
Setelah membersihkan dirinya dan beribadah subuh. Luna membuatkan sarapan untuknya dan juga Papanya. Sang Papa kelelahan setelah bekerja malam dan pulang subuh, ia sampai ketiduran pagi itu.
Luna membuat Sop daging kacang merah, favorit Papanya. Untuk resep dia melihatnya di internet sementara bahannya sudah tersedia dari kemarin.
Jeno mendengus aroma daging matang yang menggugah seleranya. Ia pun terbangun dan langsung keluar dari kamar. Dicarinya sumber aroma yang membuat perutnya bergerak bahkan terdengar bunyi keroncongan karena lapar.
"Hemm kamu masak apa Sayang?" tanya Jeno
Deg ...
Mendengar kata sayang keluar dari mulut Jeno, membuat Luna berdebar, padahal hanya ucapan sayang yang biasa Jeno lontarkan dari kecil.
"SOP daging pah,"
"Emangnya kamu bisa?" tanya Jeno
"Ih meremehkan," cibir Luna
Jeno berjalan menuju dapur dan menghampiri Luna. Ia melihat SOP sudah hampir jadi, sementara di meja ada tepung, kulit telur dan bubuk coklat.
"Trus ini mau bikin apa? Kue? Bukannya Papa udah beliin kue ya?"
"Huum ya pengen nyoba-nyoba bikin sendiri Pa, hehe,"
"Aduk adonan bukan gitu. Gini caranya," Jeno berdiri dibelakang Luna sambil memegang tangan Luna yang sedang memegang folding dan satu tangannya memegang sisi baskom.
Duh kenapa aku malah dibelakang Luna, jadi grogikan? batin Jeno.
Kemudian dia menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup
"Sisir adonan sampai ke bawah baskom, tarik ke atas dan balik. Begitu seterusnya sampai tercampur rata," ujar Jeno seraya mempraktekkan.
Sementara Luna merasakan kehangatan dari genggaman tangan Jeno. Ia juga sedikit merasakan kegugupan dari jemari Papanya itu, tapi Luna tidak terlalu fokus pada Jeno. Ia malah fokus pada dirinya sendiri karena Luna juga sedikit gugup dan salah tingkah, "I-iya pah,"
"Yaudah, sekarang coba aduk sendiri,"
"Papa bisa bikin kue? Belajar dari mana?" tanya Luna
"Nenek," ucap Jeno seraya mengingat almarhumah Neneknya, yang berarti nenek buyut Luna
Jeno mulai bercerita saat dirinya SMP yang sering membantu Neneknya membuat ragam kue, tapi Jeno paling anti masak. Karena saat itu dia tidak suka bau bawang mentah. Berbeda dengan yang sekarang, ketika sudah dewasa terlebih saat dia merawat Luna. Jeno juga berperan sebagai Ibu.
"Papa selalu jadi yang terbaik untuk Luna," ucap Luna seraya ingin memeluk Jeno.
Tapi Jeno menghindar karena dirinya melihat celemek Luna yang kotor
__ADS_1
"Eits jangan peluk-peluk, itu celemeknya kotor. Baju papa kan udah bersih," sahut Jeno
"Ih Papa nyebelin, nih makan tuh bersih," Luna pun mengambil secolek adonannya dengan jari telunjuknya dan kemudian meleletkan di hidung mancung Jeno, juga di bagian pipinya hingga mengotori brewoknya.
"Luna, awas kamu ya. Emangnya Papa ga bisa balas," dan Jeno pun dengan cepat mengambil secolek adonan dan meleletkannya di pipi dan kening Luna.
Mereka saling berbalas disertai dengan canda dan tawa. Lalu tiba-tiba Luna teringat akan sop yang sedari tadi belum dimatikan. Untung saja apinya kecil.
"Astaga sampe lupa," Luna segera mematikan kompornya.
Sementara Jeno sudah mengambil piring berisi nasi dan mangkuk kosong untuk sopnya.
"Hmm pasti enak nih," terka Jeno sembari tersenyum
"Harus dong," sahut Luna.
Jeno pun membawa piring dan mangkuknya yang telah berisi makanan ke meja makan. Lalu ia mulai memakannya padahal makanannya masih panas.
"Ahmmmm," Jeno menahan panas dimulutnya tapi dia tahan, Luna yang melihatnya terkekeh
"Pa, makannya pelan-pelan dong, gak panas apa baru aja mateng,"
"Abis lapar banget nih," Jeno mengambil satu teko air putih dan menuangkannya dalam gelasnya untuk menetralkan lidahnya
"Oh ya, Luna mau minta kado apa?" tanya Jeno
"Ayo mau apa? Apa aja nnti Papa turutin, mau banyak juga boleh. Tapi jangan aneh-aneh ya,"
"Serius?" tanya Luna
Ia pun teringat Novel dewasa yang baru kemarin ia baca, Novel karya Virus yang berjudul Promiscuity After. Disitu tokoh protagonis meminta tiga permintaan untuk kado ulang tahunnya salah satunya adalah ciuman.
Apa aku ikutin aja ya kisahnya Cassie ma Barra hihi astaga mikir apa sih aku batin Luna
"Hemm gini aja deh Luna lebih suka ngedapetinnya dengan cara tantangan. Kalau Luna berhasil. Luna cuma minta satu permintaan dan harus dituruti. Tapi kalau Luna gagal, kadonya apa aja dari Papa, Luna terima,"
"Boleh, deal ya?" ucap Jeno menyodorkan ibu jari ke arah Luna, dan Luna menyatukan ibu jarinya ke arah Jeno tanda jadi.
