
Malam harinya, Jeno baru pulang ke rumah. Saat pria itu memasuki kabarnya, ia melihat dari jauh di meja makannya sudah tersiap menu makanan yang berbeda.
Jeno berjalan ke ruang makan dan melihat jika makanan tersebut masih hangat dan belum berkurang. Ia pun menghampiri Luna di kamarnya
Tok Tok Tok
"Luna...., Kamu sudah makan belum?" Seru Jeno
Tak ada jawaban dari dalam kamar, Jeno mengetuk pintu lagi tapi baru sekali ketukan Luna keluar dengan wajah sembabnya.
"Baru pulang Pa...?"
"Iya. Papa belum makan, kamu udah makan belum?" tanya Jeno sedikit sungkan akibat permintaan Luna pagi tadi.
"Hmm udah, "
"Bohong ya? Makan bareng yuk," ajak Jeno seraya mencolek hidung Luna
Luna tidak menjawab, dia hanya menipis kan bibirnya lalu menaikkan satu alis pertanda ia setuju.
Saat Jeno mengambil makanan dan memberikannya untuk Luna, gadis itu menolak dan berkata, "Luna ga napsu makan Pa, Papa aja yang makan,"
"Sayangkan kalau tidak dimakan, mubazir. Papa suapin mau?" ucap Jeno
Luna yang tadinya menunduk lemas langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Jeno dengan malu-malu. Belum Luna menjawab, Jeno sudah menyendokkan nasi dan bersiap menyuapkannya ke mulut Luna
Astaga Luna gemesin banget sih kalo malu-malu gini, batin Jeno
"Ayo buka mulutnya, aaak," ucap Jeno
Dengan sedikit ragu, Luna membuka mulutnya dan memakan makanan yang disiapkan Jeno. Terasa berbeda kayak ada manis-manisnya.
Jeno tersenyum melihat Luna mengunyah makanan. Saat Jeno ingin menyuapkan lagi, Luna mengambil alih sendok yang di pegang Jeno.
"Biar Luna makan sendiri Pa," ucap Luna
"Papa sendiri gak makan? Atau mau Luna suapin?" tanya Luna
"Eh hehe biar Papa makan sendiri aja," ucap Jeno lalu mengambil makanan untuk dirinya, secara bersamaan Luna sudah bersiap akan menyuapkan Jeno.
"Gantian sekarang Luna yang suapin Papa," ucap Luna
Kemudian Jeno membuka mulutnya dan makan dari tangan Luna. Kedua tersenyum dan suasana yang sedari tadi canggung kembali harmonis. Setelah itu mereka melanjutkan makan sendiri.
Selesai makan, Jeno mulai berbicara serius.
__ADS_1
"Luna, soal tadi pagi....," ucapan Jeno terputus karena Luna langsung menyela
"Kalau Papa belum bisa memutuskannya sekarang ya nanti aja, sampe Papa bisa dan yakin," ucap Luna
"Itu artinya sama saja kamu tidak menerima kata penolakan?" sahut Jeno
Sementara Luna menjawabnya dengan anggukan kepala sambil minum air putih di gelasnya.
Sikapnya mirip aku dulu waktu meminta Mariska menjadi istriku. Apakah Luna ini memang jodoh ku? Apakah ini takdirku untuk bersamanya, batin Jeno
"Pa...Luna terpilih mewakili sekolah untuk pertukaran pelajar di Korea. Bentar ya Luna ambil suratnya, mumpung inget hehe," ucap Luna kemudian pergi ke kamar
"Apa pertukaran pelajar ke Korea? Kenapa mendadak?" tanya Jeno namun Luna sudah berada di kamarnya.
"Ya namanya juga lupa Pa, baru inget," jawab Luna dari kejauhan
Seharusnya surat itu dia beri saat pertengahan bulan namun Luna lupa dan baru saja teringat. Setelah mengambil suratnya Luna kembali ke meja makan dan menyerahkannya pada Jeno untuk mengisi data jika orang tuanya setuju disertai tanda tangan dan materai.
"Luna harap Papa memberikan ijin," ucap Luna
"Papa gak ijinin," jawab Jeno singkat
"Kenapa? Ini bagus Pa buat study Luna,"
"Berarti Papa gak percaya sama Luna. Luna bisa jaga diri. Toh disana juga ada temen dari Indonesia. Soal asrama dan uang saku ditanggung sama sekolah,"
"Ini bukan soal biaya Luna, Papa bisa aja belikan kamu rumah di sana, tapi....Papa belum siap melepaskan kamu. contohnya saja disini kamu pernah berbohong kan bilang kerja kelompok, taunya malah nonton. Apalagi kalau jauh dari Papa, bisa-bisa kamu pergi malam pulang pagi," Jeno menceramahi Luna, sementara Luna hanya tertunduk menahan air matanya
Ini hari ulang tahunnya, tetapi dia terus menangis. Jeno pun tak tahan melihatnya. Akhirnya ia mengambil bolpoin yang masih berada di sakunya, mengisi data persetujuan dan menandatangani kertas yang sudah tertempel materai diatasnya.
