Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Malaikat Darat


__ADS_3

Setibanya di rumah, Luna turun membukakan pagar untuk Jeno. Kemudian dia membuka kunci pintu rumahnya.


Jeno yang sudah memarkirkan mobilnya langsung memanggil Luna.


"Luna, kamu rebahan dulu. Nanti papa periksa kondisi kamu," ucap Jeno sembari mengunci pagarnya kembali.


"Luna gak sakit Pah," ucap Luna seraya masuk kedalam setelah berhasil membuka kunci pintu rumahnya.


"Loh tadi kenapa lama ke toilet trus pake bilang mules?" tanya Jeno menghampiri Luna kemudian mengunci pintu rumahnya kembali


"Hehe Luna kan mau jodohin Papa tadinya, makannya lama di toilet,"


"Trus bilang kenapa pake bilang mules? Atau kamu berubah pikiran ya? Hemm?" tanya Jeno


"Itu hehe abis Tante Maya agak genit juga sama Papa jadi Luna tiba-tiba gak suka," ucap Luna dengan alasan yang lain padahal karena dia masih tidak rela jika Papanya menikah dengan orang lain.


"Kamu ini ya, harus Papa kasih pelajaran nih, " ucap Jeno seraya menggelitik pinggang dan perut Luna


"Hahaha geli Pah haha," Luna tertawa kegelian


"Kalau besok-besok sakit beneran yang ada Papa jadi susah untuk percaya, ini Papa gelitikin biar jera,"


"Hahaha emangnya Luna ga bisa balas hahah nih," ucap Luna seraya membalas serangan Papanya. Ia tahu betul bagian mana yang paling membuat Jeno geli, yaitu bawah ketiak.


Pria itu pun kegelian kini yang menang adalah Luna. Jeno menjatuhkan dirinya di sofa, sementara Luna tersandung kaki meja. Posisi mereka pun jadi bertumpu kan.


Luna menghentikan aksi gelitikannya sembari memandangi Jeno. Jeno mulai mereda tawanya lalu ia langsung terdiam saat menyadari posisi Luna yang berada diatas tubuhnya.


Papa seperti Malaikat Darat, Tampan, Baik, Penuh kasih sayang. Aku yakin ini perasaan lain. Ya Allah kenapa aku harus jatuh cinta dengan Papa sambung ku sendiri, batin Luna


Luna beranjak berdiri dan berkata, "Hemm hehe maaf Pah, Luna kesandung meja,"


Ia pun jadi salah tingkah sembari menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Iya, yaudah kamu ke dalam. Bersih-bersih badan trus tidur," ucap Jeno kemudian berdiri dan mengelus kepala Luna.


"Iya Pa,"


"Papa juga mau tidur cepat. Jangan pernah jodohin Papa lagi ya?" ucap Jeno seraya masuk kedalam kamarnya.


Cepat-cepat ia masuk dan menutup pintu kamarnya dan mengelus dadanya.


"Astaga kalau aku gak tahan iman, bisa-bisa aku kebablasan. Gak boleh. Aku harus tahan diriku. Lebih baik aku simpan perasaan ini sampai maut menjemputku," pikir Jeno.


Ia langsung membuka bajunya dan meletakkannya ke pakaian kotor dekat lemari. Lalu mengambil baju bersih dan mulai ke kamar mandi.


Tiba-tiba ada sebuah ketukan pintu dan membuat Jeno berbalik


"Pa...., ada tamu," panggil Luna seraya mengetuk pintu kamarnya


Ceklek


Jeno langsung membuka pintu kamarnya. Sementara Luna menatap sepersekian detik, otot-otot tubuh Papanya. Meski sudah berumur pria itu selalu menjaga kondisi tubuhnya.


"Hemm siapa ya...., " seketika Luna hilang ingatan


"Kamu kenal gak?" tanya Jeno lagi


"Oh iya Luna inget, om Haris," sahut Luna.


"Hemm masa gitu aja lupa," ujar Jeno terkekeh. Ia pun menghampiri Haris dengan menyampirkan handuk di pundaknya dan dengan tanpa mengenakan atasan.


Sementara Luna yang baru tahap pendewasaan merasakan debaran jantung yang tak menentu. Seperti ada yang menyetrum dirinya. Ia lalu masuk ke kamar dan menghilangkan pikiran kotornya.


Tak berapa lama Luna keluar lagi, dia lupa harus menyuguhkan minuman untuk tamu Papanya.


"Ada apa Ris?" tanya Jeno setelah sampai di ruang tamu.

__ADS_1


"Kamu mau mandi? Aku lagi ada masalah No, kamu mandi aja dulu biar enakan ngobrolnya,"


"Aku mandinya lama loh,"


"Mandi apaan? Mandi kembang?" ujar Haris


"Haha biasa sambil konser," ucap Jeno alias mandi sambil bernyanyi.


"Astaga, trus direkam gitu suaranya,"


"Haha yo'i,"


Tak berapa lama Luna datang membawakan dua gelas teh hangat untuk Jeno dan Haris


"Om Haris, diminum dulu ya tehnya,"


"Makasih ya cantik, makin cantik aja kamu Lun," rayu Haris


"Haha bisa aja Om Haris," Luna terkekeh,


"Beneran cantik, kalau Om masih muda nih ya Om langsung lamar kamu Lun, hehe," ucap Haris lalu melirik ke arah Jeno sementara Jeno melotot kan matanya.


"Hehe canda bro, Canda ya Lun. Kalo Papanya kayak Jeno, Om Haris kabur duluan deh ehhe, "


"Ih masak takut sama Papa sih," Luna kemudian duduk di seberang kursi Haris dan Jeno


"Loh kamu gak tahu ya, Papa mu ini jago bela diri, Karatenya dah sabuk hitam. Dulu tuh waktu muda, Dia suka nangkapin maling di kompleks loh ahaha, " ucap Haris sengaja memberitahukan siapa Papanya dahulu


"Ih serius, benaran Papa bisa bela diri?" tanya Luna


"Jangan berlebihan deh Ris, yaudah aku mandi dulu ya," ucap Jeno yang malu sendiri


"Beneran lah, Ya biar Luna tahu kelebihan Papanya gak cuma dokter,"

__ADS_1


"Rupanya Papa bener-bener malaikat tak bersayap. Malaikat daratnya Luna," sahut Luna dengan polosnya


Dan Haris makin tertawa dibuatnya. Sementara Jeno makin membesar kepalanya.


__ADS_2