"Deal," ucap Luna
Kemudian Jeno menyerahnya sebuah bungkusan berbentuk kotak kecil dengan bungkus kado yang kusam.
"Luna.... ini kado dari mendiang Mama kamu. Dia menitipkan pada suster sebelum dia meninggal. Entahlah sepertinya Mamamu punya firasat jika umurnya tak lama lagi. Bungkusnya sudah lecek, Papa menyimpannya hingga kini. Karena dia berpesan untuk memberikannya di usia kamu yang ke 17 tahun. Papa sendiri tidak tahu isinya. Suster yang di amanahkan pun tidak bisa mengatakannya karen dia menghormati pasiennya," ujar Jeno
"Kado? Dari Mama?" Luna menerima kado tersebut, lalu terdiam kemudian matanya berkaca-kaca, tak berapa lama air matanya pun menetes.
__ADS_1
"Mama....hiks," gumam Luna
Jeno menepuk lengan Luna pelan agar jangan menangis dihari ulang tahunnya.
"Setelah makan, di buka ya? Papa juga ingin tahu sih isinya apa, tapi lebih baik Luna buka sendirian. Karena sepertinya Kado itu dirahasiakan untuk Papa. Kalau tidak, Mama mu pasti menyuruh Papa yang membungkuskan bukan suster," terka Jeno
"Hmm mungkin saat itu Mama tidak ingin membuat Papa bersedih. Kalau mama bilang ingin pergi jauh pasti Papa akan sedih kan?" ujar Luna
"Iya sih," sahut Jeno.
Setelah itu mereka menyelesaikan makan paginya. Luna juga tidak sekolah karena libur natal dan tahun baru. Sementara aktifitas membuat kue pun ia lanjutkan lalu tinggal menaruhnya dalam oven.
Sementara menunggu kuenya matang, Luna membawa kado dari Mamanya di kamar. Dengan rasa penasaran dan jantung berdegup kencang. Setelah bungkus kado terlepas dari kotaknya. Kini yang terlihat adalah sebuah kotak cincin namun bukan cincin di dalamnya.
"Memory card?" gumam Luna.
Langsung saja Luna memasukkannya dalam adaptor eksternal yang bisa dihubungkan ke komputer melalui USB. Lalu Luna menyalakan komputernya yang sedari tadi dalam posisi standby.
Terlihat hanya ada satu folder bertuliskan 'Untuk Luna'. Segera Luna mengklik folder tersebut dan didalam folder ada sebuah video berdurasi panjang.
Luna meneteskan air mata. Dilihatnya wajah Mamanya, dengan rekaman kamera yang tidak jernih karena beresolusi 1 Megapiksel. Namun seperti itu saja sudah membuat Luna bahagia.
Wajah wanita itu kecil, terlihat kurus, bawah matanya cekung dan menghitam. Rambutnya habis digundul, bibirnya pucat. Kemudian dari rekaman tersebut sang Mama memakai lipstik berwarna pink muda.
"Hai Luna, ini Mama....," Marisa tersenyum dalam videonya ia terlihat menahan tangis
Luna yang melihatnya pun ikut menangis, " Hai Mama," lirihnya menjawab seakan-akan mereka sedang melakukan video call.
Lalu Marisa mengucapkan selamat ulang tahun untuk putrinya yang ke 17 karena ia merasa, inilah saat yang tepat menceritakan kisahnya pada Luna.
Mulai dari ia mengandung, lalu bencana Tsunami yang tidak pernah ia lupakan dan....kisahnya dengan Jeno.
"Papa Jeno, orang yang sangat baik sayang. Dia begitu tulus menyayangimu. Mama....," ucapan Mamanya terhenti.
"Mama belum mencintainya saat kami menikah. Dia juga tidak ingin memaksakan Mama. Bahkan jujur saja Luna... Papa Jeno belum pernah menyentuh Mama. Karena Mama saat itu belum mencintainya. Dan disaat Mama mulai menyayanginya, Mama sakit. Dia sungguh pria yang pengertian..., ahhhh...," Marisa berhenti berbicara. Kepalanya merasakan sakit kembali. Lalu ia segera menahannya.
"Mama hanya ingin berpesan, jangan pernah sakiti hati Papa Jeno ya sayang, Mama bersyukur bertemu orang seperti dirinya. Maafkan Mama tidak bisa menemani kamu hingga dewasa. Selamat tinggal putriku, Mama selalu menyayangi mu," ucap Marisa kemudian melambai sambil tersenyum.
Rekaman Video pun terhenti.
Luna menangis, "Ma...Mama....," ia sampai memukul-mukul layar komputer agar durasi video itu tidak terputus.
Ia masih merindukan Mamanya. Luna juga memiliki rekaman Video yang diabadikan oleh Jeno. Namun Jeno tidak memiliki rekaman Video Mamanya saat setelah operasi dan kepalanya di gundul. Sehingga begitu Luna melihat rekaman saat itu, ia terkejut. Dan langsung bisa merasakan penderitaan Mamanya yang mengalami kanker otak.
Luna mengulang kembali rekaman video tersebut dan berkali-kali pula ia menangis.
__ADS_1
Jeno mendengar suara Luna dari luar kamar sambil menangis menyebut Mamanya. Ia pun tidak ingin mengganggu Luna dan memilih melakukan aktivitas lain yaitu bersih-bersih halaman dan bercocok tanam.