
Setelah Jeno selesai mandi dan berpakaian. Luna masuk ke kamarnya. Jeno mengajak Haris ke beranda lantai dua rumahnya. Sambil menikmati pemandangan dari luar, Haris pun mulai menceritakan masalah yang ia alami.
"Kamu tahu Aldo kan? Anak sulung ku yang tinggal sama neneknya. Dia curi akta rumah dan tanah milik neneknya, mertua aku. Lalu uangnya habis buat foya-foya gak jelas. Sekarang mertua aku gak punya rumah gara-gara dia. Aku pusing! Istriku minta aku gantiin rumah orang tuanya. Aku juga gak enak sama mertua aku," cerita Haris
"Astaga sikap Aldo kelewat batas. Trus mertua kamu sekarang tinggal dimana?" ucap Jeno
"Sekarang mereka semua tinggal dirumahku. Aku janji sama istriku bakal ganti rumah orang tuanya. Sedangkan Aldo, aku masukkan ke pondok pesantren biar jera dia dan jadi baik. Kuliahnya aku cabut. Percuma kuliah mahal-mahal rupanya dia gak pernah masuk kuliah. Aku disini banting tulang buat kuliah kedokterannya. Streesss aku No," Haris menarik rambutnya tanda jika pusing yang ia derita
"Semoga dia bisa kembali jadi anak yang baik ya? Kamu beli aja rumah yang cicilannya murah, masih ada di daerah ku ini tuh masih murah harganya,"
"Masalahnya bukan murah atau mahal. Tapi aku dah batas limit ga bisa ambil kredit lagi. Aku kesini....," ucapan Haris terhenti, dia sungkan.
"Katakan aja kamu butuh berapa insyaallah Aku bisa bantu. Tanpa bunga,"
"Astaga No... kamu pengertian banget," Haris menangis dia terharu memiliki teman sebaik Jeno
Setelah itu Jeno memberikan sebuah cek senilai 500juta rupiah.
Luna rupanya belum tidur. Ia mengintip dari balik jendela, di lantai atas. Begitu terkesannya dia akan kebaikan Jeno.
"Andai aku bisa memilikinya jadi pendamping hidupku, berapa bahagianya aku. Baik, penyayang, pengertian. Papa emang the best, I love you Pa," gumam Luna pelan.
Kemudian ia kembali ke kamar dan bermimpi indah, memimpikan Jeno di alam khayalannya.
.
.
.
Waktu terus berputar. Tanpa terasa setahun lebih waktu berjalan. Dan keesokannya adalah ulang tahun Luna yang ke 17.
Jeno ingin mengadakan sweet seventeen kecil-kecilan di rumahnya. Tetapi Luna menolaknya.
"Yakin nih gak mau? Sweet seventeen loh ini," tawar sang Papa
"Gak usah Pa, sayang uangnya. Mending buat acara pengajian dari pada pesta. Atau buat beliin aku mobil," ucap Luna yang sebenarnya sudah lama menginginkan mobil pribadi sendiri.
"Hmm, yaudah jangan nyesel ya. Papa kerja dulu," ucap sang Papa
__ADS_1
"Malam-malam kerumah sakit? Ada yang melahirkan?" tanya Luna
"Papa mau gantiin dokter Mada, dia tiba-tiba ada urusan dan yang lain tidak bisa, jadinya Papa yang gantiin," jelas Jeno
Dokter Mada adalah dokter jaga yang dinas malam di bagian IGD.
"Kalau gitu Papa butuh karyawan baru tuh. Sampe kekurangan dokter gitu,"
"Iya, makasih sarannya ya sayang. Jangan tidur larut malam ya. Assalamu'alaikum," ucap Jeno dan diakhiri salam. Kemudian ia pergi menuju rumah sakit miliknya
Rumah sakit milik Jeno semakin ramai didatangi pasien. Karena dekat dengan perumahan dan selain itu pembayaran rumah sakit milik Jeno bisa dilakukan secara kredit, syaratnya hanya untuk orang yang tidak mampu dan harus menyertakan surat keterangan dari RT dan RW.
