Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Hanya Anak Tiri


__ADS_3

Tika tetap tidak putus harapan, baginya inilah saat yang ia nantikan untuk hidup bersama Jeno. Ia pun memutuskan untuk ke rumah Jeno dan meninggalkan tempat Reuni.


"Duh aku lupa lagi rumahnya, yang mana ya? Dulu sih patokannya ada kliniknya. Tapi ini kok gak ada ya," ujar Tika dengan mengemudi pelan sembari melihat kiri dan kanan mencari alamat rumah Jeno


Sudah bertahun-tahun dia tidak ke rumah Jeno dan jalanan sekitar sudah berubah. Yang tadinya masih jalan bertanah, sekarang sudah beraspal. Yang tadinya tempat nongkrong para becak, kini berganti ojek. Yang tadinya tempat warung makan kecil, kini sudah berganti rumah-rumah gedong. Mushola kecil pun sudah berganti Masjid besar.


Akhirnya Tika menelepon yellow pages. Dia hanya tahu nomer telepon rumah Jeno. Setelah mendapatkan alamat lengkap Jeno, Tika mengaktifkan layanan GPS google map.


Tak butuh waktu lama, dalam hitungan menit Tika sudah berada di depan rumah Jeno.


"Yang berbeda dulu rumah ini tidak berpagar besi melainkan pagar kayu yang pendeknya sepinggang," gumam Tika.


Ia pun membenahi riasannya lewat cermin spion tengah. Lalu Tika menambah lipstik pada bibirnya agar cetar membahana. Tak lupa juga parfum yang disemprotkan ke seluruh tubuhnya. Bisa dibayangkan aromanya. Jarak tiga meter saja sudah tercium bau parfum apa lagi dalam jarak dekat.


Dengan anggun ia turun dari mobilnya serta membawa paper bag berisi Durian yang sudah di potong dan dimasukkan ke dalam tiga wadah berukuran 15cmx15cm lalu dihias dengan pita.


Ting Tong


Luna terkejut mendengar suara bel pintu rumah. Ia mengira jika yang datang adalah Sang Papa. Segera dimatikannya laptop dan beranjak pergi ke ruang tamu untuk membukakan pintu rumah.


"Tante Tika," sahut Luna


"Hai Luna sayang," sapa Tika kemudian mencium pipi kiri dan kanan Luna tanpa basa basi.


Sementara Luna sangat pusing mencium aroma menyengat parfum si Ratu penggoda.


"Papa kamu ada? Tante mau ketemu sama Papa kamu," ucap Tika.


"Papa kan reuni tante, emang tante gak ikutan?"


"Hmm kemana ya dia? Tadi dia buru-buru pergi dan tidak bilang lagi mau kemana,"


"Oh mungkin lagi ada tindakan tante,"

__ADS_1


"Oh mungkin aja, Yaudah tante titip ini ya sayang buat kamu dan Papa kamu," ucap Tika


"Apa ini tante, kok repot-repot segala,"


"Itu buah durian tapi sudah diambil kulitnya,"


Hemm ngakunya teman dekat tapi kok gak tahu kalau Papa gak suka durian, batin Luna


"Makasih tante," ucap Luna.


Setelah itu Tika berpamitan pada Luna karena kalau ada tindakan sudah pasti akan lama. Maka ia pun pergi dengan mobilnya, Luna keluar rumah dan memberikan bungkusan buah durian tadi ke tetangga sebelah. Karena Luna maupun Papanya sama-sama tidak suka Durian. Dari pada mubazir dia pun memberikannya ke tetangga samping rumah. (Padahal enak loh, Author aja suka)


Baru saja keluar dari halaman rumah tetangganya, ada yang memukul bahu Luna dengan sedikit keras, hingga gadis itu terkejut dan berbalik secepat mungkin untuk melihat siapa yang memukul.


"Astaga, Tante Tika! Ngagetin aja deh," sahut Luna


"Pemberian saya, kenapa kamu kasih ke tetangga kamu hah?" ucap Tika sembari berkacak pinggang.


"Hmm itu tante, Sa-saya sama Papa tidak suka Durian. Jadi dari pada mubazir ya Luna kasih tetangga," jawab Luna seadanya karena tidak bisa berbohong lagi.


Gak kebayang gimana jadinya kalo Nenek lampir ini jadi emak tiriku, hiks batin Luna.


Ia hanya menunduk serta meminta maaf


"Maaf tante, ka-kalau perlu saya ambil lagi yang tadi saya kasih ke tetangga," sahut Luna.


"Gak usah, yaudah saya maafin. Tapi kamu harus bantuin saya supaya deket sama Papa kamu,"


"Hah? Apa? Enggak ah tante saya gak mau," sahut Luna


"Ya harus mau dong. Itu bentuk tanggung jawab kamu karena udah memberikan barang pemberian saya ke orang lain,"


"Maaf tante, kalau tante mau deketin Papa, saya menolak duluan,"

__ADS_1


"Kamu ini punya hak apa menolak. Kamu itu cuma anak sambungnya. Kamu bukan anak kandung, kasihan dong Jeno, emang kamu mau dia menduda selamanya karena kamu. Egois kamu," sahut Tika ceplas ceplos


"Hah apa! Anak sambung?" ucap Luna memastikan kebenaran apa yang ia dengar barusan.


"Loh jadi kamu belum tahu ya?" ucap Tika yang tiba-tiba merasa tidak enak. Ia pikir Luna sudah tahu mengenai hal ini.


Bagaikan disambar petir ketika Luna mengetahui hubungannya dengan Jeno.


"Anak Sambung?" lirih Luna dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Tante bohong kan?" timpalnya lagi


Tika hanya diam seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak berapa lama Jeno datang dengan mengendarai mobilnya. Lampu sorot jauh yang menyoroti kedua perempuan itu kemudian dimatikan. Jeno segera bergegas keluar dan menghampiri keduanya.


"Loh kok di luar," tanya Jeno seraya melangkah mendekat.


Ia melihat Luna dengan mata dan wajah memerah akibat menangis.


"Kamu kenapa nangis Sayang? Hemm?" tanya Jeno setelah memperhatikan Luna


"Papa jahat! Kenapa Papa gak bilang sama aku kalau aku ini hanya Anak tiri! Kenapa Papa gak bilang dari dulu!....Kenapa Luna harus mendengarnya dari mulut orang lain, kenapa!! hiks..." ucap Luna dengan suara memekik keras bahkan mungkin tetangga mereka dapat mendengarnya.


Setelah itu Luna berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Jeno dan Tika diluar.


Jeno melihat Luna memasuki rumahnya dengan deraian air mata. Lalu ia menoleh ke arah Tika dengan sorot mata tajam yang tidak pernah Tika Lihat.


"Kamu bilang apa sama Putriku hah?!" tanya Jeno sembari mengepalkan tangannya menahan geram


"Aku... maaf No... aku pikir kamu sudah memberitahukan hal penting itu sama Luna,"


"Aku menunggu waktu yang tepat! Saat ini dia sedang tahap pendewasaan! Pikirannya masih labil. Sikapnya pun sering berubah dia sedang tahap pendewasaan. Sebaiknya kamu pergi dan jangan mencampuri urusan keluarga ku," ucap Jeno kemudian pergi meninggalkan Tika berdiri di luar.

__ADS_1


Jeno kembali ke mobilnya dan membawanya masuk, menutup pagar dan garasinya dengan sedikit bantingan. Pertanda ia sedang kesal.


"Astaga," gumam Jeno yang masuk ke rumah sambil menghembuskan napas kasarnya.


__ADS_2