Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Pengakuan


__ADS_3

Petugas Bandara yang melihatnya Luna jatuh lemas, membantunya duduk di tempat tunggu. Luna di berikan formulir soal data Luna dan data nama penumpang. Setelah itu Luna pulang kembali ke Asrama.


Sesampainya di Asrama, Luna masuk dan langsung menutup pintu kamarnya. Ia tak menyalakan lampu terang karena Luna penyuka gelap. Hanya menyala satu lampu tidur yang remang-remang.


Begitu ia selesai mengunci pintu Luna berbalik dan melihat sosok Papa didepannya. Meski gelap dan tak terlihat jelas tapi ia kenal sosok itu.


"Papa?" ucap Luna yang langsung memeluk Jeno


"Mana pria itu?!" tanya Jeno tiba-tiba kemudian ia melepaskan pelukan Luna


"Pa, nanti Aku jelasin. Yang terpenting sekarang Papa baik-baik aja kan? Aku lihat berita dan ada pesawat jatuh, aku khawatir kalau itu pesawat yang Papa tumpangi," ucap Luna


"Jangan alihkan pembicaraan Luna, mana pria itu? Apa benar kamu sama dia sudah tidur bersama?" tanya Jeno dengan suara sedikit keras, ia membuat Luna ketakutan dan mundur perlahan


Jeno tidak pernah semarah ini dengannya.


"Jawab," ucap Jeno seraya memegang kedua bahu Luna dan mengguncangkannya sedikit


"Pa...Maaafin aku, aku udah bohong sama Papa,"


"Bohong? Lalu foto itu? Hah?" tanya Jeno mulai mengurangi volume suaranya


"Itu juga bohong, itu editan," ucap Luna mengakuinya dengan menunduk


"Apa maksud kamu bohongin Papa? Papa sampai gak peduli kalau ada badai diluar sana. Papa kesini pakai pesawat jet cuma mau beri pelajaran sama pria yang kamu bilang pacar! Tapi... kenapa? Kenapa kamu malah bohongi Papa?" tanya Jeno


"Karena aku ingin tahu seperti apa perasaan papa ke aku. Papa udah tahu kan perasaan aku gimana, Aku cinta sama Papa," ucap Luna sedikit menangis karena dia takut dengan kemarahan Jeno


Jeno yang sudah tidak bisa menyembunyikan perasaanya lagi akhirnya mengungkapkan perasaanya lewat hasrat yang selama ini membuatnya tersiksa. Ia menyentuh tengkuk Luna, mendaratkan bibirnya ke bibir Luna secara tiba-tiba dan sedikit kasar, menyesapnya beberapa kali, menghirup aroma wangi yang keluar dari napas gadis yang telah lama di cintainya, dan menyalurkan hasrat yang selama ini disimpan.


Sementara Luna terkejut dengan apa yang ia terima. Bukan lagi sebuah kecupan melainkan ciuman dengan hasrat menggebu. Keduanya saling mengatakan perasaan lewat cumbuan.

__ADS_1


Jeno melepaskan cumbuannya, mengatur oksigen yang semakin menipis karena hasrat cinta membuat tubuhnya panas. Kemudian ia mengecupnya lagi, menyesapnya hingga aliran darahnya semakin memanas. Jeno menyentuh pinggang Luna merapatkan tubuhnya ke tubuh Luna, sementara Luna mengalungkan tangannya ke leher Jeno. Meski sedikit kasar namun Luna menikmatinya.


Semakin lama cumbuan kasar itu perlahan semakin lembut dan manis. Tak berapa lama Jeno dapat menguasai dirinya, ia sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan terhadap Marisa pun dia tak berani mengecup bibirnya. Tetapi Luna seakan-akan dapat menghipnotis dirinya untuk melakukan hal di luar batas.


Jeno melepaskan ciumannya dan menatap Luna dengan tatapan kasih sayang.


"Maafkan Papa, Papa gak bisa nahan diri," ucap Jeno melepaskan tangannya yang sedari tadi berada di pinggang Luna.


"Jadi... Papa juga...," ucap Luna yang belum selesai namun di potong Jeno


"Iya, Papa juga cinta sama kamu Luna, melebihi rasa cinta seorang Papa ke anaknya. Sejujurnya Papa ingin memiliki kamu," ucap Jeno dengan hati yang masih berdegup kencang


Tetapi rasanya sangat lega ketika perasaan terungkap.


"Astaga apa yang terjadi dengan kita?" tanya Jeno


"Jadi menurut Papa, cinta kita ini kesalahan?" tanya Luna


"Hmm jadi rupanya Papa sedang cemburu?" kekeh Luna seraya menggoda Papanya.


Ia pun mengajak Papanya untuk duduk di kursi, di depan televisi.


"Iya, jujur saja Papa cemburu. Dan lagi papa sampai gak nyangka saat lihat foto kamu yang tidur sama pria lain. Rasanya seperti ditusuk-tusuk," aku Jeno seraya duduk disamping Luna


"Mienya sampe dingin. Aku khawatir begitu dengar berita pesawat jatuh," ucap Luna


"Kamu belum jawab pertanyaan Papa,"


"Gak ada Pa, suer. Di hati Aku cuma ada Papa Jeno," ucap Luna kemudian mengecup pipi Jeno


Ada desiran kecil menggelitik hati saat Luna mengecup pipi Jeno

__ADS_1


"Ini nih aku kasih tahu foto aslinya trus aku edit," ucap Luna seraya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto asli yang ia ambil di google dan mengeditnya dengan menempelkan foto Luna dan Ji Min


"Syukurlah kalau kamu bisa menjaga diri,"


"Papa tuh yang gak bisa jaga diri, langsung nyosor aja," sahut Luna dan membuat Jeno terkekeh sedikit malu


"Kamu sekarang membahasakan diri dengan sebutan Aku. Biasanya nyebut pakai nama, kenapa?" tanya Jeno


"Mungkin karena kebiasaan tinggal sama teman disini Pa. Yaudah sekarang Luna rubah lagi bahasanya," sahut Luna mengambil mie nya tadi yang belum habis dan memakannya lagi.


Jeno yang melihat itu langsung mengambilnya dan berkata, "Jangan makan mie terus sayang, gak baik,"


"Siap pak dokter," sahut Luna, " Tapi Luna laper," tambahnya lagi.


"Di kulkas ada apa aja?" tanya Jeno seraya beranjak dari duduknya.


Ia berjalan menghidupkan lampu terang dan membuka kulkas yang ternyata isinya zonk.


"Hehe kosong Pa, mau beli mager," sahut Luna


"Astaga anak ini. Yaudah makan diluar yuk," ajak Jeno.


Malam itu pun mereka berjalan kaki mencari penjual makanan yang masih buka. Udara malam semakin dingin hingga udara napas mereka terlihat putih.


"Dingin ya?" Jeno meraih tangan kiri Luna yang dingin dan memasukkannya kedalam jaketnya. Jeno terus menggenggamnya, memberikan rasa hangat.


Perhatian Jeno membuat Luna semakin menyayanginya.


"Pa..." panggil Luna


"Hemm, apa?" jawab Jeno kemudian menoleh kearah Luna.

__ADS_1


"Jadi sekarang hubungan kita apa?" tanya Luna


__ADS_2