Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Permintaan Luna


__ADS_3

Luna bergegas keluar kamar seraya menghapus air matanya yang menetes. Baru saja ia mendengar bunyi alarm dari oven pertanda jika kuenya matang.


Segera saja Luna mengeluarkan kuenya dari oven dan mendinginkannya di meja dapur. Lalu tak lupa ia matikan ovennya.


Kemudian Luna mencuci muka agar lebih segar sembari menunggu kuenya dingin. Setelah itu Luna mulai membuat cream untuk hiasan kuenya. Tak berapa lama kue Luna sempurna untuk disajikan.


Luna menghampiri Jeno yang sedang berkebun dihalaman depan. Jeno duduk di tangga teras sambil melakukan cangkok pada bunga Kambojanya yang masih kecil dan tumbuh di dalam pot.


Tanpa aba-aba, Luna memeluk Jeno dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Jeno. Luna butuh sandaran. Dan saat ini pria itulah satu-satunya yang selalu ada kapanpun Luna butuhkan.


"Kenapa sayang?" tanya Jeno menoleh namun ia tak dapat melihat Luna. Yang terlihat hanyalah pucuk kepalanya.


"Luna mau nagih kado Papa buat Luna,"


"Loh katanya kasih tantangan,"


Luna melepaskan pelukannya dan duduk disamping Jeno.


"Tantangannya, kalau kue Luna enak, Luna mau nagih janji Papa," ucap Luna


"Masak yang kasih tantangan kamu sih, lucu deh," sahut Jeno


"Suka-suka yang ulang tahun dong," jawab Luna


"Hmm yaudah mana kuenya? Udah jadi belum?" tanya Jeno


"Tuh, di meja ruang tengah," jawab Luna masih lemas.


Jujur saja dia sedikit iba dengan Papanya, baru menikah dan belum berhubungan tetapi sudah ditinggal pergi selamanya dengan istrinya. Ia semakin sayang terhadap pria di depannya ini.


"Semangat dong, kok loyo gitu sih? Yaudah bentar Papa cuci tangan dulu," ucap Jeno kemudian masuk kedalam


"Wah ini sih kayaknya enak, kayaknya loh ya tapi Papa gak yakin hehe,"


"Ih, Papa ahh...," Luna kesal karena belum di coba Papanya sudah meremehkan.


Luna juga penasaran dengan rasanya, karena dia belum mencobanya.


Setelah mencuci tangannya di wastafel dapur Jeno menghampiri Luna yang duduk menunggunya di ruang tengah.


"Luna potong ya, tapi harus jujur ya sama rasanya,"


"Iya, jujur," jawab Jeno


Luna memotong kuenya dan menaruhnya di piring kecil. Lalu memberikannya pada Jeno. Jeno meraih piringnya dan mulai menyiapkan sesendok kue kedalam mulutnya


"Hmmm lumer, gak overcook, lembut, rasanya enak," ucap Jeno


"Yakin enak?" tanya Luna

__ADS_1


"Iya enak, makan aja sendiri," Jen kemudian mengambil lagi potongan kuenya dan melahapnya habis.


Luna yang penasaran langsung mencobanya sendiri. Dia tak menyangka, ini pertama kalinya membuat kue dan rasanya enak.


"Papa gak nyangka loh kamu bisa bikin, biasanya pertama kali bikin itu gosong. Atau bantet, berarti kamu ada bakat," puji Jeno


"Trus boleh dong Luna bilang apa permintaan Luna,"


"Iya boleh, apa dong?"


"Luna mau....,"


"Mau apa?"


"Luna mau...mau...jadi istrinya Papa,"


"Uhuk-uhuk," Jeno yang masih makan kue buatan Luna kemudian terbatuk-batuk, sampai ia menepuk dadanya tapi tetap saja dirinya masih tersedak.


Jeno pun lari ke meja makan dan mengambil air mineral yang memang tersedia di sana. Segera pria itu meminum airnya lagi hingga tak tersedak.


"Luna, permintaan kamu itu...," ucapan Jeno terhenti saat melihat Luna tertunduk malu dan sedih


"Impossible?" Lanjut Luna


"Hmm i-iya," jawab Jeno


"Tapi Luna jatuh cinta sama Papa," Luna dengan polosnya dan terang-terangan mengatakan cinta pada Papanya.


"Kamu belum dewasa Luna, kamu belum mengerti mana cinta yang sesungguhnya," ujar Jeno pelan.


"Luna tahu Pa, dan Luna yakin sama perasaan Luna, ini bukan perasaan main-main. Luna cinta sama Papa seperti wanita yang mencintai pria pada umumnya," ucap Luna sembari berdiri dan berjalan mendekati Papanya


"Dan kalaupun perasaan itu benar, kamu gak mungkin menikah sama Papa yang sudah tua ini sayang....," ucap Jeno masih bernada lembut


"Faktanya, Luna cinta sama Papa dan Luna ingin menikah dengan Papa. Titik!" Luna pun pergi ke kamarnya setelah mengungkapkan keinginannya


Sementara Jeno berdebar hebat, tak mengerti apa yang harus ia lakukan dengan situasi yang sedang dihadapinya kini.


