Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Akal Bulus


__ADS_3

Keesokan harinya, Luna menemui dosen pembimbingnya lagi. Dia menyelesaikan skripsinya dengan cepat. Tinggal satu langkah lagi ia bisa mendaftarkan diri untuk ujian skripsi.


Beruntung Luna mendapatkan dosen pembimbing yang gampang ditemui karena beberapa temannya sering mengeluh kalau dosen mereka sering tidak masuk dan pergi karena alasan dinas keluar.


Sekarang Luna sedang duduk di hadapan dosen pembimbingnya, menunggu sang dosen selesai memeriksa berkasnya.


"Hemm udah bagus, mana jurnalnya yang perlu saya tandatangani?"


"Sebentar Bu," Luna membuka mapnya yang beresleting dan mencari jurnal skripsi, kemudian memberikannya kepada Bu dosen pembimbing, "Ini Bu jurnalnya,"


Sang dosen pun menerimanya dan langsung menandatangi jurnal tersebut dengan keterangan 'ACC sudah bisa pengajuan untuk skripsi sebagai syarat pendaftaran sidang skripsi'.


"Kamu bisa daftarkan sidang skripsi setelah ini," ucap dosen pembimbing


"Alhamdulillah, berarti ini sudah benar Bu? bisa langsung di cetak atau gimana?"


"Ya daftar dulu biar dapat nama dosen penguji nya. Kan kamu perlu cantumin nama mereka nanti. Nanti kamu cetak 4 buku, dua untuk dosen penguji. Satu untuk kamu dan satunya untuk kampus. Tapi jangan pakai hard cover dulu bikin aja pakai cover biasa. Soalnya setelah skripsi pasti ada perevisian, nah setelah revisi dan acc baru di cetak hard cover. Di jurnal situ ada ukurannya kok. Dipelajari ya nanti kalau tidak mengerti bisa tanya saya atau teman yang lain," sahut dosen pembimbing yang sedang menyiapkan beberapa buku karena sebentar lagi sudah waktunya mengajar.


"Oh terimakasih Bu, kalau begitu saya permisi," sahut Luna kemudian berpamitan dengan membungkukkan sedikit badannya.


Segera saja Luna mendaftarkan diri untuk ujian skripsi. Ia ke ruang progdi menghubungi pihak fakultas untuk mendaftar ujian skripsi, menentukan siapa dosen pengujinya serta waktu dan tempat pelaksanaan.


Luna tidak langsung mendapatkan jadwal sidang. Pihak kampus akan memberikan pengumuman keesokan harinya. Pengumuman itu terkait nama Dosen penguji, nama Dosen pembimbing yang ikut sidang skripsi, nama Luna sebagai peserta ujian, waktu ujian (hari, tanggal dan jam), tempat (ruang ujian), berkas yang dibawa seperti form penilaian.


Setelah mendaftar dan menyelesaikan pembayaran untuk ujian, Luna bergegas keluar ruangan administrasi. Ia melihat Arya melintas di depannya tanpa menyapa dirinya.


"Arya," panggil Luna


Arya menoleh dengan wajah murung tak semangat


"Hemm," ucap Arya masih berdiri ditempatnya


"Kamu kenapa sih, lemes gitu? Sakit?" tanya Luna menghampirinya


Iya... aku sakit... sakit hati batin Arya


"Enggak kok lagi bad mood aja. Aku duluan ya takutnya dosen pembimbing ku pergi lagi," ucap Arya kemudian pergi meninggalkan Luna begitu saja


"Ihh dasar Arya, padahal kan pengen bilang kalau aku bentar lagi mau sidang," gumam Luna tapi Arya sudah pergi menjauh.


Lama juga Luna di kampus sedari pukul sepuluh pagi, hingga pukul Lima sore. Ia pun segera pulang ke rumah setelah seharian sibuk dengan laporan skripsi yang harus di cetak untuk persiapan.


.


.


Malam itu Jeno pergi ke kafe untuk ngopi sebentar setelah seharian sibuk mengurusi berkas laporan di rumah sakit.


Keuntungan yang di dapat setelah dikurangi biaya ini itu dan gaji karyawan, suster serta dokter diputar kembali dan rencananya dia ingin memperbesar lahan untuk tempat parkir agar tidak mengganggu jalan. Karena lahan parkirnya terus penuh.

__ADS_1


Kopi adalah salah satu jalan penenang pikirannya. Sebelum masuk ke kafe, baru saja turun dari mobil. Seseorang menghampirinya.


"Jeno,"


Jeno hapal dengan timbre suara wanita itu, suara nyaring dan centil siapa lagi kalau bukan Tika. Ia pun menolehkan wajahnya. Belum sempat membalikkan badan Tika sudah berada di sampingnya.


"Kamu kenapa sih gak pernah balas SMS ku, telfon ku juga gak kamu angkat. Apa kamu masih marah soal kemarin? " tanya Tika dengan lemah gemulai yang dibuat-buat


"Aku sibuk jadi gak sempat balas SMS kamu," ucap Jeno seraya berjalan masuk kedalam kafe.


"Aku tahu kamu masih marah sama aku. Please No, maafin aku," ujar Tika seraya menggenggam lengan Jeno dengan kedua tangannya dan mengguncang-guncangkannya sedikit.


Jeno merasa risih, ingin rasanya dia kembali lagi dan pulang.