"Ini, Papa harap kamu bisa menjaga diri," ucap Jeno seraya menyerahkan lembar kertas persetujuan itu kepada Luna.
Luna mengangkat wajahnya dan ketika dia melihat sang Papa menyetujuinya, Luna pun tersenyum riang. Segera ia menghamburkan dirinya memeluk Jeno.
"Papa selalu yang terbaik," ucap Luna kegirangan
Luna memeluknya sedikit lama, ia baru menyadari apa yang dilakukannya barusan. Setelah melepaskan pelukannya, Luna beranjak berdiri. Jeno meraih tangan Luna yang terasa dingin, sementara Luna merasakan kehangatan dari genggaman tangan Jeno.
"Inget ya, jaga diri disana, jangan hilangkan kepercayaan Papa," ucap Jeno kemudian menggenggam tangan Luna dengan kedua tangannya. Berharap Luna memenuhi janjinya ketika berada di negara orang.
"Iya Luna janji,"
.
.
__ADS_1
.
Sebulan kemudian setelah mengurus paspor dan kelengkapan data. Luna berangkat ke Korea, Jeno mengantarkan kepergiannya bukan hanya sampai di Bandara saja melainkan ia juga ikut ke Korea, memastikan tempat yang akan di tinggali Luna dan seperti apa sekolahnya. Meski pihak sekolah sudah memperlihatkannya lewat foto namun Jeno ingin memastikannya sendiri
Sesampainya di Bandar Udara Internasional Incheon, Seoul, Korea Selatan. Luna dijemput oleh perwakilan sekolah yang ada di Korea. Dia orang bahasa Indonesia, Emma. Luna akan diantarkan ke asrama sekolah khusus putri.
Jeno ikut mengantarkan Luna dan melihat keadaan di dalam asrama. Saat mereka masuk ke asrama sekolah, semua gadis-gadis remaja yang ada di Asrama memandangi Jeno tanpa berkedip.
Jeno orang Indonesia yang berparas kebule-bulean. Hidungnya mancung dan berjanggut dan berkumis sedikit tebal, membuat kesan aura prianya terlihat macho. Sementara Luna tak suka jika ada wanita lain yang melihatnya sampai terpana.
"Ini kamar Luna," ucap Emma seraya membuka kamarnya
"Satu kamar hanya ditempati satu orang atau ada teman lainnya?" tanya Jeno
"Satu orang, satu kamar pak. Untuk menghindari ketidaknyamanan. Teman-teman Luna yang di asrama ini juga kebanyakan dari Indonesia. Setiap bulan Luna akan dikirimkan uang saku, jadi bapak tidak perlu takut semua kebutuhan terjamin," ucap Emma
"Iya, terimakasih," ucap Jeno
Sementara hatinya sedikit ngedumel karena yang diberikan pihak sekolah hanyalah uang makan. Belum kebutuhan Lain seperti transport, sabun cuci, sabun mandi, belum cemilan, uang listrik meskipun mereka bilang asramanya gratis. Tapi ujung-ujungnya listrik juga.
Setelah menaruh koper dan penyerahan kunci, Luna di antar ke sekolah. Rupanya hanya berjalan kaki beberapa meter, mereka sudah sampai disekolah. Pantas saja tidak ada uang transportasi, karena sekolahnya hanya beberapa meter dari asrama.
"Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, Pak Jeno bisa menghubungi saya selaku wakil dari sekolah. Ini kartu nama saya," ucap Emma. Jeno mengambil kartu nama tersebut dan membacanya sekilas.
Setelah itu Emma pamit pergi meninggalkan Jeno dan Luna.
"Hmm Papa akan disini sampe besok, berat ngelepasin kamu," ucap Jeno
"Berat atau gak rela kalau Luna jauh? Sebenarnya perasaan Papa ke Luna seperti apa?" tanya Luna yang langsung menembak ke intinya
Salah ngomong ini, kenapa aku bilang gitu kan jadi ditanya-tanya. Duh jawab apa nih, batin Jeno yang masih enggan mengatakan perasaan sebenarnya
Luna tahu hati Papa, Luna bakal bikin Papa ungkapin perasaan Papa yang sesungguhnya. Liat aja nanti, batin Luna
"Kamu nih nanya apa sih, ya perasaan Papa ke kamu ya karena Kamu itu Putri Papa," jawab Jeno
"Hmmm,"
"Yaudah mumpung Papa disini, kita keliling sebentar di Seol. Papa juga belum tahu sih rutenya naik apa kemana, kita beli peta perjalanan dulu yuk," ucap Jeno
"Nih, Luna udah bawa. Semua udah Luna persiapin, Luna juga udah pelajarin rutenya... keren kan," sahut Luna
"Makin pintar Kamu,"
Dan mereka pun akan menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan sebentar.
__ADS_1