Pukul satu malam
Luna merasa gerah, cuaca saat itu sudah malam namun sangat terasa panas. Padahal AC dikamarnya sudah menyala di angka tertinggi.
Ia pun keluar kamar dan berjalan menuju kulkas. Diambilnya satu botol air dingin dan langsung meneguknya.
Glek Glek
"Ahhh, seger,"
Jeno pulang ke rumah pukul lima pagi. Ia membangunkan Luna sekaligus untuk beribadah subuh.
"Luna sayang... bangun," ucap Jeno seraya membelai puncuk kepalanya.
Luna terbangun dan dengan malas ia beranjak duduk.
"Pa.... udah pulang," sahut Luna seraya terus menguap sembari mengucek matanya.
"Iya udah," sahut Jeno menatap Luna dengan tatapan rindu serta senyuman manisnya.
Luna memperhatikan sikap Jeno, yang terus membelai rambutnya sambil tersenyum dan tatapannya tak lekang dari manik mata Luna.
Tangan Jeno menyentuh pipi Luna dan turun ke rahang. Jari jemarinya masuk kebelakang tengkuk lehernya. Wajahnya semakin mendekati Luna, sedikit semi sedikit semakin mendekat. Sementara Luna hanya terdiam terpaku jiwanya bergetar. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh Papanya.
Wajah Jeno semakin dekat hingga Luna dapat merasakan aroma napas mint yang segar dan wangi parfum mahal milik ayahnya.
Cup
__ADS_1
Kecupan di bibir yang hanya menempel tanpa adanya pergerakan, Jeno membuka mulutnya mengecup bibir bawah Luna mengesapnya perlahan.
Desiran hasrat pun keluar, Luna dengan insting wanitanya membalas kecupan Jeno. Kecupan yang berubah menjadi ciuman.
"I Love You, " bisik Jeno dan melanjutkan cumbuannya lagi.
Jeno beralih mengecupi pipi, telinga hingga ke leher jenjangnya dan membuat tanda merah disana. Sedikit sakit tapi Luna menikmatinya.
Tangan bergerilya tak mau diam, meraba gundukan milik Luna yang sudah tumbuh membesar.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka. Siapa yang memainkan kunci? Bukankah dihadapanku ini Papa
Luna membuka matanya setelah menikmati kecupan dan cumbuan yang ia rasakan. Tapi yang ada dihadapannya tidak ada siapapun.
"Astaga aku mimpi ciuman sama Papa?" gumam Luna pelan.
Mimpi Luna sudah merajalela entah kemana.
Rupanya Jeno lah yang membuka pintu, ia baru saja pulang dan membawakan kue ulang tahun untuk Luna.
"Happy Birthday, Luna. Happy Birthday Luna.... Happy Birthday Happy Birthdaaay........ Happy birthday Luna....," ucap Jeno yang sudah menyalakan Lilin di atas kue.
Luna terharu, ia langsung meniup lilin dan memeluk Papanya. Tak lupa ia mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Jeno yang sudah berbulu lagi.
"Terimakasih Pa,"
"Iya, Sama-sama Selamat ulang tahun ya, Papa selalu mendoakan kamu yang terbaik. Ngomong-ngomong kok bau iler. Baru bangun tidur ya hehe,"
"Hehe iya Pa, ketiduran di sofa," ucap Luna
"Hmm udah sana cuci muka trus bersih badan, sholat, " ucap Jeno
Astaga kalau inget mimpi aku tadi malunya aku. Gimana ya kalau aku beneran ciuman ma Papa, gak kebayang rasanya kayak apa, batin Luna yang mulai berpikir aneh
"Luna... kok malah bengong,"
"I-iya pah, yaudah Luna cuci muka dulu,"
Jeno sudah menjalankan ibadah subuhnya di masjid dekat komplek. Sehingga saat pulang dia langsung pergi mandi dan beristirahat sejenak.
__ADS_1