"No, kamu mau kan maafin aku,"


"Kalau aku bilang enggak pasti kamu ngotot biar aku jawab iya, ya kan?" ujar Jeno kemudian langsung memesan kopinya di meja bar kafe. Ia duduk di depan meja Bar


"Ih kamu tuh jangan dingin-dingin kenapa sih," Tika langsung duduk di kursi samping Jeno


"Manusia kan tempatnya salah No, maafin aku dong," sahut Tika lagi


"Iya aku maafin, aku juga udah lupain masalah itu. Tapi kamu harus minta maaf sama Luna. Kamu pernah jambak rambutnya dengan kasar dan aku gak terima," sahut Jeno tegas.


"Pasti Luna ya yang ngadu, aku tuh gak jambak, aku cuma narik bajunya aja tapi ketarik rambutnya," ucap Tika beralibi


"Hemm tapi sumpah aku gak ada niatan buat kasarin dia, yaudah nanti aku kerumah kamu deh buat minta maaf sama dia," ucap Tika yang memohon sambil memegang tangan Jeno


"Luna ngekos, kapan-kapan aja kalau mau ketemu dia," ucap Jeno


"Mas, saya ke toilet sebentar ya," sahut Jeno pada barista kopi yang sedang meracik kopi pesanannya


"Iya Pak," ucap si barista


"Aku tunggu disini ya No," ucap Tika saat Jeno sudah pergi.


Hmm aku ada ide biar Jeno gak bisa menjauhiku, untung aku bawa, batin Tika dengan senyum nakalnya


Setelah kopi selesai di racik sang barista menaruhnya di meja tempat tadi Jeno duduk. Sementara Tika melihat kanan dan kiri memastikan keadaan aman, kemudian ia memasukkan cairan obat tidur sebanyak dua tetes. Karena merasa kurang Tika menambahkannya lagi satu tetes.


Jeno keluar dari toilet dan langsung menuju tempat duduknya di depan meja bar tadi. Ia menoleh pada Tika yang sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu gak pesan kopi?"


"Itu lagi dibuat," ucap Tika kemudian merapatkan duduknya di dekat Jeno


"Kita selfie yuk, aku gak punya foto kamu soalnya,"


"Ah gak ah, aku gak mau," tolak Jeno

__ADS_1


"Hemm yaudah deh," ucap Tika kemudian seorang Barista kopi memberikan pesanan Tika.


Mereka menyesap kopi yang terasa nikmat. Sementara Tika harap-harap cemas, ia berharap obat tidur itu bekerja sebelum Jeno pulang .


"Aku usah selesai, aku pulang ya?" ucap Jeno


"Eh tunggu dong, aku belum selesai," sahut Tika.


"Kamu bisa pulang sendiri kan? Aku makin pusing ini, malah kayaknya ngantuk. Duluan ya. Kopi kamu biar aku yang bayarin, " ucap Jeno yang langsung pergi ke kasir.


Kemudian Jeno beranjak pergi, sementara Tika kehabisan akal untuk menunda perginya Jeno.


"Makasih ya No, hemmm boleh nebeng pulang gak? Mobil aku mogok di depan kafe trus pas kebetulan aku lihat kamu jadi kesini deh hehe," sahut Tika


"Hemm yaudah nanti aku anterin," ucap Jeno.


Singkat cerita, mereka sudah masuk di dalam mobil. Tika cemas kenapa obat itu belum juga bereaksi, akhirnya di tengah jalan Tika minta berhenti di sebuah mini market untuk membeli pembalut alasannya sih sebentar sehingga Jeno menunggunya di dalam mobil.


Tika sengaja berlama-lama agar Jeno terlelap tidur didalam mobil.


Beberapa menit kemudian, Tika kembali ke mobil dengan perasaan senang. Benar dugaannya Jeno telah tidur.


Dengan susah payah ia menarik tubuh Jeno ke samping kemudi. Setelah itu Tika mengemudikan mobilnya dan membawanya menuju rumah.


Sesampainya di rumah Tika bingung bagaimana cara membawa Jeno masuk ke kamar. Ia pun memanggil beberapa pemuda yang sedang nongkrong di pos dekat rumah dan memintanya untuk membawa Jeno kedalam kamar. Tika membuka pintu rumahnya, ia mendapatkan kunci rumah Jeno yang ada di saku bajunya


"Dokter Jeno sakit? Kok gak dibawa ke rumah sakit?" tanya salah satu pemuda


"Oh enggak, dia gak sakit. Dia habis mabuk, hehe makasih ya," ucap Tika setelah pemuda tersebut berhasil membawanya ke kamar.


"Loh ibu ini siapa ya?" tanya salah satu pemuda.


"Saya sepupunya yang tinggal diluar negri," aku Tika


"Oh begitu, yasudah kami permisi ya tante," sahut beberapa pemuda.


"Ini buat kalian, tapi jangn bilang-bilang ya kalau dokter Jeno ini mabuk takutnya imagenya buruk. Ini karena pesta temannya tadi ada permainan tantangan gitu," sahut Tika sembari menyodorkan uang enam ratus ribu rupiah untuk tiga pemuda yang membantunya


"Wah terimakasih tante, tenang aja aman ya genks," ucap salah satu pemuda


Pemuda itu pun pamit setelah mendapatkan uang dari Tika.


"Sekarang saatnya melancarkan aksi ku, ahh Jeno impian ku," gumam Tika seraya menutup pintu rumahnya.


Ia melenggang masuk dengan centil karena girangnya. Kemudian masuk ke kamar Jeno sambil di pandanginya paras bule yang mancung dan berjanggut tipis.


Tika duduk di samping ranjang Jeno dan membelai wajahnya kemudian mengecupnya sepuas hatinya.


Entah setan apa yang merasuki Tika. Lalu apa yang akan dilakukan Tika. Apakah ia akan membelai anaconda yang selama ini dijaga oleh Jeno?

__ADS_1


__ADS_2