
Tika yang sudah lama mendambakan Jeno sudah basah karena gairah yang menggebu padahal hanya sebatas memandangi Jeno saja.
"Ah aku sudah tidak sabar melihat milik Jeno, sebaiknya aku buka kemejanya dulu trus... hihi gak bisa ku bayangkan," ucap Tika
Setelah selesai membuka seluruh kancing yang yang ada, Tika melebarkan kemejanya. Terlihat sedikit bulu dada Jeno dan perut yang masih berbentuk six pack. Meski tidak sekencang saat muda dulu, setidaknya tidak buncit.
Tika menggigit bibir bawahnya seraya mengelus bidang yang berotot. Sungguh dia kepanasan sendiri bagaikan ulet keket yang menggeliat. Saat jemari nakalnya mulai membuka kancing celana, ia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintunya.
Tika mulai ketakutan, takut jika digrebek massa. Kalau dinikahkan langsung sih dia mau. Tapi kalau ditonjok dulu bagaimana? Perawatan wajahnya sendiri susah mahal.
Duh enggak deh kalau ditonjok bisa babak belur, harga perawatan ku aja udah keluar 500an juta batin Tika
Tika memang cantik, tapi bukan operasi plastik melainkan ia rutin melaser wajah, leher serta kulit yang sudah berkerut menjadi kencang seperti saat muda.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya memulai aksi panas tersebut
Tok Tok Tok
Suara ketukan itu masih terdengar. Tika mengintip dari sela jendela siapa yang datang.
"Huh kirain warga kampung, rupanya Marten. Mau apa dia kemari?" gumam Tika pelan
Kemudian ia kembali ke kamar namun sebelum itu Tika memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Karena ia tidak membawa pakaian ganti, Tika pun masuk kedalam kamar Luna. Dengan lancang dibukanya lemari pakaian Luna.
"Hemm tidak ada yang seksi. Ah pakai ini sajalah," gumam Tika mengambil satu yukenzi yang masih berlabel. Belum pernah dipakai sama sekali.
Setelah itu Tika mandi di kamar mandi dalam, di kamar Jeno. Setelah beberapa menit Tika selesai membersihkan dirinya, ia mengeringkan rambutnya dan baru bergegas tidur, merebahkan dirinya tepat di samping Jeno.
Ia memeluk Jeno dengan erat, lalu tak berapa lama Jeno bergerak.
"Waduh dia gerak, ah pura-pura tidur. Tapi kenapa efek obatnya cepet banget ya?" pikir Tika yang langsung memejamkan matanya.
Jeno masih tidak sadar, pria itu masih terpejam dan kembali tertidur. Keberuntungan bagi Tika. Ia meraih ponselnya dan berselfie sedang tidur dengan pria obsesinya. Tak berapa lama Tika terpejam juga karena mengantuk.
.
.
Keesokan paginya Luna ingin ke rumah untuk mengambil printer. Sesampainya disana, Luna masih melihat mobil Papanya yang masih berada di rumah. Segera saja Luna cepat-cepat membuka pintu rumahnya.
Dipanggilnya sang pujaan hati, tapi tak ada jawaban. Luna masuk ke kamarnya dan mengeluarkan printer miliknya kemudian ia taruh di ruang tamu.
Ada yang mengganjal di penglihatan Luna. Ia melihat sebuah sandal high heels milik perempuan. Luna mendekati sandal tersebut dan memastikan apakah itu miliknya?
"Ini bukan punyaku, ukurannya pun lebih jumbo. Punya siapa ini?" gumam Luna
"Sayaaang.... " panggil Luna lagi.
Karena tak ada jawaban, Luna langsung mencarinya di kamar Jeno.
Cek lek
Kedua matanya membola besar begitu pintu telah terbuka lebar. Ia menangkap pria yang di cintainya tidur bersama seorang wanita yang sangat tak disukainya
Hatinya berdesir dan terasa teriris oleh sebilah pilu. Sakit hatinya merasa di khianati oleh cinta. Semudah itukah menggantikan Luna dengan Tika
"Papa!" Teriak Luna.
