda tipis," ucap Jeno


"Tapi Luna cintanya sama orang yang ada didepan Luna saat ini. Cinta Luna hanya untuk Dokter Jeno Alvaro. Dan cinta tidak bisa memilih," sahut Luna


Yakin sudah pilihan Jeno, dia semakin mantap untuk melangkah bersama Luna. Di genggamnya kedua tangan Luna dan ia mulai berbicara serius


"Aku juga tidak bisa memungkiri hati sendiri, aku ingin memiliki kamu seutuhnya dalam sebuah ikatan pernikahan. Luna, bersediakah kamu bersanding denganku bukan hanya dipelaminan saja, melainkan juga di kehidupan mendatang. Aku yang sudah tidak muda, akan berusaha membahagiakan dirimu,"


"Luna bersedia, selamanya akan menemani Mas Jeno sampai akhir hayatku," jawab Luna


Jeno menyematkan cincin di jari manis sebelah kiri, sebagai tanda pertunangan kemudian ia menyatukan kedua tangan Luna dan mengecup punggung tangannya.


"Aku cinta kamu," Sahut Jeno


"Luna juga cinta kamu Mas," ucap Luna seraya menitikkan air mata kebahagiaan.


Jeno mengusap air mata Luna dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


Setelah itu ia mengeluarkan sebuah dokumen. Dan meminta Luna untuk menandatangani semua dokumen itu.


"Surat tanah? Kepemilikan Rumah Sakit? Surat Rumah? Kenapa harus tanda tangan Luna?" tanya Luna


"Aku mau urus surat balik nama atas nama kamu," sahut Jeno enteng


"Semua? Ta-tapi Luna gak berhak,"


"Siapa bilang gak berhak, aku yang kasih dan kamu berhak atas semuanya," ucap Jeno lagi.


Dengan bujuk rayu akhirnya Luna menerimanya. Ia pun menandatangani surat balik nama kepemilikan atas namanya. Hanya menunggu 14 hari maka prose balik nama akan berubah menjadi milik Luna.


Sebelumnya Jeno telah membuat surat warisan kepada pengacaranya. Semua harta yang ia miliki 15% untuk anak yatim piatu, 10% untuk bantuan rumah sakit dan 75% untuk Luna.


Setelah proses penandatanganan, mereka berbincang hal lain, merancang ini itu semua lebih kepada perencanaan pernikahan, hingga tak terasa malam semakin larut.


.


.


.


Sementara Luna memilih gaun pengantin, ditemani Arya dan Azkha. Jeno ingin merayakannya secara besar-besaran namun Luna hanya ingin pernikahan yang sederhana.


Akhirnya Jeno menurut yang terpenting Luna bahagia.


"Kenapa gak WO sih kan jadi gak ribet Lun, Pak Jeno kan kaya gitu loh," sahut Azkha


"Orang nikahnya di KUA doang trus syukuran di rumah. Tinggal pesan katering tetangga sekalian ngelarisin dia," ucap Luna


"Bukan masalah sederhana atau tidaknya Lun. Tapi sebaiknya di gedung untuk menghindari cibiran orang. Calon suami kamu kan pemilik rumah sakit. Apalagi sekarang dah mulai maju tuh rumah sakit, jadi relasinya semakin banyak. Pikirin itu juga Lun," sahut Arya


"Iya Lun, takutnya nanti yang ada malu. Mulut netizen itu pedes loh," ucap Azkha


"Haha iya udah aku pikirin kok. Perumahan tempat aku juga gak sempit amat jalannya kan, jadi minta tetangga gitu," ucap Luna tak berapa lama datang dua pegawai butik membawakan satu gaun yang cantik.


"Astaga cantik banget, aku coba ya," ucap Luna kegirangan tak sabar untuk mencoba gaun pernikahannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Luna sudah keluar dengan balutan gaun yang cantik dan sangat pas di tubuhnya yang langsing.


Arya menatap Luna tanpa kedip, bagaikan ada angin semriwing yang mengibar-ngibarkan rambut Luna. Pesona Luna telah membuat Arya bertekuk lutut. Ia bahkan rela jika harus dijadikan budaknya. Asalkan selalu bersama Luna.


Azkha menyenggol lengan Arya yang melihat Luna tanpa kedip


"Hey ditanyain tuh bagus gak, astaga kamu belum move on juga ya Arya," sahut Azkha


"Eh hmm bagus bagus kok cocok," ucap Arya


Dia tidak menjawab pertanyaan Azkha soal move on. Tentu saja dia belum move on malah semakin cinta sama Luna. Ssmentara Azkha yang sudah tahu jawabannya hanya menggelengkan kepala


"Kasian Arya, semoga aja dia mendapatkan jodoh yang terbaik. Sebenarnya aku ga ridho sih Luna sama bokapnya. Perhatian Arya tuh luar binasa, tapi manusia bisa apa, semua tergantung takdir," kata Azkha dalam hatinya


.


.


Kembali ke Jeno


Jeno datang keruamb Pak RT dengan baik-baik meminta surat pengantar. Awalnya Pak ketua RT setempat terkejut dengan kabar yang baru saja datang. Jeno pun menjelaskannya secara rinci dan akhirnya sang ketua RT pun memaklumi. Setelah itu ia mengeluarkan surat pengantar untuk dibawa ke RW.


Hal yang sama terjadi pada ketua RW. Ibu RW yang mendengar samar-samar pembicaraan suaminya dan Jeno langsung keluar menanggapinya.


"Loh Pak, gak dong. Mereka itu gak bisa nikah. Walaupun mereka ga ada hubungan darah tapi kan Kak Jeno udah menggauli istrinya. Gak mungkin kan dia gak megang-megang. Kalaupun alasannya sakit ini itu dan segala macem ada jalan menuju roma Pak. Alias bisa aja dia udah melakukannya walaupun secara gak langsung," sela Bu RW


"Bu, tapi Pak Jeno sudah berani bersumpah. Masak iya sih dia bohong. Ibu jangan main-main loh," ucap Pak RW


"Jaman sekarang orang bisa bohong Pak! Mana buktinya mana," ucap Bu RW


"Apa iya kita harus tanya Marisa yang udah meninggal, gak kan Bu. Jangan ngaco deh," timpal Pak RW


Ibu RW dan Pak RW malah berdebat sendiri. Jeno mulai pening. Jujur saja ini hal yang paling ditakutkan dirinya, ia hanya menundukkan kepala.


"Saya memang tidak bisa menunjukkan bukti tapi saya bisa berkata yang sesungguhnya. Kalaupun harus mengucapkan sumpah diatas kitan suci Al Quran saya bersedia," sahut Jeno


"Maafkan istri saya Pak Jeno, ini surat pengantarnya. Saya percaya karena tidak mungkin orang berpendidikan seperti bapak dan juga mempunyai peran penting di lingkungan ini berbohong. Tolong jangan diambil hati, maaf Pak Jeno bisa langsung pergi tidak, bukan maksud mengusir hanya saja istri saya bikin pusing hehe," ucap Pak RW tidak enak hati.

__ADS_1


Jeno keluar dari rumah Pak RW. pandangannya memutih, seketika oksigen yang dihirupnya mendadak menipis. Jeno merasa sesak dan untuk kesekian kalinya jantung terasa sangat nyeri.


Ia pun pingsan di depan rumah Pak RW.


__ADS_2