Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Dalam Diam


__ADS_3

Malam harinya, Jeno pulang hingga larut. Saat sampai di rumah ia langsung mengecek keadaan rumah yang bersih, tidak berantakan dan senyap.


Biasanya ruang tamu selalu penuh dengan majalah, ruang tengah meja dan kursi bahkan lantai selalu penuh dengan remahan cemilan terkadang juga tisu. Meja makan pun sudah bersih terlebih dapur.


"Apa Luna yang bersihkan semuanya? Atau dia seharian tidak dikamar. Tapi kalau dia dikamar, piring makan tadi siang seharusnya masih ada di meja makan. Hemm berarti Luna yang membereskan semuanya.


Lampu kamarnya masih terang, Kemungkinan Luna masih terjaga tapi apa yang dilakukan anak gadis itu pada waktu hampir jam 12 malam?


Jeno kemudian keluar ke halaman belakang, ingin tahu apa yang dilakukan Luna dari balik jendela kamarnya. Terlihat dari kaca jendela yang sedikit tertutup tirai, jika Luna masih berada di meja belajarnya. Sesekali ia menulis sesekali ia membalik balikkan buku untuk mencari jawaban.


Rupanya dia belajar, baguslah. Tapi kenapa belajar selarut ini, batin Jeno


Saat Jeno ingin pergi, ia malah menginjak botol minum yang kosong. Luna langsung beranjak dari duduknya dan membuka jendela kamar. Sementara Jeno segera berlari agar tidak ketahuan.


"Hmm aneh tadi seperti ada suara botol terinjak, apa itu Papa?" gumam Luna pelan.


Pikiran negatif pun langsung mengerubungi otak Luna, ia berpikir jika Jeno seorang yang mesum. Lantas Luna mengambil beberapa majalah kemudian menyatukannya, dengan tempelan isolasi dan membuat kertas tersebut selebar jendela Luna. Kemudian Luna menempelkan kertas majalah itu di kaca jendela kamarnya.


Ia membersihkan tangannya yang sedikit terkena debut sambil berkata, "Beres,"


.


.


.


Keesokan paginya Jeno dan Luna dipertemukan lagi di meja makan. Jeno tidak memasak. Luna pun tidak. Ada satu bungkus roti tawar berisi 10 lembar, selai kacang.


Tak ada sapaan, semua saling acuh. Jeno diam, dia juga tak menyapa Luna saat datang ke meja makan. Ia sengaja membiarkan Luna yang menegur dirinya dahulu.


Jeno hanya memakan roti dan menikmati satu cangkir kopinya sambil membaca laporan keuangan lewat laptopnya. Sementara Luna mengambil beberapa lembar roti dan mengisinya dengan selai kacang. Kemudian Luna beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat Luna ke dapur. Jeno menutup laptopnya dan pergi dari ruang makan. Ia meninggalkan satu cangkir kopi yang belum habis. Sepertinya Jeno terburu-buru untuk pergi, tak lupa ia menutup pintu rumah dan membawa kunci cadangan.


Jeno juga tidak menawarkan tumpangan untuk ke sekolah. Luna menganggap dirinya sudah besar, maka Jeno hanya menuruti keinginannya untuk membiarkan gadis itu melakukan semuanya sendirian.


Saat memakan beberapa gigitan rotinya, Luna melempar roti dengan pelan ke piringnya.


"Huftt rasanya tidak enak seperti ini. Benar-benar seperti orang asing....., Aku rindu makan bersama dengan Papa sambil bercerita apapun," Mata Luna mulai memerah, ada genangan air yang membendung di pelupuk matanya. Saat Luna memejamkan matanya genangan itu terjatuh.


Ia menangis, tak kuat jika harus bermusuhan dengan orang yang selama ini selalu hadir dalam hidupnya. Dia tak mengenal siapapun. Luna hanya mengenal Jeno sebagai orang yang menyayanginya.


Di usapnya air mata yang membanjiri pipinya, kemudian mengambil roti dan menghabiskannya. Lagi-lagi Luna menangis. Setelah itu ia minum teh hangat buatannya dan bergegas ke sekolah.


Luna memakai sepatunya di teras rumah kemudian menutup pintu dan menguncinya. Dan menunggu ojek online pesannya.


.


.


.


Sambil menunggu nasinya matang, Luna melihat di kulkas bahan apa saja yang bisa dimasak. Ada Tempe, ada tahu, lombok merah dan hijau. Kemudian di samping rak piring ada bumbu lain seperti garam, gula, penyedap rasa, kemiri, bawang merah dan putih dan lain sebagainya.


"Bikin apa ya enaknya, goreng ajalah tahu ma tempenya trus buat sambel," gumam Luna.


Beberapa menit kemudian nasi telah jadi, begitupun juga lauknya. Luna kemudian menyantap masakannya di meja makan. Namun terasa ada yang kurang siang itu. Tidak ada Jeno, Papanya. Biasanya Jeno selalu pulang kerumah dan membuat makan siang untuk dirinya dan Luna.


Luna baru mengerti bagaimana repotnya Jeno, yang harus bekerja sekaligus mengurus dirinya. Lagi-lagi Luna menyesal telah mengatakan hal buruk kepada Ayahnya. Dia akhirnya tahu bagaimana pengorbanan Jeno selama ini.


Luna berniat ingin meminta maaf saat Jeno pulang.


.

__ADS_1


.


.


Malam harinya sudah pukul sembilan malam, Jeno juga belum pulang.


"Apa Papa lembur lagi ya, hoamm capek nungguinnya," kata Luna yang berbicara sendiri


Tak berapa lama terdengar suara pagar yang dibuka serta suara mesin mobil. Namun Luna malah gugup ia pun akhirnya pura-pura tertidur di sofa ruang tamu.


Jeno masuk dan melihat Luna terbaring di sofa. Kemudian dihampiri putrinya itu, Jeno ingin membangunkannya tapi sepertinya tidurnya sangat pulas sampai-sampai mulutnya ternganga.


Pria itu pun berjongkok di dekat Luna dan menutup mulutnya, membelai rambutnya serta pipinya.


"Kamu bukanlah beban ku, tapi semangat hidupku. Selamanya aku mencintaimu," gumam Jeno pelan.


Namun Luna yang sedang berpura-pura tertidur dapat mendengarnya dengan jelas.


Apa? Mencintaiku? batin Luna, hatinya ikut berdebar saat Jeno mengatakan itu


Kenapa aku jadi mikir yang bukan-bukan sih, mungkin maksudnya sebagai Papa dan anak, batinnya lagi


Jeno tak jadi membangunkan Luna, ia pun mengangkat Luna dan membawanya ke kamar tidur putrinya itu.


Ini pertama kalinya Papa gendong aku setelah sekian lama, tapi kenapa rasanya begitu nyaman dalam gendongannya, pikir Luna yang malah membenamkan wajahnya kedalam dada Jeno


Jeno merasakan pergerakan kepala Luna, ia pun tersenyum. Sementara Luna tersadar akan tingkahnya yang malah menduselkan wajahnya di dada Jeno.


Saat Jeno membuka pintu dengan sikutnya, Luna mengintip. terlihat jelas wajah Papanya yang begitu kekar mengangkat dirinya. Luna menutup matanya lagi agar tidak ketahuan tapi Jeno sudah menangkap Luna yang tadi mengintip.


Astaga anak ini rupanya pura-pura tidur. Jadi....tadi dia dengar ucapanku dong? batin jeno

__ADS_1


__ADS_2