Teriakannya lebih kencang dan lebih nyaring dari saat pertama kali ia memanggil. Hingga Jeno tersontak kaget namun masih memejamkan matanya.
Ia mengerutkan dahinya dan kepalanya masih terasa pening, sangat berat untuk diangkat. Jeno merebahkan kepalanya lagi sembari memijat keningnya.
"Sayang kamu pulang? Papa pusing banget ini," ucap Jeno santai masih belum sadar jika di sampingnya ada badak betina yang sedang tidur terlentang.
"Hah santai banget ya Papa ngomong! Papa jahat! Teganya Papa khianati cintaku!" ucap Luna yang berkata dengan hati bergetar karena menangis.
"Hah maksud kamu apa?" Jeno membuka matanya dan memaksakan diri untuk beranjak duduk.
Sungguh sebenarnya dia masih pusing. Jelas pusing karena Tika memberikannya banyak dosis tidur hingga bangun tidurnya kesiangan.
"Papa masih gak mau ngaku kalau Papa udah tidur sama Tante Tika! Jahat!" Luna kemudian pergi meninggalkan Papanya tanpa mendengarkan penjelasannya lebih dulu
Jeno langsung menoleh ke sampingnya dan terkejut dengan keberadaan Tika disana.
Wanita itu masih terlelap tidur ditengah pertengkaran Jeno dan Luna.
"Sayang... tunggu, dengerin penjelasan Papa!" Jeno melangkah keluar kamar mengejar Luna.
__ADS_1
Ia berlari dengan langkah besar agar bisa menyusul Luna.
"Apa yang mau dijelasin? Semua udah jelas?" Luna menyeka air matanya dan mengambil printer diatas meja.
Jeno menarik lengan Luna, menahannya untuk tidak pergi sebelum mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Sungguh Papa tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan. Percayalah Luna," sahut Jeno
"Hah? Lalu bagaimana makhluk seksi itu bisa berada di atas ranjang Papa? Luna kecewa sama Papa.... padahal Luna tulus mencintai Papa," Luna melepaskan tangan satunya yang masih di cengkram Jeno, menepisnya kasar. Kemudian ia pergi dengan berlari kecil.
Jeno terus memberi pengertian, dia bahkan menjelaskannya apa yang terjadi padanya semalam. Tapi Luna tak mau mendengarkan.
Luna masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di luar garasi. Jeno ingin menyusulnya, ia masuk kedalam dan mengambil kunci mobil.
"Arghh dimana kunci mobilku? Aku harus memberi pelajaran pada Tika!" sahut Jeno
Ia masuk kembali ke kamar, mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur. Sementara ponselnya masih berada di saku celananya.
Segera Jeno mengejar Luna, namun ia urungkan lebih baik ia memberi pelajaran kepada Tika terlebih dahulu saking geramnya dia.
Jeno menarik kaki Tika hingga terjatuh dari ranjang. Aslinya Jeno tidak tega tapi amarah membuatnya kalap mata dan tidak bisa membedakan mana wanita.
"Ahhh," Tika mengeluh kesakitan seraya mengelus bokongnya yang sakit,
"Jeno! Kamu apain aku?" tanya Tika yang langsung terbangun
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kamu lakukan hah? Kamu ingin merusak nama baikku dan memfitnah ku? Untuk apa kamu tidur di tempat tidurku?! " pekik Jeno dengan marah yang tidak terkendali
Wajahnya memerah karena kulitnya yang sangat putih membuat seluruh darah yang naik terlihat merah.
"Kamu gak inget apa yang kita lakuin semalam?" Tika berdiri dan ingin mengarang cerita.