"Papa juga cinta sama kamu Luna, tapi apa pandangan orang nanti," gumam Jeno pelan.


Ia pun pergi ke rumah Marten untuk menceritakan isi hatinya. Jeno butuh teman. Tetapi Marten tak dirumah, ia sedang berlibur dengan keluarganya. Akhirnya ia ke rumah Haris, yang lokasinya lebih jauh dari rumahnya.


"Masuk No, kamu kenapa? Kayak orang panik gitu," tanya Haris


"Biasa, Luna siapa lagi orang yang sering aku curhatin ke kamu," ujar Jeno


"Haha emang kenapa Luna, eh hari ini dia ulang tahun kan?" tanya Haris


"Iya, dia ulang tahun dan dia ingin sebuah permintaan dan harus aku kabulkan. Tapi bikin pusing," ujar Jeno

__ADS_1


"Emang apa sih yang dia minta, kamu kan banyak duit, kabulin lah kan anak tersayang," sahut Haris


"Hmm dia minta nikah sama aku, konyol kan?" ucap Jeno


"Haha serius?" Haris malah tertawa


"Malah ngetawain," dengus Jeno sembari melirik tajam kearah Haris


"Bentar deh, aku kasih solusinya. Aku buatin kamu minum dulu ya kayaknya haus tuh,"


"Loh istri kamu mana? Trus pembantu kamu?" tanya Jeno


"Mereka liburan sama mertua aku, pembantuku cuti tahun baru," ucap Haris sembari masuk ke dapur


Tak berapa lama Haris kembali dengan dua gelas teh hangat dan cemilan ringan.


"Rokok gak?" tawar Haris


"Enggak, aku dah berhenti ngerokok sejak ngerawat Luna," jawab Jeno


"Minum dulu deh, tenang ga beracun kok. Aku sambil ngerokok ya," ucap Haris seraya menyulutkan api pada rokoknya.


Jeno pun mulai minum teh hangat buatan Haris yang super manis, padahal Jeno anti manis. Tapi karena saking stressnya dia sampai meneguk habis teh hangat buatan Haris itu.


"Gini ya No, tempo hari kan aku tanya, kamu sama Marisa udah pernah gituan belum? Kalau belum kamu sah sah aja sih nikah sama Luna," jawab Haris sembari menghisap rokoknya


"Kalau seorang ayah yang hendak menikah dengan putri tirinya belum pernah menggauli ibu dari anak tirinya (istrinya) maka menikahi anak tirinya hukumnya adalah boleh (halal), dengan catatan ketika menikah dengan anak tirinya ia sudah tidak mempunyai hubungan lagi dengan ibu anak tirinya tersebut, yaitu bercerai, baik bercerai karena meninggal dunia ataupun tidak. Dan sebaliknya, lalau sudah pernah melakukan hubungan badan dengan istrinya (ibu dari anak tirinya) maka menikahi anak perempuan tirinya tersebut haram hukumnya, bahkan keharaman menikahi tersebut bukan hanya kepada anak perempuan tirinya saja, melainkan juga haram hukumnya untuk menikahi cucu-cucu tiri dari istrinya," jelas Haris


"Iya aku tahu, masalahnya apa masyarakat akan percaya kalau aku belum pernah menggauli Marisa. Gak ada buktinya Ris, dan lagi aku udah tuwir, kayak gak ada cowok lain aja," ucap Jeno


"Kalau Luna sama cowok lain, apa kamu rela? Kamu juga gak sanggup kan lihat dia menikah sama orang lain?"


"Umur dia belum dewasa, baru 17 tahun dan masih bisa berubah jalan pikirannya,"


"Aku gak ngerti deh, ditanya apa jawabannya apa. Kamu takut kan kalau perasaan Luna ke kamu berubah seiring dia tumbuh dewasa? Gitu kan maksud kamu?" ucap Haris meluruskan maksud ungkapan Jeno


"Ya gitu,"


"Kalau sama-sama cinta ya udah jalanin aja No, toh nikahnya gak langsung sekarang kan. Keburu Luna ngambek lagi loh," ucap Haris


Jeno pun menimbang ucapan Haris yang ada benarnya. Tapi dia masih ragu, menerimanya atau menolaknya.


Yang nyatain cinta kok malah si Luna, gimana ini?


.


.


.

__ADS_1


Note:


Argumen atau dalil yang digunakan para ulama di atas bersumber pada firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisa’: 23) yang memiliki arti, "Dan anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang ada dalam pangkuan (asuhan( kalian dan telah kalian gauli istri (ibu dari anak tiri) tersebut maka haram untuk dinikahi, tapi jika kalian belum menggauli istri-istri (ibu dari anak tiri) tersebut maka halal bagi kalian untuk menikahinya."


__ADS_2