Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Maaf


__ADS_3

Jeno tahu Luna sedang pura-pura tidur. Tapi ia berpura-pura tidak tahu. Kemudian muncul ide jahil dalam dirinya. Luna pun di lempar ke tempat tidurnya


"Awww! Sakit Pah!" pekik Luna


Sebenarnya tidak sakit karena jatuhnya di ranjang double busa yang super duper empuk kualitas Sultan. Jeno juga melemparnya dengan pelan. Hanya saja Luna terkejut dan membuat tubuhnya ikut terkejut.


"Salah sendiri pura-pura tidur," ucap Jeno kemudian melirik ke arah jendela kamar Luna


Kaca jendelanya di penuhi beberapa lembar kertas dari majalah. Jeno menatap Luna dan bertanya, "Kenapa di tutup seperti itu?"


"Hmm hehe takut Papa ngintip," ujar Luna dengan jujur. Dia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur


Jeno tersenyum manis dengan raut wajahnya yang lelah. Ia duduk di tepian ranjang Luna dan berkata.


"Iya kemarin itu Papa yang mengintip, tapi bukan dalam tanda kutip. Papa hanya ingin tahu apa yang kamu lakukan pada jam larut saat itu. Kamu kan sedang ngambek jadi ya terpaksa Papa berbuat seperti itu," sahut Jeno yang langsung menjelaskan apa yang terjadi kemarin.


"Oh hehe maaf ya Pa sudah berpikir yang bukan-bukan. Kemarin Luna sedang belajar karena besok hmm tepatnya pagi tadi, Luna ujian," ujar Luna yang sudah terlihat tidak mendiamkan Jeno lagi


"Ya sudah, sekarang kamu tidur. Udah malem, Papa capek mau mandi dulu," ucap Jeno seraya beranjak dari duduknya


Luna langsung beranjak dan memeluk Jeno dari belakang. Mulutnya sedari tadi susah untuk bicara mengatakan kata maaf.


Kemudian Luna menangis terisak menyesali perbuatannya. Jeno menyentuh tangan Luna yang berada di perutnya.


"Kenapa nangis?" Jeno melepaskan tangan Luna yang memeluknya erat. Kemudian berbalik menatap Luna yang sudah memerah wajahnya karena menangis


"Maafin Luna Pa.... hiks,"


Luna semakin terisak, ia menunduk tak berani menatap Jeno. Kemudian Jeno menarik dagu Luna keatas agar ia bisa melihat wajah Luna.

__ADS_1


"Papa selalu memaafkan mu Luna. Papa juga minta maaf karena merahasiakan semuanya dari kamu. Itu semua ada alasannya,"


"Papa jangan anggap Luna orang asing ya.... hiks, Luna gak sanggup kalau Luna berpisah sama Papa, Luna sayang papa,"


Pluk


Sebuah pelukan membuat Jeno melupakan rasa sakit hatinya yang pernah Luna lontarkan padanya. Juga perasaan lain yang datang menghampirinya, perasaan rasa kasih sayangnya yang melebihi batas.


"Mana mungkin sih Papa anggap kamu orang lain hah? Kamu itu Putri Papa,"


Lalu Luna mendengar dentuman jantung sang Papa yang seperti bermain drum.


"Jantung Papa kok cepet banget suaranya?" tanya Luna melepaskan pelukan sembari mengusap air matanya


"Kaget tadi kamu tiba-tiba nabrak Papa," Jeno beralibi padahal karena sebuah chemistry yang tak bisa di gambarkan


"Sekarang Luna duduk, Papa akan mengatakan cerita lalu yang Mama kamu alami. Kali ini Papa tidak akan menutupi semuanya,"


"Pa ceritanya jangan sambil duduk ya, soalnya Luna udah ngantuk,"


"Kalau gitu besok aja,"


"Sekarang aja, Luna tiduran, Papa juga tiduran disebalah Luna. Papa juga capek kan? Seperti waktu kecil, Papa kan selalu dongengin cerita sebelum tidur hehe,"


Sekarang beda Luna, kamu udah besar. batin Jeno


"Ya udah," ucap Jeno


Luna langsung kembali ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di ranjang sebelah kiri sementara Jeno duduk bersandar di sebelahnya sembari menjaga jarak

__ADS_1


"Sini Pa, tiduran. Jangan duduk. Nanti capek punggungnya," ucap Luna.


"Papa duduk ya," ucap Jeno.


"Hemm yaudah deh, cus langsung cerita Pa,"


Dan akhirnya Jeno menceritakan semua kejadian dimulai saat ia bertemu dengan Marisa, kehilangan Marisa dan sampai saat Jeno memilih merawat Luna sendirian.


Luna menangis pilu mendengar kisah cerita Marisa yaitu Mama kandungnya. Ia juga bersedih mendengar cerita Papa kandungnya, Ahmad meninggal sebelum melihat dirinya terlahir ke dunia.


Setelah bercerita segala pilu dan kesedihan Jeno bercerita tingkah lucu Luna saat kecil untuk melupakan kesedihan. Tak berapa lama, Luna sudah tertidur.


Jeno melihat Luna yang sudah tertidur, ia lalu menyelimuti Luna hingga batas dada kemudian mengusap kepalanya tanda sayang. Setelah itu ia mengecup kening Luna seraya berbisik pelan.


"I Love You,"


Jeno pun pergi meninggalkan kamar Luna dan menutup pintunya.


Setelah pintu kamar tertutup, Mmata Luna terbuka lebar. Dia terkejut apa yang Jeno katakan. Rupanya Luna belum tertidur pulas, ia masih bisa mendengar apa yang dikatakan Papanya itu.


"Dia mengatakan hal itu lagi," gumam Luna dengan suara berbisik.


Pikiran Luna berkecamuk, di satu sisi entah kenapa dia merasakan senang. Disisi lain arti kata itu begitu ambigu karena Luna bukan darah dagingnya.


Luna berbalik badan menghadap ke arah sebaliknya. Ia mencoba untuk menutup mata dan tidur, tapi yang ada wajah Jeno yang sedang tersenyum muncul di bayangannya.


"Gak! Gak boleh mikir macam-macam," sahut Luna kemudian memaksakan matanya untuk terpejam.


Ia pun mencoba untuk berdzikir dalam hatinya dan tak berapa lama Luna pun tertidur.

__ADS_1




__ADS_2