"Kamu godain aku, dan mana mungkin aku menolak rayuan kamu? " timpal Tika
"Sinnting kamu! Menyentuhmu saja tak pernah terpikirkan di otakku apalagi merayumu! Sadar!!!" Sarkas Jeno dengan marah yang meluap-luap
Kemudian ia terdiam, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Emosi telah menguras tenaganya
"Sekarang aku minta kamu bicara sejujurnya dan katakan pada Luna jika kita tidak melakukan hubungan apapun," ucap Jeno
"Kamu jahat No! Kamu udah menyentuh aku dan sekarang kamu mau kabur dari itu semua? Setelah apa yang aku berikan. Kamu menikmatinya semalam...Kamu harus tanggung jawab! Kamu harus menikahiku, " pekik Tika, suaranya tak kalah meninggi
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi sebelah kiri Tika.
"Ahh" Tika terkejut dengan perlakuan kasar Jeno
"Kamu gak tahu kan sisi jahat ku. Aku suka menyiksa pasangan ku. Kamu yakin masih mau denganku? Marisa meninggal karena sering aku pukuli," ucap Jeno berbohong dan menakut-nakuti Tika
"Kamu jahat No! Kamu tega mukul aku?" ucap Tika
"Oh iya aku memang jahat!" Jeno lantas membuka sabuk celananya dan mengibaskan nya di lantai. Sontak saja Tika semakin terkejut.
"Sekarang kamu telungkup di kasur dan tunjukkan bokonggmu, aku ingin memecut dirimu," ujar Jeno sengaja menakuti Tika
"Gilak kamu ya!" Tika mendorong Jeno lalu mengambil pakaian serta tasnya dan berlari kecil meninggalkan Jeno
Aksinya mengusir Tika berhasil.
"Astaga, dadaku nyeri sekali. Aku tak pernah marah-marah seperti ini," gumam Jeno setelah Tika pergi dari rumahnya.
Jeno kemudian keluar, mengunci pintunya dan menyusuk Luna dengan mobilnya. Jeno tidak tahu kemana Luna pergi. Lalu ia mengaktifkan GPS ponselnya dan melacak Luna lewat ponselnya yang aktif. Jejak sudah terlacak kini tinggal Jeno mengikuti arah kemana Luna pergi.
Ia menyetir seraya mengatur napasnya yang sedikit sesak juga nyeri pada bagian dada. Sakit itu baru saja ia rasakan. Padahal Jeno bukanlah tipe pemarah. Tapi sekalinya amarah itu memuncak, sesuatu menyerang dadanya. Yang Jeno khawatirkan, ia takut jika itu serangan jantung kecil.
Beberapa menit kemudian, Jeno hampir sampai di tempat yang Luna tuju. Sebuah perumahan elite dengan penjagaan satpam di depan perumahan tersebut. Setiap yang datang harus meninggalkan KTPnya. Jeno mengeluarkan KTPnya dan setelah itu ia dipersilahkan masuk.
Sosok Luna terlihat berdiri di sebuah gerbang disalah satu Rumah yang besar bercat putih gading. Tak berapa lama seorang pria dengan memakai kaos oblong membuka gerbang tersebut dan keluar menemui Luna.
"Arya, jadi pelarian Luna saat hatinya sedang sedih pada lelaki itu?" gumam Jeno.
Jeno mengurungkan niatnya untuk menemui Luna. Ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari posisi Luna berdiri. Di amatinya apa yang dilakukan Luna saat itu. Hatinya rapuh ketika Luna memeluk Arya sambil menangis menumpahkan kesedihannya.
Jeno tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi dia bisa melihat dari gerak bibirnya. Arya terlihat bertanya kenapa? ada apa?.
Arya juga terlihat ingin membalas pelukan Luna namun dia ragu dan berakhir hanya dengan mengelus rambutnya saja.
"Udah puas belum nangisnya? Ayok masuk ada apa?" ucap Arya seraya membelai rambut Luna
__ADS_1
"Kita bicara di dalam mobil aku aja ya?" ucap Luna yang masih terisak dan melepaskan pelukannya
Arya menurutinya dan masuk kedalam mobil milik Luna yang berukuran mungil.
Didalam mobil Arya mengambil tisu untuk Luna, dan gadis itu mulai bercerita.
"Aku... aku lihat Papa aku tidur sama tante Tika,... hiks...," Luna menangis lagi sementara Arya hanya mendengarkan
"Papa bilang dia gak melakukan apa yang aku tuduhkan. Dia juga gak tahu kalau ada Tante Tika di tempat tidurnya," lanjut Luna
"Trus kamu sendiri percaya gak kalau Papa kamu ngelakuin hubungan itu?"
"Enggak tapi... ,"
"Ya udah kalau gitu kamu percaya sama yang ada di hati kamu. Kunci hubungan itu dari diri kita sendiri. Seberapa percayanya kita dengan pasangan kita. Seberapa cintanya kita dengan pasangan kita. Kamu bodoh kalau menuduh tanpa bukti," ucap Arya yang sedikit menusuk hati tapi kalau dia tidak berkata seperti itu maka Luna akan tetap mempercayai apa yang dilihatnya.
"Jadi aku bodoh?" tanya Luna sedikit lemot
Arya menganggukkan kepalanya.
"Iya ya, kok aku ga percaya sih sama Papa," gumam Luna
"Kamu cinta sama.... Papa kamu?" tanya Arya memastikan
"Hemm iya, saat aku tahu dia bukan Papa kandung ku... perasaan cinta itu muncul perlahan. Perasaan antara perempuan dengan laki-laki. Dan rasa ingin memilikinya, Hemm aku cinta sekali dengan dirinya," aku Luna
Arya terdiam, sedikit berat melepaskan perasaannya.
"Yaudah kalau gitu kamu balik ke rumah dan minta maaf udah nuduh yang bukan-bukan,"
"Makasih ya Arya, kamu udah membuka jalan kelemotan ku,"
"Haha iya sama-sama, aku turun ya," ucap Arya dengan tawa padahal sebenarnya hatinya sakit.
Arya turun kemudian Luna menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan Arya. Pria itu melambaikan tangannya dan ketika Luna telah menjauh, air matanya menetes.
Jeno memperhatikan dari jauh, ia melihat Arya menangis.
"Sepertinya Arya mencintai Luna, hemm kemana lagi Luna?" gumam Jeno lalu melihat ponselnya dan mengikuti jejak Luna
"Dia kembali lagi? Apa Luna kembali ke rumah lagi?"
Beberapa menit kemudian Luna telah sampai di rumahnya. Tetapi ia tak melihat mobil Jeno didepan, Luna pun meneleponnya.
Tut... Tut...
Telepon tersambung tetapi Jeno tak segera mengangkatnya. Ia memilih membicarakannya secara langsung.
Beberapa saat Jeno telah tiba di rumahnya. Luna yang berdiri didepan pagar masih mencoba menghubungi Jeno tapi begitu ia melihat kedatangan Jeno, Luna mematikan ponselnya.
Jeno keluar dari mobil dan menghampiri Luna. Sementara Luna berjalan perlahan menghampiri Jeno
Dan lagu india pun berkumandang dari penjual getuk lindri yang lewat. Suara nyanyian itu menggema karena memakai toa yang memiliki respon frekuensi 150Hz – 6kHz.
Tum Paas Aaye, Yoon Muskuraaye 2x
(Kau mendekatiku, tersenyum dengan manis)
Tumne Na Jane Kya, Sapne Dikaaye 2x
(Kau beri aku mimpi)
Abh To Mera Dil, Jage Na Sota Hai
(Hari ini hatiku tidak terjaga dan tidak tidur)
Kya Karon Hai, Kuch Kuch Hota Hai 2x
(Apa yang harus kulakukan, Sesuatu telah terjadi)
(Please jangan nyanyi 😅)
Jeno dan Luna yang ingin berbicara serius malah saling tertawa mendengar lagu tersebut. Pasalnya penjual getuk itu lewat ditengah-tengah mereka.
"Masuk yuk," ajak Jeno membelai pipi Luna yang sembab sehabis menangis.
__ADS_1
Luna menganggukkan kepala tanda setuju